Homoseksual Pecas Ndahe

Desember 19, 2006 § 24 Komentar

Beginilah nasib pengamen blog: Harus siap setiap saat memenuhi permintaan juragan-juragan. Kalau pengamen di Blok M caranya ya dengan menyanyikan lagu kesukaan sang juragan, di ranah blog ini saya [terpaksa] menulis topik sesuai permintaan ndoro-ndoro juragan para pembaca sekalian … 🙂

Tapi, beginilah adab di jagad blog. Reader is the king — terjemahan ngawurnya: pembaca adalah raja. Berat ndak berat, ya saya berusaha memenuhi keinginan para raja itu. Bahwa hasilnya ndak sesuai keinginan itu risiko para raja, bukan saya. Karena para raja, juga patihnya, itu seperti yang pernah ditulis Ranggawarsita dalam Serat Kalatida

Ratune ratu utama
patihe patih linuwih
pra nayaka tyas raharja
panakare becik-becik ….

[Sebenarnya rajanya termasuk raja yang baik, Patihnya juga cerdik, semua anak buah hatinya baik, pemuka-pemuka masyarakat baik, namun segalanya itu tidak menciptakan kebaikan]

Nah, demi memenuhi keinginan raja dan patih itu, Sir Mbilung dan Queen Mary Anne, saya terpaksa mencari Paklik Isnogud. Saya mau bertanya tentang Serat Centhini yang mereka minta.

Serat Centhini? Wah, itu maha karya lawas, Mas. Kenapa sampean tanya?”

“Yah, buat nambah pengetahuan saja, Paklik. Boleh, kan?”

Tentu saja pantang saya memberitahu motif yang sesungguhnya kepada Paklik. Lah wong dia itu ndak kenal Sir dan Queen je. Nanti dia malah takon sing ora-ora.

“Boleh saja. Tapi sebatas yang saya ingat ya, Mas. Soalnya, karya itu boleh dikatakan sebagai ensiklopedi mengenai ‘dunia dalam’ masyarakat Jawa. Sebagaimana tercermin dalam bait-bait awal, serat ini ditulis memang dengan ambisi sebagai perangkum baboning pangawikan Jawi, induk pengetahuan Jawa.

Serat itu meliputi beragam macam hal dalam alam pikiran masyarakat Jawa, seperti persoalan agama, kebatinan, kekebalan, dunia keris, karawitan dan tari, tata cara membangun rumah, pertanian, primbon (horoskop), makanan dan minuman, adat-istiadat, cerita-cerita kuno mengenai Tanah Jawa dan lain-lainnya. Lah sekarang saya disuruh cerita isinya, bisa sehari semalam.”

“Ndak apa-apa, Paklik. Yang singkat saja, dari sudut pandang sampean.”

“Oh kalau begitu ya bisa, Mas. Dalam kapasitas otak yang mulai cekak ini, samar-samar saya cuma ingat Centhini itu sebenarnya juga berbicara tentang bagaimana homoseksualitas yang jalan terus. Di situ ada, misalnya, kisah perjalanan Mas Cebolang.

Ada satu adegan dalam buku panjang itu: bagaimana Bupati Wirasaba melakukan hubungan seksual dengan Mas Cebolang alias Mas Ngali, seorang putra pertapa yang tengah mengembara di abad ke-17.

Namun, nada Centhini bukanlah nada kutukan. Memang tersirat sedikit sikap main-main. Centhini menyebut hubungan seks itu dengan istilah jambu dan jinambu – mungkin ada hubungannya dengan buah Eugenia malaccensis. Ki Adipati pada akhirnya dikisahkan sebagai pihak yang kesakitan, tepatnya pada anus.

Apa yang dilakukan Mas Cebolang, baik ketika ia ‘dijambu’, maupun ketika ia ‘menjambu’, tampaknya dimaksudkan sebagai sebuah ilustrasi keunggulan.

