Kemangi Pecas Ndahe

September 12, 2008 § 70 Komentar

Perempuan itu wangi daun-daun kemangi. Khas. Kuat, tapi lembut. Aku bertemu dengannya pada sebuah siang yang redup di tepi kebun tebu.

Langkahnya ringan, melayang, nyaris tanpa suara, seperti kijang di rimbun pepohonan hutan. Geraknya menawan, mirip penari-penari bedoyo kasultanan.

Matahari tunduk di bawah hitam rambutnya. Rembulan lesi disiram bening matanya. Perempuan itu wangi daun-daun kemangi.

Kami berserobok jalan di sela tebu-tebu yang tinggi menguning. Kupu-kupu berlarian, burung berkicauan, dan ranting-ranting bertautan ketika dia mendesah pelan, “Maaf, numpang lewat.”

“Silakan. Puan, hendak ke mana?” tanyaku sopan.

“Ke titik nol,” jawabnya singkat.

Aku terpana memandang parasnya yang putih dan sedingin puncak Himalaya. Apakah api itu sudah pergi? Ke manakah gerangan hasrat dan gelora?

Perempuan itu tak menoleh. Langkahnya lurus menuju belukar. Kian lama, kian samar. Hanya wangi daun-daun kemangi yang masih tertinggal di ujung hidung. Meremas angan, mengeremus kenangan. Kuat, tapi lembut, mesra.

>> Selamat hari Jumat, Ki Sanak. Apakah hari ini sampean mau mengudap lalapan daun kemangi untuk buka puasa nanti?

Iklan

Where Am I?

You are currently browsing entries tagged with kemangi at Ndoro Kakung.