Pacar Pecas Ndahe

Februari 1st, 2012 § 48 Komentar

Laki-laki itu tiba-tiba menyebut akun Twitter saya di linimasa. Tidak hanya itu. Ia juga menggamit nama seorang penyiar televisi perempuan ternama dan memaki-makinya. Lelaki itu bahkan menyebut sang penyiar dengan julukan yang tak senonoh.

Saya kaget, tak menyangka ada orang yang dengan kasarnya mencemooh perempuan secara terbuka di ruang publik. Dan aksi itu dilakukannya beberapa kali. Dengan pesan yang kurang lebih sama: menjelek-jelekkan perempuan itu.

Saya diam saja, tak bereaksi membalas pesan lewat Twitter. Saya hanya membatin, pasti ada sebabnya lelaki itu menuliskan pesan yang tak pantas itu.

Dugaan saya terjawab kemudian. Perempuan itu mengirimkan DM. Ia meminta maaf dan menjelaskan siapa lelaki itu. Rupanya mereka pernah menjalin ikatan suami-istri. Biduk rumah tangga mereka ternyata berhenti di tengah jalan.

Akhirnya mereka bercerai. Sang suami tampaknya tak menerima keputusan pisah itu. Ia berang. Lalu menyerang mantan istrinya secara terbuka di linimasa. Serangan itu berlangsung terus-menerus, nyaris tanpa henti.

Dan saya jadi korban, ikut terseret mengetahui masalah orang lain yang sebenarnya tak perlu saya ketahui.

Kejadian seperti ini bukan yang pertama saya alami. Dan saya mulai terbiasa melihat tanpa terkaget-kaget lagi. Seperti ketika saya juga menyaksikan bagaimana linimasa berubah menjadi media saling sindir pasangan-pasangan yang sedang bermasalah.

Pernah suatu hari saya membaca status seseorang yang bunyinya, “Cewek lain rajin disapa setiap pagi. Cewek sendiri dicuekin,” tanpa menyebut satu nama akun pun.

Status itu beberapa saat kemudian dibalas begini.”Love is dead. Mulai sekarang urus masing-masing.”

Meskipun keduanya sama-sama tak menyebut nama, saya tahu mereka sebetulnya tengah saling sindir. Kebetulan saya menjadi follower kedua akun itu.

Kali lain, saya membaca status pasangan yang saling mengirim kode berupa kalimat yang sebetulnya ungkapan kerinduan.

Cewek, “Jangan bobo terlalu malam ya. Ntar sakit kepala.”

Cowok, “Satu koding lagi, save, abis itu bobo.”

Cewek. “Sun jauh.”

Cowok. “Simpen di bawah bantal.”

Saya hanya tersenyum membaca kemesraan yang tak ditutup-tutupi itu. Saya juga pernah muda, kan? Toh sekarang ada istilah “pacar bayangan”, yaitu pacar yang hanya disebut, dirayu, dan diajak berantem hanya di linimasa. Di dunia nyata mungkin mereka bahkan belum pernah bertemu muka.

Media sosial memang telah mengubah cara orang berkomunikasi dan bersosialisasi. Dulu orang bercakap-cakap secara tatap muka dengan lawan bicaranya. Teknologi lalu menyediakan alat komunikasi jarak jauh yang sangat persona, seperti telepon selular.

Kini orang bersosialisasi di media sosial. Mereka berkomunikasi dengan temannya atau khalayak melalui media seperti Twitter.

Tapi perubahan media ini tak diikuti dengan pemahaman tentang media sosial, termasuk pernak-perniknya. Banyak orang yang asal saja melontarkan kalimat personal untuk orang lain. Mereka tak sadar bahwa percakapan di Twitter bisa dibaca oleh lain. Media ini adalah ruang publik yang terbuka.

Kalau saling melempar “kode” di linimasa untuk menyatakan perasaan kangen sih, tentu saja masih oke saja. Para pengikutnya tentu memaklumi kegalauan mereka.

Tapi jika status yang ditulis adalah serangan ke pacar gelap/terang, mantan pacar, suami/istri, atau ke siapa pun di pihak berseberangan, tentu saja para pembacanya jadi bertanya-tanya. Mungkin bahkan ada yang merasa terganggu karena ikut terseret ke dalam pusaran perkara yang bukan urusan mereka.

