Babi Pecas Ndahe

Februari 17, 2007 § 25 Komentar

Tanpa terasa waktu berlalu dan Ahad besok masyarakat Tionghoa merayakan Tahun Baru Imlek 2558. Kita memasuki masa yang disebut Tahun Babi.

Seperti biasa, saya lalu berbincang ringan dengan Paklik Isnogud tentang Imlek, tentang barongsai, tentang pesta-pesta yang didominasi warna merah, dan sebagainya.

“Bagaimana nasib dan peruntungan kita di Tahun Babi, Paklik?”

“Hahaha … ” Paklik tertawa. “Sampean ini kok aneh-aneh, lah wong saya ini bukan peramal je, Mas. Tentu saja saya ndak tahu bagaimana nasib sampean di Tahun Babi ini. Ngomong-omong soal babi, saya kok jadi ingat sebuah dongeng.”

“Dongeng apa, Paklik?”

“Syahdan sejumlah babi memimpin revolusi. Mereka menang melawan manusia yang menindas. Tapi, di akhir cerita, mereka meniru manusia. Sebagai penindas. Ah, sampean pasti belum pernah baca Animal Farm karya George Orwell yang termasyhur itu kan, Mas?”

“Eits, sembarangan. Hmmm … yang mana sih, Paklik?”

“Haiyah, gayamu, Mas. Itu loh, dongeng yang konon disebut Orwell sebagai sebuah ‘dongeng peri’. Orang-orang lain melihatnya sebagai sebuah satire. Dan keduanya betul.

Tak mudah untuk menyangkal bahwa cerita pendek ini mencemooh — dengan pedas — riwayat sebuah revolusi. Khususnya, revolusi sosialis, sebagaimana terbukti di Uni Soviet pada 1917.

Animal Farm ditulis di pertengahan tahun 40-an. Ada jarak waktu 30 tahun bagi Orwell untuk menyaksikan, bagaimana sebuah revolusi yang semula berniat membebaskan kaum buruh, pada akhirnya, berkembang menjadi penindas — juga penindas kaum buruh itu sendiri.

Orwell, meskipun tetap seorang sosialis, pada akhirnya memang terdengar seakan berada di pihak yang salah: ia telah mematahkan harapan, seperti dirumuskan Marx, bahwa proletariat kelak akan bisa dibebaskan oleh mereka yang berasal dari kalangannya sendiri.

Animal Farm berakhir dengan kebuntuan. Tokoh yang paling mulia, meskipun bodoh, mati. Si Bokser, seekor kuda yang ingin mengabdi kepada kebersamaan, dengan bekerja keras, akhirnya dikhianati.

Si Napoleon — babi yang disanjung sebagai Sang Pemimpin setelah mengalahkan saingan-saingannya dengan teror — malah hidup terus.”

“Wah, itu pasti dongeng yang serius dan bikin jidat kita berkerut ya, Paklik?”

“Memang. Saya sebetulnya juga ndak suka baca itu buku, tapi karena tadi sampean menyebut-nyebut soal babi, saya jadi ingat Animal Farm.”

“Lah sampean ki kok ya ndlewer, diajak ngomong soal Tahun Baru Cina, eh malah ke mana-mana. Tapi Paklik, orang Cina masa kini sebetulnya beruntung juga ya karena bisa leluasa merayakan Imlek.

Coba kalau suasananya masih seperti dulu, wah kayak apa itu? Kalau dipikir-pikir, saya suka kasihan juga pada mereka. Baru tahun-tahun belakangan ini mereka bebas dan secara terbuka menikmati bagian dari kebudayaan mereka itu. Menurut sampean bagaimana, Paklik?”

“Saya juga senang Mas, melihat keadaan sekarang. Batas-batas itu rasanya kok makin kabur saja. Padahal dulu, bagi kebanyakan orang, kata ‘Cina’ punya konotasi yang tidak enak.

Untuk mengucapkan bahwa ‘orang Cina juga manusia’ bukan saja akan terdengar klise, tapi pun bertentangan dengan prasangka yang berakar dalam di sini. Untuk mengatakan bahwa ‘kita semua sebenarnya Cina’ bisa kian berabe — meskipun kita tahu, bahwa kita pun bisa berhitung keburukan dan keunggulan yang terdapat pada diri kita.

