Saddam Pecas Ndahe

Januari 3, 2007 § 17 Komentar

Ada satu peristiwa besar yang nyaris luput dari perhatian saya. Mungkin tak terlalu penting buat sampean, Ki Sanak. Tapi menjadi kabar menghebohkan orang-orang di luar sana: Saddam Husein dihukum gantung.

Sulit rasanya menerima kenyataan bahwa hidup bekas orang nomor satu dan paling berkuasa di Irak itu harus berakhir di tiang gantungan pada pengujung 2006 lalu. Rekaman video eksekusi itu bahkan tersedia di YouTube. Sampai sekarang pun saya masih bertanya-tanya, kok bisa?

Bukan hukuman di tiang gantungan itu benar yang menarik perhatian saya, melainkan sosok Saddam himself. Saya ingat Paklik Isnogud pernah bercerita panjang tentang Saddam. Waktu itu Irak tengah berperang melawan Kuwait yang dibekingi Amerika Serikat.

Beginilah kisah Paklik sepanjang yang saya ingat.

“Saddam pada hari-hari itu adalah sosok yang bangun dari sejumlah luka dan sehimpun impian. Luka banyak orang dan impian banyak orang, Mas.”

Seperti biasa, Paklik Isnogud membeber ceritanya dengan secangkir kupi pahit dan selinting tembakau Marsbrand di tangan kirinya.

“Menakjubkan bagaimana orang ini dengan cepat jadi pusat kebanggaan sejumlah besar orang Arab di Timur Tengah dan jadi buah bibir orang bukan Arab di wilayah yang bukan Timur Tengah. Apa yang telah dilakukannya, sebenarnya?

Ia bukan Gandhi, yang dengan dada terbuka, tanpa senjata, mengalahkan suatu kekuasaan kolonial. Saddam juga bukan Nasser yang, dengan tentara yang rombeng, berhasil mengambil alih Terusan Suez dari penguasaan asing, dan mengembalikan satu rasa berdaulat yang selama ini hilang di tanah airnya.

Saddam bukan pula Ayatullah Khomeini yang hanya dengan keteguhan hati, kealiman, serta karisma menggerakkan jutaan orang untuk menumbangkan sebuah kekuasaan yang angkuh. Saddam belum mencatat prestasi seperti itu. Dan, toh akhirnya ia pun gagal.

Maka, apa gerangan yang dilakukannya hingga ia jadi pahlawan jutaan orang? Tahukah sampean, Mas?”

Saya menggeleng.

“Jawabnya sederhana: ia telah berani menantang Amerika Serikat. Ia telah bertahan.

Maka, hanya dalam beberapa belas hari, kita pun seperti memaafkan yang dilakukannya kepada orang Iran dan orang Kuwait. Kita tak ingin tahu lagi bagaimana Saddam yang sebenarnya. Kita tak amat peduli adakah alasannya untuk tak mau mundur itu tepat atau tak tepat. Bahkan mungkin kita tak prihatin betul terhadap beratnya beban pemimpin Irak ini sekarang dan bagaimana tragisnya ketika ia akhirnya kalah.

Kita seakan-akan hanya ingin menciptakan, dari sosoknya, seorang jago. Dan segera Saddam pun jadi tinju kita yang besar, kepalan dari rasa serba kalah, tertinggal, terdesak, terhina perasaan-perasaan kita, ketika ‘Selatan’ berkonfrontasi dengan ‘Utara’, ketika ‘Timur’ (atau khususnya ‘Islam’) berhadapan dengan ‘Barat.

‘Barat’ memang sesuatu yang merisaukan — meskipun apa arti kata ini sebetulnya tak pernah dirumuskan secara persis. ‘Barat’ mengungguli kita, ‘Barat’ menghinakan kita, ‘Barat’ mau mengubah kita, bahkan ‘Barat’, dalam kehendaknya untuk memahami kita, sama sekali tak pernah bisa mengerti kita.

Kerisauan ini memang bukan cuma kerisauan negeri Arab dan muslimin. Dalam sejarah kita menemukannya juga di Rusia, di Jepang, di Cina, di India. Kerisauan itulah yang dalam bentuk sekuler melahirkan nasionalisme, dan dalam manifestasi lain berupa ‘nativisme’ alias ‘pribumiisme’.

Di Timur Tengah, tempat agama Islam merupakan sendi yang kuat, orang juga bisa menyaksikan semangat serupa dalam apa yang sering dinamakan sebagai ‘fundamentalisme’.

Fundamentalisme, sebagaimana halnya dengan radikalisme, ternyata punya daya pikat yang magis di Timur Tengah, agaknya itu memang bagian sedih dari hingga abad ke-21 ini.

