Revolusi Pecas Ndahe

November 30th, 2011 § 183 Komentar

Seorang perempuan. Sebuah tas Hermes di tangan. Sore itu aku menemuinya di sebuah kafe kecil di jantung Jakarta. Hujan turun berderai-derai di luar. Jalanan macet. Seperti biasa.

Duduk di depanku dengan takzim, ia memamerkan senyumnya yang ringkas. Parasnya lesi. Aku maklum. Dia hidup dari satu tekanan ke tekanan lain. Dari sebuah kekuasaan ke kekuasaan berikutnya. Ia terhimpit.

Seperti biasa, sore itu ada dua cangkir kopi di atas meja. Satu kopi tubruk untukku. Satu cappucino kesukaannya.

Dua cangkir kopi. Dua manusia. Bumi dan langit. Tiba-tiba aku merasa yang namanya iba itu bisa datang dari mana saja. Ia kerap muncul begitu saja tanpa sebab yang jelas. Paling tidak demikian yang kurasakan sore itu.

Ia bahkan bisa datang dari secangkir kopi. Seorang teman. Dan beberapa butir air mata yang bergulir perlahan di pipi.

“Maaf, kadang aku masih cengeng, Mas,” katanya perlahan. “Kamu nggak usah ketawa.”

Mukaku datar. Pura-pura tak mendengar.

Perempuan itu melanjutkan kata-katanya.

“Aku hampir berhenti dan tak meneruskan jalanku, Mas. Aku ingin mundur karena tak tahan. Aku hendak menafikan orang lain dan menuruti keinginanku sendiri. Kebahagiaanku. Ketakutanku. Tak salah kan? Toh, aku berhak. Tidak melanggar hukum agama dan undang undang negara.”

Aku menyesap kopiku. Barista kafe ini tampaknya meracik kopi dengan keterampilan tingkat dewa. Kesempurnaan racikannya terasa dari setiap sesapan.

Kami terus bercakap. Tepatnya dia lebih banyak bercerita dan aku mendengarkan. Mulutnya tak henti menuturkan banyak hal. Tentang teman-temannya. Relasi perempuan dan laki-laki, pekerjaannya, perjalanannya, kegagalannya, dan ketakutannya.

Aku heran sore itu hanya ada rasa nyaman. Mungkin pengaruh blus pink terang yang dia kenakan. Mungkin dia baru membelinya dari sebuah butik di Milan. Entahlah…

Hanya satu setengah jam kami berjumpa sore itu. Bertukar cerita. Setelah itu, dia menghilang di antara lautan pengunjung mal yang bergegas dengan lekas.

Malamnya, sebuah surat elektronik masuk ke telepon genggamku. Dari dia.

“Politik memang dunia orang kampret!” begitu bunyi pembukaan suratnya.

Aku mengernyitkan dahi, lalu meneruskan membaca.

“Aku mungkin termasuk salah satu kampret itu. Aku ingin melawan mereka. Libas! Gilas! Sampai mereka menjadi setipis tisu yang diterbangkan angin!

Entah kenapa setiap kali menulis kata tisu aku teringat kamu, Mas.”

Aku tertawa dalam hati.

“…Aku tidak boleh kalah dari orang-orang kampret itu, Mas! Aku bertekat bulat menduduki sarangnya! Melumat mereka! (Ah, aku kejam juga ya ternyata).”

Aku membayangkan benaknya seperti dipenuhi serdadu-serdadu yang siap tempur. Ya ya, aku tahu dari dulu dia menyukai mereka yang berseragam.

“Mas, pada akhirnya aku mengerti alasanku minggir dari hiruk-pikuk kekuasaan. Jengah, tidak tahan, dan patah semangat karena merasa tidak mampu, adalah alasan yang salah untuk berhenti. Dan aku percaya, tanpa alasan berhenti yang tepat, satu pertempuran wajib diteruskan.

Apa aku akan menang, melawan mereka yang mungkin mayoritas?

Akal menghitung. Aku anak baru, mereka berpengalaman. Aku (merasa) sendiri. Mereka berkelompok dan berjejaring.

