Radio Pecas Ndahe
Februari 5, 2007 § 19 Komentar
Ketika banjir menyapu Jakarta, orang kembali melirik radio. Para pendengarnya mengandalkan siaran radio untuk mencari dan mendengarkan pelbagai info seputar banjir.
Hari-hari ini radio kembali menunjukkan kekuatannya sebagai media yang belum tergantikan oleh media lain seperti koran, majalah, televisi bahkan Internet sekalipun.
Televisi memang masih mencoba merebut sisa-sisa kekuatannya dengan menayangkan secara langsung gambar-gambar yang dramatik. Namun, tetap saja orang kembali ke radio — bukan ke laptop, seperti Thukul.
Paklik Isnogud adalah salah seorang yang senang melihat kenyataan ini. Dengan menggebu-gebu ia melukiskan kehebatan siaran radio ketimbang yang lain.
“Dulu, di zaman revolusi, Bung Karno dan Bung Tomo berteriak melalui corong radio untuk menggelorakan semangat para pejuang. Di Uni Sovyet, radio diberangus setiap kali terjadi kudeta dan seorang pemimpin baru naik.
Di Arab, di tengah gemeretak suara rantai tank Irak yang menyerbu sudut-sudut Kuwait yang kecil, corong-corong radio memekik, memuja atau memaki, ‘Saddam Hussein, sang penakluk’.
Itu semua menunjukkan betapa radio sangat penting. Ia bisa membentuk dan mengubah opini publik. Radio, dengan demikian, sekaligus bisa menjadi ancaman — jadi perlu dibungkam. Di Filipina, belasan jurnalis radio tewas di ujung pestol penguasa dan para preman upahan yang merasa terusik oleh berita-berita di radio.
Dan, sampean tahu Mas, radio itu bisa jadi klangenan. Paling tidak buat saya. Kalau malam saya masih sering mendengarkan siaran wayang kulit loh. Sesuatu yang tak saya dapatkan di televisi atau DVD. Memangnya sampean pernah nemu DVD lakon Bhisma Gugur, Mas? Belum, kan?”
“Mungkin saja ada Paklik, tapi ndak masuk ke sini. Soalnya para pembajak itu tahu, video wayang ndak laku. Pembelinya paling cuma sampean, Paklik.”
“Mungkin saja, Mas. Mungkin juga sebabnya memang belum ada yang bikin. Nah, kembali ke soal radio, saya punya cerita lain.
Seseorang pernah bercerita. Syahdan ada warga kota kecil di Maine pergi berburu. Ia tinggal di hutan beberapa malam. Kontaknya dengan dunia luar cuma lewat sebuah radio transistor yang membawa suara stasiun terdekat. Tiap petang dan pagi ia mendengarkan siaran berita.
Apa yang terjadi beberapa hari kemudian? Ketika ia keluar dari hutan dan kembali ke rumah, baru ia tahu bahwa ada satu peristiwa besar yang tak disiarkan stasiun dekat hutan itu: Nixon mundur dari jabatan presiden!
Bagaimanapun, radio punya keterbatasan. Jika sebuah stasiun radio lokal begitu sibuk dengan berita setempat hingga mengabaikan kabar penting di pucuk pemerintahan, bagaimana orang di sana bisa cermat mengikuti gerak di luar kota atau negara bagian tempat mereka hidup?
Walau begitu, saya senang karena masih bisa mendengar radio sampai sekarang. Radio tetap belum terkalahkan, Mas. Apalagi kalau cuma melawan televisi yang kebanjiran sinetron itu. Huh.”
“Loh, kok sampean malah sinis. Ya biar saja to, Paklik. Radio memang masih diperlukan, tapi ndak berarti kita harus menghapus atau menutup televisi dan media-media lain. Itu ndak adil namanya.”
“Ah, kalau saya sih, sekali di udara, tetap di udara, Mas. Hidup radio!”
“Halah, Paklik.”
Tapi, ngomong-omong, adakah di antara sampean yang juga masih senang mendengarkan siaran radio, Ki Sanak?

