Tommy Pecas Ndahe
Maret 8, 2007 § 22 Komentar
Ndak usah heran kalau dia bisa membujuk para petinggi hingga sudi turun tangan ikut melancarkan pengambilan duitnya di London, Inggris.
Lah wong ibu-ibu muda, janda-janda cantik, dan gadis-gadis bahenol pun kepincut pesonanya, apalagi cuma dua cecunguk kemaruk yang sangat merindukan rupiah.
Ndak usah heran jika hidupnya beruntung terus. Memang dia pernah dipenjara. Tapi, berapa banyak remisi yang diperolehnya — melebihi narapidana yang lain dengan masa hukuman sama?
Memang dia gagal membina rumah tangga. Tapi, berapa banyak lagi rumah tangga yang runyam gara-gara ulahnya?
Tapi, tak usahlah juga kita iri padanya. Kenapa?
Ya karena Everybody Loves Tommy. Karena semua orang terpesona, tersihir, oleh daya pikat wajah dan kekayaannya yang bertumpuk-tumpuk di gudang seperti Paman Gober itu.
Dialah sang Pangeran Cendana, putra kinasih Eyang Sepuh yang sakit-sakitan juga itu. Anak lanang, lelananging jagad. Masih muda, kaya, nggguanteng pisan. Kita pasti susah deh, kalau mau menandinginya. Pendeknya, dialah juaranya para juara di negeri ini.
“Ah, juara apanya, Mas?” tanya Paklik Isnogud yang saya ajak bicara soal Mas Tommy, pereli dan pembalap mobil yang tak pernah juara itu.
“Lah, iya to, Paklik. Tommy itu kurang apa coba? Harta? Duit? Perempuan? Ketenaran? Kegantengan? Kekuasaan? Apa lagi yang dia ndak punya?”
“Buat saya sih, dia bukan siapa-siapa. Mungkin karena sikap saya adalah sikap kuno yang datang dari pengalaman lain. Saya telah terlalu percaya kepada sejumlah pepatah (misalnya, “bersakit-sakit dahulu ….”), terlalu percaya kepada dongeng Horatio Alger, terlalu terkesima kepada kisah Pandawa yang 13 tahun hidup bermukim di hutan.
Saya ingat teman-teman segenerasi saya yang datang dari udik entah berantah. Ada yang jadi mandor di pelabuhan dan dari sana memulai bisnis lalu akhirnya kini jadi eksportir besar. Ada yang membuka hidupnya dengan menjadi penyabit rumput, atau pembantu tukang sate, atau pembantu toko kembang — dan dari sana naik jadi kisah-kisah sukses yang mengesankan.
Saya selalu merasa merekalah juara hidup yang sebenarnya.
Mereka biasa naik kendaraan umum yang seperti kandang ayam. Mereka biasa makan bersama tukang becak, dengan menu sayur tempe yang cair peyek ikan teri yang telah tiga hari selalu digoreng kembali. Mereka bisa menyelinap ke pasar loak — dan menjual kumpulan buku dan baju bekas, buat membayar bon makan mereka.
Mereka tak punya tempat merengek. Mereka malu untuk kembali mengetuk pintu rumah. Si bapak tak punya “koneksi”. Tak ada perlakuan istimewa untuk dapat jabatan ataupun hak monopoli.
Tapi (menurut sebuah pikiran saya yang tak orisinil) merekalah benih penting bagi masa seguyah kini: benih para jagoan Schumpeterian. Benih para entreprenuer yang sebenarnya — sebuah kata yang telah diterjemahkan menjadi wiraswasta yang artinya berani bekerja dengan tangan dan kaki sendiri, meskipun tak selalu dengan uang tabungan sendiri.
Merekalah para juara di mata saya. Tommy? Bisa apa dia?”
“Ah, sampean pasti cuma sirik aja ya, Paklik?”
Paklik diam saja dan tak menjawab pertanyaan saya. Seperti biasa, ia cuma tersenyum, lalu pergi.

Ah,… Ndoro pasti sirik sama si Tommy ya..??
ganteng? nggak ah. Munyuk pun akan jadi ngganteng kalo punya dhuwit banyak 😀
pendeknya …… apanya yang pendek ndoro??
wekss…tulisan ini pasti dipicu karena ditolak jandanya Tommy, si Mbak Tata itu. huehehe … udah ndoro, memang nasib kok, ga usah disesali…
Saya ndak sirik, tapi pengen banget jadi Tommy.
Ndak perlu juga jadi juara di mata pakliknya Ndoro.
Kalo bisa berenang-renang ke hulu juga ke tepian ya ndak opo tho? Dasare paklik Isnogoud dari grassroot kere, sirik aja lihat orang (gampang) kaya.
aku ra ngurus Tommy, tapi yo opo rondone kuwi? Masih adakah peluang untuk diriku 😛
Kita perlu belajar the rule-of-the-farm ya pakde? Bahwa kesuksesan dan kemahsyuran hanya bisa dicapai dari kerja keras dan keuletan.
padune kalah entuk rondo ki…wes golek rondo royal wae sing luwih enak 😀
gak ada yang sempurna di dunia ini, ya kan ndoro? begitu juga tommy (tampang ok mirip munyuk) he he he. dia kaya karena warisan ortunya yang super korup. coba aja hartanya ditenggelamkan oleh Allah lewat gempa and tsunami, pasti deh dia akan jadi kere mendadak. ya nggak ndoro, paklik isnogud?
eh, topi miring..?
aku gak suka tommy. wedokan. halah 😀
iri kalo sama hal-hal yang baiknya boleh-boleh saja ndoro..misalnya soal dia yang kaya raya, berprestasi di olahraga (balap, misalnya). jadi kita bisa termotivasi juga, ya ga?
Tommy ya Tommy yg mempesona itu..
GEDUBRAK … !! @@#$%%%$#@#$#@
mbuh luweeh….
paklik isnogud beneeer…ponten seratus…
yo ben to ndoro, sing anak-e wong sugih ben tetep sugih, sing anak-e wong kere ben mundhak dadi sugih, ben soyo akeh wong sugih ning indonesia….yen anak-e wong sugih disumpahi dadi kere, lha indonesia malah tambah akeh kere to ?
wah si tomi masih kalah sama Tukul, ndoro.
Tukul tiap hari masup tipi.. opo nggak hebat tuh?
tommy ki tapi pancen ngguanteng tenang kang, nggantenge ra angin2nan…wes jan…slreeepppp..ampe ngeces aku..hihik
Tommy berprestasi di olahraga ya Maruria? ooh…baru tau saya.. *bengong smbil mikir…kok saya gak pernah denger*
Lulusan S1 skrg kya lulusan sma, jd buruh contohnya saya ini, orangtua pontang panting nyekolahin pke meres keringat sm meres otak. Tommy lulusan mana ya?
*gak takut disomasi ndoro? ati2 lho…para pejabat itu cepat sekali tersinggung…
protes…masa dibilang ga pernah juara balap? balap mobil2an menang kali, tapi lawan anak kecil, mobil2an plastik.
ah, postingannya keduluan ndoro mulu… di pabrik kerja apa sih ndoro? pabrik blog ya? 😦
ha?tommy cakep?
dimananya??
*melototin poto tommy biar nemu cakepnya*
ngomongi tomi karo pandawa, tomi luwih mirip karo arjuna opo petruk yo.