Sekolah Pecas Ndahe

Januari 31, 2007 § 14 Komentar

Iseng-iseng saya nonton TVRI tadi malam. Rasanya sudah lama betul saya ndak nonton stasiun pelat merah ini. Sampean tahu apa yang saya temukan?

Rupanya ada acara yang masih bertahan sejak dulu, yaitu Kamera Ria. Acara yang disiarkan setiap Selasa dan Minggu malam ini hasil kerja sama antara TVRI dan Puspen TNI (d/h ABRI). Saya ingat, acara ini dulu dipandu oleh Frans Hasibuan — orang Batak bersuara bariton itu. Sekarang sudah ganti siapa gitu … maaf ndak sempat nyatet namanya.

Tapi, ada pula yang menghilang. Apa itu? Jreeeng … “Cerdas Cermat”. Hahaha … Jadul banget ya?. Sangat lapan puluhan. Masih adakah di antara sampean yang ingat acara itu, Ki Sanak? Dulu saya sering nonton acara itu pada sore-sore tertentu.

“Cerdas Cermat” mempertandingkan siswa-siswi SD, SMP, dan SMA, baik yang swasta, negeri, filial, kelas jauh maupun kelas sore. Setiap kali tayang ditampilkan tiga sekolah yang diadu dalam tiga babak. Babak terakhir namanya adu cepat. Regu yang paling cepat menjawab dan benar mendapat angka.

Saya ingat, lomba itu biasanya dimenangkan oleh peserta dari sekolah-sekolah swasta atau sekolah negeri terbagus di setiap kota. Sekolah-sekolah pinggiran jarang menang. Saya sempat bertanya-tanya, kenapa bisa begitu ya?

Mutu pendidikan tak merata?

Paklik Isnogud berpikir sejenak ketika saya menanyakan hal itu. Setelah mengisap rokok lintingannya dalam-dalam dan mengembuskan asapnya jauh-jauh, Paklik pun bercerita.

“Pada 1965, Presiden Amerika Johnson juga sibuk mengurus masalah pemerataan. Waktu itu di Amerika, orang Negro tertinggal di belakang dari orang putih dalam masyarakat yang disebut kaya raya itu, dan suara protes serta keprihatinan terdengar deras.”

“Lalu apa yang Johnson lakukan?” saya mulai penasaran.

“Johnson nampaknya ingin menggerakkan pihak yang ketinggalan lebih dulu. Seluruh beleidnya bertemakan ikhtiar memperluas persamaan kesempatan. Yang diarah pertama ialah pendidikan sekolah. Anak-anak kulit hitam yang tinggal di daerah kaum paria diintegrasikan ke sekolah-sekolah kulit putih kelas menengah. Kalau jaraknya berjauhan, disediakan bus.

Ternyata, kemudian diketahui bahwa bukan kondisi sekolah yang menyebabkan perbedaan hasil prestasi para murid. Lalu sebuah survei pun dilakukan terhadap 4.000 sekolah dan 600.000 murid pada 1966.”

“Siapa yang bikin surveinya, Paklik?”

“Profesor James Coleman dari John Hopkins University. Mulanya Coleman berharap akan menemukan ketimpangan mencolok dalam fasilitas sekolah-sekolah itu-antara yang dikunjungi orang hitam dengan yang dikunjungi si putih kaya. Ia berharap penemuannya nanti akan mendorong pembiayaan lebih besar diberikan oleh pemerintah Amerika buat sekolah anak-anak kulit hitam.

Tapi, ternyata satu hal lain diketahui: sedikit sekali beda fasilitas itu. Ternyata juga bahwa perbedaan angka prestasi antara murid kulit hitam dan murid kulit putih sudah tampak di kelas satu. Kesimpulan Coleman — yang ditulisnya dalam Equality of Educational Opportunity — akhirnya berbunyi:

Latar belakang keluarga yang berlainanlah yang lebih menentukan adanya variasi dalam prestasi.

Maka, orang pun mulai berpikir kembali. Pendidikan sekolah bukanlah sumber kekuatan yang bisa menyebabkan pemerataan. Murid yang tak begitu berhasil dalam kehidupan, karena ia tak begitu tinggi prestasinya di sekolah, pada akhirnya hanya akibat sejarah keluarganya yang nahas.

Seorang ahli lain, Christopher Jencks — setelah menelaah data Coleman — menulis juga sebuah buku penting yang berjudul Inequality. Ia tak berbicara tentang penyamarataan kondisi sosial keluarga-keluarga anggota masyarakat.

Ia punya dasar argumentasi yang menarik. Ia melihat bahwa seringkali murid yang punya prestasi terbaik dalam survei Coleman sama-sama berada satu sekolah dengan murid yang prestasinya paling buruk.

Maka, bagi Jencks, soal pokok pada jangka panjang bukanlah perbedaan kondisi antarsekolah. Masalah pokoknya ialah perbedaan antara murid yang terpintar dan terbodoh. Jencks cenderung melihat ketidaksamaan nasib sebagai sesuatu yang tak mudah diterangkan sebab-sebabnya.

Kesimpulannya?

“Kita harus mengubah aturan permainan,” kata Jencks, “supaya berkurang hadiah yang didapat dari sukses seseorang dalam persaingan, dan berkurang pula beban seseorang dalam kegagalan.”

Maka tujuan sebuah kebijaksanaan sosial ialah pemerataan hasil, bukan pemerataan kesempatan.

Namun, adilkah hasil yang sama bagi orang yang bekerja dengan dedikasi tak sama?”

Saya terdiam dan menggeleng tak tahu.

“Tentu tidak, Mas. Karena itu, keadilan selalu dituntut untuk ditinjau kembali,” kata Paklik menutup ceritanya.

Saya terpaksa merenungkan berulang-ulang cerita Paklik Isnogud dan sampai sekarang belum paham maksudnya. Adakah di antara sampean yang menangkap maksud Paklik, Ki Sanak?

§ 14 Responses to Sekolah Pecas Ndahe

  • hualo mbah, kamera ria safari ? tentu saja saya ingat seperti saya juga mengingat selecta pop, album minggu kita & apreasiasi film indonesia

    Masalah distribusi sukses dan gagal dalam pendidikan, saya jadi teringat tulisan Gunawan Muhammad ttg “Meritokrasi” pada Catatan Pinggir majalah TEMPO era 80-an

    Mungkin yang harus dibenahi adalah apreasiasi masyarakat pada kata “Gagal”, “Drop Out” dan sejenis nya hehehehe …

  • avatar Rara Rara berkata:

    Hwaaa.. cerdas cermat!! Jelas2 ndak akan lupa Ndoro.. wong saya dulu jadi peserta dan masuk tipi je.. waktu itu saya kelas 4 SD, siaran langsung dari stasiun tipi surabaya.. *suenengnya..pol*

    Paklik isnogud nyalonin jd menteri aja, ato presiden sekalian, biar adil sejahtera gitu.. 😀

    wah nanti negaramu malah ajur, jeng … 🙂

  • avatar MasBenie MasBenie berkata:

    kayaknya sih dah banyak yg nda’ ada selain cerdas cermat. Si Unyil, Aneka Ria Safari, Dari Desa Ke Desa trus apa lagi yah……

  • avatar kenny kenny berkata:

    kesenjangan sosial yg menyebabkan timbulnya gizi buruk anak2 tambah mempersulit daya saing mereka, imunisasi yg gak lancar..(kekeke, dadi posyandu ki).

    Apa maksud paklik perlu tidak diadakannya sekolah fav dan non fav?? wah..pak lik memang suka maen tebak tepat, mesti penggemar cerdas cermat ki.

  • avatar cahyo cahyo berkata:

    jargonya masih “kamera ria” yang khas dulu gitu ndoro?

  • avatar pitik pitik berkata:

    saya pernah baca itu ndoro, kalo nggak salah di telaah dengan ringan di buku Freakonomics
    dan ternyata banyak penemuan lain yang menjugkirbalikan pemahaman kita tentang kebenaran yang selama ini kita percayai…

  • avatar adipati kademangan adipati kademangan berkata:

    lek gak salah sing dimaksudno iku yo pemerataan keilmuan. kabeh murid sing diajari kudu iso kabeh, lek no siji ae sing gak iso, yo perlu ditakoni maneh gurune, iso ngajar tah ora. ngono ndorokakung. tapi yo gak ngerti aku lek ono maksud sing liyane maneh

  • avatar -tikabanget- -tikabanget- berkata:

    hihihihihi..
    dulu sayah hampir menang ituhhhh…!!!

    waaah, tika hebaaat … pernah masuk tipi ya? 😀

  • avatar ngamroe ngamroe berkata:

    Little missy yo ra ono.

    little house in the prairie yo wis ra ono.

  • avatar balak6 balak6 berkata:

    Aneh tapi nyata….

  • avatar d-nial d-nial berkata:

    Selain pemerataan kesempatan juga harus ditonjolkan bahwa cuman KAMU yang bisa merubah NASIBMU.
    Kesempatan sudah ada, peluang sudah ada, dukungan sudah ada, kan akhirnya tinggal niat untuk berubah, niat untuk keluar dari kubangan bernama kemiskinan.

  • avatar eko ambin eko ambin berkata:

    kamera-ria oh kamera-ria alangkah indahmu (dulu waktu aku kecil ituh)

  • avatar ning ning berkata:

    ANEKA RIA JENEKA.

    SEMARGARENGPETRUKBAGONG

  • avatar ning ning berkata:

    RIA JENAKA.

    SEMARGARENGPETRUKBAGONG

Tinggalkan komentar

What’s this?

You are currently reading Sekolah Pecas Ndahe at Ndoro Kakung.

meta