meski winamp terisi ribuan lagu…lama2 bosen juga! soalnya lagu2 yg ada bisa ditebak gak kaya radio yg “tak terduga” lagunya…
gessh sing!
di radio…
aku dengar lagu kesayanganku…(merdhu to suaraku?)
*terusne ndoro
siaran radionya prambors seru tuh ndoro…khususnya yg siaran pagi…dagienk & desta kekekeke…
sing!
di Radio…
aku dengar lagu kesayanganku…
merdu tho suaraku ndoro…^-^
regards
gessh
mirip postingan paman tyo. uhmmm…janjian???
loh jaman ngekos biyen, radio ki wes paling elit loh ndoro…
Saya suka ndengerin gelombang WiFi pakde!
Meski sedang nonton TV dan baca koran, bapak saya tetep nyambi dengarkan radio..Three in one..
ndak syeneeeng aku ndoro, arepe tak rekam lagunya eh belum selesai udah kedengaran suara penyiar-eee… nggateli tenan!
*ngirit mode : on*
salam dahsyat, motivasi bisnis, spirit & wishdom, bapak etos… kalo terus menerus dan diulang-ulang di radio
bosen juga…!!!
stel winamp lagi..!!!
jagoan jaman dulu bawanya radio, bukan tipi, apalagi ipod..
*maksudnyah???*
saya dulu kalo ada siaran bola, saya nonton di TV tapi suaranya saya matikan, tak ganti suara radio yang juga nyiarin pertandingan itu. wuah seru ndoro … penyiar radionya menggebu-gebu. tapi bola ternyata masih ditengah lapangan. wah jian rodo ga nyambung, tapi jadi lucu.
radio tetep teman paling setia kalo pas lagi nyetir mobil. Lah gimana, masak nyetir sambil nonton TV atau baca koran apalagi sambil browsing ? kan gak mungkin toh…tempo punya radio ndak ndoro ?..
ps: jadi nyesel naruh TV di mobil, yang bisa nonton malah istri saya :-).
baru sadar jg (semaput brati :D), ternyata dah lamaaaaaaaaa gak dengerin radio.
mo tahu berita….buka koran, on tv, mo denger musik…tinggal milih cd.
radio cuman buat tambal butuh aja pakde…. tambal butuh di waktu susah tidak ada tv ato media lainnya…
tapi jadi tambal butuh terkadang enak… minimal biar hanya sekedar buat tambalan, tetapi minimal masih ‘dibutuhkan’
di radio aku dengar lagu kesayanganmu
kutelepon di rumahmu
sedang apa sayangku..
kuharap engkau mendengar
dan kukatakan sayangku…
gombloh pernah mengabadikan Radio
Band namanya Radiohead
sheila on 7, lagunya yang baru judulnya Radio
dsb lsp
btw iya ya kok jarang ya yang nyebut televisi ato koran di lagu ya?kalo dipoling kayanya eman lebih banyak radio daripada media yang lain…
tapi emang koyone aneh…
di mp3 aku dengar lagu kesayanganmu…hehehe
semenjak nggak bisa nangkap siaran gardu jaga by mbah kemo & mas mbilung, aku udah nggak pernah dengerin radio.
well, gimana pun juga radio is still needed!!!
kata mas tom, kalo bos john koplo sama bulek Nicole gak ikut siaran radio, digimana-gimanapun (di piya-piye ke) tetep wae ra seru.
jadi inget dulu masa masa masih sering dengerin radio MW TT77 acara favorit jam 12 malem tiap hari LUDRUK GUYONAN KARTOLO CS
and sampe sekarang kayaknya para pekerja malam (eit bukan yang porno lho) di Malang jawa Timursetia mendengakan radio ini untuk menemani kerja mereka.
Salut to Radio
bisa nemani orang kerja
dibanding TV yang harus diplototin terus
membaca artikel lama Ndoro. Tapi saya masih mendengar radio. Lagu lagunya saja, sih.