Aku perempuan. Mereka semua lelaki. Ah…aku benci!

Ketakutanku berhasil kutepis dengan kesadaran penuh bahwa sebagai manusia, toh pada waktunya nanti, aku akan mati. Tak ada rugi jika melawan saat ini.

Tapi kamu tahu, yang paling membuatku takut sesungguhnya adalah, dalam upaya melawan kampret kampret, aku kalah, kemudian menyerah, dan menjadi bagian dari mereka. Itu, kekalahan paripurna.

Untuk ketakutanku yang terakhir ini, aku teringat ujaran yang pernah kau katakan dulu: “mukti atau mati!”

Kalah melibas, menjadi terlibas
Kalah menggilas, menjadi tergilas
Kalah menusuk, menjadi tertusuk

Begitu indahnya kalimat itu bagiku, hingga aku harus meminjam tulisan indah yang kutemukan di jagat maya, dari seorang seniman Sunda yang kebetulan bernama Mukti.

“Memahami mata yang kau pejamkan, adalah pulau yang jauh di ufuk timur…
Matahari … Matahari..
Kita yang masih bertani, berdiri menatap matahari..
Menitip mati … Melumat sepi…
Esok pagi Revolusi!”

Kugabungkan kata-katamu dan syair dari Mukti. Ada dua kalimat yang tidak pergi dari pikiranku: “Menitip mati…Melumat sepi. Hidup mulia atau sirna.”

Menulisnya saja, membuat aku terdiam. Semoga diamku berarti, aku meyakini penuh dan senantiasa memegangnya teguh.

Mas, aku harus sudahi surat ini di sini.
Malam telah kian larut,
Esok pagi, revolusi.

Sampai di situ suratnya berakhir. Pikiranku melayang ke Lapangan Merah, Tiananmen, Tahrir, dan teriakan anak-anak muda dengan tangan teracung tinggi: Revolusi!

>> Selamat hari Rabu, Ki Sanak. Apa kabar sampean hari ini?

Tagged: , ,

§ 183 Responses to Revolusi Pecas Ndahe

  • agiel mengatakan:

    politik emang busuk ndoro, makanya saya jadi birokrat aja, hidup damai ikut negara, kadang kebagiam busuknya juga..

    • Ndoro Kakung mengatakan:

      selamat datang di republik birokrasi :D

      • Ervita mengatakan:

        Halo Mas Ndorokakung,
        akhirnya saya tau juga namanya setelah nanya ke mbah google. haha..
        Taman Langsat nih, mas? ~winkwink~

    • Kurnia Septa mengatakan:

      waow, frontal :D

    • Mr. Sharz mengatakan:

      Politikus, birokrat sama aja busuknya.. lebih baik jadi rakyat biasa aja deh aman..

  • Tarjum mengatakan:

    Revolusi, kata-kata yang sekarang seperti semakin lemah gemanya…kalah nyaring oleh kata Koalisi. Ini hanya pendapat sembarang dari orang gak ngerti politik, “dunianya orang kampret”…posting yang puitis ndoro :)

    • Ndoro Kakung mengatakan:

      terima kasih untuk pujiannya :D

  • Triyanto Banyumasan mengatakan:

    absen saja ndhor. salam

  • hajarabis mengatakan:

    hanya ingin mengikuti postingan agan .
    postingan yang menarik
    nice gan.

  • Aditya Fajar mengatakan:

    Kok aku jadi pusing sendiri bacanya? Tapi bisa tersenyum membayangkan blus pink yang dikenakannya.

  • Sriyono semarang mengatakan:

    imaginer, puitis dan dalam bingkai paradoksal, selamat hari rabu ndoro…

  • @yankmira mengatakan:

    pikirannya pasti berkecamuk sangat yaa… selamat berevolusi :)

  • ahsanfile mengatakan:

    Politik itu sama dengan dagang… ada itung-itungan modal sekian ntar akan dapat untung sekian

    Politik itu seperti kucing rebutan betina, kalau ada pejantan (pesaing), berantem dulu dan eker-ekeran …

  • Inz Samin mengatakan:

    Aduchh, brasa cul de sac!
    Ndoro, kalo merubah sendiran mmng spertinya g’ mungkin, mereka (kampret-kampret) itu memiliki jejaring yg kokoh dan luas scr sistemik.
    Ali Bin Abi Thalib mengajarkan bhw Kebatilan yg terorganisir akan mengalahkan kebaikan yg tidak terorganisir.

