<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	xmlns:georss="http://www.georss.org/georss" xmlns:geo="http://www.w3.org/2003/01/geo/wgs84_pos#" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/"
	>

<channel>
	<title>Ndoro Kakung &#187; Sketsa</title>
	<atom:link href="http://ndorokakung.com/category/sketsa/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://ndorokakung.com</link>
	<description></description>
	<lastBuildDate>Mon, 13 Feb 2012 04:35:32 +0000</lastBuildDate>
	<language>id</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.com/</generator>
<cloud domain='ndorokakung.com' port='80' path='/?rsscloud=notify' registerProcedure='' protocol='http-post' />
<image>
		<url>http://1.gravatar.com/blavatar/5528931ced950992211502a6002437c3?s=96&#038;d=http%3A%2F%2Fs2.wp.com%2Fi%2Fbuttonw-com.png</url>
		<title>Ndoro Kakung &#187; Sketsa</title>
		<link>http://ndorokakung.com</link>
	</image>
	<atom:link rel="search" type="application/opensearchdescription+xml" href="http://ndorokakung.com/osd.xml" title="Ndoro Kakung" />
	<atom:link rel='hub' href='http://ndorokakung.com/?pushpress=hub'/>
		<item>
		<title>Revolusi Pecas Ndahe</title>
		<link>http://ndorokakung.com/2011/11/30/revolusi-pecas-ndahe-2/</link>
		<comments>http://ndorokakung.com/2011/11/30/revolusi-pecas-ndahe-2/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 30 Nov 2011 06:36:07 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Ndoro Kakung</dc:creator>
				<category><![CDATA[Sketsa]]></category>
		<category><![CDATA[cinta]]></category>
		<category><![CDATA[politik]]></category>
		<category><![CDATA[relasi]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://ndorokakung.com/?p=6110</guid>
		<description><![CDATA[Seorang perempuan. Sebuah tas Hermes di tangan. Sore itu aku menemuinya di sebuah kafe kecil di jantung Jakarta. Hujan turun berderai-derai di luar. Jalanan macet. Seperti biasa. Duduk di depanku dengan takzim, ia memamerkan senyumnya yang ringkas. Parasnya lesi. Aku maklum. Dia hidup dari satu tekanan ke tekanan lain. Dari sebuah kekuasaan ke kekuasaan berikutnya. [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=ndorokakung.com&amp;blog=4074538&amp;post=6110&amp;subd=ndorokakungmu&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Seorang perempuan. Sebuah tas Hermes di tangan. Sore itu aku menemuinya di sebuah kafe kecil di jantung Jakarta. Hujan turun berderai-derai di luar. Jalanan macet. Seperti biasa.</p>
<p>Duduk di depanku dengan takzim, ia memamerkan senyumnya yang ringkas. Parasnya lesi. Aku maklum. Dia hidup dari satu tekanan ke tekanan lain. Dari sebuah kekuasaan ke kekuasaan berikutnya. Ia terhimpit.</p>
<p>Seperti biasa, sore itu ada dua cangkir kopi di atas meja. Satu kopi tubruk untukku. Satu cappucino kesukaannya.</p>
<p>Dua cangkir kopi. Dua manusia. Bumi dan langit. Tiba-tiba aku merasa yang namanya iba itu bisa datang dari mana saja. Ia kerap muncul begitu saja tanpa sebab yang jelas. Paling tidak demikian yang kurasakan sore itu.</p>
<p>Ia bahkan bisa datang dari secangkir kopi. Seorang teman. Dan beberapa butir air mata yang bergulir perlahan di pipi. </p>
<p>&#8220;Maaf, kadang aku masih cengeng, Mas,&#8221; katanya perlahan. &#8220;Kamu nggak usah ketawa.&#8221;</p>
<p>Mukaku datar. Pura-pura tak mendengar. <span id="more-6110"></span></p>
<p>Perempuan itu melanjutkan kata-katanya. </p>
<p>&#8220;Aku hampir berhenti dan tak meneruskan jalanku, Mas. Aku ingin mundur karena tak tahan. Aku hendak menafikan orang lain dan menuruti keinginanku sendiri. Kebahagiaanku. Ketakutanku. Tak salah kan? Toh, aku berhak. Tidak melanggar hukum agama dan undang undang negara.&#8221;</p>
<p>Aku menyesap kopiku. Barista kafe ini tampaknya meracik kopi dengan keterampilan tingkat dewa. Kesempurnaan racikannya terasa dari setiap sesapan. </p>
<p>Kami terus bercakap. Tepatnya dia lebih banyak bercerita dan aku mendengarkan. Mulutnya tak henti menuturkan banyak hal. Tentang teman-temannya. Relasi perempuan dan laki-laki, pekerjaannya, perjalanannya, kegagalannya, dan ketakutannya. </p>
<p>Aku heran sore itu hanya ada rasa nyaman. Mungkin pengaruh blus pink terang yang dia kenakan. Mungkin dia baru membelinya dari sebuah butik di Milan. Entahlah&#8230;</p>
<p>Hanya satu setengah jam kami berjumpa sore itu. Bertukar cerita. Setelah itu, dia menghilang di antara lautan pengunjung mal yang bergegas dengan lekas.</p>
<p>Malamnya, sebuah surat elektronik masuk ke telepon genggamku. Dari dia. </p>
<blockquote><p>&#8220;Politik memang dunia orang kampret!&#8221; begitu bunyi pembukaan suratnya.</p></blockquote>
<p>Aku mengernyitkan dahi, lalu meneruskan membaca.</p>
<blockquote><p>&#8220;Aku mungkin termasuk salah satu kampret itu. Aku ingin melawan mereka. Libas! Gilas! Sampai mereka menjadi setipis tisu yang  diterbangkan angin!</p>
<p>Entah kenapa setiap kali menulis kata tisu aku teringat kamu, Mas.&#8221;</p></blockquote>
<p>Aku tertawa dalam hati.</p>
<blockquote><p>&#8220;&#8230;Aku tidak boleh kalah dari orang-orang kampret itu, Mas! Aku bertekat bulat menduduki sarangnya! Melumat mereka! (Ah, aku kejam juga ya ternyata).&#8221;</p></blockquote>
<p>Aku membayangkan benaknya seperti dipenuhi serdadu-serdadu yang siap tempur. Ya ya, aku tahu dari dulu dia menyukai mereka yang berseragam.</p>
<blockquote><p>&#8220;Mas, pada akhirnya aku mengerti alasanku minggir dari hiruk-pikuk kekuasaan. Jengah, tidak tahan, dan patah semangat karena merasa tidak mampu, adalah alasan yang salah untuk berhenti. Dan aku percaya, tanpa alasan berhenti yang tepat, satu pertempuran wajib diteruskan.  </p>
<p>Apa aku akan menang, melawan mereka yang mungkin mayoritas? </p>
<p>Akal menghitung. Aku anak baru, mereka berpengalaman. Aku (merasa) sendiri. Mereka berkelompok dan berjejaring. </p>
<p>Aku perempuan. Mereka semua lelaki. Ah&#8230;aku benci!</p>
<p>Ketakutanku berhasil kutepis dengan kesadaran penuh bahwa sebagai manusia, toh pada waktunya nanti, aku akan mati. Tak ada rugi jika melawan saat ini.</p>
<p>Tapi kamu tahu, yang paling membuatku takut sesungguhnya adalah, dalam upaya melawan kampret kampret, aku kalah, kemudian menyerah, dan menjadi bagian dari mereka. Itu, kekalahan paripurna.</p>
<p>Untuk ketakutanku yang terakhir ini, aku teringat ujaran yang pernah kau katakan dulu: &#8220;mukti atau mati!&#8221;</p>
<p>Kalah melibas, menjadi terlibas<br />
Kalah menggilas, menjadi tergilas<br />
Kalah menusuk, menjadi tertusuk</p>
<p>Begitu indahnya kalimat itu bagiku, hingga aku harus meminjam tulisan indah yang kutemukan di jagat maya, dari seorang seniman Sunda yang kebetulan bernama Mukti.</p>
<p>&#8220;Memahami mata yang kau pejamkan, adalah pulau yang jauh di ufuk timur&#8230;<br />
Matahari &#8230; Matahari..<br />
Kita yang masih bertani, berdiri menatap matahari..<br />
Menitip mati &#8230; Melumat sepi&#8230;<br />
Esok pagi Revolusi!&#8221;</p>
<p>Kugabungkan kata-katamu dan syair dari Mukti. Ada dua kalimat yang tidak pergi dari pikiranku: &#8220;Menitip mati&#8230;Melumat sepi. Hidup mulia atau sirna.&#8221;</p>
<p>Menulisnya saja, membuat aku terdiam. Semoga diamku berarti, aku meyakini penuh dan senantiasa memegangnya teguh.</p>
<p>Mas, aku harus sudahi surat ini di sini.<br />
Malam telah kian larut,<br />
Esok pagi, revolusi.</p></blockquote>
<p>Sampai di situ suratnya berakhir. Pikiranku melayang ke Lapangan Merah, Tiananmen, Tahrir, dan teriakan anak-anak muda dengan tangan teracung tinggi: Revolusi!</p>
<p>&gt;&gt; <em>Selamat hari Rabu, Ki Sanak. Apa kabar sampean hari ini?</em></p>
<br />Filed under: <a href='http://ndorokakung.com/category/sketsa/'>Sketsa</a> Tagged: <a href='http://ndorokakung.com/tag/cinta/'>cinta</a>, <a href='http://ndorokakung.com/tag/politik/'>politik</a>, <a href='http://ndorokakung.com/tag/relasi/'>relasi</a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/ndorokakungmu.wordpress.com/6110/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/ndorokakungmu.wordpress.com/6110/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/ndorokakungmu.wordpress.com/6110/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/ndorokakungmu.wordpress.com/6110/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/ndorokakungmu.wordpress.com/6110/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/ndorokakungmu.wordpress.com/6110/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/ndorokakungmu.wordpress.com/6110/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/ndorokakungmu.wordpress.com/6110/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/ndorokakungmu.wordpress.com/6110/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/ndorokakungmu.wordpress.com/6110/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/ndorokakungmu.wordpress.com/6110/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/ndorokakungmu.wordpress.com/6110/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/ndorokakungmu.wordpress.com/6110/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/ndorokakungmu.wordpress.com/6110/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=ndorokakung.com&amp;blog=4074538&amp;post=6110&amp;subd=ndorokakungmu&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://ndorokakung.com/2011/11/30/revolusi-pecas-ndahe-2/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>181</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/d5cb2e365e99e42886dd55a56eb3361f?s=96&#38;d=monsterid" medium="image">