Jambu-menjambu itu hanyalah sekadar variasi, karena baik Ki Adipati maupun Mas Cebolang bukanlah orang-orang homoseksual 100 persen. Memang, Cebolang digambarkan sebagai pemuda yang cantik, satuhu lamun binagus/lir lanyapan munggeng kelir/amung pasemone wadon.

Dengan kata lain, rupawan, bagaikan tokoh wayang, dengan raut muka kewanita-wanitaan. Tapi petualangan seksualnya, sebagai pria sejati, dikisahkan dengan bersemangat pula oleh Centhini.

Homoseksualitasnya dengan demikian hanya satu elemen dalam keserba-bisaannya. Cebolang pintar dengan kekuatan magis, ia kuat berpuasa dan ia – yang diiringi empat santri – bersembahyang pula. Sang pelaku sodomi pada akhirnya tetap utuh sebagai tokoh yang terhormat.

Sikap Centhini dalam episode itu mirip dengan sikap para perekam kehidupan Yunani di zaman Socrates, ketika orang tanpa risi tanpa malu berhubungan dengan perempuan dan lelaki sekaligus.

Tapi, yang sedemikian itu jelas tak berlaku buat semua tempat, di setiap zaman. Berapa tahun Rock Hudson harus menyembunyikan diri sebagai homoseksual, agar ia tetap diterima khalayak yang ‘terhormat’?

Cinta adalah putus asa.

Itu kata-kata Jean Genet. Orang ini mungkin homoseksual pertama abad ke-20 yang membentangkan diri sebagai dirinya: seorang sodomis, dan sekaligus seorang kriminal, yang hidup dari penjara ke Penjara. Pada akhirnya ia jadi penulis.

Filosof Jean-Paul Sartre menyebutnya, setengah serius, sebagai Santo Genet. Genet memang kemudian diterima baik oleh ‘orang baik-baik’. Tapi seperti dikemukakan Sartre dalam studinya, perjalanan novelis, penyair, dan dramawan dari sel gelap ini memang sunyi, ngeri. Jalan ke luar tak ada.

Kisah cinta Genet adalah kisah perbudakan. Aspek lain dari seksualitasnya adalah kebencian. Ia berseru, dalam satu novelnya, sendu, ‘Oh, para pria itu, kubenci mereka dengan penuh cinta!’

Genet, seorang homoseksual pasif pada mulanya, hanya menerima. Dan pada saat ia berubah menjadi pihak yang aktif, ia tak sepenuhnya merasakan kebahagiaan.

Kesunyiannya, pada suatu masa, begitu lengkap. ‘la temukan di mana pun juga lokan-lokan kosong,’ tulis Sartre, ‘mayat-mayat, rumah yang ditinggalkan.’

Kesepian itu tak juga berakhir, ketika Genet bebas dari penjara, termasyhur, dan hidup bersama sebuah keluarga.

Barangkali itulah sebabnya seorang homoseksual tenar lain menyelesaikan soalnya dengan lebih drastis. Dia Mishima – orang yang mengisahkan ejakulasinya yang pertama ketika ia, sebagai anak kecil, melihat gambar setengah telanjang Santo Sebastian yang terbunuh anak panah. Di ujung hidupnya Mishima bunuh diri dengan pedang. Bersama seorang pemuda.

Saya tak tahu akan begitulah seterusnya, dengan atau sonder AIDS, lanjutan kisah tentang kaum homoseksual. Tokoh-tokoh baru mungkin akan muncul, telaah baru mungkin akan bertambah, dan kita mungkin akan berpikir: apakah sebenarnya yang kita hadapi? Sebuah penyelewengan? Sebuah kelompok minoritas yang dianggap menjijikkan? Sebuah tragedi? Jangan-jangan ini zaman edan.