Ada yang mengatakan bahwa radikalisme itu lahir dari kekecewaan Palestina yang tak kunjung lerai, yang telah kehilangan harapan damai. Ada lagi yang mengatakan bahwa akar radikalisme itu ada dalam psyche dunia Arab, yang menyanjung sikap jantan, yang kagum kepada laki-laki yang bergerak dengan simbol phallic yang diacungkan ke langit: sepucuk bedil.

Tapi ada juga yang mengatakan bahwa radikalisme itu lahir dari sebuah penolakan yang mendasar: penolakan terhadap dunia luar, khususnya ‘Barat’. Dan jika kita percaya kepada Claude Levi-Strauss, ahli antropologi yang termasyhur itu, penolakan itulah yang mendominasi dunia Arab. Sebab, di sanalah tampak jelas apa yang ia sebut sebagai ‘intoleransi Muslim’.

‘Intoleransi’ itu, menurut Levi-Strauss, punya dasarnya sendiri. Dan itu adalah kenyataan bahwa ‘kontak dengan non Muslim menyebabkan orang Muslim merasa gundah’, tulis Levi-Strauss dalam Tristes Tropiques. ‘Cara hidup mereka yang provinsial bisa berlangsung terus, tapi senantiasa dalam ancaman dari gaya hidup yang lebih leluasa dan lebih luwes …. ‘

Dalam ancaman itulah, menurut Levi-Strauss, ‘satu-satunya cara’ orang Muslim untuk melindungi diri dari rasa ragu dan rasa terhina ialah dengan ‘menegatifkan’ orang lain.

Benarkah begitu? Benarkah Islam suatu sumber negativisation, dan dengan demikian jadi akar radikalisme Timur Tengah? Jawabnya mungkin mudah: Levi-Strauss tak membaca sejarah.

Sebab, sebenarnya agama ini justru tumbuh berkembang dalam kontak antara kaum Muslimin dan kaum non-Muslim: sejak awal riwayatnya, orang Islam mengakui kehadiran, dan bahkan bersedia menerima, kebudayaan-kebudayaan lain, yang datang terlebih dahulu.

Rasulullah bukan seorang yang hidup ibarat katak dalam tempurung. Di waktu muda ia telah berkelana ke negeri Syam, dan kemudian sebagai pimpinan umat ia mengadakan kontak dengan Roma dan Negus. Salah satu penggantinya, Umar, di abad ke-7 datang ke Yerusalem, merebut kota itu, tapi ia tak membumihanguskan apa yang ada di sana.

Bahwa kini kecenderungan negativisation terasa menguat, dan hasrat menjaga keaslian atau ‘otentisitas’ semakin keras dan akhirnya berbentuk radikalisme yang berkibar — itu tak lain karena memang ada hal-hal yang terasa sulit dielakkan oleh sebuah dunia ‘non-Barat’ (tak cuma Islam) dalam menghadapi keunggulan ‘Barat’.

Salah satu yang sulit dielakkan ialah rasa terpojok. Rasa terpojok itulah yang dirasakan di dunia ‘non-Barat’, ketika Irak di bawah Saddam Hussein dihujani bom tak putus-putusnya.

Maka, ketika Saddam menjanjikan pecahnya ‘ibu dari segala pertempuran’ — puncak dari radikalisme — ia pun diberi tepuk tangan, doa, dan pembelaan, terutama oleh rakyat banyak yang kini tampil ke panggung politik. Rakyat yang justru tak pernah mencicipi apa hebatnya ‘Barat’ itu.

“Oh itu yang disebut benturan peradaban itu ya, Paklik?” dengan nggaya saya bertanya — biar Paklik mengira saya agak pinter dikitlah.

β€œBetul. Tapi, apa sebetulnya yang dimaksud dengan benturan peradaban itu, Mas? Di dunia ini memang ada ‘Barat’, ada ‘Islam’. Keduanya disebut sebagai ”peradaban”. Dan antara keduanya disebut-sebut bakal mengalami benturan. Samuel Huntington, gurubesar terkenal dari Harvard itulah yang pertama kali menulis soal itu dalam majalah Foreign Affairs edisi musim panas 1993.

Ia meramal bahwa kelak benturan akan terjadi antara ‘peradaban Barat’ dan ‘peradaban Islam’. Benar atau tidak ramalan ini, rupanya ada sesuatu yang membangkitkan perhatian orang, tak cuma pembaca majalah Foreign Affairs.

β€˜Sesuatu’ itu bisa bermacam-macam. Pertama tentulah karena ia ditulis oleh seorang guru besar Harvard yang pernah menulis sejumlah buku yang terkenal. Kedua karena ia tampaknya menyentuh apa yang ingin diutarakan oleh banyak orang, setelah menyimak, seperti Huntington menyimak, kejadian internasional selama beberapa waktu ini kejadian yang tak semuanya enak, tapi terkadang memenuhi nafsu kita untuk marah dan curiga.

