<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	xmlns:georss="http://www.georss.org/georss" xmlns:geo="http://www.w3.org/2003/01/geo/wgs84_pos#" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/"
	>

<channel>
	<title>Ndoro Kakung &#187; Paklik Isnogud</title>
	<atom:link href="http://ndorokakung.com/category/paklik-isnogud/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://ndorokakung.com</link>
	<description></description>
	<lastBuildDate>Mon, 13 Feb 2012 04:35:32 +0000</lastBuildDate>
	<language>id</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.com/</generator>
<cloud domain='ndorokakung.com' port='80' path='/?rsscloud=notify' registerProcedure='' protocol='http-post' />
<image>
		<url>http://1.gravatar.com/blavatar/5528931ced950992211502a6002437c3?s=96&#038;d=http%3A%2F%2Fs2.wp.com%2Fi%2Fbuttonw-com.png</url>
		<title>Ndoro Kakung &#187; Paklik Isnogud</title>
		<link>http://ndorokakung.com</link>
	</image>
	<atom:link rel="search" type="application/opensearchdescription+xml" href="http://ndorokakung.com/osd.xml" title="Ndoro Kakung" />
	<atom:link rel='hub' href='http://ndorokakung.com/?pushpress=hub'/>
		<item>
		<title>Hidup Pecas Ndahe</title>
		<link>http://ndorokakung.com/2009/09/25/hidup-pecas-ndahe/</link>
		<comments>http://ndorokakung.com/2009/09/25/hidup-pecas-ndahe/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 25 Sep 2009 05:45:45 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Ndoro Kakung</dc:creator>
				<category><![CDATA[Paklik Isnogud]]></category>
		<category><![CDATA[Pitutur]]></category>
		<category><![CDATA[bahagia]]></category>
		<category><![CDATA[entah]]></category>
		<category><![CDATA[filsafat]]></category>
		<category><![CDATA[gerimis]]></category>
		<category><![CDATA[hidup]]></category>
		<category><![CDATA[hujan]]></category>
		<category><![CDATA[indah]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://ndorokakung.com/?p=4277</guid>
		<description><![CDATA[Apa arti hidup yang indah buat sampean? Sampean barangkali akan menjawab dengan tiga kata: Twitter, BlackBerry, dan kopi. Tapi para pecinta produk Mac mungkin akan menjawab dengan kalimat lain, misalnya iPod di tangan kiri dan iPhone di tangan kanan. Nah, yang ndak punya BlackBerry atau gadget bikinan Mac bagaimana? Ho-ho-ho &#8230; tentu saja ada ribuan [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=ndorokakung.com&amp;blog=4074538&amp;post=4277&amp;subd=ndorokakungmu&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<blockquote><p>Apa arti hidup yang indah buat sampean?</p></blockquote>
<p>Sampean barangkali akan menjawab dengan tiga kata: Twitter, BlackBerry, dan kopi. Tapi para pecinta produk Mac mungkin akan menjawab dengan kalimat lain, misalnya iPod di tangan kiri dan iPhone di tangan kanan. </p>
<p>Nah, yang ndak punya BlackBerry atau gadget bikinan Mac bagaimana?</p>
<p>Ho-ho-ho &#8230; tentu saja ada ribuan tafsir tentang hidup yang indah. Setiap orang pasti punya jawaban masing-masing. </p>
<p>Melihat gerimis jatuh di sore hari adalah sesuatu yang indah bagi si Badu. Di mata Mbak Centil, hidup itu indah kalau ada black tea latte, croissant, dan novel <em>Rara Mendut</em>. Mendengar burung berkicau itu indah bagi si Fulan. Menikmati daun-daun cemara yang melayang ke bawah itu indah bagi si Anu. Duit jutaan di kantong kiri dan kanan itu sesuatu yang indah buat Mat Kepeng. Ngebut di atas sedan sport itu hidup yang indah untuk Kang Balap. Dan seterusnya &#8230;</p>
<p>Lantas apa arti hidup yang indah buat saya? <span id="more-4277"></span></p>
<p>Bagi saya, hidup yang indah itu berubah-ubah. Tempo hari saya merasa hidup begitu indah ketika bangun pagi dan mendengar gema takbir berkumandang. Kemarin saya menikmati hidup yang indah dengan membaca <em>Perahu Kertas</em> sambil ngemil kacang mede. Besok, mungkin hidup bakal lebih indah kalau saya tiba-tiba dapat hadiah undian miliaran rupiah.</p>
<p>Ah, ternyata hidup begitu sederhana buat saya. Saya mudah disenangkan oleh kenikmatan-kenikmatan yang mungkin sangat sepele bagi orang lain. Tapi orang lain mungkin harus mati-matian mengejar hidup yang indah agar merasa bahagia. </p>
<p>&#8220;Padahal kebahagiaan itu ada di benak dan sanubari kita masing-masing, Mas. Bukan di tempat lain,&#8221; demikian Paklik Isnogud pernah berkata.</p>
<p>&#8220;Nah, Australia,&#8221; kata Paklik lagi, &#8220;adalah satu-satunya negeri yang memiliki unta dan kebahagiaan. Memang sulit dipercaya bahwa ada negeri yang punya dua hal itu sekaligus, tapi saya tak bergurau, Mas.&#8221;</p>
<p>Menurut cerita, unta itu datang bersama rombongan imigran Afghan dua abad yang lalu, dan ternyata bisa berkembang biak di sana. Di belantara Australia kini bahkan ada unta-unta liar, dan orang harus menyiapkan jerat dulu untuk bisa menjinakkan makhluk ini.</p>
<p>Ada yang mengatakan unta Australia itu sampai kini hanya bisa dibujuk dengan ucapan Afghan dan sedikit lafal Arab (seperti nenek moyang mereka, bahasa Inggris mereka diperkirakan jelek sekali) tapi mungkin cerita ini tak sungguh-sungguh. Yang lebih masuk akal ialah bahwa unta Australia adalah unta bebas dan berbahagia.</p>
<p>Kebahagiaan memang salah satu ciri negeri itu. Dalam survei tentang Australia, <em>The Economist</em> edisi sepuluh tahun silam, mengutip satu  pengumpulan pendapat yang membandingkan rasa bahagia orang di pelbagai negara. Diketahui bahwa orang Australia berada di tingkat atas. Orang Jepang, pekerja keras pembangun mukjizat pertumbuhan ekonomi itu, meletakkan diri di tingkat bawah.</p>
<p>Kenapa? Jawabnya: orang Australia adalah orang Jawa yang jauh lebih kaya. Mereka paham betul apa arti hidup yang tak ngoyo &#8212; persis seperti orang Jawa pada umumnya.</p>
<p>Tapi sebuah buku petunjuk terbitan 1986 menulis, &#8220;Satu di antara tiga orang di Australia bekerja untuk pemerintah, dan satu dari 10 menganggur. Kadang-kadang sukar membedakan mana yang menganggur dan mana yang bekerja untuk pemerintah.&#8221;</p>
<p>Aha. Hari ini tiba-tiba saya merasa hidup ini sangat indah karena menjadi orang Jawa yang belum sekaya orang Australia. </p>
<p><strong>Selamat Idul Fitri 1430 H. Mohon maaf lahir dan batin.</strong> </p>
<p>&gt;&gt; <em>Selamat hari Jumat, Ki Sanak. Apakah hari ini sampean merasa hidup ini indah?</em></p>
<br />Posted in Paklik Isnogud, Pitutur Tagged: bahagia, entah, filsafat, gerimis, hidup, hujan, indah <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/ndorokakungmu.wordpress.com/4277/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/ndorokakungmu.wordpress.com/4277/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/ndorokakungmu.wordpress.com/4277/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/ndorokakungmu.wordpress.com/4277/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/ndorokakungmu.wordpress.com/4277/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/ndorokakungmu.wordpress.com/4277/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/ndorokakungmu.wordpress.com/4277/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/ndorokakungmu.wordpress.com/4277/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/ndorokakungmu.wordpress.com/4277/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/ndorokakungmu.wordpress.com/4277/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/ndorokakungmu.wordpress.com/4277/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/ndorokakungmu.wordpress.com/4277/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/ndorokakungmu.wordpress.com/4277/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/ndorokakungmu.wordpress.com/4277/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=ndorokakung.com&amp;blog=4074538&amp;post=4277&amp;subd=ndorokakungmu&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://ndorokakung.com/2009/09/25/hidup-pecas-ndahe/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>68</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/d5cb2e365e99e42886dd55a56eb3361f?s=96&#38;d=monsterid" medium="image">
			<media:title type="html">Ndoro Kakung</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Melayu Pecas Ndahe</title>
		<link>http://ndorokakung.com/2009/05/11/melayu-pecas-ndahe/</link>
		<comments>http://ndorokakung.com/2009/05/11/melayu-pecas-ndahe/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 11 May 2009 12:54:54 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Ndoro Kakung</dc:creator>
				<category><![CDATA[Indonesiana]]></category>
		<category><![CDATA[Paklik Isnogud]]></category>
		<category><![CDATA[lagu]]></category>
		<category><![CDATA[melayu]]></category>
		<category><![CDATA[pop]]></category>
		<category><![CDATA[st12]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://ndorokakung.com/?p=3341</guid>
		<description><![CDATA[Band-band beraliran Melayu membuat gerah sebagian musisi. Lalu kabarnya ada gerakan menolak band-band Melayu segala. Ini soal bisnis atau selera yang menolak diseragamkan? Saya bukan pengarang lagu, pemain band, atau konduktor orkestra. Saya bahkan ndak bisa memainkan satu alat musik pun. Pendeknya saya bukan musikus. Soal musik, saya nol besar. Pengetahuan musik saya payah. Begitu [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=ndorokakung.com&amp;blog=4074538&amp;post=3341&amp;subd=ndorokakungmu&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<blockquote><p>Band-band beraliran Melayu membuat gerah sebagian musisi. Lalu kabarnya ada gerakan menolak band-band Melayu segala. Ini soal bisnis atau selera yang menolak diseragamkan?</p></blockquote>
<p>Saya bukan pengarang lagu, pemain band, atau konduktor orkestra. Saya bahkan ndak bisa memainkan satu alat musik pun. Pendeknya saya bukan musikus. Soal musik, saya nol besar. Pengetahuan musik saya payah. Begitu pula suara saya. Lah wong kentut saja fales, apalagi menyanyi. Saya tak bisa membaca not balok, membedakan tanda kres dan mol, maupun tanda birama. Jadi jangan tanya pula soal cresendo maupun pianisimo segala.</p>
<p>Tapi saya tahu bagaimana mendengarkan musik. Saya tahu mana musik yang enak dan cocok di kuping atau yang bikin saya senewen. Saya mampu membedakan jenis musik rock, jazz, R&amp;B, Ska, dangdut, atau keroncong. Saya pun tahu lagu apa yang sedang populer atau masuk <em>chart</em>. Kalaupun lupa, saya tahu di mana harus mencari informasinya. </p>
<p>Lantas apa masalahnya? Kenapa tiba-tiba saya menulis soal musik? <span id="more-3341"></span></p>
