Helipad Pecas Ndahe
November 20, 2006 § Tinggalkan komentar
Setelah Bush pulang dan meninggalkan ribuan aparat keamanan yang kuyu. Setelah lampu-lampu Istana Bogor padam dan yang tersisa hanya piring dan gelas kotor. Setelah ribuan pengunjuk rasa pulang dan tidur di rumah masing-masing dalam kepenatan. Apa yang sampean peroleh Ki Sanak?
Buat saya, ada satu pelajaran penting dari kunjungan Bush yang singkat kemarin, yaitu tentang betapa pentingnya bersahabat dengan alam [bukan Alam yang penyanyi itu ya].
Semua orang tahu bahwa Bogor itu kota hujan. Hampir setiap hari, terutama di musim hujan, air tumpah dari langit. Jika hujan turun, semua aktivitas udara menjadi sangat rawan.
Namun, para pembuat helipad tampaknya tak bersahabat dengan alam atau menimal pernah membaca tanda-tanda alam. Mereka nekat membuat tempat pendaratan helikopter meski sudah tahu bahwa hujan sangat berpotensi turun. Padahal jelas sangat berisiko mendaratkan helikopter dalam cuaca yang tak bersahabat, di tempat yang terbatas seperti di dalam Kebun Raya Bogor.
Akhirnya terbukti bahwa alam tak bisa dilawan. Hujan benar-benar jatuh. Helikopter yang membawa Bush terpaksa pindah tempat pendaratan di Stadion Padjadjaran yang lebih luas. Helipad yang dibangun dengan biaya tak sedikit itu pun akhirnya sia-sia.
Seandainya saja para pembuat helipad itu pandai membaca tanda-tanda alam, mereka tentu ndak usah repot mengacak-acak Kebun Raya Bogor. Mereka tak perlu menghadapi kritikan dari aktivis lingkungan. Ah, seandainya …
Tinggalkan komentar