Pedoman Pecas Ndahe
Februari 6th, 2012 § 39 Komentar
Sejarah ditorehkan di Gedung Dewan Pers, Jakarta, Jumat, 3 Februari 2012. Dewan Pers dan komunitas pers hari itu mengesahkan Pedoman Pemberitaan Media Siber. Pedoman itu menjadi panduan untuk seluruh pengelola media siber di Indonesia.
Penyusunan Pedoman ini, kata anggota Dewan Pers Agus Sudibyo, untuk merespons perkembangan pesat media siber di Indonesia dan meningkatnya jumlah pengaduan terhadap media siber yang diterima Dewan Pers.
Adapun proses penyusunan Pedoman Pemberitaan Media Siber dimulai sejak tahun lalu. Saya juga sempat diundang satu kali dalam diskusi perumusan draft pedoman.
Dewan membuka peluang pedoman ini direvisi di masa mendatang karena media siber terus berkembang pesat. « Read the rest of this entry »
Pacar Pecas Ndahe
Februari 1st, 2012 § 74 Komentar
Laki-laki itu tiba-tiba menyebut akun Twitter saya di linimasa. Tidak hanya itu. Ia juga menggamit nama seorang penyiar televisi perempuan ternama dan memaki-makinya. Lelaki itu bahkan menyebut sang penyiar dengan julukan yang tak senonoh.
Saya kaget, tak menyangka ada orang yang dengan kasarnya mencemooh perempuan secara terbuka di ruang publik. Dan aksi itu dilakukannya beberapa kali. Dengan pesan yang kurang lebih sama: menjelek-jelekkan perempuan itu.
Saya diam saja, tak bereaksi membalas pesan lewat Twitter. Saya hanya membatin, pasti ada sebabnya lelaki itu menuliskan pesan yang tak pantas itu.
Dugaan saya terjawab kemudian. Perempuan itu mengirimkan DM. Ia meminta maaf dan menjelaskan siapa lelaki itu. Rupanya mereka pernah menjalin ikatan suami-istri. Biduk rumah tangga mereka ternyata berhenti di tengah jalan.
Akhirnya mereka bercerai. Sang suami tampaknya tak menerima keputusan pisah itu. Ia berang. Lalu menyerang mantan istrinya secara terbuka di linimasa. Serangan itu berlangsung terus-menerus, nyaris tanpa henti.
Dan saya jadi korban, ikut terseret mengetahui masalah orang lain yang sebenarnya tak perlu saya ketahui. « Read the rest of this entry »
Twitwar Pecas Ndahe
Januari 30th, 2012 § 44 Komentar
TWITWAR. Saya mengenal kata itu dari linimasa di Twitter. Sampean boleh mengartikannya sebagai debat antara pengguna Twitter, boleh juga memaknainya sebagai “perang kata”.
Saya tak tahu sejak kapan dan siapa yang pertama kali melakukan twitwar. Yang saya tahu, laga ini meletup tanpa jadwal tetap. Sering kali terjadi begitu saja. Biasanya perang kata ini terjadi tanpa perjanjian, seperti kita hendak berobat ke dokter, atau memasang pengumuman seperti ujian akhir nasional.
Tapi anehnya, kabar tentang aksi seperti itu bisa dengan cepat beredar dari satu linimasa ke linimasa lain dan segera menarik perhatian para penyimaknya. Apalagi jika para pihak yang terlibat dari kalangan pesohor atau punya banyak pengikut.
Berbeda dari perang bersenjata, saya belum pernah mendengar ada korban cedera atau meninggal gara-gara twitwar. Paling banter, salah satu pihak yang terlibat segera mengunci akun atau menghilang dari linimasa. « Read the rest of this entry »
Matt Pecas Ndahe
Januari 20th, 2012 § 54 Komentar
Pernah merasa buntu pikiran dan tak tahu hendak menulis apa? Pernah sedih lantaran blog sudah lama tak diperbarui?
Saya sering merasakannya. Lalu tiba-tiba saya menemukan blog Bapak WordPress, Matt Mullenweg itu. Di antara beberapa tulisannya, saya temukan posting ini:
Jadi beginilah cara saya memperbarui blog ini.
>> Selamat hari Jumat, Ki Sanak. Bagaimana cara sampean mengisi kekosongan blog?
Revolusi Pecas Ndahe
November 30th, 2011 § 184 Komentar
Seorang perempuan. Sebuah tas Hermes di tangan. Sore itu aku menemuinya di sebuah kafe kecil di jantung Jakarta. Hujan turun berderai-derai di luar. Jalanan macet. Seperti biasa.
Duduk di depanku dengan takzim, ia memamerkan senyumnya yang ringkas. Parasnya lesi. Aku maklum. Dia hidup dari satu tekanan ke tekanan lain. Dari sebuah kekuasaan ke kekuasaan berikutnya. Ia terhimpit.
Seperti biasa, sore itu ada dua cangkir kopi di atas meja. Satu kopi tubruk untukku. Satu cappucino kesukaannya.
Dua cangkir kopi. Dua manusia. Bumi dan langit. Tiba-tiba aku merasa yang namanya iba itu bisa datang dari mana saja. Ia kerap muncul begitu saja tanpa sebab yang jelas. Paling tidak demikian yang kurasakan sore itu.
Ia bahkan bisa datang dari secangkir kopi. Seorang teman. Dan beberapa butir air mata yang bergulir perlahan di pipi.
“Maaf, kadang aku masih cengeng, Mas,” katanya perlahan. “Kamu nggak usah ketawa.”
Mukaku datar. Pura-pura tak mendengar. « Read the rest of this entry »