<p>Jadi begini, Ki Sanak. Saya ini sedang terheran-heran, ndak habis pikir kenapa tiba-tiba ada isu tentang band Melayu, kritik terhadap maraknya lagu-lagu Melayu, dan sebangsanya. Isu itu berseliweran di media infotainment, situs media hiburan, dan di warung-warung. </p>
<p>Saya menduga asal-muasal <em>gegeran</em> ini dari <a href="http://music.detikhot.com/read/2009/04/25/001336/1121111/228/ami-awards-yovie-sindir-st12-dan-dmasiv">pernyataan seorang musikus</a> yang menyindir maraknya band-band yang bernapaskan irama musik Melayu.</p>
<blockquote><p>&#8220;Alhamdulillah. Ini Anugerah Musik Indonesia kan, bukan Anugerah Musik Melayu.&#8221; &#8212; Yovie Widiyanto di acara Anugerah Musik Indonesia 2009, Balai Sarbini, Jakarta, 24 April 2009.</p></blockquote>
<p>Pernyataan itu entah kenapa lalu bergulir menjadi polemik. Sejumlah musikus memberi tanggapan. Penyanyi <a href="http://music.detikhot.com/read/2009/05/08/063624/1128120/228/ussy-jangan-gengsi-suka-pop-melayu">Ussy Sulistiawaty</a>, misalnya, tak merasa banjirnya musik bernuansa Melayu sekarang ini sebagai suatu masalah. Malah kata Ussy, mereka yang tidak suka jenis musik tersebut hanya karena termakan gengsi.</p>
<p>Tere, penyanyi, <a href="http://music.detikhot.com/read/2009/04/28/154046/1122740/228/tere-musik-melayu-sah-sah-saja">mengatakan</a>, &#8220;Menurut saya musik Melayu sah-sah saja. Tapi asal jangan seragam.&#8221;</p>
<p>Seragam? Maksudnya? Entah &#8230;</p>
<p>Ada yang mencoba netral, seperti yang saya baca <a href="http://www.tempointeraktif.com/hg/musik/2009/05/09/brk,20090509-175292,id.html">di sini</a>.</p>
<blockquote><p>&#8220;Saya tidak ingin memihak, tetapi secara obyektif, menurut saya, orang mau ngeband kemudian ada unsur Melayu atau unsur lain seperti rock, jazz, samba itu hal yang wajar dan biasa saja.” &#8212; pengamat musik Bens Leo kepada Tempo Interaktif. </p></blockquote>
<p>Saya jadi terheran-heran. Sebenarnya ada apa sih?</p>
<p>Ada yang mengatakan ini semata-mata soal bisnis. Gara-gara band Melayu sedang populer, angka penjualan albumnya rata-rata tinggi, para produser rekaman ogah memproduksi album non Melayu. Akibatnya, band-band yang non Melayu mengeluh sepi order. Kambing hitam dicari. Yang Melayu itu harus disingkirkan. </p>
<p>Tentu saja sinyalemen ini belum tentu benar. Belum tentu ini melulu urusan bisnis. Barangkali ada sebab-sebab lain yang kita belum tahu.</p>
<p>&#8220;Tampaknya ada sesuatu yang senantiasa terjadi pada musik dan jatuhnya di dalam hidup sehari-hari. Musik memiliki warna-warni prestise,&#8221; kata Paklik Isnogud dengan suaranya yang melodius itu. </p>
<p>&#8220;Barangkali itulah sebabnya Mas, di Indonesia, entah dari mana asal muasalnya, dulu ada jenis lagu yang disebut &#8216;seriosa&#8217; dan ada yang &#8216;hiburan&#8217;. Yang pertama disebarkan luas oleh RRI Jakarta 50 tahun yang lalu dengan nama yang seakan-akan datang dari Italia. Umumnya, musik ini ditandai oleh keangkeran, warna suara tinggi, langkahnya lambat, suaranya syahdu, tak sembarangan, pendeknya dari hati yang gawat. Sebenarnya tak banyak bedanya jenis lagu-lagu ini dengan <em>musicante</em> yang dinyanyikan orang di Venezia buat para turis. Tapi di Indonesia, ia memperoleh kelas tersendiri.&#8221; </p>
<p>&#8220;Adakah sebab lain, Paklik?&#8221;</p>
<p>&#8220;Barangkali juga karena pada dasarnya kita menghormati keseriusan. Mungkin kita ini kelompok yang mengutamakan segala sesuatu yang serius. Kita sekumpulan orang terpilih. Prestisius. Elit. Kita hanya menghargai dan bisa menikmati musik-musik yang &#8216;tinggi&#8217;. Sensasi, gerak, celoteh, main-main, seperti yang melekat pada lagu-lagu pop itu dianggap bisa dilakukan setiap orang. Bahkan seorang presiden pun bisa melagukan <em>Kemesraan</em>. Karena itulah, lagu yang populer sering dianggap bukan lagu yang punya prestise. </p>
<p>Apa boleh buat, musik ‘tinggi’, prestisius, memang menghendaki bakat yang khusus, visi yang luar biasa, latihan yang tak main-main. Tapi dengan demikian memang akan banyak orang yang terasing dari proses kehidupan yang ‘tinggi’ itu. </p>
<p>Musik para jenius bukanlah musik untuk orang ramai. Ia musik ‘elitis’. Dalam banyak hal ia juga mahal. Bukankah menambang berlian juga memerlukan waktu, kecakapan, dan perlengkapan khusus?</p>
<blockquote><p>Hanya lingkungan yang cocok dan sumber kekayaan yang besar yang dapat melahirkan seniman besar buat orkes besar dan sebuah gedung seperti Sydney Opera House.</p></blockquote>
<p>Meski begitu, kita tak perlu menjadi orang yang snob, lantas  mencemooh orang lain yang kita anggap sebagai kere unyik. Toh semangat populisme masa kini tak mampu mengganyang ‘musik tinggi’ itu. Begitu juga sebaliknya, kalangan elit tak bakal sanggup meringkus musik pasaran itu lalu membuangnya ke comberan. Soal selera, kita tak bisa diseragamkan, bukan?&#8221;</p>
<p>&gt;&gt; <em>Selamat hari Senin, Ki Sanak. Apakah sampean menyukai lagu-lagu ST12?</em></p>
<br />Posted in Indonesiana, Paklik Isnogud Tagged: lagu, melayu, pop, st12 <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/ndorokakungmu.wordpress.com/3341/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/ndorokakungmu.wordpress.com/3341/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/ndorokakungmu.wordpress.com/3341/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/ndorokakungmu.wordpress.com/3341/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/ndorokakungmu.wordpress.com/3341/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/ndorokakungmu.wordpress.com/3341/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/ndorokakungmu.wordpress.com/3341/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/ndorokakungmu.wordpress.com/3341/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/ndorokakungmu.wordpress.com/3341/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/ndorokakungmu.wordpress.com/3341/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/ndorokakungmu.wordpress.com/3341/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/ndorokakungmu.wordpress.com/3341/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/ndorokakungmu.wordpress.com/3341/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/ndorokakungmu.wordpress.com/3341/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=ndorokakung.com&amp;blog=4074538&amp;post=3341&amp;subd=ndorokakungmu&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://ndorokakung.com/2009/05/11/melayu-pecas-ndahe/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>66</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/d5cb2e365e99e42886dd55a56eb3361f?s=96&#38;d=monsterid" medium="image">
			<media:title type="html">Ndoro Kakung</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Politikana Pecas Ndahe</title>
		<link>http://ndorokakung.com/2009/03/16/politikana-pecas-ndahe/</link>
		<comments>http://ndorokakung.com/2009/03/16/politikana-pecas-ndahe/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 16 Mar 2009 07:11:44 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Ndoro Kakung</dc:creator>
				<category><![CDATA[Blog]]></category>
		<category><![CDATA[Indonesiana]]></category>
		<category><![CDATA[Paklik Isnogud]]></category>
		<category><![CDATA[dagdigdug]]></category>
		<category><![CDATA[indonesia]]></category>
		<category><![CDATA[politik]]></category>
		<category><![CDATA[politikana]]></category>
		<category><![CDATA[web 2.0]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://ndorokakung.com/?p=3089</guid>
		<description><![CDATA[Binatang apakah gerangan politik itu? Mengapa generasi iPod terkesan ogah bersentuhan dengan politik, dan mereka seolah menganggapnya semacam penyakit menular yang harus dijauhi? Paklik Isnogud cuma tersenyum geli ketika saya menanyakan perihal politik dan bagaimana generasi muda menilai politik masa kini. Ia malah mengacak-acak kepala saya yang nyaris tiada berambut. Saya maklum dan menerima nasib [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=ndorokakung.com&amp;blog=4074538&amp;post=3089&amp;subd=ndorokakungmu&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://politikana.com"><img src="http://ndorokakungmu.files.wordpress.com/2009/03/politikana.jpeg?w=300&#038;h=167" alt="politikana" title="politikana" width="300" height="167" class="alignleft size-medium wp-image-3091" /></a>Binatang apakah gerangan politik itu? Mengapa generasi iPod terkesan ogah bersentuhan dengan politik, dan mereka seolah menganggapnya semacam penyakit menular yang harus dijauhi?</p>
<p>Paklik Isnogud cuma tersenyum geli ketika saya menanyakan perihal politik dan bagaimana generasi muda menilai politik masa kini. Ia malah mengacak-acak kepala saya yang nyaris tiada berambut.</p>
<p>Saya maklum dan menerima nasib diperlakukan seperti itu. Selain usianya jauh di atas saya, Paklik yang telah menelan asam-garam kehidupan dan pentas politik tentu jauh lebih paham soal ini ketimbang saya. Jadi saya cuma bisa mengumpat dalam hati, &#8220;Semprul!&#8221; <span id="more-3089"></span></p>
<p>&#8220;Begini ya, Mas,&#8221; kata Paklik Isnogud seraya menyesap cangkir kopi hitamnya yang pahit.</p>
<p>Aha, akhirnya dia buka suara. Mungkin dia kasihan melihat tampang saya yang tertekuk dan menyimpan dendam ini, hi-hi-hi &#8230; Saya pun duduk dengan takzim dan siap-siap mendengarkan ceramah Paklik.</p>
<p>&#8220;Oke, jadi bagaimana, Paklik? Tolong kasih saya pencerahan,&#8221; saya berharap.</p>
<p>&#8220;Politik itu pada hakikatnya adalah sebuah proses untuk mencapai tujuan.  Ia mengandung unsur-unsur negosiasi, taktik, kadang juga muslihat. Dalam politik, ada kalanya kita tak menyampaikan pendapat atau suara secara langsung, melainkan diwakilkan. Ada orang yang menjadi perwakilan. Lalu ada partai. Dan seterusnya. </p>
<p>Nah pendidikan politik itu semacam pelajaran tentang politik. Tapi dia tak bisa diberikan cuma beberapa jam, beberapa hari. Apalagi ketika politik sudah seperti jenazah dalam laboratorium, dan hanya ditiup untuk sebuah upacara lima tahun sekali. </p>
<p>Kampanye, seperti yang hari ini mulai bergemuruh di Tanah Air, juga bukan pendidikan politik yang sebenar-benarnya karena politik &#8212; dalam arti kegiatan mencari dan memakai jalan untuk melaksanakan suatu cita-cita yang dianggap baik bagi masyarakat &#8212; telah berubah menjadi proses birokrasi.</p>
<p>Dalam proses itu, pendidikan politik memang tak perlu. Yang diperlukan ialah keterampilan merencanakan, mengontrol, dan mencapai target. Masyarakat ibarat sebuah asrama atau kantor, dan anggota masyarakat ibarat prajurit atau pegawai &#8212; dan tak ada bayangan bahwa masyarakat adalah sebuah bazar yang centang-perenang.</p>