Ada Revolusi Islam Iran, yang menganggap Amerika ‘Si Setan Besar’. Ada Perang Teluk, antara Irak dan Amerika Serikat dan sekutunya, yang oleh Saddam Hussein, pemimpin Irak itu, digambarkan sebagai perang antara Islam dan Amerika. Ada Lybia, yang digedor terus oleh Washington dan Pentagon.

Dan kemudian ada bom yang meledak di World Trade Centre, yang katanya disulut oleh sejumlah orang Islam dari Mesir yang masuk ke New York. Puncaknya adalah serangan pesawat di jantung Amerika yang merontokkan menara kembar World Trade Center pada 11 September 2002.

Banyak orang ingin menyimpulkan bahwa ada konflik memang antara ‘Islam’ dan ‘Barat’ dan tiba-tiba, alangkah tepatnya, Huntington datang merumuskan. Maka orang pun bertepuk, mengangguk, atau menyelenggarakan diskusi.

Lalu seorang sejarawan, Ferdinand Braudel, menulis tentang negeri-negeri Laut Tengah, The Mediterranian and the Mediterranian World in the Age of Philip II. Braudel melukiskan satu kesibukan yang terjadi antara Dunia Kristen dan Islam di abad ke-16, sebuah zaman genting antara dua penganut agama itu, setelah jatuhnya Konstantinopel ke tangan penguasa Turki dan jatuhnya Granada ke tangan penguasa Spanyol.

Di balik kegentingan itu, kata Braudel, ‘Manusia lewat pergi dan tiba, tak peduli akan tapal batas, negara, dan keimanan. Mereka lebih sadar akan kebutuhan akan perkapalan dan niaga, susah payahnya peperangan dan pembajakan, dan kesempatan untuk bersekutu dan berkhianat yang dibukakan oleh keadaan.’

Itu di abad ke-16. Jika kita lihat yang terjadi kini, itu juga tabiat di abad ke-21 dan mungkin abad ke-22. ‘Negeri-negeri pintar mengakali. Mereka main sulap dengan identitas dan kepentingan,’ tulis Fouad Ajami, cendekiawan Arab yang pernah mengalam buku yang cemerlang: The Arab Predicament.

Identitas ‘Barat’ atau ‘Islam’ bisa dicopot dan diistirahatkan (Turki adalah anggota NATO, dan ingin masuk ‘klub’ ekonomi Eropa, dan Amerika Serikat bisa bilang ia sebuah negeri Pasifik), dan akhirnya di mana batas ‘peradaban’ itu sebenarnya?”

Mendengar pertanyaan itu, saya cuma bisa terdiam dalam kelu seperti habis menelan biji duku.

Iklan

§ 17 Responses to Saddam Pecas Ndahe

  • Anang berkata:

    pertamax…
    yang sebenarnya pantas digantung itu adalah bush!!
    mata dunia telah diperdaya tipuan manis amerika dan antek-anteknya!!

    tapi apa ya berani? kalau berani, apa ya bisa, kang … πŸ˜€

  • cah ayu berkata:

    “…Mendengar pertanyaan itu, saya cuma bisa terdiam dalam kelu seperti habis menelan biji duku.”
    Saya ambilkan minum ya Ndoro biar gak keselek πŸ™‚

    aih cah ayu ki kok ya baik betul … gemati, welas asih… untung sampean sudah ada yang punya nduk … πŸ˜›

  • pitik berkata:

    Hmm…hilang satu lagi simbol perlawanan…eh, biji dukunya enak ga ndoro?kok ya rakus lho, sampe bijinya ditelan segala…

    mana ada biji duku enak, kang .. πŸ˜€

  • Leli berkata:

    klo baca sejarahe timteng, berasa kena penyakit gondok yang terkontaminasi HIV,,,,ppfuihhh

    Belom puas sama kehancuran yg ada,… si “Polisi Dunia” (Pliss Dheeyy!!!) ini brani2 nya mo bikin “New South East”

    Numpang ya ndoro…
    Buat BUSH :
    Edy Sud Rahmad Kartolo Makan ketan
    Maksut Lo SE***???

    BETE bgt sama amrik.
    Ndoro dsini bole mengumpat ga’??

    Liat wajah Saddam sebelum digantung tuh Xian bgt…
    Mana pas hari besar lagi,..
    Begimanapun kita pantes meundukkan kepala sejenak atas peristiwa ini..

    lah kowe kok ngamuk dewe to, nduk? mbok ya kalau mau marah ngajak-ngajak yang lain… πŸ™‚

  • Leli berkata:

    ndoro klo online di YM add aq dunk di emily_metanexus@yahoo.com

    sampean biasanya online jam berapa to? nanti saya add dah … wah, lumayan ki. aku kepayon πŸ™‚

  • widia berkata:

    Dengan menggantung Saddam tidak menyelesaikan masalah apapun. Amerika tetap menguasai Irak dan rakyat Irak sendiri semakin porak poranda. Kita memang pantas untuk menundukkan kepala sejenak. Sejarah tidak akan pernah menemukan kebenarannya.