			<media:title type="html">Ndoro Kakung</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Ubud Pecas Ndahe</title>
		<link>http://ndorokakung.com/2011/11/21/ubud-pecas-ndahe-2/</link>
		<comments>http://ndorokakung.com/2011/11/21/ubud-pecas-ndahe-2/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 21 Nov 2011 08:58:46 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Ndoro Kakung</dc:creator>
				<category><![CDATA[Sketsa]]></category>
		<category><![CDATA[cinta]]></category>
		<category><![CDATA[fiksi]]></category>
		<category><![CDATA[narasi]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://ndorokakung.com/?p=6101</guid>
		<description><![CDATA[&#8220;Kenyataan bahwa aku sudah pergi jangan sampai membuatmu terlempar dalam pusaran hidup yang paradoksal. Karena aku penah benar-benar punya harapan bakal hidup selamanya di sampingmu. Harapan itu masih tersimpan sangat rapi di sudut hatiku. Sekian.&#8221; Pesan itu tiba-tiba menyelinap ke dalam BlackBerryku. Dari siapa lagi kalau bukan dia. Perempuan yang pelukan hangatnya mampu melumerkan seluruh [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=ndorokakung.com&amp;blog=4074538&amp;post=6101&amp;subd=ndorokakungmu&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>&#8220;Kenyataan bahwa aku sudah pergi jangan sampai membuatmu terlempar dalam pusaran hidup yang paradoksal. Karena aku penah benar-benar punya harapan bakal hidup selamanya di sampingmu. Harapan itu masih tersimpan sangat rapi di sudut hatiku. Sekian.&#8221;</p>
<p>Pesan itu tiba-tiba menyelinap ke dalam BlackBerryku. Dari siapa lagi kalau bukan dia. Perempuan yang pelukan hangatnya mampu melumerkan seluruh salju di kutub utara.</p>
<p>Aku kaget. Tak kusangka mendapat kiriman mendadak dan mengagetkan seperti ini.</p>
<p>Aku segera membalasnya. Tanpa pikir panjang.</p>
<p>&#8220;Pernah? Apakah sekarang sudah padam?&#8221; Send!</p>
<p>Incoming message: &#8220;Harapan itu masih tersimpan sangat rapi di sudut hatiku.&#8221;</p>
<p>&#8220;Aku khawatir baranya makin lama makin kecil, dan akhirnya padam.&#8221; Send!</p>
<p>Incoming messange: &#8220;Ingat rumah di Ubud yang pernah aku ceritakan kepadamu? Dengan ayunan di taman depan? Dan kamu bilang dengan entengnya, &#8216;Tanya saja harganya berapa, nanti buat rumah kita di masa tua?&#8217;&#8221;</p>
<p>&#8220;Iya aku ingat. Sudah kau beli?&#8221; Send!</p>
<p>Incoming message: &#8220;Belum dong, memangnya kita sudah tua?&#8221;</p>
<p>&#8220;Tapi aku makin menua.&#8221; Send!</p>
<p>Incoming message: &#8220;Sudah siap hidup bersamaku?&#8221;</p>
<p>&#8220;Sudah siap beli rumah itu?&#8221; Send!</p>
<p>Kamu tertawa. Aku ngakak. Kita terbahak-bahak. Berdua. <span id="more-6101"></span></p>
<p>Sore ini langit di atas Jakarta kelabu. Mendung menggantung. Baku balas teks itu membuat aku seperti terlempar ke masa silam saat kita ada di mana-mana. Di Marce. Di Canteen. Di Epicentrum. Di Soto Gebrak Tebet. Di depan sepiring Oglio olio. Di dalam layar Instagram. Di setiap larik-larik pesan pendek yang selalu meluncur setiap malam. Dahulu, pada sebuah masa.</p>
<p>Kita mungkin tak akan mampu memutar ulang itu semua. Itu masa lalu. Sekarang bahkan &#8220;kita&#8221; sudah tak ada lagi.</p>
<p>&#8220;Apa yang terakhir kamu ingat tentang diriku, Mas?&#8221;</p>
<p>&#8220;Pelukanmu. Kamu?&#8221;</p>
<p>&#8220;Bibir aroma tembakaumu. Manis.&#8221;</p>
<p>&#8220;Ah, aku jadi menginginkan bibirmu.&#8221;</p>
<p>&#8220;Aku menginginkan kamu.&#8221;</p>
<p>&#8220;Ambillah.&#8221;</p>
<p>&#8220;Kamu sudah ada yang punya: dulu dan sekarang.&#8221;</p>
<p>&#8220;Kamu sekarang juga sudah ada yang punya.&#8221;</p>
<p>&#8220;Dulu dan sekarang aku berharap kamu yang memilikiku.&#8221;</p>
<p>&#8220;Baiklah. Aku akan ambil kamu sekarang.&#8221;</p>
<p>&#8220;Ambillah. Pesawatku take off setengah jam lagi. Pramugari-pramugari itu pasti tak mau menunggumu.&#8221;</p>
<p>&#8220;Hah! Kamu mau ke mana?&#8221;</p>
<p>Sampai lebih dari dua jam pesan itu tak terbalas. Aku menanti dengan cemas. </p>
<p>Sampai akhirnya kudengar suara adzan Maghrib berkumandang di kejauhan. Aku tahu ke mana aku harus mengambil jalanku sekarang. The road less traveled &#8230;</p>
<p>&gt;&gt; <em>Selamat hari Senin, Ki Sanak. Kapan sampean terakhir ke Ubud?</em></p>
<br />Filed under: <a href='http://ndorokakung.com/category/sketsa/'>Sketsa</a> Tagged: <a href='http://ndorokakung.com/tag/cinta/'>cinta</a>, <a href='http://ndorokakung.com/tag/fiksi/'>fiksi</a>, <a href='http://ndorokakung.com/tag/narasi/'>narasi</a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/ndorokakungmu.wordpress.com/6101/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/ndorokakungmu.wordpress.com/6101/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/ndorokakungmu.wordpress.com/6101/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/ndorokakungmu.wordpress.com/6101/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/ndorokakungmu.wordpress.com/6101/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/ndorokakungmu.wordpress.com/6101/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/ndorokakungmu.wordpress.com/6101/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/ndorokakungmu.wordpress.com/6101/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/ndorokakungmu.wordpress.com/6101/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/ndorokakungmu.wordpress.com/6101/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/ndorokakungmu.wordpress.com/6101/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/ndorokakungmu.wordpress.com/6101/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/ndorokakungmu.wordpress.com/6101/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/ndorokakungmu.wordpress.com/6101/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=ndorokakung.com&amp;blog=4074538&amp;post=6101&amp;subd=ndorokakungmu&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://ndorokakung.com/2011/11/21/ubud-pecas-ndahe-2/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>91</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/d5cb2e365e99e42886dd55a56eb3361f?s=96&#38;d=monsterid" medium="image">
			<media:title type="html">Ndoro Kakung</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Coelho Pecas Ndahe</title>
		<link>http://ndorokakung.com/2011/11/08/coelho-pecas-ndahe/</link>
		<comments>http://ndorokakung.com/2011/11/08/coelho-pecas-ndahe/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 08 Nov 2011 03:01:42 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Ndoro Kakung</dc:creator>
				<category><![CDATA[Sketsa]]></category>
		<category><![CDATA[Ayung]]></category>
		<category><![CDATA[bali]]></category>
		<category><![CDATA[kekuasaan]]></category>
		<category><![CDATA[paulo coelho]]></category>
		<category><![CDATA[politik]]></category>
		<category><![CDATA[teman]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://ndorokakung.com/?p=6084</guid>
		<description><![CDATA[Dari sungai konon kita bisa mendengarkan suara-suara. Lenguhan sapi, kokok ayam jantan, teriakan pedagang sate, klakson kendaraan, juga keriangan dan kepedihan. Dari sungai pula, seorang perempuan merasa yakin hidupnya akan baik-baik saja seandainya ia punya teman. Saya mengetahuinya malam itu saat Jakarta disiram gerimis setengah hati dan sebuah surat elektronik masuk ke kotak surat. Saya [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=ndorokakung.com&amp;blog=4074538&amp;post=6084&amp;subd=ndorokakungmu&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Dari sungai konon kita bisa mendengarkan suara-suara. Lenguhan sapi, kokok ayam jantan, teriakan pedagang sate, klakson kendaraan, juga keriangan dan kepedihan. Dari sungai pula, seorang perempuan merasa yakin hidupnya akan baik-baik saja seandainya ia punya teman.</p>
<p>Saya mengetahuinya malam itu saat Jakarta disiram gerimis setengah hati dan sebuah surat elektronik masuk ke kotak surat. Saya terpana. Pengirimnya seorang sahabat yang sudah lama tak bersua.</p>
<p>Apakah gerangan yang membuatnya meluangkan waktu mengingat saya dengan menulis surat pada dinihari? Adakah yang genting? </p>
<p>Pertanyaan itu bukan datang dari ruang hampa. Berbelas purnama tinggal di episentrum kekuasaan membuat dia berada dalam ruang dan waktu yang begitu jauh dari jangkauan saya. </p>
<p>Selama ini kami hanya sesekali bersua di beberapa tikungan kesempatan. Itu pun cuma sebentar. Selebihnya kami hidup di jalan masing-masing. Yang sunyi &#8230; <span id="more-6084"></span></p>
<p>Yang membuat saya kian puspas adalah itu surat pertama yang pernah dia kirimkan untuk saya. Tak heran bila saya seperti pungguk yang kejatuhan rembulan. Dengan tak sabar, saya pun membacanya &#8230;</p>