    Bwt tulisannya, bikin klepex-klepex ki.

  • Ditter mengatakan:

    Saya ingat betul dengan perkataan yg pernah dilontarkan oleh guru sejarah saya waktu SMA, yakni “Politik itu busuk.”

    Sampai sekarang saya masih percaya dengan ucapan itu….

  • bayik mengatakan:

    politik yang saya terjuni cuma sebatas politik kantor. itu aja udah bikin pecas ndahe.

  • mobil bekas mengatakan:

    ndhae hehehe

  • puyuhjaya mengatakan:

    Maap, tadi keblasuk ke repolusi 2007.

    Jika terkait dengan politik, dan anggapan kalo politik itu buruk dan jahat, apakah politik dihapuskan saja dari muka bumi?

    Salam repolusi

  • dv mengatakan:

    Tulisannya well marinated…
    Politik adalah jamban yang bergincu *eh

  • bener mas saat qt lg mengenang hal hal indah seakan dunia ini cepet berputar

  • The-Netwerk mengatakan:

    nice,dkemas mnggunakan kata” yg indah
    jdi terbwa sama critanya
    hehe

    mampirmampir yakk
    http://www.the netwerk.com

  • aprikot mengatakan:

    menghitung berapa kata lesi, yg muncul di setiap postingan ndoro. hi ndor *nyruput kopi*

  • wahyu asyari m mengatakan:

    politik memang kampret !

  • Juman Rofarif mengatakan:

    selalu suka isi dan narasi tulisan Ndoro.

  • Jemmy Riga S mengatakan:

    ndoro, bikin buku dong =)

  • Revolusi Pecas Ndahe mengatakan:

    [...] Filed under: Sketsa Tagged: cinta, politik, relasi Link to full article [...]

  • emang kamprett para politikus di negara kita apa apa kalah kalo maen uang mah…semuanya bisa di belii dengan uanh wong edann dunia sekarng mahh

    • kongkang mengatakan:

      itulah sisi busuknya politik yang berbalut materialisme

  • hahahahah walopun bngung v ngakak deh……salute…..selamat berevolusi :D

    • sammy mengatakan:

      Mantaabb… cek jaket keren nih gan http://www.j-fleece.com/fleecious/SammyRockz

  • Serba Info mengatakan:

    hahaha
    bagus banget artikelnya
    lucu tapi mengkritik

    • sammy mengatakan:

      postingan nya baguss gan..
      klo mo order jaket, cek disini http://www.j-fleece.com/fleecious/SammyRockz

    • sammy mengatakan:

      The best http://www.j-fleece.com/fleecious/SammyRockz

  • tulisannya bagus ndoro, sy hampir ga berkedip waktu baca, sampe2 dipanggil temen kaga denger. lam kenal.

    • sammy mengatakan:

      kereen gan!! mo jaket bagus? cek disini http://www.j-fleece.com/fleecious/SammyRockz

  • si Penggembala Sapi mengatakan:

    Kalau mau kembali ke halaman muka…
    gimana caranya…Kk :hammer:

  • reachschools.org mengatakan:

    Dikira politik di Indonesia, ternyata ujungnya merujuk ke lapangan Tianmen berarti di negeri orang ya. tapi sebetulnya gak jauh beda ya, bicara soal politik suka menyesakkan dada. apalagi jika sampai bertaruh nyawa. Menjadi patriot jika berhasil atau konyol jika gagal

  • ronald mengatakan:

    politik = kampret !!!!!!! hal yang mungkin akan terjadi di negara kita.