Linimasa adalah pentas yang penuh kecamuk. Kata-kata kadang bisa mengagetkan pembaca. Celakanya, banyak orang meremehkan kata. Menganggap ia hanya dekor dari sebuah kalimat. Padahal setiap kata punya sayap. Ia bisa terbang ke mana-mana, jauh dari kepala pelontar dan penerimanya.

Di linimasa, kitalah yang memberi makna pada setiap kata. Tapi kita juga yang tersesat di belantara tafsirnya.

>> Selamat hari Rabu, Ki Sanak. Bagaimana sampean mempermainkan kata di linimasa?

Tagged: , , , ,

§ 48 Responses to Pacar Pecas Ndahe

  • lambangsarib mengatakan:

    Lama lama akan ada 2 akun menikah di twitter.

    @modin : “aku nikahkan si @fulan dan @fulanah dengan mas kawin 1000 follower dibayar tunai”.

    Bagi saksi2 yg setuju pernikahan ini harus mension. Bagi yg tidak setuju harus DM.

    Hidangan disajikan dalam twitpic

    • ian egx mengatakan:

      Bwahaha… Kocak, mungkinkah?

  • hafiz hanafi mengatakan:

    Sering2 ndro bikin akun seperti ini, yg bertemakan : mengingatkan tapi jªñgåñ ​ terkesan menggurui | memotivasi | pengetahuan sosial,politik,hukum yg ndoro kuasai |

  • indi mengatakan:

    Saya sempat alami juga kejadian seperti yang ditulis Ndorokakung di awal, dan tak pernah mengerti bahwa ada orang yang rela menunggu suatu moment hanya untuk menjelek2an mantan. Dan moment itu dilakukan terus menerus kepada siapa saja. Apa gak capek atau bosan ya?

  • GN mengatakan:

    Ekspresi orang di jejaring sosial emang beragam ya? :-)

  • Hedi mengatakan:

    horeee ndoro punya “pacar bayangan” *gagal paham*

  • @yankmira mengatakan:

    emmm… kayanya orang puas aja gitu Ndoro kalau nulis di linimasa, apalagi twitter. walau itu sekedar pujian atau ungkapan hati. tapi sayangnya, konflik juga salah satu pilihan supaya bisa eksis di twitter. Ah semoga aku tetap bisa mengontrol kata dan tulisan. makasih share nya Ndoro :D

  • yoriyuliandra mengatakan:

    Betul juga, rata-rata tweeps sering merasa banyak hal-hal yang tidak layak tayang ternyata muncul di lini masa. Tapi kasus saling sindir dan kelahi emang kelihatan konyol.

    Bijak dalam berinternet *kira-kira begitu…

  • niee mengatakan:

    aaahh twitter masih megang yak di indonsia sekarang ndoro.. tqpi aku seh udah mulqi mengurangi update di tw.. di blog aja deh :p

  • ardiansyah mengatakan:

    hahahaha
    gua juga dulu pernah ndoro brantem gara2 status FB

    #kacau anak labil sekarang , kwkwkwkwk

  • Asop mengatakan:

    Twitter saya… belom pernah dipakai. >.<"

    • Asop mengatakan:

      Wawasan saya bertambah, linimasa itu adalah timeline! :D

  • walah burung-burung :)

  • jarwadi MJ (@jarwadi) mengatakan:

    tekan tombol “mute” untuk account yang sedang bertikai, masukin “list” account accout yang sedang mesraan :D

  • Applaus Romanus mengatakan:

    diangkat demgan baik nih…. status dipakai untuk berkomunikasi satu sama lain. Sangat baik dan menyenangkan melihat kemesraan yang terbuka, tapi tidak sebaliknya.

  • ladeva mengatakan:

    Kode bertebaran di twitter. Syukur kalau ditangkap oleh orang yang dituju tapi kalau jadinya salah paham jadinya kacau! :D

  • yustha tt mengatakan:

    hihihi….geli sama yg kode2… :P

  • Fauzi Enigma Web mengatakan:

    Ini blog title-nya aneh menurut gw. Bahasanya itu. tetapi enak juga baca artikelnya.

