Ahli Pecas Ndahe
Oktober 8th, 2010 § 105 Komentar
Dicari: Gubernur yang mampu membenahi Jakarta!
Setiap kali hujan jatuh membasuh Jakarta, saya seperti ikut merasakan betapa kedinginannya patung-patung di sudut-sudut kota. — kecuali patung Pak Dirman yang berjas lengkap di ujung Jalan Jenderal Sudirman itu.
Dingin makin terasa kencang menggigit bila hujan menderas. Dan saya terbayang pada genangan-genangan di jalanan. Lalu kemacetan lalu lintas yang panjang. Orang-orang yang frustrasi dan mengumpat sepanjang jalan.
Jakarta pada 2010 adalah kota yang amburadul meskipun dipimpin oleh ahli tata kota lulusan Jerman: Fauzi Bowo. Ia dilantik pada 7 Oktober 2007 sebagai gubernur ibu kota negara.
Pada mulanya dia berjanji memperbaiki keadaan. Kemudian sejumlah rencana disusun rapi, dikerjakan dalam ruang yang senyap. Bahkan nyaris tak ada yang sadar apa yang sebetulnya sudah dia kerjakan untuk memoles wajah Jakarta. « Read the rest of this entry »
Perempatan Pecas Ndahe
Juli 30th, 2010 § 133 Komentar
Sekali-sekali, perhatikanlah pemandangan di sebuah perempatan di Jakarta pada setiap tiap hari kerja. Ketika jarum jam mendekati titik pukul jam tujuh pagi, di perempatan mana pun, dari keempat arah, puluhan — atau ratusan — kendaraan serentak berjejal berebut di depan.
Sebuah kemacetan dahsyat pun segera tercipta. Klakson memekik-mekik. Brisik! Orang mengumpat-umpat dan berteriak-teriak. Di dalam bus-bus penumpang merengut, cemas, berkeringat. Di sedan-sedan yang bagus dan mengkilap, orang juga merengut sambil membaca koran pagi. Tapi mereka tak berkeringat. Maklum, mobil mereka dilengkapi AC dan kacanya dibalut selapis seluloid hitam untuk menahan terik matahari.
Lampu lalu lintas perempatan itu normal, ada setrumnya. Tapi rupanya orang-orang tak sabar. Juga para sepeda motor yang, seperti kuda kecil yang lapar, melontarkan diri ke depan. Lampu menyala merah di depan mereka. Tapi siapa peduli? Bukankah orang dari sebelah sana para pengguna jalan lain juga melanggarnya? « Read the rest of this entry »
Klakson Pecas Ndahe
Maret 9th, 2010 § 49 Komentar
Pemain sinetron disangka menganiaya seorang pria hanya gara-gara klakson. Kemacetan telah membuat sumbu frustrasi jadi pendek?
Insiden itu terjadi pada Minggu, 7 Maret malam lalu. Menurut situs Okezone, pemain sinetron Rio Reifan terlibat cekcok dengan Pribadi Gunawan di kawasan Jatinegara. Cekcok dipicu oleh klakson yang dibunyikan Pribadi Gunawan terhadap mobil Rio yang berada di depannya.
Karena diklakson seperti itu, Rio pun naik pitam dan langsung menghampiri Pribadi Gunawan yang saat itu berada di dalam mobilnya. Bersama sang kakak, Rio mengeroyok Pribadi yang berada di balik setir mobilnya. Akibatnya, Pribadi pun babak belur.
Kenapa orang mudah naik pitam? « Read the rest of this entry »