<blockquote><p>Ubud, 2011</p>
<p>Me and friends decided to go rafting today. The river is called Ayung river. Located in a village called Ubud, and is one of the prettiest sights one can find when rafting.</p>
<p>It was a beautiful journey. We all enjoyed ourselves and each other&#8217;s company. We row forward together. Laughed together. And sometimes got hit together when the boat bumped into the rocks.</p>
<p>At times, the instructor told us to stop rowing. Just stop and completely sit still. At certain turns, we were asked to row backwards. And when the water is still, we were allowed to have a bit of fun playing and swimming in the water.</p>
<p>But before all that wonderful journey across the Ayung river, we had to work our way (and that was a hell lot of work involving 450 stair steps) down to the river, and ofcourse up to the village after the trip concluded.</p>
<p>After the journey that afternoon, in less than 5 minutes, I decided to stay in Ubud. On the contrary to my planned stay in a cozy hotel facing Kuta beach. It was perhaps the ambiance of the Village that made me want to stay. The peaceful yet lively aura of Ubud. Or perhaps I was just simply endulging my ever changing mind.</p>
<p>The beauty of an afternoon walk along Ubud Raya street is one that is hard to explain. One just has to experience it oneself. Let&#8217;s just simply say it is beautiful, at sights and at heart. </p>
<p>I stopped by a Periplus book store. This time I was just following my feet. I reckon it is good to let them lead my brain once in a while. A purple-ish book cover caught my attention. &#8216;Like the Flowing River&#8217;, it says on the cover. A book by Paulo Coelho. Again with not much thinking, I picked the book. It was only because of, firstly, it&#8217;s nice purple cover, and secondly, it was one of Coelho less heard/talk about books. I didn&#8217;t feel like buying a book that almost all friends have read.</p>
<p>&#8216;Like the Flowing River&#8217;. I just finished reading few opening pages. The few pages that took me back to the beautiful river of Ayung, and to our rafting instructor, KingKong (Yes, that&#8217;s his name). The few pages that reminded me about..Me..(Well, you know, there are time frames in life when we stop thinking about who we are).</p>
<p>Like the Flowing River. I want my own stretches of river of life to be (at least) as beautiful as the Ayung River. Like the journey this afternoon, I realize it will ask extensive works of me. There would be moments when I have to row against the current. There were rocks big enough along the way, ready to make me fall. But there were stretches that are so peaceful that I can just lay on my back on the water facing the sky, and surrender to the river. </p>
<p>I will bump in to things. I may fall. But will I cry? Will I give up? Well, I didn&#8217;t this afternoon apart from aching screams that wasn&#8217;t too often anyways. </p>
<p>I didnt cry, because I had the greatest companies who could make me laugh whenever I tripped over the boat. </p>
<p>I did not stop because I had them, to support each other.</p>
<p>***</p>
<p>Coelho, KingKong and Ayung river had reassured me that no matter good or strong my boat is, I will need companies to help make my life journey, a meaningful one.</p>
<p>A beautiful one&#8230;</p>
<p>Thank you so much,<br />
For being one</p></blockquote>
<p>Hati saya mendadak hangat. Perasaan saya campur aduk setelah tuntas membaca surat itu. Saya tak pernah menyangka begitu berarti baginya.</p>
<p>Buru-buru saya mengirimkan pesan singkat kepadanya tanpa peduli malam sudah tergelincir lewat dinihari.</p>
<p>&#8220;Mengapa kau kirimkan surat itu kepadaku?&#8221;</p>
<p>Hampir dua menit berlalu tanpa balasan.</p>
<p>Pada menit ketiga, sebuah pesan masuk. Dari dia. </p>
<p>&#8220;Entahlah. Tiba-tiba aku ingin memberi hadiah buat teman-temanku. Aku hanya merasa apa yah&#8230;ya gitulah, hahaha&#8230;. I think those who can appreciate it are those who knows that I write it for them. Begitu bukan?&#8221;</p>
<p>Saya mengiyakan. Saya merasa tersanjung mendapat narasi singkat itu. Entah kenapa saya juga jadi terkenang pada jalan hidupnya: Seorang perempuan di episentrum kekuasaan. Kesepian. Dan ketakutan bakal tak punya siapa-siapa lagi. Bahkan seorang teman.</p>
<p>Dan kesepian yang menggigit itu tecermin ketika ia menulis balasan, &#8220;Aku merasa hidupku makin berjarak. Akan ada momen-momen ketika aku berbeda dengan teman-temanku. Dan jujur, aku takut. So promise me &#8230;.&#8221;</p>
<p>&#8220;What?&#8221; saya bertanya.</p>
<p>&#8220;We can debate all we like&#8230; but let&#8217;s not stop communicating. Jikalau ke depan ada batu di tengah sungai, tetaplah bikin aku yakin aku masih punya teman.</p>
<p>Tiba-tiba saya merasa seperti mendapat jab keras di ulu hati. Hidup ternyata begitu keras menghajarnya. Dia, perempuan yang selama ini saya kira mampu berdiri tegak sendirian, akhirnya gamang juga di depan jalan yang bercabang. Dan sunyi.</p>
<p>Lama saya tak membalas pesan pendek itu sampai akhirnya saya mengirimkan kalimat singkat, &#8220;Aku janji. Demi kita.&#8221;</p>
<p>&gt;&gt; <em>Selamat hari Selasa, Ki Sanak. Pernahkah sampaean merasa sendirian justru ketika sudah di atas?</em></p>
<br />Filed under: <a href='http://ndorokakung.com/category/sketsa/'>Sketsa</a> Tagged: <a href='http://ndorokakung.com/tag/ayung/'>Ayung</a>, <a href='http://ndorokakung.com/tag/bali/'>bali</a>, <a href='http://ndorokakung.com/tag/kekuasaan/'>kekuasaan</a>, <a href='http://ndorokakung.com/tag/paulo-coelho/'>paulo coelho</a>, <a href='http://ndorokakung.com/tag/politik/'>politik</a>, <a href='http://ndorokakung.com/tag/teman/'>teman</a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/ndorokakungmu.wordpress.com/6084/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/ndorokakungmu.wordpress.com/6084/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/ndorokakungmu.wordpress.com/6084/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/ndorokakungmu.wordpress.com/6084/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/ndorokakungmu.wordpress.com/6084/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/ndorokakungmu.wordpress.com/6084/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/ndorokakungmu.wordpress.com/6084/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/ndorokakungmu.wordpress.com/6084/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/ndorokakungmu.wordpress.com/6084/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/ndorokakungmu.wordpress.com/6084/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/ndorokakungmu.wordpress.com/6084/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/ndorokakungmu.wordpress.com/6084/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/ndorokakungmu.wordpress.com/6084/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/ndorokakungmu.wordpress.com/6084/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=ndorokakung.com&amp;blog=4074538&amp;post=6084&amp;subd=ndorokakungmu&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://ndorokakung.com/2011/11/08/coelho-pecas-ndahe/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>113</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/d5cb2e365e99e42886dd55a56eb3361f?s=96&#38;d=monsterid" medium="image">
			<media:title type="html">Ndoro Kakung</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>28 Hari Pecas Ndahe</title>
		<link>http://ndorokakung.com/2010/02/25/28-hari-pecas-ndahe/</link>
		<comments>http://ndorokakung.com/2010/02/25/28-hari-pecas-ndahe/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 25 Feb 2010 07:30:50 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Ndoro Kakung</dc:creator>
				<category><![CDATA[Blog]]></category>
		<category><![CDATA[Sketsa]]></category>
		<category><![CDATA[28hari]]></category>
		<category><![CDATA[cerbung]]></category>
		<category><![CDATA[ebook]]></category>
		<category><![CDATA[enovel]]></category>
		<category><![CDATA[fiksi]]></category>
		<category><![CDATA[gratis]]></category>
		<category><![CDATA[prosa]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://ndorokakung.com/?p=4808</guid>
		<description><![CDATA[Awalnya adalah percakapan via Yahoo! Messenger pada sebuah siang. Antara @ndorokakung dan @beradadisini. Dan setelah beberapa menit berlalu, diselingi jeda akibat kesibukan pekerjaan masing-masing, obrolan yang melantur ke mana-mana itu tiba-tiba berbelok tajam seperti elang di angkasa menyambar tikus di selokan. &#8220;Bagaimana kalau kita duet bikin cerita bersambung?&#8221; dia bertanya. &#8220;Siapa takut?&#8221; saya balik bertanya. [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=ndorokakung.com&amp;blog=4074538&amp;post=4808&amp;subd=ndorokakungmu&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Awalnya adalah percakapan via Yahoo! Messenger pada sebuah siang. Antara <a href="http://twitter.com/ndorokakung">@ndorokakung</a> dan <a href="http://twitter.com/beradadisini">@beradadisini</a>. Dan setelah beberapa menit berlalu, diselingi jeda akibat kesibukan pekerjaan masing-masing, obrolan yang melantur ke mana-mana itu tiba-tiba berbelok tajam seperti elang di angkasa menyambar tikus di selokan.</p>
<p><a href="http://lelakiku.tumblr.com"><img src="http://ndorokakungmu.files.wordpress.com/2010/02/lelakiku.jpg?w=450&#038;h=396" alt="" title="lelakiku" width="450" height="396" class="aligncenter size-medium wp-image-4908" /></a></p>
<p>&#8220;Bagaimana kalau kita duet bikin cerita bersambung?&#8221; dia bertanya.</p>
<p>&#8220;Siapa takut?&#8221; saya balik bertanya. <span id="more-4808"></span></p>
<p>Kami memang pernah beberapa kali membuat posting yang saling berkaitan tanpa direncanakan di blog masing-masing. Saya pikir, duet membuat cerita bersambung lagi tak akan terlalu sulit.</p>
<p>Saya tahu, Hanny adalah penulis yang bagus. Cara berceritanya mengalir lancar, jujur, dan bagian akhirnya kerap tak terduga. Pilihan katanya memukau. Pandangan-pandangannya tentang pelbagai masalah selalu mencengangkan. Imajinasinya pun luas.</p>
<p>Maka jadilah sepanjang siang itu kami membahas rencana duet membuat cerita secara bersama. Temanya klise tapi tak lekang dimakan zaman: tentang cinta, relasi antara seorang lelaki dan perempuan. </p>
<p>Duet itu maujud dalam bentuk dua blog serupa tapi tak sama, <a href="http://perempuanku.tumblr.com/">Perempuanku</a> dan <a href="http://lelakiku.tumblr.com/">Lelakiku</a>. Siapa menulis yang mana, sampean pasti mampu menebaknya.</p>
<p><a href="http://perempuanku.tumblr.com/"><img src="http://ndorokakungmu.files.wordpress.com/2010/02/perempuanku.jpg?w=444&#038;h=450" alt="" title="perempuanku" width="444" height="450" class="aligncenter size-medium wp-image-4910" /></a></p>
<p>Kami memakai tagline untuk blog itu 28 Hari untuk Selamanya. Mengapa 28 hari? Karena kebetulan kami mengerjakan proyek bersama ini selama bulan Februari yang umurnya tahun ini hanya 28 hari. Tapi kami ingin karya bersama ini abadi, selamanya. Tsaaah&#8230;</p>
<p>Salah satu dari kami memulai kisah dalam blog itu dengan posting bertajuk <a href="http://perempuanku.tumblr.com/post/333925823/feb-1-2010-pada-senja-ini"><em>Pada Senja Ini</em></a>. Lalu yang lain lalu ganti membalasnya dengan posting berjudul <a href="http://lelakiku.tumblr.com/post/333978962/thestars"><em>Bintang</em></a>. Begitu seterusnya. Tapi kami saling membebaskan. Tak ada ketentuan siapa harus menulis apa dan bagaimana menuliskannya. Kami hanya menyepakati tema, fokus, dan sudut cerita. Selanjutnya terserah kami masing-masing untuk mengembangkannya.</p>
<p>Nah, setiap kali ada posting baru, kami menyiarkannya di Twitter dengan hashtag #28hari. Itu sebabnya sampean kerap melihat di timeline saya bertebaran kata kunci itu. Dan membuat sampean penasaran ya? <img src='http://s0.wp.com/wp-includes/images/smilies/icon_biggrin.gif' alt=':D' class='wp-smiley' /> </p>
<p>Tentu saja jalan yang kami lalui untuk membuat blog itu tak selalu mulus. Ada saja kendala yang membuat proses bertukar cerita itu tersendat. Dan membuat kami tak bisa setiap hari menulis. Hanny bahkan sempat pakansi sepekan lebih ke Vietnam. Akibatnya proyek itu ikut terhenti sementara.</p>
<p>Dengan susah payah, toh proyek itu akhirnya kelar juga persis pada 14 Februari 2010. Kami berencana mengumpulkan seluruh tulisan di kedua blog itu menjadi satu kesatuan, lalu dibagikan secara gratis dalam bentuk ebook. Tapi entah kapan. Mungkin nanti kalau sudah sempat.</p>
<p><strong>UPDATE</strong>: enovel 28 Hari bisa diunduh <a href="http://bit.ly/selamanya">di sini</a> (versi pdf) atau <a href="http://bit.ly/28hari">di sini</a> (versi doc).</p>
<p>Kami telah selesai. Giliran sampean, membaca, menikmati, dan memberi komentar. Kami akan mendengarkannya dengan hati terbuka. Seperti musim semi yang bercahaya &#8230;. </p>
<p>&gt;&gt; <em>Selamat hari Kamis, Ki Sanak. Apakah hari ini sampean dirudung gerimis?</em></p>
<br />Filed under: <a href='http://ndorokakung.com/category/blog/'>Blog</a>, <a href='http://ndorokakung.com/category/sketsa/'>Sketsa</a> Tagged: <a href='http://ndorokakung.com/tag/28hari/'>28hari</a>, <a href='http://ndorokakung.com/tag/cerbung/'>cerbung</a>, <a href='http://ndorokakung.com/tag/ebook/'>ebook</a>, <a href='http://ndorokakung.com/tag/enovel/'>enovel</a>, <a href='http://ndorokakung.com/tag/fiksi/'>fiksi</a>, <a href='http://ndorokakung.com/tag/gratis/'>gratis</a>, <a href='http://ndorokakung.com/tag/prosa/'>prosa</a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/ndorokakungmu.wordpress.com/4808/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/ndorokakungmu.wordpress.com/4808/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/ndorokakungmu.wordpress.com/4808/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/ndorokakungmu.wordpress.com/4808/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/ndorokakungmu.wordpress.com/4808/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/ndorokakungmu.wordpress.com/4808/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/ndorokakungmu.wordpress.com/4808/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/ndorokakungmu.wordpress.com/4808/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/ndorokakungmu.wordpress.com/4808/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/ndorokakungmu.wordpress.com/4808/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/ndorokakungmu.wordpress.com/4808/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/ndorokakungmu.wordpress.com/4808/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/ndorokakungmu.wordpress.com/4808/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/ndorokakungmu.wordpress.com/4808/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=ndorokakung.com&amp;blog=4074538&amp;post=4808&amp;subd=ndorokakungmu&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://ndorokakung.com/2010/02/25/28-hari-pecas-ndahe/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>81</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/d5cb2e365e99e42886dd55a56eb3361f?s=96&#38;d=monsterid" medium="image">
			<media:title type="html">Ndoro Kakung</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://ndorokakungmu.files.wordpress.com/2010/02/lelakiku.jpg?w=450" medium="image">
			<media:title type="html">lelakiku</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://ndorokakungmu.files.wordpress.com/2010/02/perempuanku.jpg?w=444" medium="image">
			<media:title type="html">perempuanku</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>SMS Pecas Ndahe</title>
		<link>http://ndorokakung.com/2009/12/09/sms-pecas-ndahe-3/</link>
		<comments>http://ndorokakung.com/2009/12/09/sms-pecas-ndahe-3/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 09 Dec 2009 10:25:24 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Ndoro Kakung</dc:creator>
				<category><![CDATA[Sketsa]]></category>
		<category><![CDATA[cinta]]></category>
		<category><![CDATA[iseng]]></category>
		<category><![CDATA[sms]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://ndorokakung.com/?p=4620</guid>
		<description><![CDATA[Jakarta, pada sebuah pagi yang mendung. Langit kelabu. Jalanan seperti pasar. Kendaraan merayap seperti bekicot. Klakson memekik nyaring. Seorang pengemudi sedan sport perak metalik memainkan telepon genggamnya. Jari-jarinya lincah memencet tombol-tombol. Dikirimkannya sebuah pesan pendek ke satu nomor. I miss you Sent to +62856916XXXXX Balasan masuk beberapa detik kemudian. Pengemudi itu membacanya cepat. Kok sama [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=ndorokakung.com&amp;blog=4074538&amp;post=4620&amp;subd=ndorokakungmu&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Jakarta, pada sebuah pagi yang mendung. Langit kelabu. Jalanan seperti pasar. Kendaraan merayap seperti bekicot. Klakson memekik nyaring. </p>
<p>Seorang pengemudi sedan sport perak metalik memainkan telepon genggamnya. Jari-jarinya lincah memencet tombol-tombol. Dikirimkannya sebuah pesan pendek ke satu nomor.</p>
<p><em>I miss you</em><br />
Sent to +62856916XXXXX</p>
<p>Balasan masuk beberapa detik kemudian. Pengemudi itu membacanya cepat.</p>
<p><em>Kok sama ya?</em><br />
Sent to +62838936XXXXX</p>
<p><em>Mungkin karena kita memakai hape sama, Nokia, connecting people.</em><br />
Sent to +62856916XXXXX</p>
<p><em>Wah, Anda salah. Aku pemakai Sony-Ericsson.</em><br />
Sent to +62838936XXXXX</p>
<p>Pengemudi itu tersenyum. Wajahnya bersinar-sinar. Di jalan, kendaraan nyaris parkir, tak bergerak di simpang yang selalu padat setiap pagi itu. Jari-jarinya kembali bergerak lincah. <span id="more-4620"></span></p>
<p><em>Eh tapi Sony sekarang sudah berteman dengan Nokia loh.</em><br />
Sent to +62856916XXXXX</p>
<p><em>Hehehe &#8230; Aku baru tadi pagi mengingat dirimu.</em><br />
Sent to +62838936XXXXX</p>
<p><em>Aku setiap menit mengenangmu.</em><br />
Sent to +62856916XXXXX</p>
<p><em>Aih &#8230;. bohong banget! Kamu selalu terbang dengan bidadari lainnya.</em><br />