  • vahrizi mengatakan:

    Ya… itulah politik…. dunia yang keras :)

  • apapun yang trjadi di negri, semua hanya sandiwara. Politik mengajarkan kawan jadi lawan dan begitu sebaliknya

  • hajarabis mengatakan:

    ngomongin masalah politik makin rumit saja .
    apalagi politik indonesia yang makin lama makin payah .
    salam kenal aja ya ndoro :)
    sempatkan mapir kewebsite kita .
    http://www.hajarabis.com

  • blogger plin plan mengatakan:

    daripada mikirin politik,lebih baik mikirin mau cari makan dimana hari ini !.

    Salam kenal dan sukses selalu untuk semuanya

  • norjik mengatakan:

    pulitik memang benar-benar tidak mengenal siapa kawan, sodara. pulitik terkadang bisa membutakan mata batin seseorang yang tadinya suci :(

  • norjik mengatakan:

    pulitik memang benar-benar tidak mengenal siapa kawan, sodara. pulitik terkadang bisa membutakan mata batin seseorang yang tadinya suci

  • megitristisan mengatakan:

    ijin menyimak ah seruuuuu nih kayanya !!!

  • redaksistudiislam mengatakan:

    ndoro makin ehm.. ehm…ya…..
    aku juga geregetan… eh.. keceplosan

  • akhmad suherman mengatakan:

    ndro salam knal…..jangan-jangan sang maestro sastra juga ni….kata-katanya sangat puitis.

  • Su Drun mengatakan:

    politik=hukum rimba=dunia binatang

  • Universitas Terbaik mengatakan:

    Aku cuma ketawa waktu baca kalimat
    “Politik memang dunia orang kampret!”
    hahahha serasa gimana gitu..

  • politik dunia penuh sandiwara
    tetapi Dunia Blog Dunia Persahabatan Tanpa Batas | Aplikasi Symbian Blog

  • Mvstova mengatakan:

    Reblogged this on Ouh-Mai-Goat!! and commented:
    ….

  • bunda mengatakan:

    Wow! Senangnya masih ada wakil dengan pemikiran dan keberanian seperti itu. Perempuan berbaju pink, aku padamu!

    Untuk ndoro: walaupun tak dapat membayangkan dirimu berpolitik ria diluar Republik Blogger-mu, semoga kamu tidak akan pernah menjadi salah satu kampret itu.

    Sekian.

  • yudistira mengatakan:

    banyak kata” yang puitis… jadi seru nih bacanya…
    ^_^

    kalau sempat mampir juga yah ke
    http://ochy-yudis-blog.blogspot.com
    ^_^

  • hajarabis mengatakan:

    semoga politik Indonesia banyak yang sadar dan gak lagi jadi kampret yya .
    hhehe .

    http://www.hajarabis.com

  • haviz setiawan mengatakan:

    waaah, membicarakan politiik daaahhh..
    kabuuurrrrrr….

  • tyodongss mengatakan:

    :D
    tyodongss

  • TauTau mengatakan:

    Ndoro, ini cerita beneran apa kreasi ya?
    kalo beneran, wah dinamis banget hidup sampeyan bisa bikin aneka cerita. kalo kreasi, wah cerdas banget nalar sampeyan sampe semua cerita sampeyan berasa hidup!

  • doro kakung, saya minta doa dan dukunganya.
    ql bersedia masuk http://aplikasisymbian.mywapblog.com/dunia-blog-dunia-persahabatan-tanpa-bata.xhtml

  • Budi mengatakan:

    Keren blognya…
    mampir ke blogku ya di http://budie29.blogspot.com/

    jangan lupa jadi member blogku juga ya teman,sebagai tanda persahabatan……….

  • tapioka mengatakan:

    reformasi kalo ada maunya….
    revolusi kalo ada maunya yang lebih mendesak….
    sama-sama “kumuh”

  • Dewi Malam mengatakan:

    nice share gan,,, thanks

  • Bali Tours Club mengatakan:

    Orang-orang kampret…wajahnya kayak apa ya

  • tetimardiana mengatakan:

    tulisan yang menarik Ndoro

  • PC mengatakan:

    Haah,, susah dah kalo ngomongin politik,,
    ga ngerti gtuan jg,, hehehee…

  • ian egx mengatakan:

    apa yang bisa disisakan untuk anak-anak penerus bangsa ini? hmmpf…entahlah..berbuat sesuatu atau kita cukup diam dan meratapi kebodohan kampret kampret itukah?