<p>Pendidikan politik justru bermula dari kesadaran akan kecentang-perenangan. Kita dilatih mendengarkan aneka keluh dan keinginan, yang sering tak akur. </p>
<p>Pendidikan politik adalah latihan merumuskan keluh dan keinginan itu, dan mengujinya dalam perdebatan dan kompetisi. Ia mengajarkan perlunya kekuasaan.</p>
<p>Tapi, karena bermula dari asumsi tentang masyarakat sebagai sebuah bazar, pendidikan politik juga sebuah latihan mengakui keterbatasan kekuasaan itu.</p>
<p>Tidak mudah memang. Di sebuah masyarakat yang dianggap sebagai semacam asrama atau kantor, tak akan cukup tersedia infrastruktur kemerdekaan dan kesabaran, yang memberi saluran juga bagi suara yang aneh dan pada saat yang sama menghargai proses hukum. </p>
<p>Dulu, pada 1960-an, politik ada segalanya. Di masa itu, setiap hal dianggap politik, dan selebihnya hanya ilusi.</p>
<p>Tapi kemudian, Orde Baru membuat politik mati. Maka, politik pun hanya ibarat sebuah keramaian: pidato yang membosankan, yang diselamatkan oleh lagu-lagu merdu para penyanyi dangdut.</p>
<p>Klik dan percaturan pribadi menjadi begitu sentral. Dan publik, sebagai faktor, disisihkan. Politik cuma jadi intrik: hantam-menghantam, di suatu arena nun jauh di luar wilayah orang ramai dan tak pernah dipertanggungjawabkan ke sana.</p>
<p>Pada saat orang pada sibuk dengan urusan masing-masing &#8212; karena terdorong oleh kepentingan untuk kaya atau dapat posisi &#8212; masyarakat pun berangsur-angsur akan lepas dari proses politik, yakni proses bersama untuk mengatur hubungan-hubungan kekuasaan yang bisa membentuk corak komunitas yang ada. </p>
<p>Banyak hal kemudian hanya diserahkan kepada sejumlah &#8216;juru atur&#8217;, pemegang kekuasaan negara alias spesialis aman dan tertib. Apatisme masyarakat pun meruyak, kesewenang-wenangan penguasa merayap. Politik mati,&#8221; kata Paklik mengakhiri penjelasannya.</p>
<p>Pikiran saya jadi melayang ke mana-mana. Lalu hinggap di sebuah situs politik berbasis web 2.0 yang baru hari ini mulai ditayangkan secara daring: <a href="http://politikana.com">Politikana</a>.</p>
<p>Saya merasa Politikana lahir karena tak ingin politik wafat di negeri ini.  Bersama publik, Politikana ingin menghidupkan kembali politik. Untuk Indonesia lebih baik. Apakah Politikana berhasil atau gagal, di tangan sampean semualah nasibnya ditentukan. Politikana percaya bahwa politik belum mati. Setidaknya di negeri ini, detik ini.</p>
<p>&gt;&gt; <em>Selamat hari Senin, Ki Sanak. Apakah sampean masih menganggap politik itu perlu ada?</em></p>
<br />Posted in Blog, Indonesiana, Paklik Isnogud Tagged: Blog, dagdigdug, indonesia, politik, politikana, web 2.0 <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/ndorokakungmu.wordpress.com/3089/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/ndorokakungmu.wordpress.com/3089/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/ndorokakungmu.wordpress.com/3089/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/ndorokakungmu.wordpress.com/3089/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/ndorokakungmu.wordpress.com/3089/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/ndorokakungmu.wordpress.com/3089/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/ndorokakungmu.wordpress.com/3089/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/ndorokakungmu.wordpress.com/3089/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/ndorokakungmu.wordpress.com/3089/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/ndorokakungmu.wordpress.com/3089/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/ndorokakungmu.wordpress.com/3089/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/ndorokakungmu.wordpress.com/3089/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/ndorokakungmu.wordpress.com/3089/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/ndorokakungmu.wordpress.com/3089/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=ndorokakung.com&amp;blog=4074538&amp;post=3089&amp;subd=ndorokakungmu&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://ndorokakung.com/2009/03/16/politikana-pecas-ndahe/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>64</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/d5cb2e365e99e42886dd55a56eb3361f?s=96&#38;d=monsterid" medium="image">
			<media:title type="html">Ndoro Kakung</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://ndorokakungmu.files.wordpress.com/2009/03/politikana.jpeg?w=300" medium="image">
			<media:title type="html">politikana</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Selingkuh Pecas Ndahe</title>
		<link>http://ndorokakung.com/2009/02/14/selingkuh-pecas-ndahe/</link>
		<comments>http://ndorokakung.com/2009/02/14/selingkuh-pecas-ndahe/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 13 Feb 2009 17:18:30 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Ndoro Kakung</dc:creator>
				<category><![CDATA[Paklik Isnogud]]></category>
		<category><![CDATA[Pitutur]]></category>
		<category><![CDATA[Piwulang]]></category>
		<category><![CDATA[Sketsa]]></category>
		<category><![CDATA[cerpen]]></category>
		<category><![CDATA[cinta]]></category>
		<category><![CDATA[istri]]></category>
		<category><![CDATA[keluarga]]></category>
		<category><![CDATA[selingkuh]]></category>
		<category><![CDATA[suami]]></category>
		<category><![CDATA[valentine]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://ndorokakung.com/?p=2843</guid>
		<description><![CDATA[Apakah arti cinta dan keluarga yang bahagia? Benarkah keluarga yang berselimut cinta pun tak luput dari kisah perselingkuhan? Paklik Isnogud hanya cengar-cengir ketika saya menanyakan perihal itu. Tanpa membuka mulutnya, dia malah berdiri, lalu membuka lemari di belakang meja kerjanya. Wah, ada apa nih, saya membatin. Saya lihat Paklik mengambil sebuah tape recorder kecil, kemudian [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=ndorokakung.com&amp;blog=4074538&amp;post=2843&amp;subd=ndorokakungmu&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Apakah arti cinta dan keluarga yang bahagia? Benarkah keluarga yang berselimut cinta pun tak luput dari kisah perselingkuhan?</p>
<p>Paklik Isnogud hanya cengar-cengir ketika saya menanyakan perihal itu. Tanpa membuka mulutnya, dia malah berdiri, lalu membuka lemari di belakang meja kerjanya. Wah, ada apa nih, saya membatin.</p>
<p>Saya lihat Paklik mengambil sebuah tape recorder kecil, kemudian meletakkannya di depan saya.</p>
<p>&#8220;Dengarkan, Mas,&#8221; katanya.</p>
<p>&#8220;Oh, apa ini, Paklik?&#8221;</p>
<p>&#8220;Rekaman pembicaraan seorang konsultan perkawinan dengan seorang suami yang sedang digugat cerai oleh istrinya. Saya mendapatkannya dari seorang teman. Sampean ndak perlu tahu siapa nama konsultan dan pasiennya,&#8221; jawab Paklik seraya menekan tombol &#8220;play&#8221;.</p>
<p>Wah &#8230; pasti asyik nih, saya membatin. </p>
<p>Kami lalu duduk dengan tenang. Saya mengunci mulut rapat-rapat karena penasaran dan ingin segera mendengarkan isi rekaman itu. Mendengar perbincangan orang lain memang selalu menggoda perhatian saya. <span id="more-2843"></span></p>
<p>Sesaat kemudian mengalunlah suara kresek-kresek dari tape itu sebelum kemudian terdengar suara seorang perempuan bersuara lembut. Saya membayangkan usianya di atas 40-an tahun. Dia mungkin konsultan perempuan yang dimaksud Paklik.</p>
<p>&#8220;Baiklah, Pak. Kita mulai sesi ini ya. Bapak nggak keberatan kan pembicaraan ini saya rekam untuk keperluan dokumentasi dan analisis?&#8221; tanya perempuan itu. </p>
<p>&#8220;Sama sekali tidak, Bu,&#8221; terdengar jawaban seorang lelaki dengan suara bariton.</p>
<p>Percakapan itu pun dimulai. Sang konsultan memulainya dengan pertanyaan yang umum dan remeh temeh, misalnya tentang nama lengkap lelaki itu, tempat dan tanggal lahir, pekerjaan, hobi, dan kesan-kesannya tentang berita-berita yang tengah menghiasi koran-koran dan layar televisi. </p>
<p>Lelaki itu menjawab seperlunya. Kalimatnya kadang pendek, sesekali panjang. Semacam proses <em>ice breaking</em>. </p>
<p>Sampai kemudian, saya mendengar potongan percakapan tentang hal-hal yang lebih spesifik, sesuatu yang personal.</p>
<p>&#8220;Oke. Jadi bapak sudah sepuluh tahun menikah ya. Bapak bahagia?&#8221; tanya konsultan itu.</p>
<p>&#8220;Tentu saja. Saya bekerja di perusahaan asing dengan gaji dan posisi lumayan. Saya punya seorang istri dan anak perempuan yang cantik. </p>
<p>Istri saya sangat pintar memasak dan mengasuh anak. Anak saya satu-satunya, cewek, juga pandai. Ranking sekolahnya nomor satu terus. Kerabat saya dan istri saya juga rukun-rukun saja. Apa lagi yang kurang?&#8221;</p>
<p>&#8220;Lalu kenapa Bapak menjalin hubungan dengan perempuan lain, yang bukan istri Bapak? Buat Bapak, cinta itu apa, sih?&#8221;</p>
<p>Terdengar suara seorang lelaki tergelak.</p>
<p>&#8220;Ini pertanyaan klise dengan seribu satu jawaban. Ada yang bilang cinta itu serasa cokelat. Cinta itu membebaskan. Ada lagi yang bilang cinta adalah ini dan itu. Banyak sekali artinya. Setiap orang punya jawaban dan penafsiran masing-masing. Semuanya benar, sekaligus salah. </p>
<p>Buat saya, cinta adalah sesuatu yang menarik seseorang ke dalam hasrat bersatu, keinginan bertaut, memberi dan mengharap. </p>
<p>Memang kita sering tepekur oleh kisah-kisah tentang cinta dengan <em>passion</em> yang begitu nekat, tapi begitu indah dan tidak palsu pada dongeng seperti Romeo dan Juliet atau Pronocitro dan Roro Mendut. Dari cerita itu, kita jadi tahu bahwa pasangan seperti mereka ternyata bisa memberi harga pada sesuatu yang sia-sia.</p>
<p>Kita memperoleh semacam peneguhan kembali bahwa hidup manusia tidak seluruhnya berupa perhitungan laba-rugi. Manusia tak sepanjang waktu berjualan seperti halnya toko kelontong. </p>
<p>Hubungan tidak sepenuhnya tentang siasat mengambil hati orang lain dan memperoleh hasil besar karena senyum di bibir. Kita tidak bisa mengkomputasikan cinta, hati nurani, desakan ingin kebenaran, belas kasih, uneg-uneg, dalam analisa &#8216;menguntungkan&#8217; atau &#8216;tidak&#8217;.</p>
<p>Tapi tetap saja saya laki-laki yang bukannya tanpa kelemahan. Saya mungkin bagaikan presiden Amerika Serikat ketiga, <a href="http://en.wikipedia.org/wiki/Thomas_Jefferson">Thomas Jefferson</a>. Ibu pernah mendengar cerita tentang Jefferson?&#8221;</p>
