<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	>

<channel>
	<title>Ndoro Kakung Pecas Ndahe</title>
	<atom:link href="http://ndorokakung.com/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://ndorokakung.com</link>
	<description></description>
	<pubDate>Fri, 16 May 2008 12:52:17 +0000</pubDate>
	<generator>http://wordpress.org/?v=2.5</generator>
	<language>en</language>
			<item>
		<title>Penipuan Pecas Ndahe</title>
		<link>http://ndorokakung.com/2008/05/16/penipuan-pecas-ndahe/</link>
		<comments>http://ndorokakung.com/2008/05/16/penipuan-pecas-ndahe/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 16 May 2008 12:52:17 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Ndoro Kakung</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[Blog]]></category>

		<category><![CDATA[Woro-woro]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://ndorokakung.com/?p=752</guid>
		<description><![CDATA[Awas, aksi penipuan dengan modus baru mulai mencari korban. Pelaku mencatut nama Pesta Blogger dan membujuk calon korban mentrasfer sejumlah uang sebagai bukti keikutsertaan sebagai peserta.
Sofyan, blogger Semarang, mengisahkan bagaimana trik si penipu di blognya. Untung Sofyan tak terbujuk oleh penipu yang, katanya, menelepon dari nomor +6285865345142.
Pengumuman singkat ini dibuat agar sampean semua berhati-hati dan [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Awas, aksi penipuan dengan modus baru mulai mencari korban. Pelaku mencatut nama Pesta Blogger dan membujuk calon korban mentrasfer sejumlah uang sebagai bukti keikutsertaan sebagai peserta.</p>
<p><a href="http://www.sofyanr.com/">Sofyan</a>, blogger Semarang, mengisahkan bagaimana trik si penipu di <a href="http://www.sofyanr.com/hati-hati-penipuan-gaya-baru.html">blognya</a>. Untung Sofyan tak terbujuk oleh penipu yang, katanya, menelepon dari nomor +6285865345142.</p>
<p>Pengumuman singkat ini dibuat agar sampean semua berhati-hati dan jangan sampai menjadi korban penipu sontoloyo itu. Bila sampean hendak mengecek informasi dan pengumuman resmi yang berkaitan dengan Pesta Blogger, silakan kunjungi blog <a href="http://pestablogger.com">Pesta Blogger</a>.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://ndorokakung.com/2008/05/16/penipuan-pecas-ndahe/feed/</wfw:commentRss>
		</item>
		<item>
		<title>Ariel Pecas Ndahe</title>
		<link>http://ndorokakung.com/2008/05/16/ariel-pecas-ndahe/</link>
		<comments>http://ndorokakung.com/2008/05/16/ariel-pecas-ndahe/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 16 May 2008 06:27:11 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Ndoro Kakung</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[Indonesiana]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://ndorokakung.com/?p=751</guid>
		<description><![CDATA[Rubrik Asal Usul yang terbit setiap Ahad menghilang dari harian Kompas mulai awal Mei 2008. Saya beroleh kabar itu dari tulisan teman saya Retty di wikimu.

Mungkin tak banyak yang menyadarinya, terutama mereka yang bukan pembaca rutin Kompas edisi Minggu. Barangkali juga sudah ada pembaca setia yang bertanya-tanya, tapi belum mendapat jawaban memuaskan.