  • hajarabis mengatakan:

    hanya ingin mengikuti postingan agan .
    postingan yang menarik
    nice gan .

    sempatkan mampir ke website kami
    http://www.hajarabis.com

  • puitis sekali yaa :)
    kenapa gak bikin buku aja? :)
    salam kenal yaa ..

  • mirza mengatakan:

    Mantap alur ceritanya. Kata-katanya itu lho… :D

  • blog untuk semua mengatakan:

    cerita yang menarik.

  • US mengatakan:

    puitisnya buka main bro..

  • HitsPopuler mengatakan:

    mau komentar apa ya , salam knl aja ndoro

  • HitsPopuler mengatakan:

    Keren bos postingannya ,thanks salam kenal

  • Cari Buku? mengatakan:

    Waduh kalau soal politik…Ndoro memang Ndoronya….hehe

  • kautau mengatakan:

    Ndoro.. misi ya.. mau tanya tas hamer dengan mobil hamer 1 produk ya

  • Gigih mengatakan:

    Ada aja ceritanya tentang revolusi, tapi seru juga ! salam kenal

  • sharingan4uchiha mengatakan:

    politk memang busuk ndoro,,,,,,
    sy benci politik,,,,,,

  • Hitspopuler mengatakan:

    salam kenal aja ndoro :)

  • Kenapa hanya orang-orang TEMPO yang bisa menulis dengan indah seperti ini. Kenapa orang Kompas ndak ada yang bisa? Tanya kenapa.

    Membaca Kompas Minggu jadi rasanya garing, kalau dibandingkan dengan tulisan diatas…..

  • zonaface mengatakan:

    thanks buat info yang menarik ini dan salam kenal sob

  • indobeta mengatakan:

    lucu and bikin ngakak tapi sangat berisi dan berkualitas

  • daniel maulana mengatakan:

    ah saya mh jd rakyat ja.

  • Herdiana Surachman mengatakan:

    ahahahahah senangnya Hermes turut andil dalam post ini LOL

    Herdiana Surachman
    http://deluxshionist.blogspot.com/

    @HerdianaHS

  • Sip 4x

  • Tarida Fransiska mengatakan:

    wow. poiltik memang dunia yanng rumit apalagi di Indonesia negara kita ini. revilusi tampaknya jg susah untuk dikumandangkan saat ini, hanya sedikit keberanian yang tersisa tampaknya. ndoro mantep deh :)

  • rahayu mengatakan:

    puitis banget gan ? mari kita berevolusi kembali

    salam kenal aj ya gan

  • kowandy mengatakan:

    kurang paham dengan yang beginian..salam kenal ya bro.. menambah wawasan saya.

  • Fakry mengatakan:

    kalimat pembuka surat elektroniknya kurang gemana gitu
    seharusnya kan salam dulu iya
    heheh…

  • blog raharja mengatakan:

    Revolusi dan ngapusi hampir sama artinya sekarang ndoro. Jadi bingung jadinya. Revolusi bin ngapusi untuk jelata gitu bunyinya.

  • xbacktrack mengatakan:

    mantap gan, salam kenal.

  • Jarar Siahaan mengatakan:

    Percayalah … sampai kapan pun politikus di Indonesia akan tetap jadi kampret.

    Tidak hanya di partai politik “sekuning Golkar”, “semerah PDIP”, atau “sebiru Demokrat”, penghuni partai lain pun mayoritas kampret, termasuk partai yang katanya berasaskan agama.

    Hidung mereka berlipat-lipat seperti kampret. Tidak takut berujar: “Sumpah, demi Alloh [ya, alim sekali, pakai huruf o], saya tidak korupsi.”

    Lihat sudah berapa pejabat tinggi, menteri, dan politikus dari partai-partai agamais yang masuk penjara karena korupsi. Dan … (dasar kampret!) selama di penjara mereka didaulat pula berkhotbah tentang agama, masuk televisi pula!

