Doha Pecas Ndahe
Desember 14, 2006 § 8 Komentar
Di Doha, atlet-atlet Indonesia terjerembab. Di Doha pula medali emas beterbangan jauh di atas kemampuan kontingen merah-putih. Hingga hari ke-14, baru medali emas yang didapat.
Atlet kita loyo? Jangan-jangan mereka tak punya semangat bertanding atau karena kemampuannya memang cuma segitu?
Paklik Isnogud, jawara tenis tarkam (antarkampung) itu, tertawa ngakak ketika saya mengajaknya bicara tentang prestasi atlet Indonesia di Asian Games Doha 2006. Ketawanya baru reda setelah Ndoro Juragan Bos melongok keluar dari ruang kerjanya, mungkin dia terganggu oleh suara Paklik yang sumbang itu.
“Begini ya, Mas. Seorang atlet biasanya telah berjalan jauh sebelum ia tiba di ambang pertandingan atau perlombaan. Berbulan-bulan ia menggedor dirinya sendiri. Olahragawan Cina yang merajalela di Doha itu, misalnya, tentu telah bersiap selama bertahun-tahun. Mereka mengangkat besi, senam, lari berulang-ulang naik-turun bukit, meloncat, memanjat tali, sit-up, dan sebagainya.
Tubuh memang tak bisa dibiarkan terkulai seperti baju lusuh. Tubuh seorang atlet adalah ibarat busur yang direntang sebelum sebuah performance ditembakkan. Tubuh juga misteri. Banyak hal bisa terjadi pada saat yang menentukan tiba. Latihan berbulan-bulan pada dasarnya adalah untuk mengatur pelbagai hal yang mungkin itu ke dalam suatu tertib. Dan pertandingan, seperti yang terjadi dalam Asian Games, adalah ujian terpuncak untuk mengalahkan misteri itu.
Seorang atlet dengan demikian, jauh di dasar dirinya, adalah seorang yang sendirian. Tak ada lukisan yang lebih menggurit dari lukisan Yukio Mishima tentang itu dalam eseinya yang panjang mengenai tubuh dan kata-kata, Matahari dan Baja.
Ia berlari sendirian mengelilingi beberapa kali jalur utama stadion nasional di sebuah fajar bulan Desember. Dan itu adalah fajar yang membeku. Stadion nasional itu bagai sebuah teratai besar. Arena luasnya yang kosong membentuk daun-bunga yang terbentang berlebihan, penuh bintik-bintik, putih abu-abu.
‘Sementara aku berlari, yang kuhirup bukan hanya udara setajam pisau, juga aroma fajar yang berkepanjangan …. Sementara aku berlari, pikiranku dipenuhi satu masalah: hubungan antara kembang teratai waktu fajar yang bernafsu itu dengan kemurnian tubuhku.’
Keterpusatan pada diri sendiri — itulah yang umumnya tak terlihat oleh para penonton, ketika seorang atlet bertanding. Memang ada lawan, tapi pada akhirnya lawan terutama ada dalam diri sendiri. Memang ada bendera, semangat nasional, lagu kebangsaan, janji-janji. Tapi jantung yang seperti digenjot kaki setan itu bukan milik jutaan orang. Ketegangan, juga kecemasan, sebenarnya tak dapat dibagi-bagi.
Atlet kita mungkin belum sampai ke tahap itu. Makanya, saya ndak heran kalau mereka tersengal-sengal mengejar, berusaha menandingi, lawan-lawannya di lapangan. Sampean tentu masih ingat iklan Nike di majalah Rolling Stone itu kan, Mas?
It’s not something you buy. It’s something you earn.
Di dunia olahraga, kemenangan sejati tak bisa dibeli.”
“Lah, tapi kan kita juga kenal suap di, misalnya, pertandingan sepak bola, Paklik? Sebuah kesebelasan bisa saja memenangkan pertandingan dengan nyogok?” saya coba menyanggah.
“Itu kemenangan semu, Mas. Juara sejati hanya ada dalam hati.”
“Wah, ini dalem, Paklik.”

*ikutan sedih*
gimana atletnya nggak loyo kalo pengurus-pengurusnya juga serakah..
Kok tidak dibicarakan masalah ‘asupan gizi’ Ndoro? Wong atlet kita makannya hanya bagus kalo lagi di pelatnas, kalo lagi libur ya balik lagi sego kucing angkring kaleh burjo… (atlete jape methe o’)
jadi atlet itu memang susah. sudah kerja keras berlatih, kalah dan kere. mending jadi ME yang terkenal karena olahraga sesaat. 😀
trend atlet indonesia saat ini :
push up ala yahya zaini
jamu ala alda
Yukio Mishima lagi…btw, tangguh itu bukannya tetap bangkit walaupun jatuh berkali-kali ? Tapi atlet kita memang kurang gizi
udara setajam pisau? wah.. benar benar menusuk…
Ndoro Kakung kok pinter ya, bikin komentar dari a sampai z liku-liku kehidupan kok bisa-bisanya…. Suatu saat moga-moga kumpulan tulisannya bisa diterbitkan, trus panjenenganingsun dapat 1 buat hadiah. He… he…