Beckham Pecas Ndahe

Januari 13, 2007 § 15 Komentar

Bagaimana rasanya punya gaji Rp 9 miliar per minggu? Enaknya buat apa ya uang sebanyak itu? Tanyakanlah pada David Beckham.

Bintang sepak bola Inggris itu pindah ke klub Los Angeles Galaxy, Amerika, dengan nilai kontrak senilai US$ 250 juta atau sekitar Rp 2,28 triliun. Ini salah satu kontrak termahal dalam sejarah olahraga di dunia dan rekor kontrak tertinggi sepak bola Amerika sejak 1975, ketika Pele bergabung dengan New York Cosmos.

Busyet, dah! Itu kan sama dengan sekitar Rp 9 miliar per minggu atau Rp 1,232 miliar per hari, Rp 52,8 juta per jam, Rp 880 ribu per menit. Jadi berapa harga setiap tarikan napas Beckham setiap detik? Silakan hitung sendiri …

Kalau dipikir-pikir, apa sih kelebihan Beckham? Tendangan bebasnya yang melengkung? Wajahnya yang membuat para perempuan histeris? Badannya yang kekar tapi langsing? Atau istrinya yang bahenol bin semlohai itu?

“Menurut saya sih, kelebihan Beckham itu ya kepandaiannya membaca situasi pasar, Mas,” kata Paklik Isnogud.

“Maksud, Paklik?”

“Lah Beckham itu kan sebetulnya sudah habis, Mas. Dia keluar dari tim nasional Inggris tahun lalu. Bintangnya pun juga mulai memudar di Real Madrid karena satu dan lain hal. Tapi, kalau mau pensiun kok ya rasanya terlalu dini. Mei nanti usianya kan baru 32 tahun, Mas. Jauh lebih muda dibanding saya atau sampean. Eman-eman kalau ndak nendang bola lagi. Lah wong masih lumayan je permainannya.

Nah, supaya terlihat tetap moncer, dan sebelum didepak dari Real Madrid, dia buru-buru pindah ke Amerika. Itu namanya exit grace, Mas.”

“Tapi, mengapa Amerika yang dipilih, Paklik?”

“Halah, koyok sampean ndak tahu saja. Amerika boleh mengaku sebagai polisi dunia, negara adikuasa, makmur, gemah ripah loh jinawi, tapi di peta sepak bola dunia, dia bukan siapa-siapa. Meski tim nasionalnya masuk final Piala Dunia, akhirnya toh cuma jadi ‘anak kemarin sore.’

Beckham pinter. Dia tahu liga Amerika itu ecek-ecek dibanding liga di Italia, Inggris, Jerman, atau Spanyol. Tapi, klub-klubnya kaya raya. Dia hakul yakin pasti ada klub yang berani membayarnya mahal. Buat orang Amerika, Beckham masih menjadi daya tarik kapitalisme. Para pengiklan belum segan membayarnya untuk beraksi, baik di lapangan hijau maupun di halaman media massa.

“Jadi ujung-ujungnya duit juga ya, Paklik?”

“Betul. Jangan lupakan pula faktor Victoria Adams, istrinya Beckham yang pernah jadi anggota Spice Girls itu. Sebagai penyanyi, foto model, teman-teman gaulnya ya para creme de la creme di Hollywood. Dia pasti senang sekali diajak suaminya pindah ke jantung dunia hiburan yang gemerlap — seperti ikan yang menemukan telaga. Bahasa Jawanya, tumbu oleh tutup.

Boleh jadi, Victorialah yang mendorong Beckham hijrah ke Hollywood supaya dia juga bisa mengembangkan sayap bakatnya yang lain: main film. Kalaupun batal main film, tawaran menjadi foto model atau bintang iklan tentu akan berdatangan begitu Victoria menginjakkan kaki di rumahnya yang baru.

Beckham tahu benar semua itu. Dengan cerdik ia membuat dirinya, dan istrinya, tetap jadi pusat perhatian. Ia sangat paham trik pemasaran. Lihat saja, di Amerika pun dia sengaja membeli rumah di Beverly Hills. Apa tujuannya? Supaya dia tetap gampang bergaul dan berada di lingkaran dalam para artis, dan menjadi incaran kamera dan lampu kilat para pewarta foto. Selamat datang di dunia hiburan global, Mas.”

“Halah, kapan saya bisa seperti Beckham ya, Paklik?”

“Telat, Mas. Sampean wis tuwek. Lebih baik ngangsu saja, mumpung air di kulah sudah habis.”

“Asyem, malah ngeledek.”

Paklik Isnogud ngakak.

§ 15 Responses to Beckham Pecas Ndahe

Tinggalkan Balasan ke Abi_ha_ha Batalkan balasan

What’s this?

You are currently reading Beckham Pecas Ndahe at Ndoro Kakung.

meta