Masalahnya Mas, percaya atau tidak kita kepada riwayat manusia sebagai lingkaran yang berputar, zaman edan nampaknya selalu berulang kembali. Kemarin, kini, dan juga nanti, suatu tahapan akan seperti yang ditulis Ranggawarsita dalam Serat Kalatida:

Mangkya darajating praja
kawuryan wus sunya-ruri,
rurah pangrehing ukara,
karana tanpa palupi …

“Wah, ceritanya bagus, Paklik. Matur nuwun sampean sudah sudi mendongeng buat saya. Saya permisi dulu, Paklik.”

“Monggo, Mas. Saya juga mau kerja lagi.”

Kami berpisah di tikungan depan pabrik. Saya berjalan dengan bersiul-siul lega karena sudah memenuhi permintaan raja dan patih yang trembelane itu … 😀

§ 24 Responses to Homoseksual Pecas Ndahe

  • avatar nana nana berkata:

    wooo cebolang sing minggat iku sodomis to ndoro? *ngga nyambung*

    hebat ih paklik isnogud menyambungken cebolang yang minggat dengan sartre. saya aja baca yang versi pop pake bahasa indonesia udah kram otak. serat centhini. kenapa ada di perancis? tanya kenapa?

    makasih paklik. ndoro. kapan sambungannya?

    kapan sambungannya? ya mbesuk-mbesuk yen ono rejaning dino .. 😛

  • avatar Alex Budiyanto Alex Budiyanto berkata:

    Baru jalan2, eh tersesat disini 😀
    Ndoro, pintu keluar-nya sebelah mana yah 😕

    pintu keluarnya itu yang ada tulisane exit … 😀

  • avatar Mbilung Mbilung berkata:

    ayooo paksa paklik isnogud buat ngoceh soal centini dengan foucault, hubungan warok – gemblak, teruuuusss ndoroooo

    terus? wah iso modyar aku …. 😀

  • avatar dewi dewi berkata:

    wah..untuk satu postingan ini perlu brapa lama ngabisin waktu baca ulang serat centhini, ndoro?

    eniwei, ga rugi. karena dari serat centhini bisa ke generasi2 selanjutnya.

    bukan saya yang mbaca kok, itu paklik isnogud. saya cuma menuliskan dongengan paklik buat sampean. 🙂

  • avatar kenny kenny berkata:

    ndoro..serat kalatida, artine kepriye??diartik ke nggo boso jowo modern wae 😉

    budhe buka kamus saja yo … 😀

  • avatar kenny kenny berkata:

    sing terakhir kuwi lho ndoro…

  • avatar bu guru bu guru berkata:

    wah besuk besuk boleh itu mengupas saridin mokong ndoro 😀

    ini masih bersambung to ndoro?

    sariding mokong ki ledek munyuk yo? 😀

  • avatar amole amole berkata:

    ndoro…hebat nih bisa nulis terus…ajarin aku donk…cara nulis yang bagus……hehehehehehe

  • avatar Luthfi Luthfi berkata:

    nah, lhoh .. berat™ nihhhh postingannya …. 🙂

    bukan loh aku mas. itu yang bertanggung jawab sir sama queen … 😀

  • avatar tingtung tingtung berkata:

    Ini mbah..mugo2 sik eling:

    Mingkar-mingkuring angkoro
    Akarono karenan mardi siwi
    Sinawung resmining kidung
    Sinubo sinukarto
    Pakertening ilmu
    Agomo ageming aji
    Gyoh dumilah mangulah ngelmu bangkit
    Bangkit mikat reh mangukut
    Kukutaning jiwanggo
    Yen mangkono keno sinebut wong sepuh
    Liring sepuh
    Sepi howo awas loroning ngatunggil

  • avatar Blanthik Ayu Blanthik Ayu berkata:

    wuih..mantab tenan postinganne ndoro…monggo dilajengake “kemecap kepedesan nguntal rujak jambu”

    o kirain abis nguntal cecak … 😛

  • avatar atta atta berkata:

    wah saya jadi ingat Landung Simatupang
    dulu beliau pernah baca Empat Puluh Malam dan Satunya Hujan, karya Elizabth D. Inandiak di Bentara Budaya
    😉

    atta, kamu mengingatkanku pada sara teasedale … 😀

  • […] Sambil blogwalking, mapirlah ke postingan ndoro kita yang membahas homoseksual itu. Tetapi apa lacur, yang aku dapatkan adalah tampilan seperti ini: […]

  • avatar jt jt berkata:

    mbok yao nanti kalo selo, selain Serat Centhini, dan Serat Kalatido, Ndoro Kakung juga ndongeng Serat Optik. 🙂

    selain sodom, ada cerito sado ato fedo-nya nggak di serat centhini Ndoro?

