Senpi Pecas Ndahe
Desember 20, 2006 § 9 Komentar
Perlukah orang sipil bersenjata api? Tanyakanlah pada pak polisi. Menurut Kepala Polisi RI Jenderal Sutanto, memegang senjata api itu seperti memelihara harimau. Salah-salah bisa menerkam pemiliknya.
Makanya, Pak Jenderal dan pasukannya secara bertahap menarik senjata api dari tangan warga sipil. Lah, terus bagaimana orang ramai membela diri ketika jiwanya terancam? Ya pakai gas air mata saja katanya.
Wah, boleh juga tuh idenya. Dari dulu saya tak setuju orang sipil pegang senpi [istilah pulisi untuk senjata api]. Sudah terbukti orang sipil bersenjata api tak menurunkan angka kriminalitas. Saya malah semakin khawatir kasus salah tembak kian banyak gara-gara semakin banyak orang tolol berpistol.
Sampean boleh ndak setuju dengan pendapat saya. Tapi, sebelum sampean berkomentar, marilah kita mendengar barang sejenak apa kata Paklik Isnogud tentang persoalan ini. Tadi saya sempat bertanya ke Paklik, apakah sipil perlu bersenjata api. Apa jawaban Paklik?
Eh, Paklik malah ganti bertanya, “Perlukah Gepeng bersenjata?”
Saya pun menjawab, “Lah ya ndak tahu, Paklik. Sampean kok malah mbales tanya ki piye?”
“Jawabannya tidak, Mas,” kata Paklik.
Kemudian ia berkisah tentang Kebo Ijo. Di Tumapel pada abad ke-13, pemuda yang bernama Kebo Ijo itu juga celaka karena ia memamerkan sebuah senjata: sebilah keris yang elok, dan mungkin sakti. Keris itu kemudian ditemukan sebagai alat pembunuh sang kepala daerah, sang akuwu. Kebo Ijo sebagai akibatnya dihukum mati. Padahal, ia memakai keris bukan untuk menteror. Ia memakainya — mungkin seperti Gepeng atau sopirnya lebih dari 700 tahun kemudian — untuk berlagak.
Sampean tentu masih ingat kan ketika pelawak Aris Fredy alias Gepeng ‘Si Untung Ada Saya’ itu ditangkap polisi Solo gara-gara sopirnya membawa-bawa pistol milik Gepeng di rumah biliar, Mas? Kira-kira kejadiannya pada 1980-an.
Rupanya memang ada masa ketika senjata bisa jadi alat jual tampang, seperti kumis atau destar. Rupanya ada suatu ketika orang menerima keris atau pistol atau lainnya sebagai lambang keunggulan. Di Jawa pernah orang mengatakan bahwa lelaki sejati harus punya empat hal: perempuan, burung, kuda, dan keris.
Senjata sebagai lambang suatu sukses agaknya memang tak terelakkan dalam masyarakat yang mengagungkan kejantanan, karena umumnya kaum prialah yang menguasainya. Dalam semangat machismo itu perempuan harus dengan mudah dipeluk dan alat berkelahi dengan mudah dipertunjukkan.
Namun, berbeda dengan atribut-atribut machismo yang lain — sederet pacar atau sebuah sepeda motor Harley Davidson, sepotong jaket kain kasar atau sebotol bir, senjata juga bisa jadi lambang tingkat sosial-politik.
Tentu saja ini ada dalam suatu masyarakat, ketika benda itu merupakan benda langka yang hanya dipakai oleh kalangan atas, dengan semacam kepercayaan: ia bisa membikin orang lain merunduk. Ia bisa membuat para pengganggu keder, juga bila sang ‘pengganggu’ itu hanya seorang ‘polisi cepek’ kurus yang mau menertibkan jalan.
Seperti keris dari abad ke-13 dan sesudahnya, alat bertempur pada masa-masa tertentu bisa jadi obyek snobisme. Ia idaman mereka yang hendak naik tingkat, dengan pelbagai hiasan lahiriah, ke dalam the previleged few.
Seorang snob memang seorang yang selalu dengan susah payah menghindari diri dari menjadi orang kebanyakan: Kebo Ijo adalah seorang snob. Gepeng adalah seorang snob. Kita umumnya juga snob, yang ikut-ikutan memakai kalung Bvlgari ketika orang-orang terpandang mengalungkannya di leher, dan mencopotnya ketika orang justru ramai-ramai membelinya.
Namun, senjata berbeda dengan kalung Bvlgari. Ia punya fungsi lain: ia jalan nyata ke arah kekuasaan. Mao, seorang Marxis yang seharusnya percaya betul kepada kekuatan massa, toh mengakui:
“Kekuasaan lahir dari laras bedil.”
Barangkali itulah sebabnya, dalam sejarah, pemilikan senjata menghasilkan suatu wewenang — dan lahirlah suatu kelas di atas yang bisa mengontrol, mengatur, dan memungut.