Dari blog Ariel Heryanto [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Rubrik <em>Asal Usul</em> yang terbit setiap Ahad menghilang dari harian <em>Kompas</em> mulai awal Mei 2008. Saya beroleh kabar itu dari tulisan teman saya Retty di <a href="http://www.wikimu.com/News/DisplayNews.aspx?id=8269">wikimu</a>.</p>
<p><img src="http://inlinethumb37.webshots.com/12260/2052358460096703381S425x425Q85.jpg" alt="blog ariel heryanto" /></p>
<p>Mungkin tak banyak yang menyadarinya, terutama mereka yang bukan pembaca rutin <em>Kompas</em> edisi Minggu. Barangkali juga sudah ada pembaca setia yang bertanya-tanya, tapi belum mendapat jawaban memuaskan.</p>
<p>Dari blog <a href="http://blogs.arts.unimelb.edu.au/arielh/">Ariel Heryanto</a> saya memperoleh sedikit gambaran mengapa <em>Asal Usul</em> tak diteruskan lagi. Ariel yang saya maksud bukan penyanyi band Peterpan itu, melainkan Ariel yang akademisi, pengajar di University of Melbourne.</p>
<p>Dari penjelasan Ariel, saya mendapat kesan penghentian itu agak mendadak dan &#8212; anehnya &#8212; redaksi <em>Kompas</em> tak memberi penjelasan resmi sedikit pun kepada khalayak. Sampean juga bisa membacanya di tulisan berjudul <a href="http://blogs.arts.unimelb.edu.au/arielh/2008/05/15/akhir-sebuah-cerita"><em>Akhir Sebuah Cerita</em></a> di blog Ariel itu. <span id="more-751"></span></p>
<p>Dari posting itu saya tahu bahwa Ariel sebetulnya sempat mengirimkan naskah untuk dimuat di rubrik <em>Asal Usul</em>. Tapi, naskah berjudul <a href="http://blogs.arts.unimelb.edu.au/arielh/2008/04/20/pesona/"><em>Pesona</em></a> itu ternyata ditolak redaksi.</p>
<blockquote><p>Naskah itu ditolak untuk diterbitkan dengan alasan “resiko keamanan”. Yang menarik, penolakan itu dilakukan pada saat-saat terakhir edisi Kompas Minggu hampir naik cetak. Saya menduga naskah itu sempat lolos seleksi redaksi pada rapat sebelumnya. Mungkin perbedaan pandangan dan selera yang cukup penting terjadi di antara staf redaksi sendiri. Dan walau naskah saya itu pada akhirnya tidak tampil dalam edisi cetak, naskah itu dimuat dalam Kompas online.</p></blockquote>
<p>Terus terang saya ndak tahu apa yang dimaksud dengan &#8220;risiko keamanan&#8221; itu. Saya hanya bisa menduga-duga, ada yang khawatir tulisan Ariel itu akan mebuat seseorang tersinggung dan membahayakan posisi <em>Kompas</em> sebagai institusi besar yang sudah mapan.</p>
<p>Bagian mana yang dianggap membahayakan? Saya ndak tahu persis. Barangkali kalimat ini:</p>
<blockquote><p>Presiden Habibie juga melakukan yang serupa dengan cara lebih kasar ketika berusaha menyelamatkan kursi kepresidenan yang didapatkannya secara tak sengaja dan untuk sementara waktu. Dibantu sejumlah jendral yang suka berpolitik, pemerintahannya mengerahkan pasukan swakarsa untuk menghadapi sisa-sisa gerakan Reformasi dengan kekerasan jalanan. Menentang Habibie dianggap sama dengan menentang Islam, menurut slogan mereka. </p></blockquote>
<p>Mungkin juga kalimat yang ini:</p>
<blockquote><p>Presiden nonton filem lalu menangis itu biasa. Yang tidak biasa bila mereka lakukan itu dengan membawa rombongan resmi lebih dari 100 pejabat tinggi negara dan tamu negara asing dan wartawan. Mereka bukan cuma nonton filem, tapi sedang membuat tontonan publik untuk diliput media massa.</p></blockquote>
<p>Bisa jadi ada kalimat lain yang dinilai berbahaya. Terus terang saya ndak tahu persis.</p>
<p>Saya hanya tahu bahwa setiap media punya kebijakan redaksional masing-masing. Redaksi memiliki keabsahan dan hak sepenuhnya untuk membuat dan menutup sebuah rubrik. Redaksi juga mempunyai kewenangan penuh untuk menerbitkan atau membatalkan setiap tulisan.</p>
<p>Saya hanya menyayangkan hilangnya rubrik <em>Asal Usul</em> itu. Kesempatan kita untuk ikut menikmati tulisan-tulisan Ariel yang cerdas dan bernas, sekaligus mencerahkan, jadi tertutup &#8212; paling tidak untuk sementara. </p>
<p>Karena itu, saya mengusulkan kepadanya untuk memindahkan saja ide-ide tulisan yang biasanya dimuat di <em>Asal Usul</em> ke blog pribadinya. Atau, barangkali Ariel bersedia sesekali mengirimkan tulisannya di sini? </p>
<p>Bagaimana, Bung?</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://ndorokakung.com/2008/05/16/ariel-pecas-ndahe/feed/</wfw:commentRss>
		</item>
		<item>
		<title>Senandika Pecas Ndahe</title>
		<link>http://ndorokakung.com/2008/05/15/senandika-pecas-ndahe/</link>
		<comments>http://ndorokakung.com/2008/05/15/senandika-pecas-ndahe/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 15 May 2008 10:00:29 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Ndoro Kakung</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[Sketsa]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://ndorokakung.com/?p=750</guid>
		<description><![CDATA[Baiklah Dinda, kupersembahkan sebuah senandika. Tentang anak-anak yang menuju mega-mega. Tentang para bidadari yang menemaninya bermain di tepi sorga.
Anak-anak adalah mereka yang mencintai debu, yang berlari di jalan kupu-kupu. Mereka menolak beku dan jemu. 
Anak-anak selalu sama di mana-mana. Seperti Totto-chan yang suka menatap ke luar jendela. Buka-tutup buka-tutup daun meja. Entah untuk apa.
Anak-anak mungkin [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Baiklah Dinda, kupersembahkan sebuah senandika. Tentang anak-anak yang menuju mega-mega. Tentang para bidadari yang menemaninya bermain di tepi sorga.</p>
<p>Anak-anak adalah mereka yang mencintai debu, yang berlari di jalan kupu-kupu. Mereka menolak beku dan jemu. </p>
<p>Anak-anak selalu sama di mana-mana. Seperti Totto-chan yang suka menatap ke luar jendela. Buka-tutup buka-tutup daun meja. Entah untuk apa.</p>
<p>Anak-anak mungkin sebuah pesan. Bahwa Tuhan belum bosan pada kita, manusia. Dia beri kita titipan, sebentar saja, untuk segera dipanggil pulang ke haribaan-Nya.</p>
<p>Mungkin Tuhan punya rencana. Kita tak selalu bisa menebaknya. Sebab memang betapa susah sungguh mengingat Dia penuh seluruh.</p>
<p>Mungkin kita cuma bisa meminta agar Dia berikan waktu pada kita untuk tumbuh di jalan cinta dan menyemainya bersama mereka kelak di nirwana &#8230;</p>
<p>>> untuk <a href="http://dindajou.blogspot.com">Dinda dan Papin</a> yang baru saja kehilangan putri pertamanya yang tercinta.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://ndorokakung.com/2008/05/15/senandika-pecas-ndahe/feed/</wfw:commentRss>
		</item>
		<item>
		<title>Puzzle Pecas Ndahe</title>
		<link>http://ndorokakung.com/2008/05/14/puzzle-pecas-ndahe/</link>
		<comments>http://ndorokakung.com/2008/05/14/puzzle-pecas-ndahe/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 14 May 2008 04:31:19 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Ndoro Kakung</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[Indonesiana]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://ndorokakung.com/2008/05/14/puzzle-pecas-ndahe/</guid>
		<description><![CDATA[Di pinggir-pinggir jalanan Jakarta, pohon-pohon muda mencoba bertahan dari cuaca. Dahan pada pokok-pokok tua masih tegak, memang, dan daun-daunnya melanjutkan suasana teduh. 
Tapi kota metropolitan yang bulan depan berumur 481 tahun itu, yang terdiri dari gedung-gedung jangkung dan gubug-gubug reyot, tiap kali harus menghadapi apa yang telah banyak mengikis peninggalan leluhur: iklim. 
Di atas Jakarta, [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Di pinggir-pinggir jalanan Jakarta, pohon-pohon muda mencoba bertahan dari cuaca. Dahan pada pokok-pokok tua masih tegak, memang, dan daun-daunnya melanjutkan suasana teduh. </p>
<p>Tapi kota metropolitan yang bulan depan berumur 481 tahun itu, yang terdiri dari gedung-gedung jangkung dan gubug-gubug reyot, tiap kali harus menghadapi apa yang telah banyak mengikis peninggalan leluhur: iklim. </p>
<p>Di atas Jakarta, udara lembap, matahari terik. Dan kemudian ada polusi &#8212; tanda perubahan hari ini. Apa sebenarnya yang harus dipertahankan jika ada yang harus dipertahankan di antara tembok-tembok menjulang itu?</p>
<p>Mungkin kenang-kenangan, sesuatu yang rupanya begitu penting. Tentang amuk dan kerusuhan. Penjarahan. Tentang tangis dan kesedihan. Tentang jasad-jasad gosong. Tentang perempuan-perempuan yang diperkosa.</p>
<p>Manusia adalah makhluk khusus: ia mengingat-ingat. Di hadapannya, kematian menjadi sebuah paradoks: ajal berarti jalan ke keabadian, tapi sekaligus juga ancaman akan ambruknya kenangan. </p>
<p>Sementara itu, kita tak mau lupa. Kita tak mau dilupakan. Sejarah ditulis. <span id="more-749"></span></p>
<p>Di Macondo, kota khayali dalam novel Gabriel Garcia Marquez, <i>Seratus Tahun Kesendirian</i>, orang pernah terlalu sibuk bekerja. Begitu sibuknya mereka hingga tak tidur, dan &#8212; setelah wabah tak bisa tidur itu menyebar &#8212; suatu gejala lain pun kemudian timbul: orang mulai kehilangan ingatan.</p>
<p>Mereka bahkan lupa pada nama benda dan realitas. Akhirnya mereka pun hidup dengan &#8220;dunia kenyataan yang imajiner&#8221;, di mana &#8220;seorang ayah diingat samar-samar sebagai lelaki berkulit gelap yang tiba di awal April, dan seorang ibu diingat hanya sebagai wanita hitam yang mengenakan sebentuk cincin emas di tangan kiri&#8221;.</p>
<p>Betapa menyedihkannya. </p>
<p>Maka, kita tak ingin tinggal di Macondo dan menderita amnesia. <i>Dalam Seratus Tahun Kesendirian</i>, Jose Arcadio Buendia juga mencoba melawan amnesia itu. Ia menuliskan nama benda-benda, sebagaimana kita menulis tambo. </p>
<p>Sejarah, bagaimanapun juga, memang suatu ikhtiar melawan lupa. Yang jarang kita sadari ialah bahwa sejarah adalah sebuah ikhtiar yang lemah, terbatas, dan tak lengkap.</p>
<p>Apa, misalnya, yang kita ketahui ihwal kerusuhan Mei sepuluh tahun yang lalu? Adakah dalangnya? Apakah ia sesuatu yang spontan?</p>
<p>Kita tak tahu bagaimana orang bisa begitu beringas dan menindas orang lain. Kita tak tahu bagaimana waktu itu mereka bergerak, membabat, menjarah.</p>
<p>Saya tak tahu. Ingatan, juga pengetahuan, saya tak lengkap. Masih banyak keping puzzle yang hilang dalam lembaran sejarah yang kelam itu.</p>
<p>Siang ini, sepuluh tahun setelah hari yang mencekam itu, langit Jakarta masih seperti dulu. Panas. Lembap.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://ndorokakung.com/2008/05/14/puzzle-pecas-ndahe/feed/</wfw:commentRss>
		</item>
		<item>
		<title>Kenangan Pecas Ndahe</title>
		<link>http://ndorokakung.com/2008/05/13/kenangan-pecas-ndahe-3/</link>
		<comments>http://ndorokakung.com/2008/05/13/kenangan-pecas-ndahe-3/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 13 May 2008 07:23:29 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Ndoro Kakung</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[Indonesiana]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://ndorokakung.com/?p=748</guid>
		<description><![CDATA[Hari ini, langit Jakarta masih seperti yang dulu, sepuluh tahun lalu. Awan berarak pelan dalam kelabu. Udara lembap. 
Tak banyak potongan ingatan tentang hari itu yang masih saya simpan hingga detik ini. Samar-samar, dalam gudang memori yang kian padat ini, berkelebat bayangan-bayangan masa lalu yang semakin lindap.
Ah, betapa pendek ingatan. Betapa kencang waktu beranjak ke [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Hari ini, langit Jakarta masih seperti yang dulu, sepuluh tahun lalu. Awan berarak pelan dalam kelabu. Udara lembap. </p>
<p>Tak banyak potongan ingatan tentang hari itu yang masih saya simpan hingga detik ini. Samar-samar, dalam gudang memori yang kian padat ini, berkelebat bayangan-bayangan masa lalu yang semakin lindap.</p>
<p>Ah, betapa pendek ingatan. Betapa kencang waktu beranjak ke depan. Entah sudah berapa ribu fragmen kejadian menghilang, sudah berapa juta momen kepedihan melayang.</p>
<p>Hari ini saya terlontar ke satu dasa warsa yang lalu. Pada sebuah masa ketika Jakarta berkelimun asap dan kebingungan. Dalam lingkungan pabrik yang mencekam, kami bertanya-tanya, apa yang terjadi di luar sana? Siapa yang terbunuh, terpanggang, lari lintang pukang di jalanan? <span id="more-748"></span></p>
<p>Siang itu, matahari dan api bersekutu membakar Jakarta. Kota porak poranda. Gedung-gedung meleleh. Kaca-kaca pecah. Remuk. Berantakan. </p>
<p>Setan-setan mengangkang di delapan penjuru angin. Menyebar dendam, menebar ancaman. Nirwana terbang entah ke mana.</p>
<p>Angkara murka. Amuk massa. Jakarta berubah jadi Alengka. Membara. Dan setelah itu senyap. Nyap. Hening dalam nestapa.</p>
<p>Di antara jangad-jangad yang masih hangat terbakar, arang tubuh yang mendekap kaleng susu, margarin, TV, dan baju-baju, sungai air mata menjadi telaga darah, ibu-ibu melolong, mencari anak-anaknya yang hilang dalam kalut.</p>
<p>Hari ini, sepuluh tahun yang lalu. Kenangan itu begitu menikam. Tajam &#8230;</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://ndorokakung.com/2008/05/13/kenangan-pecas-ndahe-3/feed/</wfw:commentRss>
		</item>
		<item>
		<title>Walkman Pecas Ndahe</title>
		<link>http://ndorokakung.com/2008/05/12/walkman-pecas-ndahe-2/</link>
		<comments>http://ndorokakung.com/2008/05/12/walkman-pecas-ndahe-2/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 12 May 2008 06:55:28 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Ndoro Kakung</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[Gambariana]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://ndorokakung.com/?p=746</guid>
		<description><![CDATA[You are what you have. Harta menunjukkan siapa kita. Begitulah kira-kira pelajaran yang saya dapat dari isi laci saya di pabrik.
Gara-gara menjelang weekend kemarin bongkar-bongkar laci lemari di bawah meja kerja, saya malah menemukan barang-barang antik ini: Walkman Sony dan kaset-kaset lawas.
Kaset? Halah. Tuwek? Bukan. Ini tentang vintage, hihihihi &#8230;

Saya sendiri merasa sudah lama sekali [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><em>You are what you have</em>. Harta menunjukkan siapa kita. Begitulah kira-kira pelajaran yang saya dapat dari isi laci saya di pabrik.</p>
<p>Gara-gara menjelang <em>weekend</em> kemarin bongkar-bongkar laci lemari di bawah meja kerja, saya malah menemukan barang-barang antik ini: Walkman Sony dan kaset-kaset lawas.</p>
<p>Kaset? Halah. Tuwek? Bukan. Ini tentang <em>vintage</em>, hihihihi &#8230;</p>
<p><img src="http://inlinethumb51.webshots.com/39794/2800718960096703381S425x425Q85.jpg" alt="isi laci" /></p>
<p>Saya sendiri merasa sudah lama sekali saya ndak menengok laci itu karena jarang duduk di belakang meja kerja pabrik. Ternyata barang-barang itu masih rapi di tempatnya. Ckckck &#8230; <span id="more-746"></span></p>
<p>Sampean tahu ndak, Walkman itu umurnya sudah sepuluh tahun loh. Waktu itu saya membelinya di pusat elektronik Glodok, Jakarta. Sayang, saya lupa berapa harganya dulu.</p>
<p>Anak-anak zaman sekarang pasti sudah jarang memiliki barang beginian, apalagi kaset. Tentu saja karena saya bukan berasal dari generasi iPod, MP3, seperti sampean umumnya, Ki Sanak. </p>
<p>Dari koleksi ini sampean bisa mengira-ira <del>umur</del> dari generasi mana saya berasal. Sekaligus sampean bisa melihat sendiri bahwa saya ndak beli barang bajakan atau download MP3 secara ilegal. Biar cuma kaset, tapi saya beli sendiri (atau minjem). Ini yang membuat saya bangga, hihihi&#8230;</p>
<p>Nah, sekarang gantian sampean yang menengok laci lemari sampean sendiri. Lihat, ada apa saja di sana? Terus diposting ya, saya pengen lihat &#8230;</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://ndorokakung.com/2008/05/12/walkman-pecas-ndahe-2/feed/</wfw:commentRss>
		</item>
		<item>
		<title>Bill Gates Pecas Ndahe</title>
		<link>http://ndorokakung.com/2008/05/09/bill-gates-pecas-ndahe/</link>
		<comments>http://ndorokakung.com/2008/05/09/bill-gates-pecas-ndahe/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 09 May 2008 09:06:22 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Ndoro Kakung</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[Gambariana]]></category>

		<category><![CDATA[Indonesiana]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://ndorokakung.com/?p=745</guid>
		<description><![CDATA[Chairman Microsoft Bill Gates memberikan kuliah umum kepada lebih dari 2.000 orang tadi pagi di Jakarta Convention Center. Ia bercerita macam-macam, tentang gemuruh kemajuan teknologi, kemilaunya era digital, kejayaan informasi garda depan, dan seterusnya. 
Setelah itu, ia mengucapkan selamat tinggal pada peserta kuliah yang terdiri dari presiden, menteri, blogger, mahasiswa, usahawan, wartawan, juga &#8230; kemiskinan.

[foto [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Chairman Microsoft Bill Gates memberikan kuliah umum kepada lebih dari 2.000 orang tadi pagi di Jakarta Convention Center. Ia bercerita macam-macam, tentang gemuruh kemajuan teknologi, kemilaunya era digital, kejayaan informasi garda depan, dan seterusnya. </p>
<p>Setelah itu, ia mengucapkan selamat tinggal pada peserta kuliah yang terdiri dari presiden, menteri, blogger, mahasiswa, usahawan, wartawan, juga &#8230; kemiskinan.</p>
<p><img src="http://inlinethumb03.webshots.com/10626/2805053420096703381S425x425Q85.jpg" alt="good bye mr bill gates" /><br />
[<em>foto dipinjam dari pelbagai sumber</em>]</p>
<p>Sampai jumpa lagi, Tuan Gates. Semoga Anda tidur nyenyak dan mimpi indah dalam pelukan pundi-pundi dolar yang kian menggembung &#8230;</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://ndorokakung.com/2008/05/09/bill-gates-pecas-ndahe/feed/</wfw:commentRss>
		</item>
		<item>
		<title>Axis Pecas Ndahe</title>
		<link>http://ndorokakung.com/2008/05/09/axis-pecas-ndahe/</link>
		<comments>http://ndorokakung.com/2008/05/09/axis-pecas-ndahe/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 08 May 2008 17:09:06 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Ndoro Kakung</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[Indonesiana]]></category>

		<category><![CDATA[axis]]></category>

		<category><![CDATA[kartu]]></category>

		<category><![CDATA[setan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://ndorokakung.com/?p=744</guid>
		<description><![CDATA[Axis kartu setan? 
Halah, yang bener, Bung? Kok terdengarnya malah seperti singkatan dari &#8220;Ah, XItu Seperti paKAR TUkang SEnsasi TenAN&#8221;? Sudahlah, jangan suka menyebar rumor begitu, Bung!
&#8220;Loh, sampean kok ndak percaya sih, Ndoro? Blogger-blogger lain sudah bikin posting tentang kartu itu tuh. Yang mengomentari berarak-arakan loh, ramai banget. Sampean ndak mau ikut?&#8221;
&#8220;Halah. Biarin saja, Bung. [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><strong>Axis kartu setan</strong>? </p>
<p>Halah, yang bener, Bung? Kok terdengarnya malah seperti singkatan dari &#8220;Ah, XItu Seperti paKAR TUkang SEnsasi TenAN&#8221;? Sudahlah, jangan suka menyebar rumor begitu, Bung!</p>
<p>&#8220;Loh, sampean kok ndak percaya sih, Ndoro? Blogger-blogger lain sudah bikin posting tentang kartu itu tuh. Yang mengomentari berarak-arakan loh, ramai banget. Sampean ndak mau ikut?&#8221;</p>
<p>&#8220;Halah. Biarin saja, Bung. Saya ndak mau ikut-ikut menyebar gosip. Saya ndak mau ikut-ikutan, nanti dituduh cuma mau jadi <em>free rider</em>.&#8221;</p>
<p>&#8220;Loh, ini bukan gosip, Ndoro. Ini kenyataan.&#8221;</p>
<p>&#8220;Kenyataan bagaimana maksud sampean?&#8221; <span id="more-744"></span></p>
<p>&#8220;Iya &#8230; ini benar-benar kenyataan yang cuma ada di Endonesah. Sampean boleh ndak suka atau ndak setuju, tapi orang-orang menyukainya.&#8221;</p>
<p>&#8220;Huh, aneh. Begituan kok disukai?&#8221;</p>
<p>&#8220;Loh justru aneh kalau yang begituan ndak disukai. Jangan lupa, kita hidup di negeri setan, Ndoro.&#8221;</p>
<p>&#8220;Negeri setan? Maksudnya?&#8221;</p>
<p>&#8220;Ya negeri yang hobinya bikin film setan dan penontonnya suka banget nonton setan itu.&#8221;</p>
<p>&#8220;Loh, setan kok nonton setan, Bung?&#8221;</p>
<p>&#8220;Hahahaha &#8230; Ah, Ndoro bisa aja. Mungkin ini gara-gara mereka hobi makan rawon setan, Ndoro.&#8221;</p>
<p>Gantian saya yang ngakak. </p>
<p>&#8220;Tapi saya sebenarnya heran loh, Ndoro. Kenapa kita hobi banget menyebar kabar yang aneh-aneh lewat SMS? Padahal pengaruh SMS itu bisa kuat sekali loh. Saking kuatnya, sampai-sampai ada seorang pemimpin agama di Sumatera yang memerintahkan umatnya untuk ndak memakai kartu Axis. Apa ndak ampuh tuh?&#8221;</p>
<p>&#8220;Mosok sih sampai segitunya? Kalau kabar itu benar, berarti pemimpin agama itu belum baca blog. Soalnya, posting-posting di beberapa blog justru meluruskan kabar bohong itu. Lagi pula, memangnya SMS sudah sampai di Sumatera juga ya?&#8221;</p>
<p>&#8220;Hahaha&#8230; sampean meledek. Tentu saja sampai, Ndoro. Tapi, ini bener lo, Ndoro. Rumor itu sudah beredar ke mana-mana dan bikin heboh. Sekarang malah ada lagi yang baru, juga beredar lewat SMS itu. Katanya ada santet lewat handphone.&#8221;</p>
<p>&#8220;Halah, santet?&#8221;</p>
<p>&#8220;Iya, Ndoro. SMS itu bunyinya begini &#8230;</p>
<blockquote><p>Kalau ada nomor handphone dengan nomor 0866 dan 0666 atau yang berwarna merah memanggil masuk, jangan diangkat. Soalnya, di Jakarta dan Tanjung Balai Karimun sudah ada yang meninggal gara-gara mengangkatnya. Konon ada orang yang sedang mengetes ilmu hitam. Jangan lupa sampaikan kepada keluarga. Batam dan Brunai sekarang lagi heboh.</p></blockquote>
<p>Saya ngakak. &#8220;Jadi rupanya setan-setan di abad iPod sudah memakai handphone dan bisa mengirim santet lewat SMS. Canggih juga ya? Berapa ya tarif kirim santet lewat SMS? Apakah syarat dan ketentuan juga berlaku?&#8221;</p>
<p>&#8220;Wah, saya ndak tahu, Ndoro. Yang jelas, para gendruwo, wewe gombel, kuntilanak itu ternyata sudah ndak gaptek lagi. Mereka mungkin mau ikut-ikutan kita, manusia, yang sedang kerajingan main HP dan SMS.&#8221; </p>
<p>&#8220;Atau jangan-jangan ini sekadar efek samping dari perang tarif antaroperator selular, Bung?&#8221; </p>
<p>&#8220;Saya ndak tahu, Ndoro. Tanyakan saja pada kawan-kawan sampean, para blogger itu. Mungkin ada yang tahu.&#8221;</p>
<p>&#8220;Oh iya. Betul-betul &#8230; Tapi, saya kok ndak percaya. Setan, santet, SMS, semua itu kan cuma gosip, digosok makin sip. Yang menggosok ya orang-orang seperti situ, Bung.</p>
<p>Saya jadi ingat sebuah lakon, <em>The Crucible</em>, karya Arthur Miller. Dulu Paklik Isnogud juga pernah bercerita tentang drama itu ke kawan-kawan di pabrik, ketika geger santet mengoyak wilayah tapal kuda di Jawa Timur pada akhir 1990-an.&#8221;</p>
<p>&#8220;Waduh, pasti seru tuh. Ceritain dong, Ndoro &#8230; &#8221;</p>
<p>&#8220;Jangan sekarang. Nanti-nanti saja. Saya mau ngirim SMS dulu pakai kartu setan untuk menyantet pemain Chelsea biar mereka kalah waktu tanding lawan Bolton Ahad nanti, hehehehe &#8230; &#8221;</p>
<p>&#8220;Woooo &#8230; curang. Sampean jagoin MU ya &#8230; hahahaha &#8230;&#8221;</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://ndorokakung.com/2008/05/09/axis-pecas-ndahe/feed/</wfw:commentRss>
		</item>
		<item>
		<title>Samurai Pecas Ndahe</title>
		<link>http://ndorokakung.com/2008/05/08/samurai-pecas-ndahe/</link>
		<comments>http://ndorokakung.com/2008/05/08/samurai-pecas-ndahe/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 08 May 2008 09:07:37 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Ndoro Kakung</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[Pitutur]]></category>

		<category><![CDATA[Piwulang]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://ndorokakung.com/?p=743</guid>
		<description><![CDATA[Kapitalisme memang selalu melambai-lambai. Terserah kalian, mau jadi samurai atau manusia dengan jiwa yang mudah dibeli.