<p>Hening. Saya membayangkan konsultan itu menggelengkan kepalanya karena sesaat kemudian lelaki itu meneruskan kalimatnya tanpa menunggu jawaban sang konsultan.</p>
<p>&#8220;Ada sepenggal kisah menarik tentang Jefferson. Syandan, ketika masa jabatannya yang kedua telah selesai, Jefferson mengambil keputusan mengagetkan: ia tak bersedia dipilih lagi.</p>
<p>Padahal sebenarnya ia dapat dipilih kembali. Ia penulis utama Deklarasi Kemerdekaan Amerika yang termasyhur. Ia pemikir dan tokoh politik terkemuka bagi negeri yang baru itu. Dan ia punya prestasi yang cukup mengesankan sebagai administrator selama jadi kepala negara. </p>
<p>Apa sulitnya untuk menduduki jabatan terhormat buat ketiga kalinya? </p>
<p>Ternyata ia menolak. Ia memilih meninggalkan ibu kota untuk pulang ke kampung halamannya di pedalaman, di Monticello. </p>
<p>Rakyatnya terhenyak. Mereka ingat, sewaktu menduda, Jefferson pernah menjalin hubungan intim dengan budak wanitanya yang cantik, Sally Heings. </p>
<p>Di masa muda, Jefferson juga pernah dibisik-bisikkan mau menggoda seorang isteri teman. Dan waktu di Paris, ia pernah jatuh cinta kepada istri orang lain &#8212; serta menulis surat cinta panjang yang sangat bagus.</p>
<p>Tapi &#8212; mungkin karena menyadari bahwa dirinya tak berada di luar dosa itulah &#8212; Jefferson meninggalkan sesuatu yang ternyata memang berharga bagi orang Amerika beberapa generasi kemudian: satu ide tentang kekuasaan dan batas manusia, dan juga satu contoh perbuatan yang sejati. </p>
<p>Jefferson berhasil menyeberang abad. Dia melihat ke depan bersama sejarah, dan ia tidak dikutuk.&#8221;</p>
<p>&#8220;Err &#8230; maaf, Pak. Saya kurang paham. Apa hubungan antara kisah tentang Jefferson itu dan perselingkuhan Bapak?&#8221; tanya konsultan itu.</p>
<p>Saya mendengar respons suara samar-samar. Sepertinya lelaki itu tersenyum.</p>
<p>&#8220;Begini, Bu. Saya memang pernah melakukan kesalahan. Saya menjalin asmara dengan kolega saya. Tapi itu masa lalu. Saya sekarang ingin pulang, kembali kepada istri dan anak saya. Keluarga saya. </p>
<p>Bagaimanapun brengseknya saya waktu itu, asal tahu saja ya Bu, saya tak pernah menelantarkan anak dan keluarga. Saya selalu mencukupi kebutuhan mereka. Kenapa istri saya masih merasa kurang, dan minta cerai? Apakah saya tak berhak mendapatkan kesempatan kedua?&#8221;</p>
<p>&#8220;Mungkin bagi mereka, Bapak tak pernah memberikan satu hal yang jauh lebih penting: rasa aman. Eh, tapi saya bukan bermaksud menghakimi Bapak. Tugas saya sebagai konsultan perkawinan hanya mendengarkan, sebagai jembatan. Saya &#8230; &#8220;</p>
<p>Klik. Paklik Isnogud menghentikan rekaman itu. Saya mendongak, kaget. &#8220;Kok distop, Paklik. Terusannya apa tuh?&#8221;</p>
<p>Paklik Isnogud mesam-mesem. &#8220;Ndak perlu diteruskan, Mas. Sisanya ndak penting lagi. Saya kira sampean sudah mendengarkan inti percakapan mereka dan mampu mengambil hikmahnya.</p>
<p>Lagi pula, sampean mestinya tahu cinta itu bukan sesuatu yang final. Ia selalu terbuka untuk ditafsir ulang. Tapi justru itu menariknya. Kita akan terus menemukan definisi baru tentang cinta, sesuai ruang dan waktu.</p>
<p>Dalam perkara hubungan, cinta saja ndak cukup, Mas. Ia membutuhkan komitmen. Tapi komitmen pun selalu bisa ditinjau ulang. Terbuka untuk ditengok, dievaluasi, dikoreksi, bahkan mungkin dibatalkan.</p>
<p>Apa boleh buat, Mas. Ini soal manusia. Dan manusia bukan benda mati. Ia selalu berubah, setiap saat. Karena itu, kalau sampean &#8212; atau siapa pun &#8212; hendak menjalin hubungan, jalani saja dulu. Serahkan urusan lainnya belakangan,&#8221; kata Paklik seraya meneruskan membaca koran yang tadi terhenti gara-gara saya bertanya.</p>
<p>Saya mengumpat dalam hati. Semprul. Ya sudah, saya akhirnya meninggalkan ruang kerja Paklik Isnogud dengan pertanyaan yang belum terjawab tuntas, tentang cinta, keluarga, dan perselingkuhan &#8230;.</p>
<p>&gt;&gt; <em>Selamat hari Sabtu, Ki Sanak. Apakah hari ini sampean ikut-ikutan merayakan Hari Kasih Sayang?</em></p>
<br />Posted in Paklik Isnogud, Pitutur, Piwulang, Sketsa Tagged: cerpen, cinta, istri, keluarga, selingkuh, suami, valentine <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/ndorokakungmu.wordpress.com/2843/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/ndorokakungmu.wordpress.com/2843/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/ndorokakungmu.wordpress.com/2843/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/ndorokakungmu.wordpress.com/2843/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/ndorokakungmu.wordpress.com/2843/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/ndorokakungmu.wordpress.com/2843/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/ndorokakungmu.wordpress.com/2843/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/ndorokakungmu.wordpress.com/2843/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/ndorokakungmu.wordpress.com/2843/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/ndorokakungmu.wordpress.com/2843/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/ndorokakungmu.wordpress.com/2843/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/ndorokakungmu.wordpress.com/2843/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/ndorokakungmu.wordpress.com/2843/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/ndorokakungmu.wordpress.com/2843/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=ndorokakung.com&amp;blog=4074538&amp;post=2843&amp;subd=ndorokakungmu&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://ndorokakung.com/2009/02/14/selingkuh-pecas-ndahe/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>107</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/d5cb2e365e99e42886dd55a56eb3361f?s=96&#38;d=monsterid" medium="image">
			<media:title type="html">Ndoro Kakung</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Palestina Pecas Ndahe</title>
		<link>http://ndorokakung.com/2009/01/03/palestina-pecas-ndahe/</link>
		<comments>http://ndorokakung.com/2009/01/03/palestina-pecas-ndahe/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 03 Jan 2009 04:16:24 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Ndoro Kakung</dc:creator>
				<category><![CDATA[Duniasana]]></category>
		<category><![CDATA[Paklik Isnogud]]></category>
		<category><![CDATA[Pitutur]]></category>
		<category><![CDATA[berita]]></category>
		<category><![CDATA[dunia]]></category>
		<category><![CDATA[israel]]></category>
		<category><![CDATA[palestina]]></category>
		<category><![CDATA[tragedi]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://ndorokakung.com/?p=2476</guid>
		<description><![CDATA[Kita melihat horor itu di televisi, juga di YouTube. Jet-jet tempur Israel membombardir Jalur Gaza. Rudal-rudal menggempur wilayah Palestina. Rumah-rumah yang remuk dan sedikitnya 400 ratus warga sipil, termasuk perempuan dan anak-anak, dijemput maut. Paklik Isnogud berulang kali menonton adegan maut itu di layar monitor dengan paras yang muram. Saya lihat ada kristal bening di [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=ndorokakung.com&amp;blog=4074538&amp;post=2476&amp;subd=ndorokakungmu&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Kita melihat horor itu di televisi, juga di YouTube. Jet-jet tempur Israel membombardir Jalur Gaza. Rudal-rudal menggempur wilayah Palestina. Rumah-rumah yang remuk dan sedikitnya 400 ratus warga sipil, termasuk perempuan dan anak-anak, dijemput maut. </p>
<p>Paklik Isnogud berulang kali menonton adegan maut itu di layar monitor dengan paras yang muram. Saya lihat ada kristal bening di matanya yang teduh. Dari jauh saya cuma bisa memandangnya dalam bisu. Saya tak berani mendekat dan mengajaknya bicara, sampai kemudian Paklik melihat dan melambaikan tangan, meminta saya mendekat.</p>
<p>&#8220;Menyedihkan ya, Mas,&#8221; kata Paklik begitu saya duduk di sebelahnya. Saya cuma mengangguk pelan. <span id="more-2476"></span></p>
<p>&#8220;Dari dulu mereka terus bertikai soal sepotong tanah dan tak kunjung selesai. Repotnya, masalah yang dihadapi Israel ialah bahwa mereka memang tak bisa terus-menerus menjeritkan kepedihannya yang lama. Jerit orang Palestina tak kurang kerasnya, dan tak kurang pula dalamnya. Keduanya bersahutan,&#8221; kata Paklik. </p>
<p>Paklik menyesap kopinya, lalu berkata, &#8220;Novelis Amos Oz dengan indahnya melukiskan itu dalam <em>Where the Jackals Howl</em>, ketika malam tiba dan suara ajak melolong dan anjing-anjing jinak di kibbutz menyalak.&#8221; </p>
<blockquote><p>Kadang terjadi di tengah malam, seekor anjing rumah yang montok mendengar suara saudaranya yang dikutuk. Bukan dari padang-padang gelap suara itu datang. Musuh yang dibencinya itu tinggal di dalam hatinya sendiri.</p></blockquote>
<p>Saya diam, mencoba memahami kalimat-kalimat yang meluncur dari bibir Paklik Isnogud.</p>
<p>Ia meneruskan kata-katanya. &#8220;Dulu ada sebuah karikatur dari sebuah koran Eropa, Mas. Di sana dilukiskan seorang Arab yang mengejar seorang Israel, tapi orang Arab itu dikejar juga oleh orang Arab lain. Di belakangnya, ia sendiri dikejar seorang Arab lain lagi, yang sementara itu dikejar orang Israel yang dikejar-kejar tadi. Sebuah lingkaran yang menggelikan.&#8221;</p>
<p>Paklik tersenyum pahit. Bibir saya terkunci rapat.</p>
<p>&#8220;Palestina itu semacam nasionalisme yang lahir dari kaki yang kering. Suatu rencana yang berapi-api, tapi bersahaja, dan praktis pula. Ia adalah sebuah jalan panjang ke zaman yang mungkin lebih damai, tapi mungkin juga menyedihkan. </p>
<p>Mahmoud Darwish, penyair yang tumbuh mula-mula sebagai seorang komunis militan di Universitas Hebrew di Yerusalem itu, pernah menuliskan baris ini dengan rasa frustrasi seorang Palestina sejati:</p>
<blockquote><p>Ke mana kita harus pergi setelah perbatasan terakhir. Ke mana burung harus terbang setelah langit penghabisan?</p></blockquote>
<p>Palestina adalah kasus yang unik. Dalam sejarah, banyak bangsa yang menjadi korban dari bangsa lain yang dengan semboyan besar ingin memperluas wilayah dan sumber-sumber ekonomi, mengabarkan &#8216;kebenaran&#8217;, atau memperkenalkan &#8216;peradaban.&#8217; </p>
<p>Itulah dalih, atau penjelasan, kenapa orang- orang Spanyol menduduki Amerika Selatan, menggusur bahkan membungkam mati kebudayaan asli di tempat itu, dan mengubahnya menjadi Amerika Latin. Itu pula yang mendasari orang Portugis menjangkau sampai ke Timor Timur, Belanda ke Irian, Inggris ke seluruh muka bumi.</p>
