Blok M Pecas Ndahe
Desember 7, 2006 § 12 Komentar
Dia tidur begitu saja di lantai. Nyenyak. Ia seolah tak terganggu oleh suasana di sekitarnya. Bising mesin Metromini yang meraung kencang, semburan asap knalpot yang bikin sesak paru-paru tak mampu mengusik. Satu-satunya tanda kehidupan hanyalah napasnya yang teratur. Selebihnya sepi.
Saya menemukan bocah ini di sebuah pojokan terminal bus Blok M, Jakarta, kemarin pagi. Wajahnya bersih. Begitu pula pakaian dan celananya. Ada semburat cat di rambutnya yang keriting. Saya tak tahu siapakah gerangan bocah itu, nama maupun asalnya. Saya tak tega juga membangunkannya dari tidurnya yang lelap. Oh, bocah. Siapakah engkau?
Anak sekecil itu berkelahi dengan waktu, pecahkan karang lemas jarimu terkepal …
Ah, saya seperti mendengar suara Iwan Fals yang serak itu menyanyikan Sore di Tugu Pancoran, Ki Sanak. Tapi, saya tak tahu apakah bocah itu “si Budi kecil” seperti yang disebut Iwan? Adakah dia bocah yang “menjual koran sore di malam hari demi mimpi yang kerap ganggu tidurnya”?
Saya cuma bisa menduga, bocah itu mungkin anak jalanan yang nirkampung, nirrumah, dan nirorangtua. Bisa jadi dia sekadar anak kampung yang kemalaman dan tak punya ongkos pulang. Karena itu, orang-orang tetap lalu-lalang tanpa memedulikannya.
Mudah-mudahan sih, dia bukan si anak hilang yang tak tahu ke mana arah pulang. Semoga.


Saya kalo lihat orang² yg bisa tidur di tengah kebisingan itu justru ngiri. Susah lho tidur di suasana kaya gitu.
Btw, udah sampe Blok M kok ga mampir ke kantorku :p
mesa`no mesa`no…kok endonesah yo koyo ngene..
bisa jadi anak jalanan yang nirortu lebih “beruntung” dari yang ortu. mereka punya “kebebasan”. ada ortu yang sengaja mengobyekan anaknya jadi anak jalanan. ketika hendak dipungut pemerintah, untuk disekolahken, ortu ini ndak setuju. kok ndak setuju? lah satu anak per hari 50 ribu je. kalo mau ambil anak kami, anda pemerintah harus bayar kami 50 ribu/anak/hari. apa nggak nggilani ini?
Kasihan… itu orang tua nya di mana yha?
itu ibu yang melahirkannya ke dunia sedang ke mana?
duuuhhh cek nelongso’ne
*inget adik di rumah, persis ama anak yg tidur di lantai terminal Blok M itu.
aduh masih anak anak
@Hedi
Saya saja yang di fatmawati ndak pernah disambangi kok.
Levelnya ndorokakung sudah bos-bos sih…
:p
@Andry
Ndoro makin sibuk dengan program merakyatkan blog hehehe…
trenyuh saya kalau melihat anak seperti itu…
orang tidur dipoto2…orang ngamen dipoto2…, mmm…potograper ya mas? :p
@yati iya tuh Ndoro potograper khusus blog :p
halo ndoro kakung … salam kenal iya … (tapi sepertinya dah kenal deh) ….
semoga bukan cucunya ndoro kakung yang dijewer dan diseneni ndoro kakung. 😀