Sent to +62838936XXXXX</p>
<p><em>Aku tak punya sayap. Mana mungkin terbang dari sisimu.</em><br />
Sent to +62856916XXXXX</p>
<p><em>Mungkin kamu tak punya. Tapi bidadari yang lain pasti bisa membawamu terbang.</em><br />
Sent to +62838936XXXXX</p>
<p>Glek. Pengemudi mobil itu menelan ludah. Kepadatan lalu lintas sudah mencair. Dia injak pedal gas dalam-dalam. Mobilnya melesat menuju suatu tempat.</p>
<p>&gt;&gt; <em>Selamat hari Rabu, Ki Sanak. Hari ini sampean sudah mengirim SMS ke siapa saja?</em></p>
<br />Posted in Sketsa Tagged: cinta, iseng, sms <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/ndorokakungmu.wordpress.com/4620/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/ndorokakungmu.wordpress.com/4620/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/ndorokakungmu.wordpress.com/4620/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/ndorokakungmu.wordpress.com/4620/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/ndorokakungmu.wordpress.com/4620/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/ndorokakungmu.wordpress.com/4620/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/ndorokakungmu.wordpress.com/4620/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/ndorokakungmu.wordpress.com/4620/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/ndorokakungmu.wordpress.com/4620/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/ndorokakungmu.wordpress.com/4620/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/ndorokakungmu.wordpress.com/4620/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/ndorokakungmu.wordpress.com/4620/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/ndorokakungmu.wordpress.com/4620/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/ndorokakungmu.wordpress.com/4620/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=ndorokakung.com&amp;blog=4074538&amp;post=4620&amp;subd=ndorokakungmu&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://ndorokakung.com/2009/12/09/sms-pecas-ndahe-3/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>67</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/d5cb2e365e99e42886dd55a56eb3361f?s=96&#38;d=monsterid" medium="image">
			<media:title type="html">Ndoro Kakung</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Ranum Pecas Ndahe</title>
		<link>http://ndorokakung.com/2009/10/08/ranum-pecas-ndahe/</link>
		<comments>http://ndorokakung.com/2009/10/08/ranum-pecas-ndahe/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 08 Oct 2009 11:07:16 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Ndoro Kakung</dc:creator>
				<category><![CDATA[Sketsa]]></category>
		<category><![CDATA[hati]]></category>
		<category><![CDATA[liris]]></category>
		<category><![CDATA[majas]]></category>
		<category><![CDATA[metafora]]></category>
		<category><![CDATA[prosa]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://ndorokakung.com/?p=4345</guid>
		<description><![CDATA[:: untuk para alay di wetiga Di ujung malam yang basah, perempuan ranum memasuki kedai yang berlimpah asap rokok. Suasana sedang riuh-riuhnya. Pengunjung tenggelam dalam gelak dan tawa. Makanan dan minuman mengalir sederas sungai-sungai di musim hujan. Perempuan ranum menebar senyum ke tengah pengunjung yang langsung menenggelamkan dirinya dalam obrolan hangat. Kehadirannya bagaikan satu bintang [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=ndorokakung.com&amp;blog=4074538&amp;post=4345&amp;subd=ndorokakungmu&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>:: untuk para alay di wetiga</p>
<p><img src="http://ndorokakungmu.files.wordpress.com/2009/10/hati.jpg?w=480" alt="hati" title="hati"   class="alignleft size-full wp-image-4344" />Di ujung malam yang basah, perempuan ranum memasuki kedai yang berlimpah asap rokok. Suasana sedang riuh-riuhnya. Pengunjung tenggelam dalam gelak dan tawa. Makanan dan minuman mengalir sederas sungai-sungai di musim hujan.</p>
<p>Perempuan ranum menebar senyum ke tengah pengunjung yang langsung menenggelamkan dirinya dalam obrolan hangat.</p>
<p>Kehadirannya bagaikan satu bintang di langit kelam. Menyedot perhatian para tamu. Perempuan ranum terlihat begitu menikmati setiap sapa. Parasnya berpendar-pendar terang bak kunang-kunang. Matanya menyala-nyala. Menari mengikuti gendang.</p>
<p>Tapi hanya sekejap. Perempuan ranum langsung berubah bagaikan burung onta dikejar musuh di tengah padang pasir begitu telepon genggamnya menyalak kencang. Mulutnya ditutupi tangan kirinya saat menjawab panggilan. Dia berbisik, seolah tak ingin orang lain mendengar perkataannya. <span id="more-4345"></span></p>
<p>Pengunjung makin menderaskan tawa. Gelas-gelas berdenting nyaring. Asap rokok menyembur kian kencang dari mulut-mulut pengisapnya. Perempuan ranum makin surut dari sekelilingnya. Kepalanya kian lama kian tertunduk. Matanya mengerjap resah. Berkali-kali ia menutup dan mengangkat telepon.</p>
<p>“Maaf ya, lelakiku menelepon. Dia panik setengah mati mencariku,” kata perempuan ranum seraya meminta maaf.</p>
<p>“It&#8217;s ok, dear. Sebaiknya kamu memang segera kembali kepadanya,” seseorang berkomentar.</p>
<p>Telepon kembali berdering.Perempuan ranum kembali sibuk menutup mulutnya dengan tangan kiri. Begitu berkali-kali.</p>
<p>Bulan semakin tinggi. Malam kian resah menuju dinihari.</p>
<p>Tiba-tiba sesosok lelaki tinggi memasuki kedai. Perempuan ranum terperanjat. “Eh, sini-sini. Masuklah, kukenalkan kau pada teman-temanku,” teriak perempuan ranum.</p>
<p>Tetamu bungkam. Ruangan hening. Wajah lelaki tinggi membeku. Parasnya terluka. Begitu juga hatinya.</p>
<p>Sesaat kemudian, tangannya melambai, mengajak perempuan ranum pergi. Perempuan ranum bergeming. Tegang. Paras lelaki tinggi semakin mengeras. Lantas membalikkan badan menuju taksi yang sudah menunggu dengan mesin menyala.</p>
<p>Perempuan ranum seperti tersengat lebah. Terlonjak. Lalu menyusul dengan langkah tergopoh. Setengah berlari, dia berteriak, “Pulang dulu ya semuanya …. “</p>
<p>Malam itu, ketika bulan rebah ke barat, sepotong hati yang terluka berteriak nyaring. Selapis relasi yang tipis pun remuk berantakan gara-gara sebuah janji yang tak ditunaikan. </p>
<p>Tiba-tiba seseorang teringat sebuah kutipan yang masyhur itu. &#8220;Lelaki tak pernah menangis, tapi hatinya berdarah &#8230;.&#8221;</p>
<br />Posted in Sketsa Tagged: hati, liris, majas, metafora, prosa <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/ndorokakungmu.wordpress.com/4345/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/ndorokakungmu.wordpress.com/4345/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/ndorokakungmu.wordpress.com/4345/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/ndorokakungmu.wordpress.com/4345/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/ndorokakungmu.wordpress.com/4345/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/ndorokakungmu.wordpress.com/4345/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/ndorokakungmu.wordpress.com/4345/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/ndorokakungmu.wordpress.com/4345/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/ndorokakungmu.wordpress.com/4345/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/ndorokakungmu.wordpress.com/4345/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/ndorokakungmu.wordpress.com/4345/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/ndorokakungmu.wordpress.com/4345/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/ndorokakungmu.wordpress.com/4345/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/ndorokakungmu.wordpress.com/4345/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=ndorokakung.com&amp;blog=4074538&amp;post=4345&amp;subd=ndorokakungmu&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://ndorokakung.com/2009/10/08/ranum-pecas-ndahe/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>84</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/d5cb2e365e99e42886dd55a56eb3361f?s=96&#38;d=monsterid" medium="image">
			<media:title type="html">Ndoro Kakung</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://ndorokakungmu.files.wordpress.com/2009/10/hati.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">hati</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Permintaan Pecas Ndahe</title>
		<link>http://ndorokakung.com/2009/09/30/permintaan-pecas-ndahe/</link>
		<comments>http://ndorokakung.com/2009/09/30/permintaan-pecas-ndahe/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 30 Sep 2009 00:47:01 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Ndoro Kakung</dc:creator>
				<category><![CDATA[Sketsa]]></category>
		<category><![CDATA[cerpen]]></category>
		<category><![CDATA[liris]]></category>
		<category><![CDATA[majas]]></category>
		<category><![CDATA[metafora]]></category>
		<category><![CDATA[prosa]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://ndorokakung.com/?p=4304</guid>
