Pacar Pecas Ndahe

Februari 1, 2012 § 91 Komentar

Laki-laki itu tiba-tiba menyebut akun Twitter saya di linimasa. Tidak hanya itu. Ia juga menggamit nama seorang penyiar televisi perempuan ternama dan memaki-makinya. Lelaki itu bahkan menyebut sang penyiar dengan julukan yang tak senonoh.

Saya kaget, tak menyangka ada orang yang dengan kasarnya mencemooh perempuan secara terbuka di ruang publik. Dan aksi itu dilakukannya beberapa kali. Dengan pesan yang kurang lebih sama: menjelek-jelekkan perempuan itu.

Saya diam saja, tak bereaksi membalas pesan lewat Twitter. Saya hanya membatin, pasti ada sebabnya lelaki itu menuliskan pesan yang tak pantas itu.

Dugaan saya terjawab kemudian. Perempuan itu mengirimkan DM. Ia meminta maaf dan menjelaskan siapa lelaki itu. Rupanya mereka pernah menjalin ikatan suami-istri. Biduk rumah tangga mereka ternyata berhenti di tengah jalan.

Akhirnya mereka bercerai. Sang suami tampaknya tak menerima keputusan pisah itu. Ia berang. Lalu menyerang mantan istrinya secara terbuka di linimasa. Serangan itu berlangsung terus-menerus, nyaris tanpa henti.

Dan saya jadi korban, ikut terseret mengetahui masalah orang lain yang sebenarnya tak perlu saya ketahui.

Kejadian seperti ini bukan yang pertama saya alami. Dan saya mulai terbiasa melihat tanpa terkaget-kaget lagi. Seperti ketika saya juga menyaksikan bagaimana linimasa berubah menjadi media saling sindir pasangan-pasangan yang sedang bermasalah.

Pernah suatu hari saya membaca status seseorang yang bunyinya, “Cewek lain rajin disapa setiap pagi. Cewek sendiri dicuekin,” tanpa menyebut satu nama akun pun.

Status itu beberapa saat kemudian dibalas begini.”Love is dead. Mulai sekarang urus masing-masing.”

Meskipun keduanya sama-sama tak menyebut nama, saya tahu mereka sebetulnya tengah saling sindir. Kebetulan saya menjadi follower kedua akun itu.

Kali lain, saya membaca status pasangan yang saling mengirim kode berupa kalimat yang sebetulnya ungkapan kerinduan.

Cewek, “Jangan bobo terlalu malam ya. Ntar sakit kepala.”

Cowok, “Satu koding lagi, save, abis itu bobo.”

Cewek. “Sun jauh.”

Cowok. “Simpen di bawah bantal.”

Saya hanya tersenyum membaca kemesraan yang tak ditutup-tutupi itu. Saya juga pernah muda, kan? Toh sekarang ada istilah “pacar bayangan”, yaitu pacar yang hanya disebut, dirayu, dan diajak berantem hanya di linimasa. Di dunia nyata mungkin mereka bahkan belum pernah bertemu muka.

Media sosial memang telah mengubah cara orang berkomunikasi dan bersosialisasi. Dulu orang bercakap-cakap secara tatap muka dengan lawan bicaranya. Teknologi lalu menyediakan alat komunikasi jarak jauh yang sangat persona, seperti telepon selular.

Kini orang bersosialisasi di media sosial. Mereka berkomunikasi dengan temannya atau khalayak melalui media seperti Twitter.

Tapi perubahan media ini tak diikuti dengan pemahaman tentang media sosial, termasuk pernak-perniknya. Banyak orang yang asal saja melontarkan kalimat personal untuk orang lain. Mereka tak sadar bahwa percakapan di Twitter bisa dibaca oleh lain. Media ini adalah ruang publik yang terbuka.

Kalau saling melempar “kode” di linimasa untuk menyatakan perasaan kangen sih, tentu saja masih oke saja. Para pengikutnya tentu memaklumi kegalauan mereka.

Tapi jika status yang ditulis adalah serangan ke pacar gelap/terang, mantan pacar, suami/istri, atau ke siapa pun di pihak berseberangan, tentu saja para pembacanya jadi bertanya-tanya. Mungkin bahkan ada yang merasa terganggu karena ikut terseret ke dalam pusaran perkara yang bukan urusan mereka.

Linimasa adalah pentas yang penuh kecamuk. Kata-kata kadang bisa mengagetkan pembaca. Celakanya, banyak orang meremehkan kata. Menganggap ia hanya dekor dari sebuah kalimat. Padahal setiap kata punya sayap. Ia bisa terbang ke mana-mana, jauh dari kepala pelontar dan penerimanya.

Di linimasa, kitalah yang memberi makna pada setiap kata. Tapi kita juga yang tersesat di belantara tafsirnya.

>> Selamat hari Rabu, Ki Sanak. Bagaimana sampean mempermainkan kata di linimasa?

About these ads

Tagged: , , , ,

§ 91 Responses to Pacar Pecas Ndahe

Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

What’s this?

You are currently reading Pacar Pecas Ndahe at Ndoro Kakung.

meta

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 1.659 pengikut lainnya.

%d blogger menyukai ini: