Ubud Pecas Ndahe
November 21st, 2011 § 91 Komentar
“Kenyataan bahwa aku sudah pergi jangan sampai membuatmu terlempar dalam pusaran hidup yang paradoksal. Karena aku penah benar-benar punya harapan bakal hidup selamanya di sampingmu. Harapan itu masih tersimpan sangat rapi di sudut hatiku. Sekian.”
Pesan itu tiba-tiba menyelinap ke dalam BlackBerryku. Dari siapa lagi kalau bukan dia. Perempuan yang pelukan hangatnya mampu melumerkan seluruh salju di kutub utara.
Aku kaget. Tak kusangka mendapat kiriman mendadak dan mengagetkan seperti ini.
Aku segera membalasnya. Tanpa pikir panjang.
“Pernah? Apakah sekarang sudah padam?” Send!
Incoming message: “Harapan itu masih tersimpan sangat rapi di sudut hatiku.”
“Aku khawatir baranya makin lama makin kecil, dan akhirnya padam.” Send!
Incoming messange: “Ingat rumah di Ubud yang pernah aku ceritakan kepadamu? Dengan ayunan di taman depan? Dan kamu bilang dengan entengnya, ‘Tanya saja harganya berapa, nanti buat rumah kita di masa tua?’”
“Iya aku ingat. Sudah kau beli?” Send!
Incoming message: “Belum dong, memangnya kita sudah tua?”
“Tapi aku makin menua.” Send!
Incoming message: “Sudah siap hidup bersamaku?”
“Sudah siap beli rumah itu?” Send!
Kamu tertawa. Aku ngakak. Kita terbahak-bahak. Berdua. « Read the rest of this entry »
28 Hari Pecas Ndahe
Februari 25th, 2010 § 81 Komentar
Awalnya adalah percakapan via Yahoo! Messenger pada sebuah siang. Antara @ndorokakung dan @beradadisini. Dan setelah beberapa menit berlalu, diselingi jeda akibat kesibukan pekerjaan masing-masing, obrolan yang melantur ke mana-mana itu tiba-tiba berbelok tajam seperti elang di angkasa menyambar tikus di selokan.
“Bagaimana kalau kita duet bikin cerita bersambung?” dia bertanya.
“Siapa takut?” saya balik bertanya. « Read the rest of this entry »
Pesantren Pecas Ndahe
Agustus 11th, 2009 § 77 Komentar
Man jadda wajada. Siapa yang bersungguh-sungguh akan sukses.
Seperti apakah sosok lulusan pesantren? Apakah mereka dikenal sebagai sosok yang lembut? Alim? Keras? Radikal?
Konon ada empat tipe alumni pesantren. Yaitu, yang semangat wiraswastanya menonjol, punya semangat berdakwah yang lumayan, tapi tipis semangatnya untuk jadi pegawai (25%). Tipe ini banyak dihasilkan oleh pesantren Tebuireng.
Lalu, tipe para alumni yang bersemangat dakwah tinggi, minat untuk jadi pegawai lumayan, dan tipis niatnya menjadi wiraswasta tercatat lebih dari 31%. Sebagian besar mereka ini berasal dari pesantren-pesantren di Jawa Barat.
Ada pula tipe yang semangat dakwahnya tinggi, dan semangat menjadi wiraswasta sama besar dengan minat jadi pegawai (8%). Mereka kebanyakan keluaran pesantren di Jawa Tengah, antara lain Krapyak, Lasem Kebarongan.
Terakhir adalah tipe alumni yang semangat jadi pegawainya tinggi, punya minat lumayan untuk berdakwah, tapi tipis semangat wiraswastanya (31,8%). Mereka ini kebanyakan datang dari Pondok Gontor di Ponorogo, Jawa Timur.
Empat tipe itu tak datang dari langit melainkan hasil penelitian Perhimpunan Pengembangan Pesantren dan Masyarakat (P3M) lebih dari sepuluh tahun yang lalu. « Read the rest of this entry »