<p>Dalam hal seperti itu, asal-usul penindasan ialah adanya dikotomi antara &#8216;kita&#8217; dan &#8216;mereka&#8217; yang pertama merasa diri sebagai &#8216;baginda&#8217; dan yang kedua dianggap sebagai &#8216;sahaya&#8217;.</p>
<p>Dalam hal seperti itu jelas secara historis mana yang &#8216;korban&#8217; dan mana yang bukan. Dengan tidak terlampau sukar orang di ujung abad ke-20 ini akan tahu ke mana tuntutan akan keadilan harus dialamatkan. </p>
<p>Tapi dalam hal bangsa Palestina, yang terjadi ialah bahwa ia menjadi <em>korban</em> dari <em>korban</em>. Edward Said menyebutnya sebagai <em>nothing less than the victims of the victims</em>.</p>
<p>&#8220;Lalu kepada siapakah seharusnya kita menyerahkan sepotong tanah di jazirah itu, Paklik?&#8221; saya memberanikan diri bertanya.</p>
<p>&#8220;Saya ndak tahu, Mas. Penyair Palestina, Mahmud Darwish, pernah berkata kepada wartawan Roer Rosenblatt dari majalah <em>Time</em>, &#8216;Israel adalah kubur bagi kebesaran Yahudi.&#8217; </p>
<p>Tapi Darwish juga cemas: bila suatu hari nanti orang Palestina mendapatkan tanah air mereka, hal yang sama akan bisa terjadi. Dan pada akhirnya, kita semua akan terus cemas menyaksikan yang terjadi di sana.</p>
<p>Sampean tahu apa sebabnya? Karena tanah air itu proyek kebahagiaan yang mustahil, karena manusia tak perlu berbahagia, dan lagi pula tak dapat. Tapi soalnya bukan itu. Soalnya bukanlah perlu berbahagia, melainkan perlu adil. Kita toh mencari bahagia dan mencari tanah air, dan tak sadar bahwa karena itulah kita tak dapat &#8230; &#8220;</p>
<p>Siang ini, udara kian terasa lengas. Langit mendung. Dan, kita tertunduk mengenang bangsa Palestina yang terus dirudung petaka.</p>
<p>&gt;&gt; <em>Selamat hari Sabtu, Ki Sanak. Apakah hari ini sampean masih mengikuti tragedi yang terjadi di Palestina?</em></p>
<br />Posted in Duniasana, Paklik Isnogud, Pitutur Tagged: berita, dunia, israel, palestina, tragedi <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/ndorokakungmu.wordpress.com/2476/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/ndorokakungmu.wordpress.com/2476/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/ndorokakungmu.wordpress.com/2476/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/ndorokakungmu.wordpress.com/2476/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/ndorokakungmu.wordpress.com/2476/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/ndorokakungmu.wordpress.com/2476/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/ndorokakungmu.wordpress.com/2476/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/ndorokakungmu.wordpress.com/2476/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/ndorokakungmu.wordpress.com/2476/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/ndorokakungmu.wordpress.com/2476/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/ndorokakungmu.wordpress.com/2476/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/ndorokakungmu.wordpress.com/2476/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/ndorokakungmu.wordpress.com/2476/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/ndorokakungmu.wordpress.com/2476/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=ndorokakung.com&amp;blog=4074538&amp;post=2476&amp;subd=ndorokakungmu&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://ndorokakung.com/2009/01/03/palestina-pecas-ndahe/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>78</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/d5cb2e365e99e42886dd55a56eb3361f?s=96&#38;d=monsterid" medium="image">
			<media:title type="html">Ndoro Kakung</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Bocah Pecas Ndahe</title>
		<link>http://ndorokakung.com/2008/12/23/bocah-pecas-ndahe-2/</link>
		<comments>http://ndorokakung.com/2008/12/23/bocah-pecas-ndahe-2/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 23 Dec 2008 11:34:45 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Ndoro Kakung</dc:creator>
				<category><![CDATA[Indonesiana]]></category>
		<category><![CDATA[Paklik Isnogud]]></category>
		<category><![CDATA[Pitutur]]></category>
		<category><![CDATA[anak]]></category>
		<category><![CDATA[masalah]]></category>
		<category><![CDATA[mimpi]]></category>
		<category><![CDATA[miskin]]></category>
		<category><![CDATA[sekolah]]></category>
		<category><![CDATA[sosial]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://ndorokakung.com/?p=2415</guid>
		<description><![CDATA[Saya menemukan anak ini pada sebuah pagi di salah satu sudut Terminal Bus Blok M, Jakarta Selatan. Ia tengah tertidur nyenyak. Wajahnya yang polos terlihat begitu damai. Saya tak tahu siapa nama, asal, dan siapa orang tuanya. Saya juga tak tahu ia sedang melukis mimpi tentang apa. Barangkali juga ia tak sedang bermimpi. Siapa yang [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=ndorokakung.com&amp;blog=4074538&amp;post=2415&amp;subd=ndorokakungmu&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Saya menemukan anak ini pada sebuah pagi di salah satu sudut Terminal Bus Blok M, Jakarta Selatan. Ia tengah tertidur nyenyak. Wajahnya yang polos terlihat begitu damai.</p>
<p><img src="http://aycu21.webshots.com/image/5060/2005882467740380695_rs.jpg" alt="wajah damai" /> <img src="http://aycu14.webshots.com/image/8333/2000432448056859823_rs.jpg" alt="meringkuk" /></p>
<p>Saya tak tahu siapa nama, asal, dan siapa orang tuanya. Saya juga tak tahu ia sedang melukis mimpi tentang apa. Barangkali juga ia tak sedang bermimpi. Siapa yang bisa menebak apa isi kepala anak ini? </p>
<p>Tidurnya begitu tenang seolah tak terganggu oleh lalu lalang para penumpang. Bising mesin Metromini yang meraung kencang, semburan asap knalpot yang bikin sesak paru-paru tak mampu mengusik. Satu-satunya tanda kehidupan hanyalah napasnya yang teratur.</p>
<p>Saya menemukan foto itu di antara tumpukan dokumen-dokumen di dalam laptop ketika sedang bersih-bersih. Saya ingat, paras anak itu bersih. Begitu pula pakaian dan celananya. Ada semburat cat di rambutnya yang keriting. Oh, bocah. Siapakah engkau? <span id="more-2415"></span></p>
<blockquote><p>Anak sekecil itu berkelahi dengan waktu, pecahkan karang lemas jarimu terkepal … </p></blockquote>
<p>Ah, saya seperti mendengar suara Iwan Fals yang serak itu menyanyikan <em>Sore di Tugu Pancoran</em>. Tapi, saya tak tahu apakah bocah itu “si Budi kecil” seperti yang disebut Iwan? Adakah dia bocah yang “menjual koran sore di malam hari demi mimpi yang kerap ganggu tidurnya”?</p>
<p>Bocah itu mungkin anak jalanan yang tak berkampung, berumah, dan tanpa orang tua. Bisa jadi dia sekadar anak kampung yang kemalaman dan tak punya ongkos pulang. </p>
<p>Dia mungkin satu dari ribuan anak jalanan yang tiap hari bertarung melawan kerasnya hidup di Jakarta &#8212; setitik debu yang menderu bersama waktu. Siapakah yang seharusnya mengurus bocah-bocah seperti dia? </p>
<blockquote><p>&#8220;Fakir miskin dan anak telantar dipelihara oleh negara&#8230;&#8221; &#8212; UUD 1945</p></blockquote>
<p>Tapi, di manakah negara ketika anak kecil itu tertidur nyenyak di Blok M? Adakah negara mempunyai mata, telinga, tangan, dan kaki yang sanggup merengkuh mereka?</p>
<p>&#8220;Kota-kota memamerkan kemiskinan dengan cara yang sangat menikam, Mas,&#8221; begitulah Paklik Isnogud pernah membisikkan kearifannya ketika malam jatuh tanpa bintang-bintang di musim hujan. &#8220;Wujudnya macam-macam. Gubug-gubug reyot, kampung becek, rakyat kelaparan, dan seterusnya.</p>
<p>Lalu di mana negara? Barangkali dia tak ke mana-mana. Hanya saja, kita tak tahu di mana gerangan dia berada. Negara seperti gajah gemuk yang linglung di usianya menjelang senja. Sendirian. Jauh dari kelompoknya.</p>
<p>Tapi bukan hanya negeri kita yang merana, seperti gajah tua di pinggir savana. Inggris, pada 1820-an, adalah negeri yang muram. Sebuah majalah yang bernama <em>The Lion</em> pada 1828 misalnya bercerita tentang nasib Robert Blincoe. Bukan kisah khayal, tapi tak kurang mengerikannya.</p>
<p>Blincoe adalah seorang anak. Sebagaimana banyak anak melarat di zaman itu, ia bekerja bersama 80 kawannya di pabrik. Dan seperti anak-anak sebayanya yang berumur sekitar 10 tahun, Blincoe bekerja siang malam &#8212; dan dicambuki. Cambuk itu bukan cuma buat menghukum yang bersalah, tapi juga buat melecut kerja lebih keras.</p>
<p>Bahkan ketika Blincoe dipindahkan ke pabrik lain di Litton, majikannya punya kemampuan spesial: pandai menjepit kuping buruh anak-anak, hingga kuku jarinya saling bertemu menembusi daging daun telinga.</p>
<p>Memang, kekejaman seperti itu merupakan bentuk ekstrim, dan bukan kelaziman. Namun Inggris, pada 1820-an, memang mengandung dasar kebrutalan itu. Buruh terinjak. Si miskin tak punya pelindung. Jam bekerja merentang keras selama 16 jam. Mereka tak bisa punya pilihan lain.</p>
<p>Kita mungkin jauh lebih beruntung ketimbang Inggris pada 1820-an. Kita masih bisa punya pilihan, setidaknya pilihan untuk bermimpi. Untuk hidup, Mas.&#8221;</p>
<p>&#8220;Begitukah caranya agar kita terus hidup, Paklik? Apakah kita harus terus bermimpi?&#8221; saya bertanya.</p>
<p>“Manusia harus hidup untuk sesuatu yang lebih baik,” kata Paklik mengutip Maxim Gorky. Bahwa ternyata kemudian <em>sesuatu yang lebih baik</em> itu terlepas lagi, agaknya, itu bukan alasan untuk mencemooh impian orang yang tiap hari diludahi kemiskinan.&#8221;</p>
<p>&gt;&gt; <em>Selamat hari Selasa, Ki Sanak. Natal dua hari lagi. Adakah pesan-Nya telah mengetuk hati nurani sampean hari ini?</em></p>
<br />Posted in Indonesiana, Paklik Isnogud, Pitutur Tagged: anak, masalah, mimpi, miskin, sekolah, sosial <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/ndorokakungmu.wordpress.com/2415/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/ndorokakungmu.wordpress.com/2415/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/ndorokakungmu.wordpress.com/2415/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/ndorokakungmu.wordpress.com/2415/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/ndorokakungmu.wordpress.com/2415/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/ndorokakungmu.wordpress.com/2415/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/ndorokakungmu.wordpress.com/2415/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/ndorokakungmu.wordpress.com/2415/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/ndorokakungmu.wordpress.com/2415/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/ndorokakungmu.wordpress.com/2415/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/ndorokakungmu.wordpress.com/2415/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/ndorokakungmu.wordpress.com/2415/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/ndorokakungmu.wordpress.com/2415/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/ndorokakungmu.wordpress.com/2415/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=ndorokakung.com&amp;blog=4074538&amp;post=2415&amp;subd=ndorokakungmu&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://ndorokakung.com/2008/12/23/bocah-pecas-ndahe-2/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>46</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/d5cb2e365e99e42886dd55a56eb3361f?s=96&#38;d=monsterid" medium="image">