Seorang sejarawan dari Inggris pernah menulis, bahwa orang bumiputra pada umumnya tak membenci orang Belanda benar. Dalam hal ini bisa dikatakan bahwa nasionalisme kita tidak ‘rasialis’.

Tapi, soalnya lain dalam hal menghadapi orang Cina. Jumlah pejabat dan tentara Belanda di sini di zaman lampau selalu sedikit, dan terbatas hadir di tangsi atau di kantor. Sebaliknya di dekat rakyat, orang Cina tampil secara tradisional sebagai pemungut cukai atau pengambil rente.

Van den Bosch, arsitek sistem Tanam Paksa yang telah mengakibatkan penderitaan itu, bahkan ikut menyebut orang Cina sebagai salah satu unsur ‘penghisap darah’ rakyat. ‘Kegiatan mereka perlu diawasi,’ kata tokoh Belanda yang antiliberalisme itu dalam sepucuk surat pada 1830-an.

Niat untuk banyak mengawasi itu tentu saja tak terbatas pada Van den Bosch. Kini kita juga rasa-rasanya masih kepingin melanjutkannya — seperti masih terusnya sikap anti-Cina pada umumnya.

Tapi, begitu panjang sejarah ‘persoalan Cina’ di negeri ini, toh kita nampaknya belum sepakat benar bagaimana cara penyelesaiannya. Demikianlah, di Kudus pada 1918, terjadi kerusuhan anti-Cina, sebagaimana di Makassar dan di Medan pada 1980.

Begitu banyak keributan dalam jarak yang hampir seabad itu, tapi kita tetap tak tahu apa hasilnya. Yang kita catat hanya malapetakanya — lalu lupa bahwa keuntungan akhirnya hanya jatuh ke tangan segelintir orang.

Adakah harapan? Haruskah untuk setiap persoalan tersedia pemecahannya suatu hari nanti?

Saya lihat persoalannya tak sederhana, biar pun yang kita lihat cuma persaingan rezeki.

Di awal abad ini misalnya orang-orang keturunan Cina membentuk Siang Hwee, kamar dagang mereka sendiri. Tak urung para saudagar ‘pribumi’ pun membentuk Sarekat Dagang Islam.

Ketika belakangan ini nampak orang keturunan Cina begitu makmur (di hotel, di kapal terbang, di restoran klas satu, di shopping centre), para pengusaha ‘pribumi’ pun, terutama yang baru, bergerak untuk mendapat bagian kue yang lebih besar.

Tapi, sampai kapan persaingan begini bisa beres, mengingat begitu besarnya jumlah ‘pribumi’? Kita bisa berhitung. Taruhlah 30 juta orang ‘pribumi’ suatu hari bisa semakmur keturunan Cina yang paling sukses.

Jumlah ini katakanlah lebih besar dari jumlah seluruh keturunan Cina yang kaya. Tapi jumlah orang ‘pribumi’ yang masih tertinggal toh masih akan tetap besar — dan mungkin tambah besar juga benih marahnya.

Maka soalnya barangkali bukan redanya persaingan, tapi aturan kompetisi yang lebih jelas, wasit yang lebih bersih, penjaga garis yang tak bisa disogok dalam suatu proses kebangsaan yang lebih serius.

Tidak mudah, memang. Kita perlu mengocok balik banyak hal. Kita tak tahu pasti masih mungkinkah harapan atau lebih baik putus asa. Seperti yang pernah ditulis Lu Hsun, sastrawan besar Cina itu.

Harapan pun punya persamaan dengan putus asa, keduanya mengandung ilusi.

Begitu, Mas.”

Tsssaaaah … Sampean ki elok tenan, Paklik. Dongeng sampean selalu memberi saya kejutan di tikungan terakhir.

§ 25 Responses to Babi Pecas Ndahe

  • avatar nananias nananias berkata:

    we are in the same wavelength. kemarin ini udah hampir beli animal farm. dulu baca punya perpus 😀

    tapi oh well paklik pasti jauh lebih pas njelasinnya, pas ama kemampuan otak saya menalarnya hehehe..

    nah yang ini yang suka dilupa indonesia, sibuk makan obat persis kayak pasien hipokondriak, lupa bahwa kadang cuman perlu menyadari bahwa penyakit itu ada justru karena merasa.

    kok aku ga mudeng dewe yo? pakliiikkkkk

  • avatar balak6 balak6 berkata:

    Walah… Tahun Babi??
    Tahun Haram Muharram nih…

    Cerita Animal Farm-nya lebih ringan daripada kisah sukses para Taipan ….

