Bencana Pecas Ndahe

November 24, 2006 § 1 Komentar

Pipa gas Pertamina di bawah lumpur PT Lapindo meledak. Tujuh orang meninggal karenanya, empat orang lagi hilang. Mungkin lebih. Apakah arti angka-angka ini, selain sebagai rekor kesedihan? Apalah arti statistik?

Bagi seorang komandan koramil, para lelaki yang terbaring hangus bersama rekan kerjanya, angka-angka itu berbicara dengan jangat yang terbakar. Ada napas yang dicekik asap, ada paru yang dirobek. Mereka telah memberikan suaranya dengan ajal, dalam suatu pemungutan pendapat untuk pembangunan tanggul penahan lumpur yang berubah menjadi bencana.

Tentang bencana, Paklik Isnogud pernah bercerita begini. “Dulu ya Mas, ketika Sodom berubah menjadi kota penuh kemaksiatan, Lut pun berdoa, ‘Tuhanku, tolonglah aku mengalahkan kaum yang berbuat kejahatan.’ Maka, suara gemuruh menimpa Kota Sodom pada waktu matahari terbit. Bumi terbalik, dan batu-batu keras turun bagaikan hujan. Sebuah bencana.

Quran mengingatkan kembali bencana itu. Perjanjian Lama juga berkisah tentang hujan belerang serta api. Dan sejak itu, Kota Sodom selalu dikaitkan orang dengan dosa dan hukuman. Khususnya: dosa tersendiri penduduk kota kuno yang namanya merupakan asal usul istilah sodomi itu.

Tapi, bencana sebetulnya tak selalu harus seperti itu, Mas. Berabad-abad yang lalu ada seorang yang cemas terhadap demokrasi. Namanya Sokrates. Hidup di abad ke-5 Sebelum Masehi, di Kota Athena yang waktu itu mengizinkan orang bicara bebas, Sokrates justru melihat bencana apa yang akan terjadi ketika setiap orang punya cukup kebebasan. Bencana, bagi Sokrates, bukan hujan batu, bumi yang terbalik, atau gunung meletus.

Sudah tentu Sokrates melebih-lebihkan “kegilaan” demokrasi: ia mengucapkan semua itu di depan Adeimentos yang tidak suka humor. Sebab, Sokrates toh tahu bahwa demokrasi di Athena punya aturannya sendiri. Bukti nyata ialah bahwa demokrasi ini juga yang menangkap Sokrates dan menghukumnya mati, dengan tuduhan, seperti dikemukakan dalam Pengadilan Sokrates I.F. Stone, filosof itu terlibat dengan orang-orang yang mengancam demokrasi.

“Maksudnya, wajah bencana itu aneka rupa ya, Paklik?”

“Betul, Mas. Tapi buat saya, apa pun bentuknya, bencana selalu melumatkan satu atau banyak kehidupan. Karena itu saya sering berandai-andai. Seandainya saya memiliki beberapa kehidupan, satu akan satu persembahkan kepada mereka, para korban bencana. Sayang Mas, saya cuma punya satu kehidupan.”

[A tribute to Mr. Zam]

§ One Response to Bencana Pecas Ndahe

  • avatar lekdjie tralala lekdjie berkata:

    dibalik semua duka,tersimpan hikmah
    yg kan mungkin menjadi pelajaran

    air mata-dewa19,smg tidak kliru,la wong ndak hapal

Tinggalkan komentar

What’s this?

You are currently reading Bencana Pecas Ndahe at Ndoro Kakung.

meta