    Kalau anda, atau teman dan saudara anda sekalian, masih mendengarkan hati nurani, maka jangan pernah terlibat dengan partai politik. Walaupun sekarang anda orang baik nan saleh, saya pastikan di kemudian hari anda pun akan jadi kampret!

  • dibuat buku gan bisa menghasilkan uang loh

  • bisa menceerahkan kesehatan bagi yang mumet memikirkan negeri ini

  • bisa mencerahkan kesehatan bagi yang mumet memikirkan tiongkah laku politikus negeri ini

  • Undangan Pernikahan mengatakan:

    meninggalkan jejak di ndorokakung, soalnya ada artikel yang menarih yang saya suka :)

  • Ameang mengatakan:

    coba kita bisa ngobrolsaja tentang ini lebih jelas

  • endroesia mengatakan:

    politik …. kenapa banyak hal yang negatif…

  • cerita silat mengatakan:

    Politik akalo nggak licik nggak cerdik… xixixixi

  • tulisannya bagus banget :)
    sukses nih :D

  • artikel yang bagus :)

  • galih n gumilar mengatakan:

    yang penting bagi ane masalah politik jangan ngorbanin rakyat

  • Health Tips mengatakan:

    politik penting, tp lebh penting mengutamakan kepentingan rakyat

  • opik aza mengatakan:

    weleh-weleh keren nih blog walking ya

  • topiknugroho mengatakan:

    weleh-weleh keren nih blog walking ya

  • Speed mengatakan:

    Politik memang edang bikin rakyat menderita, kapan indonesia bisa bener bener makmur bebas dari politik yang kotor

  • XAMthone plus mengatakan:

    Keren mas !

  • The-Netwerk mengatakan:

    nice :)
    saya senang mengikuti postingan anda
    postingan yang menarik .

    salam kenal yya dan sempatkan mampir ke
    website kami.

  • politik itu kejam

  • difana mengatakan:

    Saya merasa jadi tokoh wanitanya..

  • angga mengatakan:

    asik sini mas………..
    jagan lp ke tempat ane…………..

  • parlin sinaga mengatakan:

    Kemudian dengan rasa penasaran yang memuncak dihati,
    dengan tubrukan tanggung tulisan tanpa identitas,
    hati seakan bertanya:
    Siapakah Wanita itu? :)

  • billy mengatakan:

    Yang ada hanya kepentingan abadi. :|

  • wahyuseptiarki mengatakan:

    Revolusi diri harga mati! :)

  • Mesin Kasir mengatakan:

    politik sarang tikus

  • Bang Iwan mengatakan:

    Saya malah tidak mengerti tentang politik…

  • hidupiniseperti mengatakan:

    Ndoro, tas hermes anak manusia perempuan itu berapa ya kira-kira? kurasa dia berasa dari kaum sosialita sepertinya.

  • hanifagrafika mengatakan:

    pengalaman yang tak terlupakan tuh sob

  • salam sejahtera dan sukses selalu maz brow… Disini ane seperti membaca novel ato cerpen…artikel yg menarik :) )

  • yaazziill mengatakan:

    Ndoro, apakah itu percakapan panjenengan dengan ibu nunun? :) )

  • doglozz16 mengatakan:

    Penuh inspiratif……….!
    Numpang absen ndoro kakung…!

  • leksani mengatakan:

    i like it..seru2 mpe ga berkedip bacanya..haha..politik itu banyak merugikannya dari pada menguntungkannya..buat orang2 tertentu saja..lanjutkan!!

  • asepsiatep mengatakan:

    yah begitulah para politikus

  • alifa-fashion mengatakan:

    politik itu ….. yang tidak berkepentingan tidak usah ikut

    mampir yuk
    ke http://alifa-fashion.co.cc
    toko baju online terlengkap di indonesia

  • 3mnnm8 mengatakan:

    politik juga bagus kok asal dijalankan dengan baik dan benar

  • SlameTux mengatakan:

    Politik… Politik sering diperbincangkan dan sering dibahas dimana-mana, akan tetapi belum tentu yang berpolitik itu sesuai dengan apa yang di janjikan itu… Politik memang keras dan politik memang panas…

  • saya sngat tertarik ngikutin postingan agan, artikel yg bagus.