  • avatar kenny kenny berkata:

    wah..tahunku iki th babi :D, pokok’e yen imlek makan jeruk sampe mulesss.

  • avatar Rara Rara berkata:

    Jadi, apa inti ramalan paklik untuk Tahun Babi ini ndoro.. lebih banyak harapan ato…??

  • avatar wooooooo.... wooooooo.... berkata:

    pengusaha pribumi bergerak merebut kue yang lebih besar…? berarti sediluk ngkas ono gong xi fat suro yo dhe…?

  • avatar bu guru bu guru berkata:

    loh? kerusuhan anti cina di semarang yg geger gendar itu kok ndak disebut ndoro? kuwi malah luwih heboh lohh

  • avatar syah syah berkata:

    The Piciks said : wah… haram tuh merayakan taun baru imlek. apalagi skarang taun babi. babi api pula. haram.
    hehehehe…

    selamat hari raya imlek buat anda yang merayakan.

    @ndoro : saya gak akan kapok untuk mampir kesini. tulisannya sumejuk lan sumilir

  • avatar -tikabanget- -tikabanget- berkata:

    jadi kesimpulannya? gimana ini peruntungan saya di taun babiii.. mana ini horoskopnyaaa…

  • avatar Herman Saksono Herman Saksono berkata:

    Maka soalnya barangkali bukan redanya persaingan, tapi aturan kompetisi yang lebih jelas, wasit yang lebih bersih, penjaga garis yang tak bisa disogok dalam suatu proses kebangsaan yang lebih serius.

    Lho emangnya sekarang kompetisi cina vs pribumi tidak sehat pakde?

  • avatar nila nila berkata:

    halah ndoro…yang pasti imlek tahun ini bukan Gong Xie Fat Choi….
    Tapi NGUNG XIE YU CHOI………..!

  • avatar tito tito berkata:

    animal farm, di sini pernah diterjemahkan jadi binatangisme. Ssst…saya punya surprise tentang itu tanggal 26 Ndoro

  • avatar Hedi Hedi berkata:

    Piye dengan para pria pribumi yang punya selera orietalis, bisa menang dalam persaingan ga ya? 😀

  • avatar diditjogja diditjogja berkata:

    cukup pelajaran sejarahnya!!
    kapan ulangan pak guru?

  • avatar venus venus berkata:

    issue cina-pribumi memang akan selalu ada, ndoro. kalo kita semua gak ‘buka mata-buka hati’, gesekan2 akan selalu terjadi. halah aku ki ngomong opoooo…ngertine mung nyuci piring we kok nggaya 😀

  • avatar Pakde Daeng Pakde Daeng berkata:

    Tapi ndoro, kenyataan di masyarakat banyak juga lho warga keturunan yang lebih pribumi dari pada pribumi meski masih banyak juga yang tetep juga jaim seperti leluhurnya dulu. Nek wis ngene, apa masih relevan mbahas persaingan keturunan dan pribumi?

  • avatar Pakde Daeng Pakde Daeng berkata:

    Ndoro, di kota saya brmukim sekarang ini, sudah lebih 20 tahun, persaingan (baca: bisnis) antara keturunan dan pribumi terasa fair-fair saja. Banyak warga pribumi yang menjadi pengusaha besar, termasuk salah seorang petinggi nagara saat ini. Kerjasama mereka dalam bisnispun terasa wajar-wajar saja. Banyak warung kopi yang dimiliki keturunan bekerja sama dengan penjual coto yang pribumi dalam satu tempat. Yang mengherankan saya adalah, sedikit saja ada ‘masalah’, itu dapat memicu kerusuhan yang sangat besar. Misalnya isu pemerkosaan sorang pembantu RT beberapa waktu yang lalu. Apa sebenarnya yang terjadi, apakah memang ada api dalam sekam dan apa apinya? Mungkin paklik bisa menjelaskan.

  • avatar mbah keman mbah keman berkata:

    tahun babi surganya para koruptor, banyak babi yang akan beraksi nih

  • avatar sawung sawung berkata:

    rasis itu ga hanya disini kok mbah. Di eropa juga ada yang gitu dan biasanya korbannya selalu yahudi, ini udah berabad-abad.

    Animal farm sama 1984 orwell memang banyak mengispirasi orang.