			<media:title type="html">Ndoro Kakung</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://aycu21.webshots.com/image/5060/2005882467740380695_rs.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">wajah damai</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://aycu14.webshots.com/image/8333/2000432448056859823_rs.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">meringkuk</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Hening Pecas Ndahe</title>
		<link>http://ndorokakung.com/2008/08/05/hening-pecas-ndahe/</link>
		<comments>http://ndorokakung.com/2008/08/05/hening-pecas-ndahe/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 04 Aug 2008 21:32:10 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Ndoro Kakung</dc:creator>
				<category><![CDATA[Paklik Isnogud]]></category>
		<category><![CDATA[Pitutur]]></category>
		<category><![CDATA[Piwulang]]></category>
		<category><![CDATA[beda]]></category>
		<category><![CDATA[daun]]></category>
		<category><![CDATA[hening]]></category>
		<category><![CDATA[kamus]]></category>
		<category><![CDATA[sikap]]></category>
		<category><![CDATA[sungai]]></category>
		<category><![CDATA[telaga]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://ndorokakungmu.wordpress.com/?p=1080</guid>
		<description><![CDATA[Di tengah suara bising dan berisik yang berkelindan menjadi sengkarut, mungkin sekarang saatnya kita berhenti sejenak dan menengok telaga yang tenang. Becerminlah dan melihat lebih dalam di balik bayang-bayang yang lindap. Barangkali kini waktunya kita merumuskan kembali apa yang mesti kita susun dalam ujaran kehidupan. Begitulah piwulang Paklik Isnogud yang selalu terngiang di telinga setiap [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=ndorokakung.com&amp;blog=4074538&amp;post=1080&amp;subd=ndorokakungmu&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Di tengah suara bising dan berisik yang berkelindan menjadi sengkarut, mungkin sekarang saatnya kita berhenti sejenak dan menengok telaga yang tenang. </p>
<p>Becerminlah dan melihat lebih dalam di balik bayang-bayang yang lindap. Barangkali kini waktunya kita merumuskan kembali apa yang mesti kita susun dalam ujaran kehidupan.</p>
<p>Begitulah piwulang Paklik Isnogud yang selalu terngiang di telinga setiap kali saya di tengah kelimun kabut dan badai yang membutakan mata angin.</p>
<p>“Sebab hidup,” kata Paklik, “bukan cuma kata-kata yang berisik. Diam, kekosongan, juga keheningan, adalah penduduk lain dari kehidupan.&#8221; <span id="more-1080"></span></p>
<p>Maka, senja itu, ketika matahari kembali tidur di barat dan meninggalkan semburat keemasan, Paklik pun mengudar wejangan tentang sebuah perjalanan, satu titik dalam setiap kehidupan.</p>
<p>&#8220;Belajarlah tentang hidup dari sungai seperti Sidharta Gautama, Mas,” kata Paklik. &#8220;Sebab sungai memiliki bermacam-macam suara. </p>
<p>Sungai memiliki suara seorang raja, pendekar perang, lenguh seekor sapi jantan, jerit kelelawar, erangan wanita yang tengah orgasme dan desahan pria yang kasmaran. Dengarkan, maka sampean akan belajar dan kemudian tahu apa makna kebisuan.</p>
<p>Kadang-kadang kita perlu menjadi bisu. Bila sampean sudah mengenal kebisuan, sampean akan tahu bahwa pengetahuan dapat dikomunikasikan, tapi kebijaksanaan tidak. </p>
<p>Kita dapat menemukannya, hidup dengannya, diperkuat olehnya, menciptakan keajaiban melaluinya, tapi kita tak dapat mengkomunikasikan dan mengajarkannya.</p>
<p>Jangan sampai sampean terjebak dalam belantara teks atau kalimat. Sebab, kata senantiasa bergerak antara kamus dan konteks. Ia terus-menerus berada dalam keadaan yang tak stabil dan tak seratus persen pasti.</p>
<p>Manusia akhirnya memang tak bisa punya satu kamus, bahkan di dalam kepalanya sendiri. Sedihnya ialah bahwa orang sering menganggap harus ada satu kamus untuk semua orang.</p>
<p>Sedihnya lagi ialah bahwa dalam komunikasi yang mau serba cepat kini, kita sering luput untuk &#8216;menunda&#8217; memberi arti, alpa menghayati ketidakstabilan di dalamnya.</p>
<p>Penyeragaman, dengan demikian, adalah gagasan yang gegabah. Ia mengabaikan keragaman. Ia menafikan kenyataan bahwa warna daun pun tak pernah sama.&#8221;</p>
<p>Saya ingat, ketika Paklik mengakhiri wejangannya itu, sepucuk daun luruh. Saya lihat warnanya kesumba.</p>
<p>&gt;&gt; <em>Selamat hari Selasa, Ki Sanak. Apakah hari ini sampean sudah belajar tentang keheningan?</em></p>
<br /><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/ndorokakungmu.wordpress.com/1080/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/ndorokakungmu.wordpress.com/1080/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/ndorokakungmu.wordpress.com/1080/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/ndorokakungmu.wordpress.com/1080/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/ndorokakungmu.wordpress.com/1080/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/ndorokakungmu.wordpress.com/1080/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/ndorokakungmu.wordpress.com/1080/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/ndorokakungmu.wordpress.com/1080/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/ndorokakungmu.wordpress.com/1080/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/ndorokakungmu.wordpress.com/1080/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/ndorokakungmu.wordpress.com/1080/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/ndorokakungmu.wordpress.com/1080/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/ndorokakungmu.wordpress.com/1080/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/ndorokakungmu.wordpress.com/1080/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/ndorokakungmu.wordpress.com/1080/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/ndorokakungmu.wordpress.com/1080/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=ndorokakung.com&amp;blog=4074538&amp;post=1080&amp;subd=ndorokakungmu&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://ndorokakung.com/2008/08/05/hening-pecas-ndahe/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>78</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/d5cb2e365e99e42886dd55a56eb3361f?s=96&#38;d=monsterid" medium="image">
			<media:title type="html">Ndoro Kakung</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Psikopat Pecas Ndahe</title>
		<link>http://ndorokakung.com/2008/07/29/psikopat-pecas-ndahe/</link>
		<comments>http://ndorokakung.com/2008/07/29/psikopat-pecas-ndahe/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 28 Jul 2008 17:45:30 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Ndoro Kakung</dc:creator>
				<category><![CDATA[Indonesiana]]></category>
		<category><![CDATA[Paklik Isnogud]]></category>
		<category><![CDATA[Pitutur]]></category>
		<category><![CDATA[Piwulang]]></category>
		<category><![CDATA[gay]]></category>
		<category><![CDATA[hukuman]]></category>
		<category><![CDATA[korban]]></category>
		<category><![CDATA[mati]]></category>
		<category><![CDATA[mutilasi]]></category>
		<category><![CDATA[pembunuh]]></category>
		<category><![CDATA[psikopat]]></category>
		<category><![CDATA[ryan]]></category>
		<category><![CDATA[sakit]]></category>
		<category><![CDATA[vonis]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://ndorokakungmu.wordpress.com/?p=1006</guid>
		<description><![CDATA[Siapakah sebenarnya Very Idam Henyansyah alias Ryan? Seorang psikopat? Gay pencemburu? Atau sekadar begundal kriminal yang haus rupiah? Saya ndak tahu. Yang jelas, Ryan diduga telah membantai sepuluh orang korban &#8212; salah satu rekor pembunuhan terbanyak di Indonesia setelah Ahmad Suraji alias Dukun AS yang menewaskan 42 orang di Sumatera Utara. Korban-korban itu sebagian dikubur [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=ndorokakung.com&amp;blog=4074538&amp;post=1006&amp;subd=ndorokakungmu&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Siapakah sebenarnya Very Idam Henyansyah alias Ryan? Seorang psikopat? Gay pencemburu? Atau sekadar begundal kriminal yang haus rupiah?</p>
<p>Saya ndak tahu. Yang jelas, Ryan diduga telah membantai sepuluh orang korban &#8212; salah satu rekor pembunuhan terbanyak di Indonesia setelah Ahmad Suraji alias Dukun AS yang menewaskan 42 orang di Sumatera Utara. Korban-korban itu sebagian dikubur di rumah orang tuanya di Jombang, Jawa Timur.</p>
<p>Aksi Ryan membuat publik terhenyak. Mereka tak menyangka ada pemuda berusia 30 tahun dengan sosok yang digambarkan media massa sangat kalem itu ternyata sanggup membunuh. Dia bahkan sampai tega memutilasi salah satu korbannya.</p>
<p>Sebagian kalangan lalu berang dan marah. Mereka mengutuk ulah Ryan. Saya bahkan mendengar tak sedikit komentar yang menuntut agar kelak Ryan dihukum mati atas perbuatannya itu meski persidangan belum dimulai, dan penyidikan polisi justru pun masih berlangsung. Artinya, Ryan belum diputuskan bersalah, Ki Sanak. <span id="more-1006"></span></p>
<p>Ihwal hukuman mati pun masih menjadi kontroversi di sini. Vonis mati memecah pendapat jadi dua kubu: kaum abolisionis yang gigih menentang hukuman mati atas segala macam kejahatan dan kaum legalis yang memandang hukuman mati itu sebagai upaya mendapatkan keadilan.</p>
<p>Dalam hati yang gamam, saya pun menemui Paklik Isnogud untuk mendapatkan pencerahan tentang kasus Ryan dan hukuman mati.</p>
<p>&#8220;Masalah hukuman mati memang selalu menyentuh sebuah akar yang tertanam dalam &#8212; sejenis akar religius dalam kehadiran kita, Mas,&#8221; kata Paklik Isnogud dengan suaranya yang melodius itu. </p>
<p>&#8220;Mengapa bisa begitu, Paklik?&#8221; tanya saya keheranan.</p>