		<description><![CDATA[Duhai lelakiku, Aku tak pernah memintamu menghalangi jalanku di sudut toko itu. Waktu, kesempatan, takdir, mungkin yang mengaturnya. Dan ketika kau terpana memandang parasku yang lesi, itu juga kehendakku. Janganlah kau sesali pertemuan itu. Hidup, juga persilangan, terjadi setiap saat. Kalau bukan di sudut itu, mungkin di tikungan yang lain. Bukankah ombak juga bertemu karang [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=ndorokakung.com&amp;blog=4074538&amp;post=4304&amp;subd=ndorokakungmu&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Duhai lelakiku,<br />
Aku tak pernah memintamu menghalangi jalanku di sudut toko itu. Waktu, kesempatan, takdir, mungkin yang mengaturnya. Dan ketika kau terpana memandang parasku yang lesi, itu juga kehendakku. Janganlah kau sesali pertemuan itu. Hidup, juga persilangan, terjadi setiap saat. Kalau bukan di sudut itu, mungkin di tikungan yang lain. Bukankah ombak juga bertemu karang tanpa mengeluh sejak dulu?</p>
<p>Duhai lelakiku,<br />
Aku tak pernah berharap kau mengantarku siang itu. Aku sudah cukup bahagia berjalan sendiri di bawah cakar panas matahari yang memanggang Jakarta. Kau bilang aku tak berhak teriksa oleh panas yang menderai-derai. Tapi sebetulnya aku selalu baik-baik saja. Dengan atau tanpa terpaan cahaya berdaya jutaan kilowatt itu. Matahari dan angin sahabatku sehari-hari. Aku hidup bersama mereka.</p>
<p>Duhai lelakiku,<br />
Aku tak pernah bermimpi waktu kau tawarkan segelas es lemon segar. Senyummu sudah lebih dari cukup. Bahkan jauh menyejukkan dibanding semua yang hijau di bumi ini. Mungkin kau tak tahu betapa aku terpana ketika tanganmu menggenggam uluran tanganku yang ragu-ragu. Lenganmu yang berotot kencang, tapi lembut, menyiratkan kau pekerja tangguh berhati sutra. Aku seperti kapas yang melayap ke langit dihembus topan kebahagiaan. <span id="more-4304"></span></p>
<p>Duhai lelakiku,<br />
Bukan salahmu, pun bukan karena diriku, jika jumpa itu lalu bertukar tangkap dengan rindu. Yang menggebu. Ada hela-helai hatiku yang gemerincing setelah kau petik berganti-ganti. Lewat matamu yang teduh. Tawamu yang lepas. Usahlah kamu semak hati. Sebab bahkan pelangi pun senang dibasuh hujan.</p>
<p>Duhai lelakiku,<br />
Tentu saja bukan pintaku kalau benih-benih suka itu lantas tersemai begitu rupa. Kembang bermekaran. Daun-daun bertumbuhan. Dan pucuk-pucuk pinus menari bersama gendang kehidupan. </p>
<p>Duhai lelakiku,<br />
Tapi kenapa kau lekas pergi? Aku memang tak pernah memintamu tinggal. Berumah di pinggir telaga sunyi. Aku hanya mengharapmu singgah &#8212; sejenak. Biar bungaku tumbuh dulu. Biar gerimis tak lagi jatuh. Dan membasahi peraduanku.</p>
<p>Terlalu berlebihankah permintaanku?</p>
<p>PS: semoga musim semi selalu menyertai langkahmu. </p>
<p>&gt;&gt; <em>Selamat hari Rabu, Ki Sanak. Janganlah bekerja terlalu keras. Dengarkanlah suara alam di sekitar sampean. Pernah kan?</em></p>
<br />Posted in Sketsa Tagged: cerpen, liris, majas, metafora, prosa <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/ndorokakungmu.wordpress.com/4304/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/ndorokakungmu.wordpress.com/4304/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/ndorokakungmu.wordpress.com/4304/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/ndorokakungmu.wordpress.com/4304/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/ndorokakungmu.wordpress.com/4304/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/ndorokakungmu.wordpress.com/4304/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/ndorokakungmu.wordpress.com/4304/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/ndorokakungmu.wordpress.com/4304/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/ndorokakungmu.wordpress.com/4304/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/ndorokakungmu.wordpress.com/4304/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/ndorokakungmu.wordpress.com/4304/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/ndorokakungmu.wordpress.com/4304/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/ndorokakungmu.wordpress.com/4304/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/ndorokakungmu.wordpress.com/4304/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=ndorokakung.com&amp;blog=4074538&amp;post=4304&amp;subd=ndorokakungmu&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://ndorokakung.com/2009/09/30/permintaan-pecas-ndahe/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>47</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/d5cb2e365e99e42886dd55a56eb3361f?s=96&#38;d=monsterid" medium="image">
			<media:title type="html">Ndoro Kakung</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Hati Pecas Ndahe</title>
		<link>http://ndorokakung.com/2009/09/28/hati-pecas-ndahe-2/</link>
		<comments>http://ndorokakung.com/2009/09/28/hati-pecas-ndahe-2/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 27 Sep 2009 18:08:15 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Ndoro Kakung</dc:creator>
				<category><![CDATA[Sketsa]]></category>
		<category><![CDATA[cerpen]]></category>
		<category><![CDATA[liris]]></category>
		<category><![CDATA[metafora]]></category>
		<category><![CDATA[prosa]]></category>
		<category><![CDATA[relasi]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://ndorokakung.com/?p=4290</guid>
		<description><![CDATA[Seperti apakah hati seorang lelaki? Cuaca yang mudah berubah atau lempung yang lembek? Syahdan pada sebuah malam yang bisu, perempuan terakota duduk di atas bukit kelam. Ditatapnya nyaris tak berkedip lanskap langit yang bertabur gemintang. Sepi di sekitarnya. Hanya ada helaan napasnya sendiri. Dan desir-desir pasir yang terbang bersama angin. Kunang-kunang terbang kian-kemari. Terangnya mengerjap [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=ndorokakung.com&amp;blog=4074538&amp;post=4290&amp;subd=ndorokakungmu&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<blockquote><p>Seperti apakah hati seorang lelaki? Cuaca yang mudah berubah atau lempung yang lembek?</p></blockquote>
<p>Syahdan pada sebuah malam yang bisu, perempuan terakota duduk di atas bukit kelam. Ditatapnya nyaris tak berkedip lanskap langit yang bertabur gemintang. Sepi di sekitarnya. Hanya ada helaan napasnya sendiri. Dan desir-desir pasir yang terbang bersama angin. Kunang-kunang terbang kian-kemari. Terangnya mengerjap sebentar, lalu padam. </p>
<p>Di sebelahnya, lelaki wangi pandan rebah dalam buaian rumput lembut. Membeku. Tapi resah. Hatinya puspas. Malam ini saat terakhir mereka bersama. Esok, lelaki wangi pandan akan pergi meneruskan langkahnya, mengejar bayang-bayang.</p>
<p>“Look at the stars, dear. So untidy. I want to rearrange them,&#8221; kata perempuan terakota tiba-tiba. Suaranya memecah sunyi yang tipis seperti beling. </p>
<p>Lelaki wangi pandan seketika tertegun mendengarnya. Ia menganggapnya sebagai kegaduhan yang mencekam. Sebuah teror.</p>
<p>Hening. Jeda panjang. Detik berubah ke menit. “Begitukah yang selalu kau inginkan, perempuan? Kau selalu ingin menata kembali semua yang sudah menjadi puing-puing berserakan?” tanya lelaki wangi pandan kemudian. <span id="more-4290"></span></p>
<p>“Kenapa kau heran? Aku perempuan. Mother of nature. Sudah sifatku memperbaiki keadaan. Betapapun remuknya. Aku merasa mampu. Ah, kamu memang tak pernah memahamiku, lelaki … “ perempuan terkota mendesah pelan.</p>
<p>“Ah kamu tak pernah berubah. Selalu merasa mampu. Tapi buktinya? Semua selalu berubah, perempuan. Bahkan yang tak pernah berubah itu adalah perubahan itu sendiri. Terimalah. Ikhlaskanlah. Usahamu percuma. Tak ada lagi yang bisa kauperbaiki. Apalagi hati.”</p>
<p>Perempuan terakota menggigit bibirnya. Tak pernah disangkanya lelaki wangi pandan akan sekasar itu. Adakah pijar-pijar itu sudah lesap bersama embun? Adakah getar-getar itu telah lenyap bersama waktu? Tak ada lagikah yang tersisa, bahkan untuk sekadar sebuah keramahan?</p>
<p>Sudah tiga purnama ini hidup memang tak sama lagi bagi mereka berdua. Semua berubah. Siang menjadi kian panas, dan malam semakin gelap. Sungai tak lagi mengalirkan air jernih. Burung-burung berhenti berkicau. Dan kelelawar keluar kesorean. Matahari kehilangan cahayanya.</p>
<p>Perempuan terakota baru menyadarinya sekarang, bertahun-tahun setelah mereka bertemu pertama kali pada hari kelima, purnama pertama, di sebuah musim gugur yang muram. Daun-daun luruh diterbangkan angin barat saat mata mereka saling bersirobok. Bunga-bunga berubah kelabu. </p>
<p>Lelaki wangi berjalan seperti merak dengan bulu-bulu kemilau ditimpa cahaya di tengah savana. Tapi ada yang aneh. Meski sekejap tersihir, perempuan terakota sempat melihat mata lelaki wangi pandan yang kosong dan redup bagaikan tungku kehilangan bara. Sinarnya redup bak lentera kehabisan minyak.</p>
<p>“Demi bukit-bukit dan gunung di utara, apakah gerangan yang membuatmu seperti lusuh lunglai ini, duhai lelaki wangin pandan?” perempuan terakota bertanya. Diusapnya punggung lelaki wangi pandan dengan kelembutan helai-helai bulu angsa.</p>
