Sajak Pecas Ndahe
Desember 5, 2006 § 13 Komentar
Malam seperti itu, hujan sering turun.
Ada kabut tipis dalam gelap, tumbuh dari udara panas.
Kulit terasa lekat.
Tapi hujan telah menunjukkan janjinya, untuk datang.
Kaki-kaki telah bergegas. Orang mencari tempat dan atap.
Saya melihat goretan pensil di atas kertas putih itu di atas meja Paklik Isnogud. Sebuah puisi? Sajak? Mungkin. Hujan memang turun. Paklik barangkali ingin mengabadikannya dalam larik-larik kalimat yang romantik. Saya membatin: tumben. Ada apakah gerangan?
“Itu bukan sajak, bukan puisi, Mas,” kata Paklik Isnogud yang tiba-tiba sudah berdiri di sebelah saya. Ia seperti bisa menebak pikiran.
“Bukan sajak, bukan puisi? Lah njuk apa, Paklik?”
“Itu pengantar tulisan Fred de Silva, editor koran Ceylon Daily News, yang dia bacakan di sebuah seminar pada 1975 di antara para wartawan Dunia Ketiga. Mungkin dia sedang terpesona oleh sihir hujan, lalu membuka tulisannya dengan kata-kata itu.”
“Ah, biasa itu, Paklik. Hujan sering kali memang memukau orang. Saking terpesonanya pada hujan, ada yang lalu bikin sajak, puisi, atau cerpen. Gara-gara hujan jatuh, ada yang tiba-tiba jadi teringat masa kecilnya, terbayang kenangan masa lalu. Mungkin juga ingatan sewaktu muda, saat-saat berpacaran.”
“Betul, Mas. Para sastrawan, novelis, anak muda yang tengah jatuh cinta, kerap mendapatkan inspirasi dari hujan. Nugroho Notosusanto, misalnya, menulis sebuah kumpulan cerita dalam Hujan Kepagian, tentang mereka yang bertempur dan tewas untuk tanah airnya, dalam usia begitu muda. Mereka ibarat hujan yang jatuh terlalu pagi mungkin, karena cuaca terlalu buruk.
Sesungguhnya memang tak banyak orang tahu betapa cuaca bisa jadi buruk. Kita juga ndak tahu bahwa anak-anak muda bisa nangis, bisa marah, bisa terluka atau lebih dari itu — bukan karena soal-soal biasa. Mereka demikian karena melihat sebuah tanah air yang mereka cemaskan akan tenggelam — sementara tak ada lagi tanah air mereka yang lain.
Memang tak selalu orang tahu pasti apakah cuaca akan membaik atau justru memburuk. Kita hanya bisa meramal. Ternyata benar juga kata sebuah lagu, ‘Kita tak perlu juru cuaca untuk menebak ke arah mana angin pergi.’
You don’t need a weatherman to know which way the wind blows – Bob Dylan.
“Bob Dylan? Wah, jadul amat, Paklik?”
“O, masih ada satu lagi Mas, yang juga jadul. Namanya Joan Baez. Gadis ramping berambut hitam panjang itu juga menyebut-nyebut soal hujan dalam salah satu lagunya ketika bernyanyi begini, ‘Apa yang terjadi pada hujan?’
Suaranya sayu, agak gemetar. Dan kita termangu-mangu. Joan Baez. Pada pertengahan 1960-an, kita dengar suaranya dengan jelas.
“Apa yang terjadi pada hujan waktu itu, Paklik?”
“Baez bernyanyi ketika awan telah bercampur debu radio-aktif, bom telah jatuh, Vietnam telah terbakar. Di sana mayat hangus, tanah dikerumuni ulat, dan hati dikerumuni kebencian.
Joan Baez, gadis ramping berambut hitam yang tergerai itu, telah menyanyikan banyak hal dan menyuarakan banyak gugatan. Ia telah membikin kita peka sampai sentimentil. Ia telah membikin kita seperti sapu tangan kertas, rapuh, tak akan kekal, dan seakan menanggung tugas untuk mengusap air mata sejarah.
Maka, waktu itu, anak-anak muda pun konon bisa memadukan suara untuk lagu We shall Overcome, dengan tenggorokan terganjal haru dan hati dilukai perang. Ah, saya jadi pengen mendengarkan piringan hitam Joan Baez lawas itu, Mas.”
Saya terdiam. Hujan jatuh satu-satu. Di luar, orang bergegas. Burung-burung menyelinap di bawah atap gedung. Langit senja kelabu.
Tik-tik-tik, bunyi hujan di atas genting. Airnya turun tidak terkira. Cobalah tengok dahan dan ranting …
Ah, lagu itu. Sampean juga suka hujan? Apa arti hujan buat sampean Ki Sanak?

wayah…sajak hujan? nyindir mas mbilung yg posting ujan juga ya? hahaha? ato ikut2an ma saya semua neh? >>>manusia GR
hujan itu kalo bisa diatur saya seneng. misal kalo saya ndak ada acara dan pengen dirumah nongkrong dekat jendela minum teh dengerin jazz jan enak tenan kalo ujan. lha tapi kalo lagi ada acara diluar hadoh ojo hujan to yooo..
hujan bikin meriang… 😦
hujan malam hari = senang…
hujan pagi hari = susah pergi kerja…
hujan sore hari = sampe rumah tinggal sabunan…
hujan = bajir….!!!!!
hujan itu buat saya cuaca yg paling adil untuk semua golongan manusia…yg punya mobil, motor, atau enggak sekalipun tetep kebagian enak dan enggaknya 🙂
kangen sama bau tanah setelah hujan reda..
pulang sekolah hujan-hujanan..
nyuci motor susah-susah.. eh malah ujan
hujan asal gak deres-deres amat sih asik..
hujan itu ritual pensucian. air bersih dari nggunung turun ke lembah. buat nyuci, buat pipis, buat pup, buat buang sampah dan kotoran. terus berjalan sampai ke laut. di laut, yang kotor-kotor diendapkan. yang bersih dinaikkan. dikirim ke daratan lagi. dikirim ke bumi dalam keadaan suci lagi. buat nyuciken langit. langit yang kita kotori. sehingga langit bersih lagi. udaranya bisa kita hirup. sedemikian sucinya sehingga ketika kita marah, kita hirup udara untuk meredakan amarah kita. ketika kita marah, kita basuh muka kita. luar biasa bukan? bagaimana alam mengurus dirinya dan kita.
hujan itu enak…
hujan itu ga enak juga sih… (halah)
Lagu tentang hujan?
Acid Rain, Dream Theater. Ndak ada mellow2nya dah 😀
Hujan bikin mata tambah kriyep kriyep…
Hujan … Selamatkan Hujan Alam Indonesia … ehh itu hutan alam yoo …hehehe
HujaN = Hijau = Hidup
utawa
Got mampet + ujaN = BaNjiR
hujan rintik-rintik=hujan pengantin baru