  • Herman Saksono berkata:

    Saya telah berusaha naif, tapi kenyataanya kematian Saddam memang telah memupuskan sepotong harapan saya menuju AS yang tidak terlalu dominan.

    Eksekusi Saddam Hussein & herman’s blog

    rasah pesimistis, mon. kan masih ada ndoro kakung husein …. πŸ˜›

  • didats berkata:

    heheh….

    Kuwait sekarang udah bener2 jadi anak buahnya amerika.
    negara arab udah ga ada lagi yg berani menentang amerika pakde…

    aku sih jagoin iran… πŸ˜€
    saddam kedua mungkin tuh si ahmadinejat…
    *ngasal*

    duh yang lagi nyangkul di kuwait… πŸ˜›

  • dendi berkata:

    sebenarnya negara-negara ‘timur’ yang terpojok atau negara-negara ‘barat’ yang cari musuh?
    selama ini ‘barat’ selalu terkesan memaksakan budayanya.. demokrasi, emansipasi, blablabla. jadinya kita semua malah mengarah ke keseragaman.

    idealnya sih, keruntuhan amerika akan datang dalam waktu dekat ini (konon amerika sedang mengalami defisit yang besar, karena biaya perang tentu saja). Setelah itu kira-kira giliran siapa yang jadi adidaya ya?.. china? india? atau eropa?
    atau indonesia? ;p

    ngomong2 soal duku.. kemaren di palembang saya juga mabok duku…

    lah emangnya makan duku sambil minum anggur cap orang tua ya? πŸ˜›

  • weleh ternyata itu pidionya hasil nyelundupin henpon toh… saya lagi mau minum air putih pas nonton tipi liat saddam digantung. Saya pikir simulasi. Lha kok jebuse tenanan.
    Agak antara sedih dan gimana gitu saya meliatnya.
    Terus tadi liat lagi di tipi, orang iran pada sewot saddam digantung duluan… kok nggak pake rundingan sama iran gitu… wong yang mati gara2 Saddam itu sampe sejuta orang…

    Ahmadinejad itu ganteng ya…

    ahmad yang mana tuh? yang jual sego kucing ya … πŸ˜›

  • Leli berkata:

    jreng jreeeengg….
    sugeng enjang ndoro..
    kulo biasa ol 8-4 (kok jm kerja nggih???…;-p )

  • wieda berkata:

    jalan hidup orang itu emang sudah digariskan kali ya? Sadamm terkenal bengis, eh koq ya akhir hidupnya di tiang gantungan (ngeriii) lagian dihujat lagi sebelum digantung…bener2 ngga manusiawi tuh orang irak yg ngantung Sadamm….menurutku hukum gantung itu sangat kejam

  • ancilla berkata:

    siapa yang lebih pantas untuk digantung? sadam atau bush? kenapa ga kedua-dua-nya aja ya? πŸ™‚

    wah, saya bukan pendukung bush, walau bukan pembencinya. abis repot si kalau benci juga, rugiin diri sendiri karena saya tak punya akses untuk membombardir beliau juga. mending ngebenci hal-hal yang ga beres-beres di negri sendiri πŸ™‚ (mis: penguasa lumpur).

    kemanusiaan itu sangat penting untuk dijunjung tinggi… namun hukum juga harus dijalankan, tentu hukum yang digambarkan dengan wanita dengan mata ditutup dan menjinjing neraca yang seimbang. apa tidak jengah, setiap ada kesalahan jadi “dilupakan” karena alasan kemanusiaan? bukankah lebih baik tetap diadili namun kemudian ketika eksekusi hukuman dipertimbangkan aspek kemanusiaan… jangan lantas langsung dengan mudah melupakan kasusnya :p

    *kesamaan tokoh, nama dan peristiwa mungkin kebetulan belaka :p

  • -baba punk- berkata:

    mbok yo ojo gantung2-an…mending duwite di tabung, ben untung….

  • Ramon berkata:

    Amerika tu mang bego….sembarang nuduh Saddam punya senjata pemusnah masal tapi tidak pernah ada……karena itu memang hanyalah rekayasa pemimpin KAFIR yang sok tau. Eksekusi juga dilakukan pas Hari raya Idul Adha lagi, benar-benar keterlaluan dan toleransi beragama sudah dicederai oleh pemimpin kafir

  • I like Your Article about Saddam Pecas Ndahe Ndoro Kakung Perfect just what I was searching for! .

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

What’s this?

You are currently reading Saddam Pecas Ndahe at Ndoro Kakung.

meta

%d blogger menyukai ini: