Penalti Pecas Ndahe

Februari 1, 2007 § 20 Komentar

Banyak anak, katanya, banyak rejeki. Tapi di Cina, banyak anak berarti kena penalti. Kalau tak mau kena denda, ya jangan punya anak lebih dari satu.

Lah, anak kan titipan Tuhan? Maaf, Cina sudah terlalu banyak menerima titipan. Halah. Pecas ndahe tenan!

Begitulah aturan yang berlaku di Cina. Setiap keluarga hanya boleh memiliki satu anak. Jika mau nambah, ya harus bayar penalti Rp 90 juta rupiah.

Jumlah denda bisa lebih besar jika yang punya anak itu keluarga kaya. Lah kalau tak punya uang piye untuk bayar denda? Orang tuanya masuk bui atau anaknya diambil negara. Modyar!

Tapi, bukan tak ada celah, menurut BBC News. Peraturan kan dibuat untuk diakali. Seorang warga Guangdong, misalnya, memilih melahirkan anak keduanya di Hong Kong — yang cuma beberapa jam naik mobil dari kampungnya. Ongkosnya lebih murah. Untuk bayar dokter dan menginap dua malam di rumah sakit dia cukup mengeluarkan sekitar Rp 20 juta.

Untuk sementara persoalan selesai. Sementara? Betul. Hong Kong ternyata sudah mulai kerepotan menerima bayi-bayi “titipan” itu. Pemerintah Hong Kong pun mengeluarkan aturan baru yang bertujuan mengerem jumlah ibu-ibu hamil di Cina yang mau numpang melahirkan. Otoritas Hong Kong mulai khawatir bakal terjadi ledakan populasi penduduk di negaranya.

Kenapa? Mahkamah Agung Hong Kong membolehkan setiap anak dari perempuan Cina yang numpang melahirkan di Hong Kong boleh tinggal dan mendapatkan hak-haknya seperti warga Hong Kong lainnya.

Ini masalahnya. Seandainya semua bayi Cina itu memilih tinggal di Hong Kong, lama-lama kan bisa terjadi ledakan peduduk. Padahal wilayah Hong Kong kan cuma seupil. Mau ditaruh di mana warga-warga baru itu?

Dan, “bom waktu” mulai berdetak di Hong Kong sekarang.

Beruntunglah buat sampean yang tinggal dan menjadi penduduk Endonesah ini. Pemerintah belum mengeluarkan aturan kependudukan seperti di Cina. Tapi, mungkin ini soal waktu saja. Kita juga tengah menghadapi ancaman ledakan populasi. Penduduk sudah terlalu padat, terutama di Jawa. Bukan mustahil aturan itu akan diadopsi di sini.

Nah, seandainya pemerintah Endonesah ini nantinya juga menerapkan aturan yang sama dengan Cina, apa yang sampean mau lakukan, Ki Sanak? Bagaimana sebetulnya mengatur populasi penduduk?

§ 20 Responses to Penalti Pecas Ndahe

  • avatar dewi dewi berkata:

    mengerem pertumbuhan populasi? cerdaskan kehidupan bangsa dulu!! hehe.

    sounds like spanduk di kantor pemerentah gitu … 🙂

  • avatar pitik pitik berkata:

    “Padahal wilayah Hong Kong kan cuma seupil”

    Lha kok upilnya ndoro se-hongkong,hidungnya seberapa yah?
    wah…aku mikir golek ojob disik, sakdurung mikir nggawe anak…

  • avatar gandrik gandrik berkata:

    kasih hiburan yang banyak, biar nggak sempat bikin anak 😀

    lah katanya sampean juga banyak main play station, tapi kok tetep sempat bikin anak … 😀

  • avatar adipati kademangan adipati kademangan berkata:

    sajake dadi adipati pancen angel tenan kok ngurusi anak-anakan iki. Tekan patih kerajaan ben uwong kudu duwe anak 2, lek luwih malah gak diakoni warga kerajaan. Tapi aku yo mbelani rakyatku sak kadipaten, wong aku dadi pengayom. serba salah wes !!!
    rakyatku iki podho ternak kabeh (sori ndoro, soale anake wes gak keitung) katene nglarang yo wes kadung, katene dendo yo rakyat2ku dhewe sing bendino tak belani, katene dijarno diuring2 karo mahapatih.
    ngene2 aku yo nggawe persyaratan, anak oleh akeh mung kudu pinter kabeh, kudu kopen kabeh, kudu kerjo kabeh ben kadipaten iki maju. kiro2 maju 7 meter yo gak opo2.

    tambahan : aku gak sanggup mburuhi wong sak kadipaten, opomaneh nggawe kerjoan anyar, danane wes gak onok.

    mekaten ndorokakung

    nuwun inggih kangmas adipati van kroya, eh korea … 😀

  • avatar -tikabanget- -tikabanget- berkata:

    minta suaka ke papua… ato ke timor…

  • avatar Hedi Hedi berkata:

    Bikin anak = hobi, kebutuhan, atau yang lain? Nasib kelas Asia 😦

  • avatar Herman Saksono Herman Saksono berkata:

    Mengatur populasi penduduk? Nanti dituduh melanggengkan agenda liberalisasi keluarga, memperkuat hegemoni barat, memincangkan kekuatan nasional. Ecapedeeee!

    so lets the nature find its way …

  • avatar d-nial d-nial berkata:

    Solusi 1:
    Perang!
    perang dapat secara drastis menurunkan jumlah penduduk. Salah satu sasaran kita adalah Australia yang sombong.

    Solusi 2:
    Kemiskinan!
    Kemiskinan dapat secara drastis menurunkan jumlah penduduk, karena semakin miskin warga maka dia tidak dapat membeli kebutuhan pangan ataupun obat2an. Sehingga tingkat mortalitas meningkat.

    Solusi 3:
    YA KaBe.

    Solusi 4:
    Solusi ala Singapura, buat penduduk dalam usia reproduksi sibuk bekerja, bekerja dan bekerja. Sehingga mereka lupa pacaran, lupa nikah, dan akhirnya lupa bereproduksi.

    Ada solusi lain?

    datengin tsunami? ah, kejam betul yak?

  • avatar joni jontor joni jontor berkata:

    Kalo ngeliat ususl mas daniel, sepertnya indon (kata orang singapur untuk endonesah) masih aman. Syarat satu, dua, dan sedikit tiga kita semua adaaa, horeeee (lho)

    yaa, gimana lagi 😛

    lah kok seneng?

  • avatar KacungDaim KacungDaim berkata:

    nah, iki mangkane wong tua bien gawe unen-unen:
    “Mangkane tah, ojok seneng dolanan manuk!”

    mangsude nopo niku?

  • avatar kenny kenny berkata:

    tenang aja ndoro…indonesia kan masih banyak pulau yg kosong

  • avatar bebex bebex berkata:

    yah sadar dirilah,,,,
    punya anak jangan banyak2…

  • avatar Eyang Eyang berkata:

    Program KB yak, … gak setuju ….!!! cuman emang istri saya gak boleh hamil lagi karena suatu hal…. anak dah 2 … solusinya … emmmmmmmmm ya kawin lagi … ha ha haha… kaburrrrrrrrrrrrrr
    i love you Ugi istriku

  • avatar Dian Dian berkata:

    kebalikan singapore yak, yg anak kedua dst malah dikasi duit…

    dikirim ke kamp konsentrasi

    *ngacir

  • avatar balak6 balak6 berkata:

    harus digalakkan pemberantasan buta huruf… supaya engga’ salah lagi baca aturan pake,… alat kontrasepsi.

  • avatar Neji-neji Neji-neji berkata:

    Kalo anak pertama ternyata kembar, gimana dong mBah?
    Mosok bunuh satu. Kan sayang, mengingat mereka kan terkenal mooooiy gitu loh mbah.

  • avatar venus venus berkata:

    protection. selalu bawa kondom. you never know what you gonna get after a clubbing scene, right?

    halah kok ra cerdas ngene toh komenku? wakakaka…

    tumben inget kondom. biasane tancap langsung to … 😀

  • avatar mbah keman mbah keman berkata:

    Banyak anak banya krezeki, Mitos ini yang harus d hilangkan sebenarnya, mau tau kenapa?

    1, Orang miskin percaya kurang rezeki, maka dia meningkatkan jumlah anak untuk, menaikan rezekinya,, contoh abang becak, anaknya bisa 10 + 2 kepala keluarga, padahal penghasilanya 10 ribu berarti rumusnya 10:12-pajak hek hek, dariman rezekinya mau naik, anaknya teryata menjandi tukan gbecak semua,, payah.

    2, Orang kaya punya prinsip ekonomi yang baik, kalau anaknya sedikit maka biaya juga sedikit, jadi kesejahteraan anak lebih terjamin.

    intine rumuse di ganti,banyak anak banyak sialnya kalau orang miskin, perbanyaklah anak untuk orang kaya supaya perbandingan penduduk kaya lebih banyak dari pada penduduk miskin,

    ini sadis, padahal aq juga orang miskin hek hek …

    biar miskin yang penting sampean tetap cerdas kan? 🙂

  • avatar abi_ha_ha abi_ha_ha berkata:

    Jumlah anak diatur? ora wedhi!! toh jumlah istri tidak diatur, 1 istri 1 anak… yo tinggal rabi maneh. 4 istri 4 anak. Ya tho? Ya tho? wong jare A’a iyo kok!

Tinggalkan Balasan ke d-nial Batalkan balasan

What’s this?

You are currently reading Penalti Pecas Ndahe at Ndoro Kakung.

meta