Aceh Pecas Ndahe
Desember 13, 2006 § 6 Komentar
Untuk pertama kalinya rakyat Aceh memilih kepala daerahnya sendiri. Setelah melewati proses pertarungan yang demokratis dan sah, ternyata calon-calon pemimpin dari kalangan bekas anggota Gerakan Aceh Merdeka unggul untuk sementara. Ada yang tenang, ada yang hatinya rusuh.
Yang tenang — tapi mungkin dengan perasaan yang tak menentu juga — mengatakan, “Kita harus menerima hasil itu. Ini demokrasi, Bung!”
Yang penuh curiga dan perasaan waswas berujar, “Wah, jangan-jangan nanti mereka minta merdeka?”
Bagaimanapun, Aceh negeri yang gundah dan tercabik-cabik itu telah menentukan garis tangannya sendiri. Suka tak suka, sejarah baru saja tertoreh. Dan Paklik Isnogud — yang begitu antusias membaca perkembangan di Serambi Mekah itu — meminta saya menemuinya untuk, “Ngobrol-ngobrol sini, Mas. Sudah lama rasanya saya ndak ketemu sampean.”
Tentu saja dengan takzim saya memenuhi permintaannya. Siapa yang berani menolak?
Paklik ternyata mengaku punya cerita yang menarik tentang Aceh di masa lalu dan menuturkannya tadi sewaktu kami akhirnya berjumpa di sebuah pojokan pabrik. Kami duduk berdua di bangku bambu panjang (lincak). Paklik memakai sarung yang sudah rada apek, tanda sudah lama tak dicuci.
“Sampean tahu, Mas?” Paklik memulai kisanya dengan pertanyaan. Anthony Reid, seorang ahli sejarah dari Australia, pernah menulis Trade and the Problems of Royal Power in Aceh.”
Tentu saja, seperti biasa, saya cuma bisa menggeleng. Membaca buku sejarah itu suatu kemewahan buat saya di tengah sempitnya waktu kerja di pabrik dan mengawasi bedes-bedes di rumah. “Saya belum pernah baca buku itu, Paklik. Mbok ya sampean saja yang ngasih tahu saya apa isi buku itu.”
“Hehehe…. Baiklah, Mas. Begini ya. Di abad ke-16, demikianlah kisah Reid, Aceh dibangun jadi sebuah negara yang kukuh oleh Ala’ad-din Ri’ayat Syah al-Kahar. Aceh menguasai perdagangan antara bandarnya dan Laut Merah. Pada 1567, al-Kahar membentuk aliansi dengan Turki.
Tak diketahui persis bagaimana perdagangan yang sibuk itu diorganisasikan: seberapa besar kekuasaan dan bagian Sultan, sejauh mana pula hak-hak para saudagar. Tapi tampaknya, tanpa pedagang-pedagang yang aktif di seantero Selat Malaka, yang kemudian berdiam di Aceh, proses ekspor dan impor abad ke-16 itu tak akan sedemikian mengesankan. Dan mungkin cuma bakal sebentar.
Agaknya, dari kalangan saudagar yang masuk ke dalam sistem kenegaraan Aceh itulah kemudian muncul satu kelas atas tersendiri: kelas ‘orang kaya’.
Apa pun artinya, pelbagai catatan Barat melukiskan betapa istimewanya lapisan sosial ini. Mereka umumnya membiarkan kuku ibu jari dan kelingking jadi panjang — suatu tanda bahwa mereka tak pernah melakukan pekerjaan tangan.
Augustin de Beaulieu bercerita bagaimana para orang kaya itu hidup dalam kemewahan, di rumah-rumah besar yang memasang meriam di depan pintu. Mereka memelihara sejumlah besar pelayan dan penjaga.
Yang lebih menakjubkan ialah kekuasaan mereka, terutama sebelum akhir abad ke-16. ‘Para orang kaya memiliki kekuatan yang sedemikian besar, hingga apabila mereka capek dengan pemerintahan seorang raja, mereka pun membunuhnya untuk segera menobatkan seorang raja lain.’
‘Beruntunglah,’ tulis Beaulieu seraya melebih-lebihkan lukisannya di sana-sini, ‘jika seorang raja dapat tetap bertahta untuk dua tahun.’
Perimbangan kekuasaan yang sedemikian itu bisa siapa tahu bermanfaat. Seorang Sultan dengan begitu tak akan punya kekuasaan mutlak. Sumber-sumber wewenang dan ekonomi bisa lebih tersebar. Orang kebanyakan bisa mendapatkan alternatif-alternatif lain untuk memperoleh perlindungan.
Tapi, ternyata kekuasaan besar para orang kaya di masa itu tidak berhasil melembagakan suatu perimbangan kekuatan yang bisa jadi basis pemerintahan yang mantap. Aceh terguncang-guncang terus.
