Walkman Pecas Ndahe

Februari 16, 2007 § 31 Komentar

Gara-gara mau mendengarkan kaset lagu-lagu The Police dan Genesis, saya terpaksa bongkar-bongkar laci. Saya harus mengaduk-aduk koleksi lawas itu jauh di bawah tumpukan kertas-kertas, arsip, dokumen, dan segala tetek-bengek yang dibuang sayang itu.

Gara-gara itu pulalah, saya mengeluarkan walkman Sony uzur saya yang usianya sudah sekitar sepuluh tahun itu. Saya mau leyeh-leyeh di meja sambil mendengarkan suara Sting, menikmati suara Phil Collins.

Tapi, belum juga saya menekan tombol play, kawan sebelah meja saya tiba-tiba menowel dan bertanya, “Masih punya gituan to, Mas?” katanya sambil menunjuk walkman saya yang sudah pudar warnanya itu. “Emang nggak punya iPod? Nggak punya MP3 playernya? Komputernya nggak ada playernya, ya?”

Kaget karena tiba-tiba ditanya seperti itu, saya cuma ndlongop. Tapi, dalam hati saya misuh, “Hwasyu. Bocah kok senengnya ngece, ngenyek.” Tapi, karena saya orang yang baik, tentu saya pisuhan itu ndak sampai keluar. Saya cuma nyengir. “Hehehe … Iya, saya cuma punya ini je. Kenapa to?”

“Ya enggak apa-apa, Mas. Cuma aneh aja, hari gini kok ya masih ada yang pakai walkman,” jawab teman saya itu dengan sopan. Mungkin dia takut menyinggung perasaan saya.

Halah. Kenapa tidak, batin saya. Apa salahnya pakai walkman? Toh suaranya masih nyamleng di telinga saya. Apalagi basnya nendang banget di kuping. Ndak kalah deh, sama MP3 player mana pun. Ndak kalah deh, dibanding iPod. Lah kok dibilang aneh. Huh, dasar anak muda yang aneh.

Saya lalu mengadu ke Paklik Isnogud tentang kejadian itu. Saya ndak terima dianggap kere, dianggap sudah ketinggalan zaman hanya karena pakai walkman. Eh, Paklik malah tertawa ngakak ketika saya cerita kemangkelan hati ini.

“Itu namanya beda generasi, Mas,” kata Paklik setelah ngakaknya berhenti.

“Beda generasi gimana, Paklik?”

“Lah iya to, Mas. Anak-anak sekarang kan kalau mau mendengarkan lagu ya pakai iPod Nano-nano, pakai MP3 player. Bukan pakai walkman. Buat mereka walkman itu sudah jadi barang yang aneh. Dinosaurus. Saya saja sudah ndak pernah lagi saya lihat anak muda yang masih pakai walkman seperti sampean ini. Kalaupun ada, pasti sudah sangat jarang. Paling satu dua.”

“Halah, yang penting kan suaranya, Paklik. Mau walkman kek, mau iPod kek, yang penting basnya nendang ndak. Yang penting suara treblenya ngecring ndak.”

“Ya memang, Mas. Tapi mereka ndak peduli itu. Mereka itu tahunya ya iPod dan sebangsanya itu. Ini soal generasi yang berbeda, Mas.”

“Ah, ndak bisa gitu Paklik. Beda generasi bagaimana maksudnya?” saya mencoba protes.

“Sudahlah, Mas. Sampean ndak perlu gusar atau marah-marah. Lihatlah pohon-pohon itu saja. Mereka bisa bercerita tentang generasi.”

“Paklik ini gimana to? Saya ngajak omong soal walkman, kok sampean malah nyuruh saya lihat pohon. Wah jan ra mutu ki …”

“Sik Mas, sampean perlu tahu soal pohon karena bahkan Homerus pun, penyair Yunani Kuno itu, dalam buku ke-VI cerita besar Iliad beratus-ratus tahun yang silam sudah bisa memetik amsal dari pohon:

Sebagaimana generasi daun-daun, begitulah generasi manusia suatu ketika angin mengguncang daunan hingga rontok ke tanah, tapi kemudian hutan yang rimbun melahirkan, dan musim semi hadir. Begitulah generasi manusia, yang berganti-ganti datang dan pergi.