>> Saripati kuliah umum sore hari &#8212; setelah beberapa kawan pergi. Pengajar: GM.
]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Kapitalisme memang selalu melambai-lambai. Terserah kalian, mau jadi samurai atau manusia dengan jiwa yang mudah dibeli.</p>
<p>>> Saripati kuliah umum sore hari &#8212; setelah beberapa kawan pergi. Pengajar: GM.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://ndorokakung.com/2008/05/08/samurai-pecas-ndahe/feed/</wfw:commentRss>
		</item>
		<item>
		<title>Logika Pecas Ndahe</title>
		<link>http://ndorokakung.com/2008/05/07/logika-pecas-ndahe/</link>
		<comments>http://ndorokakung.com/2008/05/07/logika-pecas-ndahe/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 07 May 2008 05:16:03 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Ndoro Kakung</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[Indonesiana]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://ndorokakung.com/?p=742</guid>
		<description><![CDATA[Siapa bilang daya beli masyarakat turun? Siapa bilang trend kenaikan harga BBM akan menyurutkan konsumsi kendaraan pribadi? Baca berita di harian Bisnis Indonesia ini. 

Lihatlah betapa data itu berbicara banyak, dan menjungkirbalikkan asumsi. 
Nah, sekarang coba perhatikan infografis dari koran yang ringkas dan cergas ini.

APBN 2008 yang menyebutkan total belanja negara Rp 926 triliun. Dari [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Siapa bilang daya beli masyarakat turun? Siapa bilang trend kenaikan harga BBM akan menyurutkan konsumsi kendaraan pribadi? Baca berita di harian <a href="http://web.bisnis.com/edisi-cetak/edisi-harian/1id57540.html"><em>Bisnis Indonesia</em></a> ini. </p>
<p><img src="http://inlinethumb51.webshots.com/42994/2941317950096703381S425x425Q85.jpg" alt="" /></p>
<p>Lihatlah betapa data itu berbicara banyak, dan menjungkirbalikkan asumsi. <span id="more-742"></span></p>
<p>Nah, sekarang coba perhatikan infografis dari koran yang ringkas dan cergas ini.</p>
<p><img src="http://inlinethumb35.webshots.com/29602/2459510030096703381S425x425Q85.jpg" alt="angka subsidi pada apbn 2008" /></p>
<p>APBN 2008 yang menyebutkan total belanja negara Rp 926 triliun. Dari jumlah itu, subsidi untuk BBM Rp 126 triliun, pendidikan Rp 42,2 triliun, kesehatan Rp 16,7 triliun, dan pangan Rp 9,2 triliun.</p>
<p>Saya jadi bertanya-tanya, sebetulnya sektor mana yang lebih prioritas diberi subsidi: pangan, kesehatan, pendidikan, BBM? </p>
<p>Mengapa BBM justru mendapat jatah subsidi lebih besar ketimbang yang lain? Apakah BBM lebih penting dari pangan, kesehatan, pendidikan? Mengapa pula kita mesti marah kalau subsidi BBM dikurangi &#8212; dengan konsekuensi harganya naik &#8212; dan dipindahkan ke sektor lain?</p>
<p>Apakah ini sinyal bahwa logika kita sebenarnya terbalik-balik?</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://ndorokakung.com/2008/05/07/logika-pecas-ndahe/feed/</wfw:commentRss>
		</item>
	</channel>
</rss>