  • Jauhari mengatakan:

    Semacam #kode diatas #kode

  • iklan baris bagus mengatakan:

    begitulah efek buruk internet. ruang privat sudah bercampur dengan ruang publik. sayangnya kita tidak bisa membebaskan diri dari kenyataan ini. so, enjoy aja :)

  • cK mengatakan:

    untung aku gak pernah dinomensyen sama ndoro…

  • syahrul mengatakan:

    Itu namanya dari cinta jadi benci..

  • aw mengatakan:

    kayak lagu aja cinta jadi benci

  • aw mengatakan:

    cinta…jadi benci

  • Anto Banang mengatakan:

    Postingan ini serasa menjadi sambungan potingan sebelumnya ya Ndoro……Mencerahkan.

  • Mas Antyo mengatakan:

    Jadi masalah orang-orang itu sebenarnya apa?
    Atau mereka merasa tak bermasalah?

  • Iklan Surya mengatakan:

    banyaknya media untuk berinteraksi dapat juga berarti harus kuat-kuatnya menahan diri :)

  • dayonice mengatakan:

    Pesan ini begitu mengena tetapi terkadang orang lain sulit memahaminya, maka disitulah peran kata-kata dalam menyampaikan sebuah makna pribadi kepada publik, namun harus dibarengi dengan pengetahuan tata krama.

    Bold statement:
    Linimasa adalah pentas yang penuh kecamuk. Kata-kata kadang bisa mengagetkan pembaca. Celakanya, banyak orang meremehkan kata. Menganggap ia hanya dekor dari sebuah kalimat. Padahal setiap kata punya sayap. Ia bisa terbang ke mana-mana, jauh dari kepala pelontar dan penerimanya.

    Di linimasa, kitalah yang memberi makna pada setiap kata. Tapi kita juga yang tersesat di belantara tafsirnya.

  • hitamputih mengatakan:

    Tkicau salah sasaran malah bisa kacau…

  • puyuhjaya mengatakan:

    Susunan huruf ternyata punya emosi ya. Twitter kan isinya cuma huruf-huruf.

  • the-netwerk mengatakan:

    nice :)
    saya senang mengikuti postingan anda
    postingan yang menarik .

    salam kenal yya dan sempatkan mampir ke
    website kami.

  • elfarizi mengatakan:

    Kowawa Kowawa …
    #Nih demam twitter :D

  • indodrive mengatakan:

    semakin kalut …

  • Ilham mengatakan:

    think before posting. itulah mantra yang mungkin harus diamalkan setiap netizen.

  • iwan mengatakan:

    Mulutmu adalah harimaumu.
    tulisanmu adalah ?

  • welldie mengatakan:

    baru tau timeline itu linimasa *jadi malu*

  • mumu mengatakan:

    mesra pecas ndahe

  • goop mengatakan:

    lini masa seperti pasar malam, kata ndoro di tipi :)
    maka: satu2 orang datang, satu2 pergi. Yg masih tinggal, cemas kpn gilirannya pergi. :)

  • Juman Rofarif mengatakan:

    keren!

  • Baju Anak mengatakan:

    Hahahaha…. Lucu banget…

  • Togap Tartius mengatakan:

    ah, di timeline, terutama teman-teman saya juga sering melempar #kode yang nomention tersebut.
    tapi memang harus dipastikan dulu kalau orangnya juga akan menbacanya. kalau ngga, ya ga akan ada artinya.

  • draguscn mengatakan:

    Bahkan pada saat BBM sudah bisa digunakan di ruang privat juga masih ada sesama teman yang berlempar #kode :D Ini golongan exhibis barangkali ya? hehehe

  • agen bola terbesar mengatakan:

    pengaruh banget kalau internt ndoro .. hhe

  • laser cutting fashion mengatakan:

    perkembangan jaman yg semakin maju ..top lah pkoknya ,.,

  • Gamat Luxor Batam mengatakan:

    bagus postingannya…
    keep update, ya…

  • pengobatan alami mengatakan:

    makin maju aja..
    salam kenal…

  • Anugerahadina mengatakan:

    ada hal yang bisa saya ambil dari tulisan om bahwa ternyata penggunaan kata linimasa lebih menarik ketimbang menggunakan kata “timeline”.^^

Tinggalkan Balasan

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Ubah )

Connecting to %s

What’s this?

You are currently reading Pacar Pecas Ndahe at Ndoro Kakung.

meta

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 262 pengikut lainnya.