Archive for the 'Piwulang' Category

Samurai Pecas Ndahe

Kapitalisme memang selalu melambai-lambai. Terserah kalian, mau jadi samurai atau manusia dengan jiwa yang mudah dibeli.

>> Saripati kuliah umum sore hari — setelah beberapa kawan pergi. Pengajar: GM.

29 comments

Ghulam Pecas Ndahe

Sesuai janji saya kemarin, hari ini posting tentang Ahmadiyah dilanjutkan kembali. Bahan posting ini diambil dari salah satu tumpukan dokumen di pabrik saya.

Moga-moga, dengan semakin banyak bacaan mengenai Ahmadiyah, pengetahuan sampean bakal bertambah. Sampean juga akan lebih memahami sosok kelompok yang hari-hari ini menghadapi situasi yang ternyata tak pernah berubah dari dulu.

Ada kemungkinan, posting ini juga akan berlanjut. Besok, lusa, atau entah kapan. Tergantung situasi, juga kemampuan saya mencari bahan.

Selamat membaca, dan jangan kaget kalau posting ini juga akan sangat panjang. Read more

22 comments

Ekstrem Pecas Ndahe

Selarik kalimat tiba-tiba nyelonong masuk ke kotak Yahoo! Messenger. Dari id-nya, saya tahu siapa pengirimnya: seorang kawan lama.

“Aha, finally, I know who you are. You guys never take side, yes?”

Saya tersenyum membaca teks itu dan kenapa dia mengirimkannya. Dia memang pembaca setia blog saya ini. Ia mengikuti dengan seksama setiap kata, kalimat, bahkan hingga titik koma dari setiap posting yang ada di blog ini, sejak awal saya mulai ngeblog hingga sekarang.

Tak heran bila dia mengenal saya, terutama sikap dan pandangan saya tentang banyak hal. Kalimat itu merupakan semacam kesimpulan dia tentang semua posting saya yang membahas pelbagai macam isu.

Dan di hari-hari ini, ketika ranah blog berderak-derak oleh pelbagai macam isu, dia merasa sikap dan pandangan saya makin menegaskan sosok saya. Sikap dan pandangan yang sama juga dia temukan pada sosok beberapa blogger lain, seperti Sir Mbilung dan Paman Tyo.

Saya cuma tersenyum dan tak segera bereaksi pada kalimat yang ditulisnya itu, sampai kemudian dia bertanya dari mana dan bagaimana kami bisa mempunyai semacam kesamaan sikap. Read more

24 comments

Kemelaratan Pecas Ndahe

Hidup rupanya kian bikin lisut pinggang — dan absurd. Bacalah berita-berita dalam satu bulan terakhir ini, ibu-ibu membunuh anak kandungnya sendiri di Bekasi, Jawa Barat, dan Pekalongan, Jawa Tengah. Kasus serupa terjadi di Malang, Jawa Timur.

Ekonomi yang sulit, kemelaratan, kabarnya telah menjadi momok yang paling mencekam hingga membuat ibu-ibu itu mata gelap. Harga beras, minyak tanah, sembako, meroket. Penghasilan merosot tajam. Pengangguran keleleran di mana-mana. Para suami meninggalkan istri. Anak-anak teraniaya dalam belitan kemiskinan.

Ibu-ibu hidup penuh tekanan. Ketika pintu penahan tekanan jebol, akibatnya tak tertanggungkan lagi.

Lalu di manakah negara? Pemerintah? Dan kita? Bagaimana sebetulnya kita harus memberantas kemiskinan dan tekanan hidup? Perlukah kaum paria dilindungi?

Paklik Isnogud cuma geleng-geleng kepala ketika saya mengajaknya memikirkan soal ini. Berkali-kali ia mendesahkan napas panjangnya. Wajahnya keruh. Matanya redup. Read more

22 comments

Porno Pecas Ndahe

Haruskah Internet disensor? Perlukah pemerintah memblokade situs, blog, dan semua pojok remang-remang di ranah digital yang mengandung pornografi?

Pertanyaan-pertanyaan itu bergemuruh di jaringan digital hari-hari ini. Terutama setelah wakil rakyat kita di Senayan hari ini mengesahkan Undang-Undang Informasi dan Transaksi Elektronik.

Sebagian yang mendukung sensor dengan gegap gempita seraya berteriak, “Akhirnya sang pelindung telah tiba dan bertindak.”

Yang menolak blokade tak kalah garang. “Jangan, jangan sensor kami. Pornografi itu takhyul.”

Saya gamang dalam ketidakmengertian. Kosong. Buat saya, ini soal moral. Persepsi. Hati nurani. Kenapa mesti diselesaikan dengan teknologi? Read more

55 comments

Kontras Pecas Ndahe

Seorang kawan dengan bergemuruh bercerita tentang pengalamannya menyaksikan Mega Bazar Computer di Jakarta Convetion Center yang ditutup Ahad lalu.

Pameran komputer gede-gedean itu katanya dikunjungi sekitar 30 ribu orang yang membayar tiket masuk Rp 5.000. Orang memadati arena pameran hampir seharian. Mereka berjalan hilir mudik sambil menenteng laptop-laptop anyar yang baru dibeli.

“Kalau melihat antusiasme orang yang datang, belanja ini dan itu, di pameran komputer itu kok saya jadi merasa orang Indonesia sudah maju dan makmur yo, Mas. Orang Indonesia itu ternyata sangat melek dan haus teknologi,” kata teman saya itu.

“Bagus dong,” jawab saya sekenanya.

“Tapi, tapi, Mas … eh, kok saya merasa miris juga ya.”

“Loh miris piye sih?” Read more

41 comments

Next Page »