Kemudian tibalah raja baru, al-Mukammil, pada 1589. Bandul jam pun berbalik. Sang raja inilah yang dengan cepat ganti membasmi orang kaya dari sekitarnya. Beaulieu mengutip al-Mukammil yang menjelaskan kenapa ia berbuat begitu drastis: ia tak mau rakyat menderita karena pertikaian yang terus-menerus di kalangan atas.
Demikianlah, seorang raja yang absolut telah tampil. Dan puncaknya terjadi ketika seorang Sultan muda yang cemerlang naik takhta antara 1607 — dan 1636: Iskandar Muda. Ia menaklukkan Sumatera Timur dan Malaya, guna menguasai hasil bumi untuk ekspor. Ia memaksa pedagang asing harus lebih dulu berurusan dengannya sebelum menawar di tempat lain. Dan ia, yang memegang sejumlah besar penjualan lada, mendesak mereka untuk membeli dagangannya dengan harga tinggi.
Para penulis sejarah Aceh tentu saja melukiskan Iskandar Muda sebagai penguasa yang agung. Sultan ini memang berhasil membuat Aceh sebuah negeri yang kuat dan rapi. Ia mengontrol tiap gerak para bangsawannya, seperti yang dilakukan Shogun Tokugawa waktu berkuasa di Jepang.
Anthony Reid bahkan membandingkan Aceh di bawah Iskandar Muda dengan bangkitnya negara ‘modern’ Eropa setelah feodalisme runtuh. Tapi Reid juga mencatat bahwa kekuasaan mutlak Iskandar Muda ternyata tak mendapatkan padanan dengan usaha perdagangan swasta.
Orang-orang asing, yang lebih banyak bergaul dengan mereka yang di luar istana, yakni para saudagar setempat dan para pejabat, mencatat betapa penuh ketakutannya orang-orang ini. Para saudagar Aceh sendiri bahkan lebih buruk nasibnya dibanding dengan saudagar pendatang. Dalam catatan Beaulieu, Iskandar Muda ‘memperoleh laba besar dengan menyita barang-barang orang yang ia bunuh tiap hari …’
Sejarah Aceh, tentu saja, tak berhenti pada Iskandar Muda. Tapi, raja ini konon membinasakan para calon penggantinya sebelum ia sendiri mangkat. Tak ayal, ia meninggalkan Aceh yang semakin lemah. Seorang otokrat yang tak mau disaingi siapa pun, memang pada akhirnya tak menyiapkan Aceh yang lebih jaya.
Dan, sementara di atas takhta penguasa-penguasa kian tak bermutu, di luar istana, ada lubang yang menganga gersang, dan nyaris kosong. Monopoli itu telah menguras sumber daya yang dulu pernah tersimpan dan berkembang, di dasar-dasar sosial ekonomi negeri Aceh. Keadaan kian parah ketika Eyang Kakung memimpin negeri ini.
Makanya Mas, sekarang senang melihat apa yang terjadi di Aceh. Saya berharap rakyat di sana bakal segera meraih apa yang selama ini tak mereka dapatkan. Dan semoga ndak ada yang aneh-aneh lagi.”
Terus terang saya tak bisa berkomentar apa pun setelah Paklik Isnogud menyelesaikan ceritanya. Soalnya saya tiba-tiba ingat tadi sedang memasak air di dapur sebelum bertemu Paklik. Maksud hati mau membikin kopi buat Paklik.
“Adoh! Sik, sik, Paklik. Saya mau mematikan kompor dulu,” saya berlari meninggalkan Paklik yang hanya bisa terdiam dalam terbengong.

jangan lama-lama matiin kompornya pakdhe..saya tunggu lagi ceritanya..paklik isnogud ndak mulai kalo pakdhe ndak ado…
Irwandi menang, eh Ryas Rasyid khawatir GAM muncul lagi. Jebule, Ryas tim sukses salah satu calon…whalah…wong kalah kok mesti ngono yo, golek wedhus ireng :p
Omong-omong tentang Pilkada Aceh..
Bisa di lihat di Save Our Nation – Metro TV, malam ini jam 20.00.
Eh.. telat yaa.. comment-nya.. mepet on-air banget huihihi …
Kok beda ceritanya sama pelajaran sejarah di S3 (SD-SMP-SMU)?
Menurut pelajaran sejarah, Sultan Iskandar Muda adalah Sultan terbesar Aceh yang baik budi. Kenapa kok beda ya?
mohon, sejarah aceh tidak berpedoman pada satu atau dua referensi agar cerita anda lebih rasional
jelasin juga dong kenapa sultan membunuh anak nya sendiri, jangan ambigu. setahu saya, sultan membunuh anaknya karena ia mmenegakkan hukum yang berlaku waktu itu, anaknya terbukti berzina, jadi mau tidak mau sultan menghukum anaknya sendiri. orang lain kalo berzina dihukum pancung, ia juga berlaku adil dengan melakukan hal yang sama. emangnya sekarang………………………………………………………………………………………………………………