Teror Pecas Ndahe

Mei 16, 2013 § 145 Komentar

“Tak ada kelompok ras atau etnik di Indonesia yang, betapapun kencangnya melakukan agitasi, dapat mengobarkan kekerasan sistematik dengan 1.198 orang tewas (27 di antaranya ditembak), 150 wanita diperkosa, 40 supermarket dan 4.000 toko dibakar, dan ribuan motor, mobil, dan rumah dilalap api di 27 area ibukota hanya dalam tempo 50 jam.”

Tulisan Ariel Heryanto itu saya kutip dari sini. Dan setiap kali membacanya, saya terkenang pada salah satu lembaran paling hitam dalam sejarah Indonesia: kerusuhan Mei 1998.

Saya sepakat dengan Ariel yang menulis:

Siapa pun yang mengenal Indonesia sadar betul bahwa tidak ada kelompok sosial di luar kekuatan negara yang mampu untuk menggelar kerusuhan secara dahsyat dan efektif seperti terjadi di Jakarta dan Surakarta beberapa waktu lalu.

Tidak PAM Swakarsa. Tidak juga FPI. « Read the rest of this entry »

Omelet Pecas Ndahe

November 11, 2009 § 38 Komentar

Revolusi mungkin seperti omelet. Terbuat dari beberapa butir telor yang utuh, dipecahkan, lalu diaduk tak beraturan. Tambahkan tomat dan sedikit irisan daging. Goreng lalu digulung rapi.

Orang suka memesannya sebagai menu sarapan pagi. Dimakan sambil baca koran. Kelezatannya barangkali hanya bisa ditandingi oleh setangkup roti apit isi daging asap yang disantap ketika gerimis jatuh selepas fajar merekah.

Lantas kenapa kenangan tentang revolusi tak pernah bisa jadi nasi basi?

Seorang cerdik nan pandai pernah menulis. ” Karena revolusi mengandung banyak hal. Ada kebuasan yang dahsyat atas nama keadilan. Pengkhianatan yang menyakitkan atas nama kearifan. Darah dan doa, api dan cita-cita, kecutnya keringat dan frustrasi, teriak dan juga harapan terakhir. Segalanya dihimpun dan dipertaruhkan, segalanya dicurahkan dan diikhlaskan. Mungkin sebab itu revolusi adalah sesuatu yang mengandung antitesisnya sendiri.

“Revolusi adalah sesuatu yang melelahkan,” kata Jacques Sole, mahaguru sejarah dari Grenoble. « Read the rest of this entry »

Jakartamu Pecas Ndahe

Agustus 4, 2008 § 74 Komentar

Sampean mau jadi bagian sejarah? Bergabunglah dan serukan kampanye GW Cinta Jakarta.

Adalah Tukang Koran yang membikin kampanye asyik itu. Ia mengaku memperoleh inspirasi kampanye itu dari Milton Glaser.

Glaser adalah pencipta logo “I heart NY” pada 1976. Waktu itu, dia tidak menyadari bahwa sesungguhnya dia sedang menciptakan sejarah.

“I heart NY” dibuat untuk mempromosikan pariwisata Kota New York. Logo yang sangat sederhana itu menjadi terkenal karena kemudian pemerintah New York mencetaknya di kaus dan berbagai merchandise lain sebagai suvenir. « Read the rest of this entry »

Where Am I?

You are currently browsing entries tagged with sejarah at Ndoro Kakung.