Seseorang bertanya, ke mana perginya current issue dari sini? Lah ini, Mas!
Ini? Iya! (lebih lanjut…)
Seseorang bertanya, ke mana perginya current issue dari sini? Lah ini, Mas!
Ini? Iya! (lebih lanjut…)
Lelaki muda itu datang dengan muka rusuh. Bajunya lecek, kumel, dan apak. Rambutnya acak-acakan tanda sudah sepekan tak dirapikan.
Dan, tiba-tiba dia mengajak saya ngobrol begitu saja.
“Saya lagi mumet nih, Ndoro?” begitu kalimat pembukanya.
“Mumet? Kenapa?” saya bertanya.
“Saya jatuh cinta. Perempuan itu cantik dan pintar.”
“Wah, bagus dong. Kenapa sampean jadi lecek begitu? Bukankah jatuh cinta itu menyegarkan?”
“Seharusnya begitu, Ndoro. Tapi, ini lain.”
“Lain piye?” (lebih lanjut…)
Pada suatu siang yang muram, di pintu masuk sebuah plasa. Di atas, mendung tebal menggantung. Sebentar lagi pasti hujan tumpah.
Saya melihat lelaki itu dengan keanggunan seorang Arjuna yang tengah berdiri di atas kereta sambil mengangkat gandewa, sesaat sebelum anak-anak panahnya melesat dan menerjang tubuh Bhisma hingga terjungkal di Padang Kurusetra.
Tubuh gagahnya dibalut kemeja kotak-kotak kecil warna hijau, senada dengan pantalon hijau tuanya. Parasnya bersih. Rambutnya yang ikal dipotong pendek.
Lelaki itu terlihat gelisah, berkali-kali melihat arloji di pergelangan tangan kiri. Sebentar kemudian pandangannya beralih ke pelataran depan plasa, memperhatikan setiap pengunjung yang datang.
Saya menduga lelaki itu tengah menunggu seseorang, mungkin temannya, istrinya, pacar, atau kekasih gelapnya. (lebih lanjut…)