Di Jepang, kita mengenal kaum samurai yang beratus-ratus tahun mengkhususkan diri dalam keahlian di bidang senjata dan kekerasan, dengan itu dapat hidup tanpa memproduksikan pangan atau pun barang lain yang mereka konsumsikan. Di India lahir kasta kesatria — kelas prajurit yang kemudian juga jadi kelas para raja.
Masalahnya kemudian, siapa yang mengatur? Siapa yang diatur?
Tentang senjata dan kekerasan, saya ingat Musashi, Mas. Dalam kisah samurai Jepang yang legendaris itu, saya tahu bahwa satu-satunya cara untuk tetap hidup ya melalui proses yang mengerikan.
‘Jalan pedang’ yang ditempuhnya hanyalah kata penghalus untuk kehidupan antara dibabat atau membabat, dipancung atau memancung, disodet atau menyodet. Bukankah Kitab Lima Cincin yang ditulisnya itu pun tak lain sebuah buku petunjuk bagaimana untuk jadi brutal dengan sistematis?
Mungkin memang itu yang diperlukan dalam hidup yang nyata. Dalam kehidupan kita sehari-hari, apa boleh buat: yang menang pada akhirnya yang benar. Might is right. Sejak kita bersekolah di SD — dengan Pak Guru yang sangat berkuasa dan karena itu selalu benar — kita sudah diajar bagaimana celakanya berada dalam posisi yang cuma menampung ludah orang.
Maka, tak heran bila kita sendiri pun, dalam kehidupan sehari-hari, kadang suka melamun kepingin jadi John Wayne, jago tembak tanpa tanding dalam film koboi masa lalu. Terutama ketika kita mengkal, merasa digampari, diteror, disia-siakan, dan disikang-sikang.
Tapi, memang ada peradaban yang melunakkan wajah kita ke luar. Ada memang rumusan nilai-nilai luhur dan penataran P4, yang memberitahu agar kita tidak cepat naik darah, mencintai harmoni dan orang sabar dikasihani Tuhan.
Ada buku-buku aneh tulisan Karl May, yang berkisah tentang ‘daerah Barat yang biadab’ dan sang jagoan, Old Shatterhand, toh tak mau membunuh siapa pun biarpun dia penembak ulung.
Ada juga sesuatu yang mungkin naluri, untuk memahami bahwa bila setiap orang bertindak seperti John Wayne atau Clint Eastwood dalam film, hidup akan tambah sukar bagi anak kita.
Soalnya kemudian, siapa yang berhak jadi Clint Eastwood dan siapa pula yang memberi hak demikian?
Jawabannya mungkin sukar, Mas. Tapi, tontonlah satu seri panjang film silat dan baca koran tiap pagi, mungkin sampean akan menemukan ini: might is right. Yang kuat yang menang.”
“Jadi kesimpulannya orang sipil memang sebaiknya ndak perlu bawa senpi ya, Paklik?”
“Ah, sampean ki kok senengnya minta sesuatu dengan jelas, ada penegasan, maunya serba hitam-putih. Ndak bisa gitu, Mas. Tapi yo terserah sampeanlah, Mas … ”
“Loh, Paklik ini bagaimana to? Saya kan … Paklik …. Paklik … Sik, sik, sik … Paklik! Welah, malah minggat. Nesu ki ketoke. Asem tenan!”

pertamaxxx…
wah kalau pistol saya gimana nih?
ilmu itu kalau dipegang orang yang salah maka akan menjadi celaka… contohnya pistol ini.. kalau salah orang maka akan membahayakan orang lain…
sudah lah, jangan main tembak-tembakan. kita ngeblog sajaaaa :p
watu iku senjata bukan ndoro… wong kalo liat wong tawuran ko’ pada nguncal watu tuh untuk semjatanya…
nek nesu mbok di rayu paklie… ataw mungkin wes pecas ndahe di takoni terus… 🙂
Ini bisa kembali ke diskusi para filsuf dan pendekar perdaiaman.
Mereka sering bertanya (pada diri sendiri), jika mau aman mengapa harus ada senjata, pasukan keamanan dan sebagainya?
kog yo seneng tembak2 an tho yo..yo, cekelan tangan kan malah kepenak, pak lik kog yo purik seh, durung rampung critone barang..
haiyo..yang megang senpi mestine pulisi saja. itupun bukan sembarang pulisi..kalo sembarang pulisi pegang senpi, nanti asal dar der dor
kira-kira senjata bisa musnah dari muka bumi nggak, paklik?
pistol cuman sebagai besi tua yang tak berguna..kapan u yang punya pistol gunakan pistoll..nih pisto kepala kalau bisa… ntar kelaur slogan PECAH NDASE SIMBAH
Lah kalo penjahat bisa pegang pistol, orang baik juga mesti bisa pegang pistol untuk melindungi diri to ya? Ya to?
Kayak katanya Julius Caesar, “kalo mau damai siap-siap perang.”
Ato katanya siapa ya ini?
“Sebuah keramahtamahan dengan senjata lebih baik dari sebuah keramahtamahan.”