Tapi, Homerus hanya melihat daun. Padahal pohon selalu punya dua cerita: cerita daun dan cerita kulit.

Kita, dari jauh, sering terpesona akan tamasya yang hijau dan rimbun, yang di negeri empat musim, bisa demikian mengasyikkan perubahannya. Suatu ketika merah dan kuning menumpuk. Suatu ketika segalanya runtuh. Suatu saat lain pupus terbit, dan burung menjemputnya kembali.

Mungkin karena itu kita melupakan kulit, yang dengan kasar menutupi tubuh pepohonan. Lihatlah dari dekat. Rasanya ada cerita lain: bukan cerita perubahan, tapi cerita sesuatu yang menetap. Bahkan sesuatu yang bertimbun bersama waktu — satu jejak sejarah.

Kadang ada tulisan ditorehkan dengan pisau ke sana. Kita tak selalu tahu apa. Tapi, yang jelas, itu pun sebuah percobaan untuk membikin kekal suatu peristiwa, biasanya indah, tapi sekaligus mungkin tak begitu penting.

Pohon-pohon selalu punya dua cerita, cerita daun dan cerita kulit. Jika terlalu lama kita simak daun-daun, dan hanya teringat akan perubahan generasi ke generasi, ada baiknya kita saksikan kulit yang setidaknya memberikan ilusi tentang sesuatu yang permanen. Orang tua mati dan orang muda muncul, tapi barangkali tak segala hal menjadi baru.

Karena itu, sampean ndak perlu risau melihat ada generasi lain setelah sampean. Kita ndak perlu tenggelam dalam pembedaan dan dikhotomi “baru” dan “lama” hanya karena sejumlah orang jadi tua dan meninggal dan sejumlah orang lahir dan jadi dewasa.

Sampean hanya perlu yakin bahwa tak ada satu generasi pun yang mampu menguasai generasi lain. Kekayaan juga ternyata tak dapat langgeng selama 7 turunan.

Sejarah membuktikan bahwa suatu generasi suatu saat selalu menemukan jalannya sendiri untuk memperbaiki keadaan. Maka, ambisi saya dalam usia tua ini bukanlah mengarahkan. Ambisi saya adalah untuk memiliki sikap rela bagi yang muda. Sampean mestinya begitu juga, Mas,” kata Paklik mengakhiri nasihatnya.

“Adoh, Paklik. Sampean kok bijaksana betul sih. Saya jadi terharu. Kenapa ya, generasi di atas kita, para pinisepuh, juga orang-orang tua seperti sampean ini seperti punya kelebihan?

“Itu karena mereka punya kesalahan yang kita, atau sampean, tak punya. Sampean tentu masih ingat potongan puisi yang pernah saya ceritakan dulu.

Time is a kind friend, it makes us old …

Ya, Sara Teasdale menuliskan puisi itu dengan nada sedih.

Orang bilang bahwa hanya yang pernah bercita-cita, tapi kemudian khilaf, hanya yang pernah bergelora, tapi kemudian redup, hanya mereka ini yang tahu betapa benarnya penyair itu. Dalam kesedihan dan kearifannya waktu adalah teman yang baik. Ia membikin kita tua.

Ia membikin sederet nama jadi sejarah. Ia membikin serangkai gelombang menjadi mandek. Ia membikin arus deras menjadi reda. Dan, seperti kata Konfusius (alias Kong Hu Cu), ‘Orang tak dapat melihat bayangan dirinya di dalam air yang mengalir, tapi ia dapat melihatnya pada air yang diam.’

Anak muda, mereka yang selalu bergegas, adalah air yang mengalir, arus deras. Orang tua, sebaliknya, adalah air yang diam.”

Setelah mendengarkan kata-kata Paklik itu, tiba-tiba saya merasa ndak menyesal lahir lebih dulu dari teman saya yang bertanya soal walkman itu.

§ 31 Responses to Walkman Pecas Ndahe

Tinggalkan Balasan ke kenny Batalkan balasan

What’s this?

You are currently reading Walkman Pecas Ndahe at Ndoro Kakung.

meta