Arsip untuk ‘Blog’ Kategori

Mulut Pecas Ndahe

Nopember 3, 2008

Ini berita dari Okezone yang menggegerkan itu.

Lalu, di bawah ini berita dari Serambi Indonesia Online yang menjelaskan duduk perkaranya. Tapi, sayang ndak ada konfirmasi dari salah satu pihak.

Silakan sampean mengambil kesimpulan sendiri. Tapi, buat saya, ini semacam pengingat bahwa mulutmu harimaumu …

Hari Pecas Ndahe

Oktober 27, 2008

Hari ini, satu tahun yang lalu, untuk pertama kalinya diadakan Pesta Blogger. Lewat forum temu muka dan silaturahmi blogger Indonesia ini, dicanangkanlah Hari Blogger Nasional oleh Menteri Kominfo Muhammad Nuh.

Untuk memperingati dan merawat hari baik ini, beberapa komunitas blogger berencana mengadakan acara khusus hari ini. Komunitas blogger Cahandong di Yogyarta, Wongkito di Palembang, dan Loenpia di Semarang, secara bersama akan menggelar peringatan di tiga tempat berbeda.

Bila tertarik dan hendak ikut berpartisipasi, sampean bisa mengikuti beritanya di blog Cahandong, Wongkito, dan Loenpia.

Peringatan yang sama sebetulnya sudah dilaksanakan teman-teman blogger di Jakarta, Jumat pekan lalu, di rumah singgah blogger dagdigdug, berbarengan dengan malam perkenalan warung angkringan Wetiga.

Selembar kenangan, secarik harapan, mungkin akan terus ditulis setelah keriuhan nanti malam di tiga kota, dan mungkin di kota-kota lain. Sejarah tentang blog dan komunitas blog Indonesia pun bakal terus berderak.

Siapakah yang akan mengisi dan mewarnainya? Tentu saja sampean semua …

>> Selamat hari Senin, Ki Sanak. Apakah hari ini sampean bisa menghadiri salah satu acara kenangan itu?

Perhelatan Pecas Ndahe

Oktober 26, 2008

Kabar yang ditunggu itu akhirnya keluar juga. Secara resmi telah diumumkan bahwa Pesta Blogger tahun ini akan digelar pada 22 November 2008 di Gedung BPPT Lantai III, Jalan MH Thamrin, Jakarta Pusat. Mohon maaf saya agak telat mengumumkan kabar ini lewat posting tertunda.

Pesta Blogger 2008

Pengumuman resmi itu disampaikan lewat konferensi pers di gedung BIP, Depkominfo, pada Rabu, 22 Oktober. Setelah acara konferensi pers tersebut, saya mendapat banyak pertanyaan mengenai kapan pendaftaran dibuka dan mengapa perhelatan akbar ini didukung oleh pemerintah Amerika Serikat melalui Kedutaan Besar Amerika Serikat di Jakarta.

Lewat posting ini saya kabarkan bahwa pendaftaran PB08 memang belum dibuka. Tapi, seperti tahun lalu, tata cara pendaftaran akan diumumkan lewat blog Pesta Blogger. Jadi ikuti terus beritanya di sana.

Gratis? Tidak. Tahun ini panitia memungut biaya tanda masuk Rp 50 ribu. Saya berharap teman-teman tak terlalu keberatan dengan ongkos yang tak seberapa ini. (lebih lanjut…)

Wetiga Pecas Ndahe

Oktober 26, 2008

Makanlah dengan lauk lapar. Begitulah leluhur saya dulu pernah memberi nasihat. Bila kita lapar, makanan apa pun jadi terasa enak. Lalu berhentilah ketika kenyang. Makan dan minumlah secukupnya saja karena pada dasarnya kita makan itu sekadar menyambung hidup.

Bertahun-tahun kemudian, setelah saya sudah bisa mencari makan dan minum sendiri, saya mulai mengerti arti nasihat para tetua itu. Saya memahami filosofi tentang makan: bukan makanannya yang penting, melainkan untuk apa kita makan.

wetiga

Maka, Jumat malam lalu, di bawah langit mendung Jakarta, di tepian Jalan Langsat di kawasan Kebayoran Baru, saya pun menyantap makanan berteman rasa lapar di warung angkringan yang baru saja diresmikan: Warung Wedangan Wifi (aka wetiga) yang punya tagline “4 Sehat. 5 Sempurna. 6 Internet.” (lebih lanjut…)

Kemiskinan Pecas Ndahe

Oktober 15, 2008

Tuan, tahukah kau tentang si miskin yang rudin? Siapakah mereka gerangan? Dari manakah mereka datang?

Seseorang baru saja memberi tahu — dengan wajah keruh. Ia berbisik ketika bercerita bahwa si miskin adalah tokoh sejarah dengan riwayat yang sangat panjang. Mungkin terlalu panjang. Ia ada sebelum para raja dinobatkan, dan ia tetap ada di zaman ini, sesudah para raja (kecuali di kartu remi) berhenti berfungsi.

Si miskin lahir, anehnya, bersamaan dengan lahirnya si kaya. Di masyarakat yang masih terbatas gerak naik-turunnya, di kalangan puak yang belum mengenal uang yang dimiliki sendiri dan barang yang diperjual-belikan, si miskin adalah tokoh cerita yang ganjil. Mereka tak punya makanan, tak punya teman.

Pernahkah Tuan bersalaman dengannya?

Mungkin belum. Tuan dan puan tentulah enggan berdekatan, apalagi bersalaman dengan mereka, kaum paria. Mereka, si rudin, jelata yang tak bernama datang dari mana-mana, dan bergerombol di mana-mana. Celakanya, sejarah mengajarkan, si miskin akan selalu bersama kita.

Pernahkah Tuan menjenguk rumah kardus mereka? Mengintip nasi kerak di piring mereka? (lebih lanjut…)