  • omagus mengatakan:

    politik sama bagusnya dengan aspek yang lain.

    cuman orang-orangnya ini..!

  • Fathul Mujib mengatakan:

    pecas ndahe,,, politik ujung2nya pribadi..!!!

  • Cheated mengatakan:

    Check out the profile of an indonesian cheater and scammer: http://rubenmanik.wordpress.com

  • ardiansyah mengatakan:

    politik itu matematik
    dia bisa dihitung
    so jika mau berpolitik hitunglah terlebih dahulu

    beda halnya dengan ilmu sosial murni
    sama sekali tak terhingga

    salam kenal
    mampir juga ya
    ardiansyah-nomore.blogspot.com

    saya juga sedang mencari referensi
    lubrikasi mesin kendaraan dua

    mohon bantuannya rekan-rekan
    terimakasih dan salam kenal ya
    :)

  • langit11 mengatakan:

    siapakah gerangan perempuan itu? nunun? wa ode?
    *salam Kakung .. :-)

  • Artikel yang bagus gan.. ditunggu kunjungannya :)

  • tumben lama gk update ndoro ?

  • Ghofur JEHZ mengatakan:

    sbuah crita yg brbentuk dialog,,,,bnyak kata-kata kias yg dgunakan, tp sderhana & gmpang dmngerti pembaca..
    so, scara gris bsar tlisan sobat sgt kreatif,,dtunnggu tlisan slnjutnya & klo ad wktu, sisihkn tuk knjungi blog saya

  • lexiokkanz mengatakan:

    kreatif banget….pemilihan bahasa mudah dimengerti dan berasa pembaca masuk kedalam cerita….keep posting ndoro kakung

  • iGoPage mengatakan:

    Apik tenan postinganmu ndoro,…
    waiting for next posting :)

  • Awandragon mengatakan:

    revolusi diri dan jiwa kang, mantap INFONYA

  • emeralrugcarpet mengatakan:

    mantap infonya :D

  • boyhidayat mengatakan:

    revolusi bermula dari sebuah tulisan, untaian kata-kata yang mampu mendobrak logika manusia sehingga menggerakan apa yang harus di gerakan.

    revolusi lah !

  • tempatwisatabandung mengatakan:

    hmmmm,,,,, indah sekali….

  • ajid mengatakan:

    sep….
    Makasih banyak informasinya ya..
    Kunjungi juga ya blog saya

    http://bisnisninformasi.blogspot.com
    Dapatkan info seputar bisnis dan motivasi bisnis

  • vhyan mengatakan:

    wallaupun gga terllallu ngertti tentang pollitik tapii bolleh jjg..
    hehehe..

    sallam kenall iia ndorro

  • Speed mengatakan:

    Waduh pusing aku ndoro kakung

  • insang mengatakan:

    kalo diluar negeri, politics = sucks, kalo di indonesia, politik itu kampreettt tenan heheheh

  • Rizky Khafitsyah mengatakan:

    sobb, thankzz banget atas infonya…

    berkunjung ke blog aku ya..

    follow : http://rikymetalist.blogspot.com

    thankz banget sob,,
    blog ini sudah saya follow :D

    Salam Kompak Persahabatan :D

  • toko barcode mengatakan:

    jadi ingat jaman soekarno dulu

  • BBstore mengatakan:

    ceritanya bagus2, saya sering baca.. ada bbrpa bacaan yg bikin sya terinspirasi

  • blog.djangkar.com mengatakan:

    http://blog.djangkar.com ijin blogwalking mas bos…

  • the-netwerk mengatakan:

    i love ur post, keep share^^
    mampir balik ke website kami yaa…

  • azizan mengatakan:

    emng politik gt hehe
    cerita bagus he

  • BroadcastBBM mengatakan:

    Keren artikelnyaaa

  • mumu mengatakan:

    apa kabar? lama tak posting lagi di blog ini. sedang ber-evolusi yah pak?