  • avatar kaipang kulon kaipang kulon berkata:

    Ndoro kakung, sampean kan ngak sedang promosi homosex itu sudah ada dari dulu dan karena itu oke-oke saja kan?

    just read between the lines … 😀

  • avatar kw kw berkata:

    dear ndoro,
    menark sekali bahasannya. saya pernah baca serat centhini bahasa indonesia yang 4 jilid itu. namun yang saya tangkap cuman pengalaman seksual belaka.

    nah mungkin ndoro kakung bisa mengurai dari sisi spiritualnya?

    terimakasih

    terima kasih juga untuk penghargaan sampean mas, tapi maaf saya bukan pembahas spiritual. coba nanti saya tanyakan ke paklik isnogud ya, mungkin dia bisa — dan mau. 🙂

  • avatar dodski dodski berkata:

    oalaah… pecah tenan ndasku moco iki… ora mudheng 😛

  • avatar wong ganteng wong ganteng berkata:

    Ndoro.. samakah mishima yang dimaksud disini dengan Yukio Mishima (Hiraoka Kimitake)? yang emang bercita2 mati bertusukkan pedang oleh.. dirinya sendiri ..hm..

    btw, ejakulasi abis ngeliat gambar setengah telanjang orang yang ketusuk panah keren juga.. hmm ejakulasi yang aneh

    sama. memang dia orang yang aneh kok … 😀

  • avatar wong ganteng wong ganteng berkata:

    tapi emang sih, gaya sebastian ketusuk panah di leher sambil keikat dipohon emang seksi ..hahaha..

    lebih seksi mana dibanding ini ? 😛

  • avatar wong ganteng wong ganteng berkata:

    ahahaha.. dia mah ga usah ketusuk panah dan keiket di pohon juga udah seksi kok, tidakkah ndoro rasa begitu? ..ehm ehm..

    gak tau ya. kalo aku ngaku, ntar ketahuan kalo dulu … 😛

  • avatar wong ganteng wong ganteng berkata:

    hmm.. tapi menurut dara satu itu sampeyan lebih seksi daripada santo sebastian 😀 saya sih maggut2 iri hati..

    wakakakak … anjrit siah … 😀

  • avatar cah klaten cah klaten berkata:

    hayo ndoro gimana sekarang nulis tentang suluk wujil e sunan bonang??
    lha nggih ta, reader is the king??
    kula mboten meksa lo ndoro, menawi njenengan nyerat nggih matur nuwun….. idhep2 nyebar kawruh mring liyan…

    ndoro kakung: kowe ra mesakke aku pa piye, wis ra mbayar njaluk terus..???
    cah klaten: mboten niku…?? 🙂
    cucian deh…

    sampean mau nyuci pakaiane sopo to? 😀

  • avatar aung san aung san berkata:

    Masyaallah Ndoro, ilmunipun kok inggil sanget to, sanes wekdal menawi kerso nyerat Bab Warok kaliyan Gemblak, dalem jamin tambah seruuuu, dipun tambah bumbu saking Centhini……
    Nuwun…..

  • […] blogwalking, mampirlah ke postingan ndoro kita yang membahas homoseksual itu. Tetapi apa lacur, yang aku dapatkan adalah tampilan seperti […]

Tinggalkan Balasan ke nana Batalkan balasan

What’s this?

You are currently reading Homoseksual Pecas Ndahe at Ndoro Kakung.

meta