Omelet Pecas Ndahe

November 11, 2009 § 38 Komentar

Revolusi mungkin seperti omelet. Terbuat dari beberapa butir telor yang utuh, dipecahkan, lalu diaduk tak beraturan. Tambahkan tomat dan sedikit irisan daging. Goreng lalu digulung rapi.

Orang suka memesannya sebagai menu sarapan pagi. Dimakan sambil baca koran. Kelezatannya barangkali hanya bisa ditandingi oleh setangkup roti apit isi daging asap yang disantap ketika gerimis jatuh selepas fajar merekah.

Lantas kenapa kenangan tentang revolusi tak pernah bisa jadi nasi basi?

Seorang cerdik nan pandai pernah menulis. ” Karena revolusi mengandung banyak hal. Ada kebuasan yang dahsyat atas nama keadilan. Pengkhianatan yang menyakitkan atas nama kearifan. Darah dan doa, api dan cita-cita, kecutnya keringat dan frustrasi, teriak dan juga harapan terakhir. Segalanya dihimpun dan dipertaruhkan, segalanya dicurahkan dan diikhlaskan. Mungkin sebab itu revolusi adalah sesuatu yang mengandung antitesisnya sendiri.

“Revolusi adalah sesuatu yang melelahkan,” kata Jacques Sole, mahaguru sejarah dari Grenoble. « Read the rest of this entry »

Where Am I?

You are currently browsing entries tagged with revolusi at Ndoro Kakung.