<p>Lelaki wangi pandan mengerjapkan matanya yang bundar bola pingpong. Bibirnya kelu. Mulutnya seperti baru saja menelan biji duku. </p>
<p>Setelah mengatur jantungnya yang berdegup kencang seperti genderang perang, lelaki wangi pandan menghela napas panjang, lalu berujar, “Aku baru saja berperang melawan Sang Takdir di lembah kegelapan. Meski awalnya aku mampu menandingi serangannya, taringnya terlalu kuat buat tameng hatiku. Aku terkoyak. Luka parah. Batinku terguncang bagaikan perahu cadik dihantam gelombang.”</p>
<p>Perempuan terakota mengamati tubuh lelaki pandan yang cuwil di sana-sini. Baret-baret luka itu memanjang sepanjang badan. Dan hatinya meneteskan butiran darah segar. </p>
<p>Perempuan terakota jatuh simpati. Direngkuhnya wajah lelaki wangi pandan ke dadanya yang setenang dini hari. Setelah itu, ajaib, segalanya berubah. Luka-luka itu mengering. Di atap pegunungan Himalaya yang dingin, salju meleleh. Kepompong menjadi kupu-kupu. Warna-warna pastel berganti ultraviolet. </p>
<p>Perempuan terakota adalah ramuan yang menyembuhkan segenap luka. Ia oksigen yang memenuhi paru-paru dengan kebahagiaan. Ia segala kebaikan yang dibawa alam ke pangkuan lelaki wangi pandan. Ia jawaban atas doa-doa yang didaraskan sepanjang siang. Sungguh beruntung lelaki wangi pandan menemukan perempuan terakota di ujung harapannya yang nyaris tak tepermanai.</p>
<p>Tapi itu cuma sebentar. Seperti umur jagung. Gerhana mendadak datang saat lelaki wangi pandan pulang seraya menenteng seuntai kembang di tangan. “Ini untuk kupu-kupu yang tadi kutemui di persimpangan. Ia telah memanah hatiku dan memalingkan wajahku dari dirimu, perempuan,” kata lelaki wangi pandan dengan paras seolah tak bersalah.</p>
<p>Kata-kata lelaki itu bagaikan gelombang tsunami yang menghantam dada. Perempuan terakota memandang takjub pemandangan yang bahkan tak pernah muncul dalam mimpi. </p>
<p>Selama ini perempuan terakota merasa dirinya bagaikan pelangi yang mengikat senja lelaki wangi pandan setiap hari. Bagaimana mungkin lelaki wangi pandan bisa berpaling darinya? Siapakah gerangan kupu-kupu taman yang mengecoh lelaki wangi pandan? </p>
<p>Lelaki wangi pandan enggan menjelaskan hikayat perjumpaannya dengan kupu-kupu bersayap kelabu. Ia merasa percuma saja menuturkan hidupnya yang sudah berubah kepada perempuan yang selalu menganggap dunia selalu saja selamanya. </p>
<p>Melihat lelaki wangi pandan hanya membisu, perempuan terakota pun meradang. Bagaikan singa betina yang terluka, ia bertanya dengan suara tertahan, “Seperti apakah sebetulnya hati seorang lelaki? Cuaca yang mudah berubah atau lempung yang lembek? Begitu mudahkah kau berpindah kepada bayang-bayang?”</p>
<p>Setitik kristal bening menghiasi sudut-sudut mata perempuan terakota. Seribu tanya menggantung di bibir lelaki wangi pandan. Dan “kita” menjadi sebuah kata yang retak dalam kamus hidup mereka pagi itu. </p>
<p>Kini, di atas bukit yang dicekam sunyi. Potongan-potongan adegan itu berputar kembali di atas kanvas malam perempuan terakota dan lelaki wangi pandan. Dua manusia duduk berdekatan. Dua hati yang berjauhan.</p>
<p>Langit bertabur gemintang. Sepi di sekitarnya. Hanya terdengar helaan napas. Dan desir-desir pasir yang terbang bersama angin. Kunang-kunang terbang kian-kemari. Terangnya mengerjap sebentar, lalu padam. </p>
<p>&gt;&gt; <em>Selamat hari Senin, Ki Sanak. Bagaimana rasanya mulai beraktivitas kembali di awal pekan?</em></p>
<br />Posted in Sketsa Tagged: cerpen, liris, metafora, prosa, relasi <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/ndorokakungmu.wordpress.com/4290/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/ndorokakungmu.wordpress.com/4290/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/ndorokakungmu.wordpress.com/4290/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/ndorokakungmu.wordpress.com/4290/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/ndorokakungmu.wordpress.com/4290/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/ndorokakungmu.wordpress.com/4290/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/ndorokakungmu.wordpress.com/4290/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/ndorokakungmu.wordpress.com/4290/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/ndorokakungmu.wordpress.com/4290/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/ndorokakungmu.wordpress.com/4290/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/ndorokakungmu.wordpress.com/4290/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/ndorokakungmu.wordpress.com/4290/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/ndorokakungmu.wordpress.com/4290/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/ndorokakungmu.wordpress.com/4290/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=ndorokakung.com&amp;blog=4074538&amp;post=4290&amp;subd=ndorokakungmu&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://ndorokakung.com/2009/09/28/hati-pecas-ndahe-2/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>40</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/d5cb2e365e99e42886dd55a56eb3361f?s=96&#38;d=monsterid" medium="image">
			<media:title type="html">Ndoro Kakung</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Perpisahan Pecas Ndahe</title>
		<link>http://ndorokakung.com/2009/09/11/perpisahan-pecas-ndahe/</link>
		<comments>http://ndorokakung.com/2009/09/11/perpisahan-pecas-ndahe/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 11 Sep 2009 07:58:28 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Ndoro Kakung</dc:creator>
				<category><![CDATA[Sketsa]]></category>
		<category><![CDATA[lebaran]]></category>
		<category><![CDATA[liris]]></category>
		<category><![CDATA[metafora]]></category>
		<category><![CDATA[mudik]]></category>
		<category><![CDATA[perempuan]]></category>
		<category><![CDATA[prosa]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://ndorokakung.com/?p=4234</guid>
		<description><![CDATA[:: untuk para pemudik yang mulai berangkat ke stasiun &#8230; Senja memantulkan sinarnya di jendela kereta api sore itu. Para penumpang berdesakan naik ke gerbong. Stasiun berubah bagaikan sarang lebah yang digebah. Lampu-lampu peron menyala satu-satu. Perempuan bermafela putih itu menyipitkan mata, meredam silau. Ditatapnya paras yang memerah dari jendela senja buram kereta api. Dia [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=ndorokakung.com&amp;blog=4074538&amp;post=4234&amp;subd=ndorokakungmu&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><img src="http://ndorokakungmu.files.wordpress.com/2009/09/senja-kereta.jpg?w=275&#038;h=184" alt="senja-kereta" title="senja-kereta" width="275" height="184" class="alignleft size-medium wp-image-4240" />:: <strong>untuk para pemudik yang mulai berangkat ke stasiun &#8230;</strong></p>
<p>Senja memantulkan sinarnya di jendela kereta api sore itu. Para penumpang berdesakan naik ke gerbong. Stasiun berubah bagaikan sarang lebah yang digebah. Lampu-lampu peron menyala satu-satu.</p>
<p>Perempuan bermafela putih itu menyipitkan mata, meredam silau. Ditatapnya paras yang memerah dari jendela senja buram kereta api. Dia baru sadar. Pipinya tomat matang. </p>
<p>Di luar, rel kereta berliuk-liuk panjang seperti jalan hidup yang harus ditempuh esok hari. Angin dingin tiba-tiba mengelus tengkuk. Ia mendesah. Perlahan. Kerah bajunya dia naikkan. </p>
<p>Setiap detik jantung perempuan itu tambah berdetak kencang. Dadanya jadi bergemuruh mirip raung suara lokomotif di ujung stasiun. Ia mencemaskan senja yang jatuh di barat dengan muram. <span id="more-4234"></span></p>
<p>Tiba-tiba perempuan itu terlonjak kaget. Peluit kepala stasiun memekik keras. Tangannya yang membawa bendera hijau terangkat tinggi, mengibas-ibas, tanda kereta boleh berjalan. Hati perempuan itu kian puspas. Seraut wajah yang dicarinya dari tadi tak kunjung terlihat.</p>
<p>&#8220;Adakah dia melanggar janji? Lupa? Kecelakaan?&#8221; perempuan itu membatin. Tubuhnya bergerak ke kiri dan kanan. Kepalanya celingukan.</p>
<p>Penumpang di sebelahnya melirik sebentar. Menurunkan kacamata. Lalu kembali membaca koran sore yang sudah lusuh. Headline-nya berbunyi, &#8220;Jumlah Pemudik Naik Dua Kali Lipat.&#8221;</p>
<p>Perempuan mafela putih kian resah. Tangannya mencengkeram sandaran tangan di tempat duduk. Roda-roda besi kereta mulai bergerak pelan. Enggan. Mesin-mesin mendengus. Makin lama makin kencang. Rombongan pengantar melambaikan tangan. Aneka rupa wajah. Riang. Kosong. Senyum. Pucat. Sedih. Semua bernasib sama: ditinggalkan.</p>
<p>Lelaki itu memilih berdiri di ujung peron ketika kereta yang ditumpangi perempuan bermafela putih meluncur ke timur. Sengaja berlindung di balik tiang besi bundar seukuran pohon-pohon meranti dewasa di jantung hutan Kalimantan. Diperhatikannya deretan jendela kaca yang bergerak seperti pita seluloid film di proyektor. </p>
<p>Suara adzan berkumandang dari masjid di samping stasiun. Lelaki itu mengambil sebotol air dingin dari ransel di pundaknya. Tutupnya dia buka perlahan sambil matanya terus menatap kereta yang melayap. Lalu isinya buru-buru ditenggak separuh. </p>
