CGI Pecas Ndahe

Januari 30, 2007 § 12 Komentar

Jakarta membubarkan CGI, klab para pemberi utang itu. Lalu ada sebagian orang yang dengan bangga menepuk dada dan berteriak lantang: go to hell with your aids.

Para patriot bangsa yang tertipu?

Saya tak tahu. Jangan salah. Membubarkan CGI tak serta merta berarti kita lepas dari jeratan utang. CGI boleh bubar, utang dan bunganya jalan terus. Kita harus tetap membayar, sampai bokek. Beginilah nasib kita sebagai bangsa paria. Halah.

Terus terang saya cemas. Saya mengadu ke Paklik Isnogud untuk menanyakan soal itu.

“Bukan sampean saja yang cemas, Mas. Bahkan Amerika pun sudah sejak lama cemas karena batas antara Wall Street dan Dunia Ketiga telah lama kabur, ketika dolar dipakai untuk transaksi siapa saja. Utang Amerika Latin dan Asia dengan cepat menjirat karena bunga pinjaman bank yang tak kunjung turun itu merogoh nasib mereka. Kemiskinan, akhirnya, tetap tak punya jawab.”

“Halah. Apes bener jadi orang melarat.”

“Memang, Mas. Kemiskinan itu sejenis wabah yang tak pernah punah. Perbedaan antara si kaya dan si miskin semakin jauh. Jangan heran bila Roma pernah terseret perang dan kekerasan antara si kaya dan si miskin selama seratus tahun.

Lihat pula yang terjadi di Yunani. Athena, pada 594 Sebelum Masehi, adalah negeri yang juga timpang. Kota itu diam-diam membara dengan kerusuhan.

‘Perbedaan nasib antara yang kaya dan yang miskin,’ tulis Plutarch, penulis awal abad Masehi, yang menyusun kembali sejarah masa itu, ‘telah mencapai tingkatnya yang tinggi, hingga kota itu tampak dalam keadaan yang berbahaya, dan tak ada cara lain untuk membebaskannya dari huru-hara … kecuali kekuatan yang despostis.’

Athena, dengan kata lain, berada di ambang anarki. Pilihan berikutnya: kediktatoran yang sewenang-wenang.

Ternyata itulah yang tak terjadi. Pada saat yang tepat, tokoh-tokoh kelas menengah memilih Solon, seorang yang relatif masih muda, 45 tahun, untuk memegang tampuk pimpinan. Jabatan resminya tak seberapa penting, tapi di ambang kerusuhan itu ia diberi kekuasaan seorang diktator untuk, bila perlu, meredakan perang karena konflik sosial.

Solon dipilih, mungkin, karena ia tak nampak revolusioner. Dia keturunan bangsawan yang kemudian terjun dalam bisnis. Konon hal itu terjadi karena ayahnya menghabiskan tanah miliknya untuk, dalam kata-kata Plutarch, berbuat ‘kebaikan bagi orang lain’.

Jika itu benar, tokoh kita ini rupanya menurunkan budi orangtua: ketika ia berkuasa, ia mengumumkan dekritnya yang termasyhur, Seisachteia.

Dengan dekrit ini dinyatakanlah, menurut sebuah catatan Aristoteles, bahwa:

semua utang yang ada, baik kepada pribadi-pribadi atau kepada negara, diurungkan.

Dengan satu hentakan, tanah-tanah yang digadai pun bebas. Dan bebas pula orang-orang yang harus membudakkan diri karena kredit. Mereka yang telah dijual juga ditebus kembali dan penghamba-sahayaan itu untuk selanjutnya dilarang.

Sudah tentu orang-orang kaya marah. Mereka bahkan menuduh bahwa Solon mengambil keuntungan dengan dekritnya. Sebab memang ada teman-teman Solon, yang berhasil mendapat info itu lebih dulu sebelum Seisachteia terbit, cepat-cepat membeli sertifikat gadai tanah-tanah yang luas — untuk kemudian menikmati milik baru yang telah bebas itu.

Bagaimanapun juga, Solon seorang jujur. Kemudian diketahuilah bahwa dia seorang kreditor besar, dan akibatnya rugi oleh dekritnya sendiri. Tapi, ia telah melepaskan Athena dari bahaya revolusi.