<p>&#8220;Orang yang mati tak akan pernah kembali. Jurang antara tiang tempat si terhukum ditembak atau digantung dengan alam sesudahnya adalah jurang yang mutlak. </p>
<p>Bahaya terbesar dari hukuman mati karena itu bukanlah lantaran kekejaman telah dilegalkan di sana. Bahaya terbesar dari hukuman mati ialah bila kita, dalam ikhtiar keadilan itu, tercerabut dari akar religius kita. </p>
<p>Artinya kita tak lagi bertanya atas dasar apakah seseorang, atau sekelompok orang, mendapatkan kekuasaan yang begitu besar hingga setinggi itu atas debu dan duka mereka bertakhta.</p>
<p>Jangan salah faham. Sekelompok orang bisa mengirimkan algojo atas nama Tuhan. Tapi pada saat itu barangkali mereka menyekutukan diri dengan Yang Maha Kuasa itu, dan di sini kita sesungguhnya tak bisa lagi bicara tentang suatu akar yang apa pun berarti, kecuali kepongahan. Sebab kita tak lagi bersedia mengakui ketidak-mampuan kita untuk seperti Dia: mengabsolutkan keputusan-keputusan dan juga memberikan ampunan.&#8221;</p>
<p>&#8220;Ck&#8230;ck&#8230;ck&#8230;ck,&#8221; saya berdecak kagum, setengah ndak paham, atas penjelasan Paklik. </p>
<p>Paklik, seperti biasa, tampaknya mengenali betul siasat saya yang selalu keluar bila ndak memahami penjelasannya itu.</p>
<p>&#8220;Halah, ndak usak berdecak, Mas. Saya tahu, sampean pasti ndak ngerti kan?&#8221; kata Paklik.</p>
<p>Saya nyengir dan tak menjawab pertanyaan itu.</p>
<p>Paklik lalu melanjutkan. &#8220;Saya paham kalau masalah ini tak terjelaskan dengan terang benderang, Mas. Saya sendiri menghadapi dilema. </p>
<p>Di satu sisi, saya ndak setuju hukuman mati. Rasanya ndak nyaman sekali berperan seolah-olah menjadi Sang Penentu. </p>
<p>Tapi, kalau melihat korban-korban pembunuhan itu, rasanya kok ndak adil juga bila pelakunya dibiarkan hidup terus. </p>
<p>Ah, entahlah. Mungkin saya memang bukan orang yang tegas, bisa memilah setiap persoalan secara hitam dan putih.&#8221;</p>
<p>Setelah mengakhiri kalimatnya itu, mata Paklik menerawang jauh keluar jendela. Saya ndak tahu apa yang tengah dipikirkannya.</p>
<p>&gt;&gt; <em>Selamat hari Selasa, Ki Sanak. Apakah sampean setuju hukuman mati?</em></p>
<br /><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/ndorokakungmu.wordpress.com/1006/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/ndorokakungmu.wordpress.com/1006/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/ndorokakungmu.wordpress.com/1006/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/ndorokakungmu.wordpress.com/1006/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/ndorokakungmu.wordpress.com/1006/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/ndorokakungmu.wordpress.com/1006/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/ndorokakungmu.wordpress.com/1006/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/ndorokakungmu.wordpress.com/1006/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/ndorokakungmu.wordpress.com/1006/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/ndorokakungmu.wordpress.com/1006/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/ndorokakungmu.wordpress.com/1006/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/ndorokakungmu.wordpress.com/1006/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/ndorokakungmu.wordpress.com/1006/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/ndorokakungmu.wordpress.com/1006/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/ndorokakungmu.wordpress.com/1006/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/ndorokakungmu.wordpress.com/1006/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=ndorokakung.com&amp;blog=4074538&amp;post=1006&amp;subd=ndorokakungmu&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://ndorokakung.com/2008/07/29/psikopat-pecas-ndahe/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>104</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/d5cb2e365e99e42886dd55a56eb3361f?s=96&#38;d=monsterid" medium="image">
			<media:title type="html">Ndoro Kakung</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Oposisi Pecas Ndahe</title>
		<link>http://ndorokakung.com/2008/07/16/oposisi-pecas-ndahe/</link>
		<comments>http://ndorokakung.com/2008/07/16/oposisi-pecas-ndahe/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 16 Jul 2008 01:49:22 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Ndoro Kakung</dc:creator>
				<category><![CDATA[Duniasana]]></category>
		<category><![CDATA[Paklik Isnogud]]></category>
		<category><![CDATA[Piwulang]]></category>
		<category><![CDATA[habatsu]]></category>
		<category><![CDATA[jepang]]></category>
		<category><![CDATA[oposisi]]></category>
		<category><![CDATA[pelajaran]]></category>
		<category><![CDATA[politik]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://ndorokakungmu.wordpress.com/?p=841</guid>
		<description><![CDATA[&#8220;Saya mau jadi oposisi. Saya ogah memimpin meski saya bisa memimpin jauh lebih baik,&#8221; begitu seseorang berkata kepada saya. &#8220;Kenapa?&#8221; saya bertanya. &#8220;Cobalah sesekali menjadi pemimpin dan mengubah keadaan. Mungkin lebih baik. Daripada hanya jadi tukang teriak di luar garis, mending sekalian ikut main.&#8221; &#8220;Nggak ah. Saya kan masih muda. Memimpin itu ntar kalau dah [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=ndorokakung.com&amp;blog=4074538&amp;post=841&amp;subd=ndorokakungmu&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>&#8220;Saya mau jadi oposisi. Saya ogah memimpin meski saya bisa memimpin jauh lebih baik,&#8221; begitu seseorang berkata kepada saya.</p>
<p>&#8220;Kenapa?&#8221; saya bertanya. &#8220;Cobalah sesekali menjadi pemimpin dan mengubah keadaan. Mungkin lebih baik. Daripada hanya jadi tukang teriak di luar garis, mending sekalian ikut main.&#8221;</p>
<p>&#8220;Nggak ah. Saya kan masih muda. Memimpin itu ntar kalau dah tuwir nanti, dan bisa bilang, &#8216;been there, done that&#8217;.&#8221;</p>
<p>Oh, ok. Tapi, apakah anak muda harus selalu berbeda? Harus mengambil tempat di seberang?</p>
<p>Mungkin benar kata orang bahwa selalu bersama-sama itu tak selamanya berarti baik. Kadang ketidakkompakan justru diperlukan. Kenapa? <span id="more-841"></span></p>
<p>&#8220;Di Jepang orang pun berbicara tentang harmoni dalam sebuah ide, atau &#8216;rumah&#8217; kita. Tapi partai-partai politik seringkali terdengar sebagai sebuah rumah gila. Masing-masing gaduh oleh pertikaian antara <em>habatsu</em>,&#8221; kata Paklik Isnogud.</p>
<p>Paklik menjelaskan tentang perlunya berbeda pada saya, pada suatu malam yang lengas di rumahnya. Suara burung hantu sesekali terdengar di atas pohon.</p>
<p>&#8220;<em>Habatsu</em>? Apa itu, Paklik?&#8221;</p>
<p>&#8220;<em>Habatsu </em>itu kelompok-kelompok dalam partai, Mas. Di Jepang, ada sebuah masa ketika Partai Liberal-Demokrat berkuasa. Ia bukan saja terbentuk oleh dua partai. Masing-masing partai yang tergabung juga membawa kelompok yang bertentangan dalam dirinya.</p>
<p>Ada persaingan sengit antara orang-orang yang memasuki kehidupan politik dengan latarbelakang sebagai birokrat. Mereka menghadapi <em>tojin</em>, yang karir politiknya berasal dari lembaga perwakilan tingkat bawah sampai atas.</p>
<p>Ada pula orang-orang yang berkelompok di bawah satu bos karena sang <em>oyabun</em> mampu mengumpulkan dana politik. Uang ini penting, tentu saja. Dua puluh lima tahun lalu, diperkirakan 100 juta yen diperlukan untuk kampanye agar seorang calon anggota partai menang. Sekarang mungkin lebih.</p>
<p>Seorang calon yang menerima bantuan dari seorang <em>oyabun</em> dengan demikian masuk, dan setia, kepada sang bos sebagai pemimpin kelompok.&#8221;</p>
<p>&#8220;Jika demikian halnya, apakah sebenarnya yang menyebabkan sejumlah <em>habatsu</em> timbul? Perbedaan ideologiskah, Paklik?&#8221;</p>
<p>&#8220;Agaknya bukan, Mas.&#8221;</p>
<p>&#8220;Prinsip?&#8221;</p>
<p>&#8220;Juga hampir tak pernah. Partai Liberal-Demokrat menamakan diri pragmatis. Dan itu artinya ia tak terlalu repot dengan ideologi ataupun prinsip.</p>
<p>Barangkali kata yang paling dekat untuk menjelaskan fenomena khas Jepang ini ialah &#8216;kesetiaan&#8217;. Kesetiaan itu terjalin dalam hubungan antara pemimpin dan pengikutnya. Dengan kata lain, ikatan pribadi begitu penting.</p>
<p>Ada yang mengecam kehidupan politik macam itu sebagai satu penerusan dari masa feodal lampau. Di masa yang telah lewat itu, para hamba sahaya bergabung di bawah seorang tuan: para samurai mengabdi kepada seorang shogun, pribadi.</p>
<p>Ada pula yang menganggapnya sebagai semacam kemacetan sistem demokrasi yang sebenarnya: partai pada akhirnya selalu dikuasai orang konservatif, dan kehidupan politik pada akhirnya berkisar pada kehidupan tokoh-tokoh.</p>
<p>Lagi pula, bukankah ketidakkompakan yang terjadi karena itu bisa merusak? Tidakkah partai lebih sering digiring oleh oportunisme, dan tak ada perekat ideologis yang mempertautkan faksi yang berpecah-pecah?</p>
<p>Pada akhirnya, kita tahu, ada hal-hal yang berguna dalam ketidakkompakan Partai Liberal-Demokrat. Yang pertama ialah guna kehidupan demokrasi itu sendiri. Partai itu untuk masa yang akan datang nampaknya tetap akan jadi partai yang memerintah. Seandainya ia utuh bersatu, ia mungkin sekali jadi otoriter.</p>
<p>Pemimpinnya, sebagai Perdana Menteri Jepang, bisa bersifat diktatorial. Ketidakkompakan atau fasionalisme dengan demikian jadi semacam penangkal sikap otoriter oligarkis yang bisa terjadi.</p>
<p>Kedua, betapapun juga <em>habatsu</em> itu merupakan peluang untuk khalayak ramai yang ingin mengemukakan ide mereka, usul mereka dan rencana mereka. Dengan demikian cukup tersedia alternatif lain dalam tubuh partai yang memerintah. Sebab ketika partai-partai oposisi begitu lemah, saluran yang paling efektif hanya lewat unsur-unsur dalam partai yang berkuasa yang tidak satu warna.</p>
<p>Memang, dapat dibayangkan bahwa ide atau usul dari pelbagai suara di bawah itu pada akhirnya akan disaring, dan mungkin ketajamannya hilang.</p>
<p>Tapi demokrasi agaknya harus menghargai keniscayaan kompromi. Demokrasi juga &#8212; dengan demikian &#8212; harus menerima perbedaan.&#8221;</p>
<p>&#8220;Salahkah ketidakkompakan, Paklik?&#8221;</p>
<p>&#8220;Di Partai Liberal-Demokrat di Jepang jawabnya ialah tidak selalu. Kita mungkin perlu tahu bagaimana jawabnya di di tempat lain: di Indonesia, di ranah blog &#8230;&#8221;</p>
<p>Malam semakin larut di rumah Paklik Isnogud. Saya pun mohon diri dengan segudang pertanyaan yang terus berkecamuk di kepala.</p>
<p>&gt;&gt; <em>Selamat hari Rabu, Ki Sanak. Apakah hari ini sampean sudah merasa kompak dengan siapa pun?</em></p>
<br /><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/ndorokakungmu.wordpress.com/841/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/ndorokakungmu.wordpress.com/841/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/ndorokakungmu.wordpress.com/841/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/ndorokakungmu.wordpress.com/841/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/ndorokakungmu.wordpress.com/841/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/ndorokakungmu.wordpress.com/841/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/ndorokakungmu.wordpress.com/841/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/ndorokakungmu.wordpress.com/841/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/ndorokakungmu.wordpress.com/841/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/ndorokakungmu.wordpress.com/841/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/ndorokakungmu.wordpress.com/841/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/ndorokakungmu.wordpress.com/841/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/ndorokakungmu.wordpress.com/841/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/ndorokakungmu.wordpress.com/841/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/ndorokakungmu.wordpress.com/841/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/ndorokakungmu.wordpress.com/841/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=ndorokakung.com&amp;blog=4074538&amp;post=841&amp;subd=ndorokakungmu&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://ndorokakung.com/2008/07/16/oposisi-pecas-ndahe/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>45</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/d5cb2e365e99e42886dd55a56eb3361f?s=96&#38;d=monsterid" medium="image">
			<media:title type="html">Ndoro Kakung</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Arisan Pecas Ndahe</title>
		<link>http://ndorokakung.com/2008/07/11/arisan-pecas-ndahe/</link>
		<comments>http://ndorokakung.com/2008/07/11/arisan-pecas-ndahe/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 10 Jul 2008 17:18:38 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Ndoro Kakung</dc:creator>
				<category><![CDATA[Indonesiana]]></category>
		<category><![CDATA[Paklik Isnogud]]></category>
		<category><![CDATA[Pitutur]]></category>
		<category><![CDATA[artikel]]></category>
		<category><![CDATA[berita]]></category>
		<category><![CDATA[dpr]]></category>
		<category><![CDATA[filipina]]></category>
		<category><![CDATA[hina]]></category>
		<category><![CDATA[indonesia]]></category>
		<category><![CDATA[korupsi]]></category>
		<category><![CDATA[marcos]]></category>
		<category><![CDATA[nista]]></category>
		<category><![CDATA[pejabat]]></category>
		<category><![CDATA[plana]]></category>
		<category><![CDATA[semir]]></category>
		<category><![CDATA[sogok]]></category>
		<category><![CDATA[suap]]></category>
		<category><![CDATA[uang]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://ndorokakungmu.wordpress.com/?p=817</guid>
		<description><![CDATA[Korupsi mungkin seperti arisan: yang mengunduh berganti-gantian. Hari ini si A, besok si B, lusa si C, dan seterusnya. Dan di ujungnya sana, semua kebagian, semua senang. Hidup jalan terus. Adakah yang bisa kita lakukan untuk membasminya? Kalaupun ada, dari mana memulainya? &#8220;Sulit, Mas. Tapi kita bisa asal punya niat dan hati yang teguh. Sebab, [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=ndorokakung.com&amp;blog=4074538&amp;post=817&amp;subd=ndorokakungmu&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class="wp-caption aligncenter" style="width: 435px"><img src="http://inlinethumb23.webshots.com/41110/2373475600096703381S425x425Q85.jpg" alt="korupsi anggota dpr" width="425" height="281" /><p class="wp-caption-text">WAKIL RAKYAT STOP KORUPSI</p></div>
<p>Korupsi mungkin seperti arisan: yang mengunduh berganti-gantian. Hari ini si A, besok si B, lusa si C, dan seterusnya. Dan di ujungnya sana, semua kebagian, semua senang. Hidup jalan terus.</p>
<p>Adakah yang bisa kita lakukan untuk membasminya? Kalaupun ada, dari mana memulainya? <span id="more-817"></span></p>
<p>&#8220;Sulit, Mas. Tapi kita bisa asal punya niat dan hati yang teguh. Sebab, daya rusak korupsi yang terbesar justru memang terjadi pada saat suram seperti ini: kita tak tahu lagi di mana yang salah dan bagaimana mengatasinya,&#8221; begitu Paklik Isnogud pernah bercerita.</p>
<p>Sore itu, ketika matahari nyaris lengser di ufuk barat, kami baru saja selesai menonton berita di televisi yang menayangkan persidangan kasus suap yang melibatkan anggota DPR dari Partai Persatuan Pembangunan, Al Amin Nasution.</p>
<p>Dalam sidang itu sempat diputarkan rekaman pembicaraan antara Al Amin dan orang yang menyuap. Kamera sempat menangkap ekspresi wajah para hakim yang menahan senyum sewaktu rekaman itu diperdengarkan. Saya tak tahu apa mengapa tuan-tuan kadi itu seperti tersipu malu.</p>
<p>&#8220;Sampean tahu, Mas. Korupsi ialah kanker yang akhirnya mengeremus harapan dan kepercayaan,&#8221; Paklik melanjutkan kalimatnya. &#8220;Korupsi meludahi kemungkinan bahwa di sekitar masih ada orang yang bersih.</p>
<div class="wp-caption alignleft" style="width: 139px"><a href="http://korantempo.com"><img src="http://inlinethumb35.webshots.com/16930/2457022400096703381S200x200Q85.jpg" alt="headline koran tempo" width="129" height="199" /></a><p class="wp-caption-text">edisi 9 Juli 2008</p></div>
<p>Pada tingkat yang paling destruktif itulah korupsi membawa semacam pemerataan, semua orang dianggap cuma cari untung sendiri-sendiri,&#8221; kata Paklik Isnogud.</p>
<p>&#8220;Bagaimana memberantasnya, Paklik?&#8221;</p>
<p>&#8220;Becerminlah ke Filipina, Mas.&#8221;</p>
<p>&#8220;Filipina? Kenapa, Paklik?&#8221;</p>
<p>&#8220;Syahdan pada 1975, di tengah korupsi yang berkecamuk dan kelak menjeratnya, Marcos memanggil Hakim Plana. Ia memberi hakim itu satu tugas yang singkat dan jelas: sikat korupsi.</p>
<p>Hakim yang disebut bagaikan serigala menyendiri ini kemudian menemukan bagaimana korupsi berjalan di Filipina. Ada yang disebut <em>lagay</em>. Ini berarti uang semir &#8212; untuk mempercepat pemrosesan satu dokumen pajak.</p>
<p>Ada yang disebut <em>arreglo</em> &#8212; dan ini yang sangat merugikan negara. Dengan metode &#8216;bisa diatur&#8217; ini, seorang pembayar pajak yang seharusnya membayar sejuta peso akan cuma menyerahkan 500 ribu peso saja. Dari yang 500 ribu itu, 350 ribu peso masuk ke tas petugas pajak (itulah yang disebut arreglo), dan sisanya masuk kas negara.</p>
<p>Bentuk korupsi yang lain adalah <em>extortion</em>. Korbannya bisa jadi pembayar pajak yang tak bersalah. Dengan keruwetan sistem pembayaran pajak, ia bisa digertak &#8212; dan terpaksa memberikan suap buat si petugas yang mengancam itu.</p>
<p>Di samping semua itu, ada bentuk-bentuk korupsi ke dalam biro sendiri. Misalnya dengan mengeruk pajak yang sudah dibayarkan atau mencetak lebih banyak cukai rokok ketimbang semestinya.</p>
<p>Apa yang bisa dilakukan Hakim Plana di hadapan semua itu?</p>
<p>Arkian, Plana pun bertindak cepat. Ia menyusun satu sistem evaluasi prestasi yang baru, yang tak bergantung pada keputusan seorang atasan yang mensupervisi.</p>
<p>Ia juga membentuk dua tim pemberi informasi, dari kalangan militer dan sipil, untuk mengamat-amati siapa yang menipu pajak dan siapa yang terima sogok ia menindak para pelanggar, terutama di tingkat atas, dengan cepat dan terbuka.</p>
<p>Beberapa perubahan dalam undang-undang dan sistem pelaporan pajak juga diadakan, begitu pula mutasi terus dilakukan. Dan, konon Plana berhasil,&#8221; kata Paklik mengakhiri kisahnya.</p>
<p>&#8220;Sekilas, saya melihat modus yang sama di sini. Bentuk-bentuk korupsi di Filipina yang sampean sebutkan itu, juga ada di sini, cuma beda nama. Tapi, kita seperti tak punya niat memperbaiki, melainkan malah menyuburkan praktek laknat itu. Dan, satu lagi Paklik, kita tak punya Hakim Plana.&#8221;</p>
<p>&gt;&gt; <em>Selamat hari Jumat, Ki Sanak. Siapakah yang hendak sampean suap hari ini?</em></p>
<br /><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/ndorokakungmu.wordpress.com/817/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/ndorokakungmu.wordpress.com/817/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/ndorokakungmu.wordpress.com/817/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/ndorokakungmu.wordpress.com/817/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/ndorokakungmu.wordpress.com/817/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/ndorokakungmu.wordpress.com/817/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/ndorokakungmu.wordpress.com/817/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/ndorokakungmu.wordpress.com/817/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/ndorokakungmu.wordpress.com/817/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/ndorokakungmu.wordpress.com/817/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/ndorokakungmu.wordpress.com/817/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/ndorokakungmu.wordpress.com/817/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/ndorokakungmu.wordpress.com/817/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/ndorokakungmu.wordpress.com/817/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/ndorokakungmu.wordpress.com/817/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/ndorokakungmu.wordpress.com/817/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=ndorokakung.com&amp;blog=4074538&amp;post=817&amp;subd=ndorokakungmu&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://ndorokakung.com/2008/07/11/arisan-pecas-ndahe/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>46</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/d5cb2e365e99e42886dd55a56eb3361f?s=96&#38;d=monsterid" medium="image">
			<media:title type="html">Ndoro Kakung</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://inlinethumb23.webshots.com/41110/2373475600096703381S425x425Q85.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">korupsi anggota dpr</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://inlinethumb35.webshots.com/16930/2457022400096703381S200x200Q85.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">headline koran tempo</media:title>
		</media:content>
	</item>
	</channel>
</rss>