<p>&#8220;Alhamdulillah,&#8221; terdengar lelaki itu mengucap syukur seraya mengelap bibirnya yang basah.</p>
<p>Kereta api berlari cepat. Makin jauh meninggalkan stasiun. Lelaki itu mendengus perlahan. Matanya nanar. Tangannya merogoh saku jaket. Diambilnya secarik kertas biru yang kemarin diterimanya lewat pak pos keliling. Dia baca lagi baris-baris kalimat yang membuat hatinya berdarah-darah bagaikan teriris sembilu.</p>
<blockquote><p>kangen dirimu.<br />
yang selalu tersenyum meski dirajam kemarau</p>
<p>tahukah kamu<br />
hujan, taman menteng, setiabudi, bakerzin, Grand Indonesia selalu sukses membuatku teringat padamu<br />
tapi sayang kau lekas pergi<br />
menggelandang bersama bintang-bintang menuju dinihari</p>
<p>adakah waktu buat kita?</p></blockquote>
<p>Kita? Lelaki itu merasa sama sekali tak pernah memiliki lema &#8220;kita&#8221; dalam kamus hidupnya. Ia merasa asing dengan istilah itu sejak belasan tahun yang lalu. Pada sebuah masa ketika salju jatuh di atas sahara dan membekukan air matanya &#8230;</p>
<p>&gt;&gt; <em>Selamat hari Jumat, Ki Sanak. Apakah sampean yang akan mudik sudah mendapat tiket?</em></p>
<br />Posted in Sketsa Tagged: lebaran, liris, metafora, mudik, perempuan, prosa <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/ndorokakungmu.wordpress.com/4234/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/ndorokakungmu.wordpress.com/4234/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/ndorokakungmu.wordpress.com/4234/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/ndorokakungmu.wordpress.com/4234/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/ndorokakungmu.wordpress.com/4234/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/ndorokakungmu.wordpress.com/4234/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/ndorokakungmu.wordpress.com/4234/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/ndorokakungmu.wordpress.com/4234/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/ndorokakungmu.wordpress.com/4234/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/ndorokakungmu.wordpress.com/4234/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/ndorokakungmu.wordpress.com/4234/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/ndorokakungmu.wordpress.com/4234/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/ndorokakungmu.wordpress.com/4234/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/ndorokakungmu.wordpress.com/4234/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=ndorokakung.com&amp;blog=4074538&amp;post=4234&amp;subd=ndorokakungmu&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://ndorokakung.com/2009/09/11/perpisahan-pecas-ndahe/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>56</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/d5cb2e365e99e42886dd55a56eb3361f?s=96&#38;d=monsterid" medium="image">
			<media:title type="html">Ndoro Kakung</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://ndorokakungmu.files.wordpress.com/2009/09/senja-kereta.jpg?w=450" medium="image">
			<media:title type="html">senja-kereta</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Kemarau Pecas Ndahe</title>
		<link>http://ndorokakung.com/2009/09/03/kemarau-pecas-ndahe/</link>
		<comments>http://ndorokakung.com/2009/09/03/kemarau-pecas-ndahe/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 03 Sep 2009 09:11:48 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Ndoro Kakung</dc:creator>
				<category><![CDATA[Sketsa]]></category>
		<category><![CDATA[gempa]]></category>
		<category><![CDATA[liris]]></category>
		<category><![CDATA[metafora]]></category>
		<category><![CDATA[prosa]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://ndorokakung.com/?p=4164</guid>
		<description><![CDATA[:: untuk seseorang yang selalu tersenyum Perempuan wangi pandan rubuh di peraduan dengan perasaan remuk redam. Sembilan purnama sudah lelaki hujan melayap ke negeri atas angin. Tapi tak ada sebaris kabar maupun setangkai puisi yang terkirim. Malam pun jadi ungu. Dan siang jadi merah. Angin bersekutu dengan hujan. Berubah menjadi badai. Ditemani sepisau sepi, di [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=ndorokakung.com&amp;blog=4074538&amp;post=4164&amp;subd=ndorokakungmu&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><em>:: untuk seseorang yang selalu tersenyum</em></p>
<p><img src="http://ndorokakungmu.files.wordpress.com/2009/09/kalung.jpg?w=480" alt="kalung" title="kalung"   class="alignleft size-full wp-image-4178" />Perempuan wangi pandan rubuh di peraduan dengan perasaan remuk redam. Sembilan purnama sudah lelaki hujan melayap ke negeri atas angin. Tapi tak ada sebaris kabar maupun setangkai puisi yang terkirim. </p>
<p>Malam pun jadi ungu. Dan siang jadi merah. Angin bersekutu dengan hujan. Berubah menjadi badai.</p>
<p>Ditemani sepisau sepi, di tengah gamang yang menikam, perempuan wangi pandan melepas hasrat pada pucuk-pucuk cemara yang menari resah. Diambilnya sebilah buluh dengan surai-surai di ujungnya. Dicelupkannya ke dalam secawan tinta. Lalu dituliskannya bait-bait liris di atas selembar daun yang mengering. <span id="more-4164"></span></p>
<blockquote><p>lihatlah, lelakiku!<br />
kemilau cahaya berkeredep<br />
seuntai bintang jatuh di pinggir jalan<br />
mengapa kau tak memungutnya dan mengalungkannya ke leherku?<br />
kau bisa mengelusnya, tersenyum kepadanya<br />
membawaku mengenang masa lalu<br />
ketika matahari dan bulan berlumur madu</p></blockquote>
<p>Setangkai ranting cemara luruh begitu perempuan wangi pandan mengukir kata terakhir. Gerimis turun. Dan angin berdesir-desir menerbangkan helai-helai rambut perempuan pandan yang hitam. </p>
<p>Kemarau September ternyata mendapat jeda. Butir-butir keperakan gerimis lima menit telah membuat perempuan wangi pandan bagaikan terlempar ke masa silam. Ketika lelaki hujan mewarnai hidupnya setiap hari sepanjang waktu. Ia ingat, setiap musim semi tiba, lelaki hujan selalu membacakan puisi-puisi Sara Teasdale menjelang tidur. </p>
<p>Salah satu favorit lelaki hujan adalah <em>April Song</em>.</p>
<blockquote><p>Willow in your April gown<br />
Delicate and gleaming,<br />
Do you mind in years gone by<br />
All my dreaming?</p>
<p>Spring was like a call to me<br />
That I could not answer,<br />
I was chained to loneliness,<br />
I, the dancer.</p>
<p>Willow, twinkling in the sun,<br />
Still your leaves and hear me,<br />
I can answer spring at last,<br />
Love is near me!</p></blockquote>
<p>Kini, setelah sekian purnama berlalu, perempuan wangi pandan seakan-akan masih bisa menikmati merdunya nyanyian bulan April yang selalu didendangkan lelaki hujan. </p>
<p>Hari-hari warna-warni memang sudah berakhir ketika musim semi pergi. Dan musim penghujan digantikan kemarau yang panjang. Namun perempuan wangi pandan seperti masih bisa menyesap harum kesturi terakhir yang pernah menguar dari dada lelaki hujan.</p>
<p>Hidup tak pernah sama lagi. </p>
<p><em> Selamat hari Kamis, Ki Sanak. Apakah sampean merasa kemarau September ini kian panas?</em></p>
<br />Posted in Sketsa Tagged: gempa, liris, metafora, prosa <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/ndorokakungmu.wordpress.com/4164/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/ndorokakungmu.wordpress.com/4164/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/ndorokakungmu.wordpress.com/4164/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/ndorokakungmu.wordpress.com/4164/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/ndorokakungmu.wordpress.com/4164/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/ndorokakungmu.wordpress.com/4164/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/ndorokakungmu.wordpress.com/4164/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/ndorokakungmu.wordpress.com/4164/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/ndorokakungmu.wordpress.com/4164/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/ndorokakungmu.wordpress.com/4164/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/ndorokakungmu.wordpress.com/4164/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/ndorokakungmu.wordpress.com/4164/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/ndorokakungmu.wordpress.com/4164/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/ndorokakungmu.wordpress.com/4164/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=ndorokakung.com&amp;blog=4074538&amp;post=4164&amp;subd=ndorokakungmu&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://ndorokakung.com/2009/09/03/kemarau-pecas-ndahe/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>61</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/d5cb2e365e99e42886dd55a56eb3361f?s=96&#38;d=monsterid" medium="image">
			<media:title type="html">Ndoro Kakung</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://ndorokakungmu.files.wordpress.com/2009/09/kalung.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">kalung</media:title>
		</media:content>
	</item>
	</channel>
</rss>