Tak ayal, namanya harum. Tapi, pada umur 66 tahun, Solon mengundurkan diri dari jabatan. Ketika ia ditawari untuk jadi penguasa tetap Athena, ia menolak. Puncak kekuasaan itu, katanya dengan bijak, adalah:

suatu tempat yang sangat lumayan, tapi di sana hanya ada satu jalan: turun.”

“Hmm … menarik, Paklik. Pantes sampean ndak pernah mau ya kalau ditawari kursi jadi juragan bos di pabrik. Pasti karena sampean ndak mau turun, ya?”

“Semprul … ” Paklik Isnogud mengumpat sambil melemparkan koran ke saya.

Tapi, saya sudah kabur duluan sambil ngakak.

Apa komentar sampean tentang utang-utang Endonesah ke CGI yang jumlahnya bertriliun-triliun rupiah itu, Ki Sanak? Apa ya kita sanggup nglunasi?

§ 12 Responses to CGI Pecas Ndahe

  • avatar nana nana berkata:

    strike two for the word paria. dipake twice in a row. baru nemu di kamus ya ndoro? 😀

    bentar lagi bikin hat-trick … 🙂 … kebetulan lagi seneng pakai kata itu, terdengar lebih puitik gitu … 🙂

  • avatar Eyang Eyang berkata:

    mumet ndasku … mendingan kerjo-ae lurus, muleh gojegan karo anak ….. bengi ngeloni mak-ne ….

    eyang rasah mumet. mbesuk sing mbayar utang yo anak lan putumu to? 😀

  • avatar lanangedan lanangedan berkata:

    ndoro sejati yang di istana memang sukanya membuang-buang kecap, biar makanan rakyatnya terasa lebih nikmat ndoro…padahal bikin sakit perut juga kalo kebanyakan, kekeke…

    haaa … mampir juga akhirnya ke sini. ke mana aja, man 😀

  • avatar Anang Anang berkata:

    seandainya pemimpin kita bijak… tidak mabuk bergelimang harta….

  • avatar bangsari bangsari berkata:

    utang? yo wis lah… wong nyatane ya ngga ada kemajuan dari dulu.
    apa ndak mending kita bergabung menjadi negara bagian ke 52 amerika saja ya?

  • avatar venus venus berkata:

    wah, angel ki nek perkoro utang. tenan, mas. kayaknya memang anak cucu kita juga bakalan kebanting-banting gara-gara utangnya simbah2nya. ho oh kan?

    eh, aku boyongan. situ ndak dolan? tak gawekno kopi 😀

    ah, ngapusi. aku wis dolan kok ra disuguhi kupi? 😀

  • avatar Herman Saksono Herman Saksono berkata:

    Jadi ingat V for Vendetta; kekuatan yang sedemeikian besar, harus dijatuhkan dengan tindakan yang ekstrim pula. Mungkin suatu saat utang-utang yang sedemikian besar mungkin juga akan jatuh, dijatuhkan secara manis seperti Solon, atau brutal berdarah dengan revolusi. Tetapi, either way (sorry bahasa inggris 😀 ), jatuhnya menjadi baik, atau malah memperburuk… saya ndak tahu.

  • avatar evi evi berkata:

    CGI mo dibubarkan, tp mo utang lewat bilateral atau G to G, ya sami mawon…..pemerintah emang gak konsisten *payah* ini ngutip pendapat Faisal Basri loh…..

  • avatar kenny kenny berkata:

    utang jenis apapun dengan siapapun jelase wes masuk jerat laba2 susah mo kluar, bisa bebas klo nyawa melayang(diwariske utange :D)

  • avatar -tikabanget- -tikabanget- berkata:

    kalo ndak ganti kepribadian, ya ndak abis abis utangnya, tapi nambah..
    hehehe..
    harus ganti kepribadian ituh…

  • avatar bajingan bajingan berkata:

    UApik tenan mung marake utekku tambah buntu!!!!

Tinggalkan Balasan ke nana Batalkan balasan

What’s this?

You are currently reading CGI Pecas Ndahe at Ndoro Kakung.

meta