  • avatar Anang Anang berkata:

    angpawnya manaaa…

  • avatar mei mei berkata:

    weisss ra mudeng dengan pemikiran tingkat tinggi gt…ak ki cuma nikmati urip, urip sing damai, ra ono perbedaan antarane sampean cino, opo jowo, opo wong londo…urip damai khan emang enak, iyo ra kangmas ndoro???

    setuju! 🙂

  • avatar dewi dewi berkata:

    bagaimana sebuah revolusi yang semula berniat membebaskan kaum buruh, pada akhirnya, berkembang menjadi penindas — juga penindas kaum buruh itu sendiri.

    membaca kalimat ini spt memutar film pembicaraan saya dan seorang teman beberapa waktu lalu. kekuasaan memang melenakan, karena itu kami memilih jadi manusia abu-abu saja, ndoro.. meminimalize peran dalam system.

    tapi bukan lari dari persoalan, kan?

  • avatar kaipangkulon kaipangkulon berkata:

    “Maka soalnya barangkali bukan redanya persaingan, tapi aturan kompetisi yang lebih jelas, wasit yang lebih bersih, penjaga garis yang tak bisa disogok dalam suatu proses kebangsaan yang lebih serius.”

    Setujuh!!! persamaan gajih dan kesempatan bagi pri dan nonpri di perusahaan milik nonpri. Sekarang ini kan pri digaji 1/3 dari non pri dengan tugas, tanggunjawab sama/lebih besar.

    mosok begitu sih, mas?

  • avatar busybee busybee berkata:

    lha wong yg ribut itu biasanya yg nda kebagian “kue” itu kok paklik, bangsa kita ini aneh, kalau ngerasa rugi;rusuh, ngerasa diremehin;rusuh, kesinggung dikit;rusuh, ada pemilihan ga kepilih;rusuh, ngerasa tersaingin;rusuh

    rusuhnya ya bawa itu2 lagi, ras, agama, kampung, suku …. bangsa opo iki lehh!

  • avatar MasRoby MasRoby berkata:

    Hallo manusia2 yg menganggap dirinya pribumi alias tanpa asal-usul,

    Mau nanya nih, Apa yg disebut dgn orang pribumi atau penduduk asli itu adalah orang yg tumbuh dari tanah di daerah tsb atau orang yg jatuh dari langit ke daerah tsb ?

    Kalau pendapat saya semua manusia adalah pendatang dan asal usul manusia adalah keturunan Adam yg turun dari surga ke bumi sebagai pendatang, bukan pribumi.

    Jadi Adam sendiri ke bumi ini sebagai pendatang bukan sebagai pribumi.

    Seseorang yg meng-klaim dirinya sebagai orang pribumi atau penduduk asli adalah orang bodoh yg tidak tahu asal usul nenek-moyangnya dari mana.

    Dan juga seseorang pengecut/pendengki yg bermental kerdil sehingga menganggap dirinya sebagai penduduk asli atau pribumi

  • avatar MasRoby MasRoby berkata:

    Sebenarnya kita semua tahu penduduk suku jawa ber-asal dari YenAn yaitu didaerah perbatasan antara Thailand dan China Selatan. Juga kita sudah tahu bahwa suku polynesia seperti orang2 Timor, Papua, Ambon, dll. adalah ber-asal dari Afrika.
    Bangsa YenAn ber-asal dari China-Selatan, Bangsa China-Selatan ber-asal dari China-Utara atau Mongolia, Dan Bangsa2 Mongolia, Nepal dan sekitarnya ber-asal dari India. Dan juga Bangsa2 India, Pakistan, Afghanistan, Persian dan sekitarnya ber-asal dari Arab, kemudian Bangsa2 Arab ber-asal dari Adam dan Hawa (Adam&Eva).
    Yang menjadi pertanyaan sekarang, kenapa kita selalu mempersoalkan ?
    Dan yg selalu mempersoalkan selalu orang2 bodoh yg tidak tahu asal-asul mereka sendiri dan yg ber-penyakit jiwa, seperti: dengki, iri, dendam, yg pasti untuk kepentingan diri dan golongan mereka yg pengecut, ber-jiwa kerdil !

Tinggalkan Balasan ke wooooooo.... Batalkan balasan

What’s this?

You are currently reading Babi Pecas Ndahe at Ndoro Kakung.

meta