Dendam Pecas Ndahe

Februari 13, 2007 § 21 Komentar

Mengapa manusia menyimpan dendam? Saya memikirkan pertanyaan itu setelah membaca wawancara majalah ini dengan Basri, buron nomor satu di Poso.

Basri, seperti pengakuannya di majalah itu, adalah salah satu pentolan dalam perang di Poso. Ia mengaku pernah membunuh banyak orang di perang itu, membantai tiga siswi SMA dengan parang, dan ikut memerangi polisi di Tanah Runtuh.

Polisi menangkapnya pekan lalu. Ketika ditanya mengapa ia ikut mengobarkan kekerasan di Poso, Basri menjawab,

Keluarga saya banyak dibantai, ada 26 orang, pada peristiwa Kilo 9. Mayat semuanya saya angkat sendiri. Sejak itu saya dendam. Lalu datang doktrin-doktrin agama. Saya seperti popeye yang diberi bayam.

Gendeng. Saya mengumpat dalam hati. Tapi, sebetulnya tapi saya tak tahu pasti kepada siapa seharusnya umpatan itu saya berikan. Basri? Pembunuh keluarganya? Atau siapa?

Saya lalu mencari Paklik Isnogud, telaga yang teduh itu, untuk mencari jawab. Saya ingin tahu dari mana dendam di hati manusia berasal. Mengapa dendam bisa membuat orang sewenang-wenang? Bisakah kita mengelola dendam?

“Dendam memang selalu cenderung sewenang-wenang: ia memukul seorang yang sudah tak berdaya. Sampean tentu masih ingat Mas, bagaimana Bima memperlakukan Duryudhana di ujung perang penghabisan itu.

Duryudhana, yang pahanya hancur oleh pukulan gada Bima, yang kepalanya luka parah, yang menderita panjang sebelum ajal datang beringsut-ingsut, dan akhirnya habis.

Seorang pangeran tua, Balarama, yang sedang lewat dan ikut menyaksikan dari jauh bagaimana Bima menghancurkan musuhnya dalam dengus dendam bertahun-tahun, merasa jijik.

Kekerasan memang tak selamanya bisa dielakkan. Tapi sejauh mana kekerasan harus diumbar, dan Bima punya hak untuk menghantam Duryudhana dengan cara yang licik?

Mengapa Bima tak merasakan iba sedikit pun ketika ia memukul paha Duryudhana di tepi danau yang suram itu?

Dendam, Mas. Ia merasakan dendam menggelegak di darahnya. Ia ingat bagaimana dengan angkuhnya Duryudhana menghina ia dan saudara-saudaranya, bagaimana Duryudhana mencoba menipu mereka hingga tersingkir bertahun-tahun, bagaimana Duryudhana tak putus-putusnya menampik upaya damai yang ditawarkan.

“Dendam,” Bima mendesis.

Perang Bharatayuda adalah kewajiban yang pahit, pergulatan untuk hak yang ditiadakan, takdir dari langit yang besar, dan pelampiasan dendam yang mengendap tebal. Memang rumit dan mengacaubalaukan hati.

Karena itu ya Mas, sebelum sampean melampiaskan dendam, sebelum sampean menyulut peperangan, ikhtiarkan jalan perdamaian. Kalaupun perdamaian itu sulit, tirulah bagaimana suku-suku pedalaman mengelola dendam.”

“Suku pedalaman? Di mana itu? Bagaimana caranya mengelola dendam? Apa ya dengan menyebar fitnah seperti teman saya si Venus itu?”

“Begini, Mas. Syahdan di sebuah masyarakat yang tak pernah mendengar petuah agung dan penataran, di pedalaman Papua Nugini, orang menemukan cara yang lebih damai dalam bermusuhan. Inilah cara suku Tsembaga.

Di suku ini, perang biasanya terjadi karena sebuah pembunuhan. Klan pihak si korban tentu saja bersumpah untuk membalas dendam, an eye for an eye. Mata dibalas mata.

Tapi, ada aturan tertentu, ada protokol yang ketat, untuk melampiaskannya. Sebuah tantangan harus dikirimkan. Sebuah tempat pertempuran ditentukan.

Perang tak boleh segera dimulai. Beberapa hari lamanya waktu dihabiskan untuk mengunjungi medan laga itu dan membersihkannya lebih dulu dengan harapan emosi mulai mendingin.

Bila pertempuran siap, orang cuma boleh membawa lembing dan panah yang tanpa bulu. Masing-masing tak boleh segera menggempur: mereka hanya berteriak-teriak mengancam.

Kalau ini tak kunjung memuaskan, dan perundingan gagal lagi, perkelahian yang benar-benar baru berlangsung. Senjata yang dipakai diganti dengan kampak.

Tapi, sebelum kedua pasukan maju, harus dilakukan upacara korban dua ekor babi – yang tentu saja mahal. Dalam upacara ini para prajurit memakan daging yang sangat diasinkan, dan tak boleh minum: dengan akibat semangat tempur menurun.

Bila perang tetap tak bisa diurungkan, dukun kedua pihak pun menulis daftar pendek tentang siapa saja yang boleh dibunuh. Penyimpangan dari daftar ini akan bikin marah para roh halus. Setiap kali ada seorang yang gugur, gencatan senjata dinyatakan.

Sebelum perang dimulai lagi, korban dua ekor babi harus diulangi. Maka, perang pun, dengan manajemen rasa dendam yang seperti itu, tak akan jadi pilihan yang sering.

“Ah, indah betul kehidupan seperti itu, Paklik. Sayang, kita tak hidup di pedalaman Irian, err … Papua, bersama orang-orang Tsembaga. Kita hidup di tengah kota, tempat elusan di pundak, kritik yang membangun, sering kali ditafsirkan lain.”

“Barangkali begitulah kaidah hidup ini, Mas. Kritik selamanya lebih keras terdengar dibanding dengan ucapan selamat. Kritik bisa menimbulkan dendam, sedang pujian gampang dilupakan.

Inilah yang dialami oleh Macbeth. Dalam sandiwara Shakespeare itu, menjelang adegan akhir, ia berbicara sendiri kepada gelap:

Hidup hanya wayang yang berjalan
lakon yang meregang untuk satu malam
cerita yang dikisahkan oleh si bodoh
penuh riuh serta resah yang
tak berarti apa-apa …

Itu terjadi ketika ia mendengar isterinya mati gila oleh rasa dosa. Itu terjadi setelah semua yang ia tindas ternyata pada bangkit dan semua yang ia bunuh ternyata mengacungkan dendam.

Filsafatnya, akhirnya, adalah filsafat yang seram. Macbeth menjadi seorang nihilis. Ia merasa tak ada yang bisa dinilai dari hidupnya, tak ada yang bisa dikutuk atau dipuji dari perbuatannya, karena dasar untuk menilai itu tak diakui.

Hidup ‘tak berarti apa-apa’. Kekejaman boleh. Toh kelak itu akan dilupakan.”

“Wah, terima kasih banyak Paklik untuk pencerahan yang sampean berikan ini. Saya sekarang jadi lebih paham bagaimana mengelola dan menghadapi dendam. Nanti saya juga akan sampaikan pencerahan ini ke Venus, teman saya yang sering menyimpan dendam itu. Biar dia juga ketularan wisdom dan kebaikan sampean, dan menjadi telaga yang teduh, Paklik.”

§ 21 Responses to Dendam Pecas Ndahe

Tinggalkan komentar

What’s this?

You are currently reading Dendam Pecas Ndahe at Ndoro Kakung.

meta