  • D'aDmiRer mengatakan:

    nice info gan ..

  • candikota mengatakan:

    mungkin ada celah

  • dijual mengatakan:

    celah apaan??

  • dijual mengatakan:

    di tunggu kelanjutan posting ya, juragan ????
    by :
    http://www.dijual.biz 07:13

  • sengketakata mengatakan:

    saya mau tas hermes ny dong ndoro :p

  • andi mengatakan:

    Sebuah satir yang indah :’)

  • Fachry Prasetya mengatakan:

    Cerita yang bagus !!! Di tunggu lagi postingnya

  • Lisda mengatakan:

    inspiring…

    kalo dah masuk ranah politik kampret.. menulis sampai keyboard hilang aksarapun tiada kan cukup Ndoro…

  • nenyok mengatakan:

    Salam..
    Politik itu mesti hanya saja, orang yang jalaninnya yang kebanyakan busuk..
    revolusi? ayo!! merevolusi pikiran dan cara hidup. :)

  • florist mengatakan:

    kehidupan politik yang membingungkan, aku sendiri mencoba untuk bertahan di dunia florist

  • L mengatakan:

    nice. .

  • renovasi rumah mengatakan:

    menarik bgt niy…penulisannya bagus

  • di jual mengatakan:

    ijin nyimak postingan milik juragan, ya?

    salam kenal
    yudistira rachman
    http://www.dijual.in 13:36

  • djjars mengatakan:

    hehe paling bisa bayangin, ketika kemurnian perlu pengorbanan
    intinya adalah beranikah minum kopi tanpa gula?
    original taste banget ya…:D

  • bangun rumah mengatakan:

    menarik artikelnya…

  • obat herbal diabetes mengatakan:

    baguss

  • Trims Ndoro Kakung atas kisahnya yang menginspirasi kami semua. Semoga bermanfaat bagi kami dan tentu saja bagi teman-teman sekalian. Selamat dan sukses selalu untuk Anda.

    Salam kompak:
    Obyektif Cyber Magazine
    (obyektif.com)

  • zoelyan mengatakan:

    salam kenal ndhoro…

  • jellygamatluxor mengatakan:

    ndoro lulucen

  • Ikut menyimak artikelnya Gun :-)

    Salam,

  • Abbas Husaini mengatakan:

    salut…sebuah karya yg indah….

  • jasa kontraktor mengatakan:

    berat iy artikelnya…makna yg dalam

  • indra mengatakan:

    Politisi busuk tergantung pada pemimpinnya, tapi sayangnya bangsa ini rakyatnya mudah lupa, bila saatnya kampanye dan berbagi uang, teteep.. aja dipilih lagi

  • harusnya manusia berpolitik untuk membangun bukan untuk berkuasa, bukan begitu ndoro??

  • script and web design mengatakan:

    Wuih artikrlnya keren kang…

  • RiMuTho mengatakan:

    enggak ngerti mau komentar apa

  • Jefry mengatakan:

    Kunjungan pertama..
    kunjungan pertama sudah disuguhi tulisan yang revolusioner ala ndoro kakung
    Salam kenal ya..

  • allseasonjewelry bali mengatakan:

    Mbah Ndoro Kakung sangat menjiwai perasaannya yg tertuang di setiap artikel yg saya baca
    success yah,,,,

  • xamthone plus mengatakan:

    politik sungguh membingungkan,,,!

  • Anugerahadina mengatakan:

    kadang iri om.. tapi positif siy..
    melihat dalamnya pengalaman hidup seseorang dan bisa dishare sehingga banyak pelajaran yang dapat dipetik

  • kiosherbalku mengatakan:

    artikel yang sangat menarik
    tentang politik kita yg gak jelas he3

Tinggalkan Balasan

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Ubah )

Connecting to %s

What’s this?

You are currently reading Revolusi Pecas Ndahe at Ndoro Kakung.

meta

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 262 pengikut lainnya.