Burger Pecas Ndahe
Februari 23, 2007 § 24 Komentar
Sesekali jalan-jalanlah ke daerah Lapangan Ros dan seputaran Tebet, atau di Kebayoran Baru, Jakarta. Sampean pasti akan melihat ada sesuatu yang nyaris seragam.
Belakangan ini, di wilayah itu bermunculan kedai-kedai burger dan sandwich. Ada warung “ini burger” atau “itu burger”, cafe burger and sandwich, juga kedai steak and grill.
Tentu saja sampean bisa menebak bahwa kepopuleran Mblenger Burger menjadi pemicu gejala itu. Inilah yang dalam istilah pemasaran disebut me too product.
Meniru itu asyik-asyik saja. Toh akhirnya pasar juga yang menentukan. Konsumenlah yang menjadi wasit apakah sebuah warung atau tempat jajan bakal hidup terus atau tidak.
“Betul itu, Mas,” kata Paklik Isnogud yang tadi malam saya ajak mencicipi salah satu warung burger itu di daerah Radio Dalam, Jakarta Selatan. “Selera kita, terutama dalam soal makan, toh tak bisa diseragamkan.”
“Maksudnya apa, Paklik?”
“Burger-burger ini kan cuma satu titik dari sebuah garis panjang kehidupan. Kita memang butuh makan, jajan. Tapi siapa yang bisa mengatur hari ini kita ingin makan apa dan besok makan siapa. Sampean bisa mengatur menu, tapi selera dan keinginan?
Sampean pasti tahu juga, kolonel tua berjanggut putih yang selalu tersenyum itu toh belum juga membunuh Mbok Berek. Ayam goreng Amerika yang menyebar itu, alhamdulillah, tak menjadi ayam goreng tunggal.
Coca-Cola memang mendesak pelbagai pabrik minuman lokal yang kecil, ketika ia baru tiba di sini; tapi kemudian muncul Teh Botol Sosro. Lalu, yang lain-lain. Cendol, wedang ronde, dawet Banjarnegara, dan sekoteng bahkan tetap tak tergantikan – biarpun tak ada pidato khusus di RT-RT untuk membela mereka.
Apa yang terjadi, tentu saja, bukanlah “lokal” versus “asing”, atau “modern” lawan “tradisional”. Dalam gejala di atas, yang terjadi hanyalah bukti bahwa kita — setidaknya dalam urusan biologis kita di perut — tampaknya selalu menampik untuk diseragamkan.
Betapapun mulianya Sumpah Pemuda, kita sampai hari ini toh belum sampai berikrar agar soto Madura, soto Kudus, dan soto Bandung bersatu menjadi soto Indonesia.
Karena itulah kita umumnya senang datang ke warung-warung di pinggir jalan. Di sana kita bisa menyaksikan – atau mencicipi – sebuah taman mini gastronomi tersendiri. Mi kopyok Medan. Pempek Palembang. Soto Maaruf atau soto Pak Saidi. Bubur Manado.
Dengan kata lain, dari sudut ke sudut, di kedai-kedai yang selalu penuh itu, kita menyaksikan suatu pertahanan diri terhadap proses produksi dan pemasaran masal. Demassification, kata seorang penulis – yang namanya tentu saja Alvin Toffler.
Pernah ada waktunya, memang, ketika para ahli dan para cendekia cemas bahwa masyarakat masa depan mereka akan terdiri dari segala hal yang dibakukan. Industrialisasi berarti produksi dengan angka-angka membintang.
Industrialisasi berarti organisasi dengan kapasitas yang merampatpapankan. Dari daya yang semacam itu akan lahirlah standardisasi dan sinkronisasi. Dan akhirnya: penyeragaman.
Lihat saja kota-kota besar, kata para cendekia yang cemas itu: semuanya akan pencakar langit, gedung papak bertingkat yang mirip. Semuanya akan jadi sederet New York, dari benua ke benua …
Dalam novelnya pada 1984, George Orwell berujar:
Masa depan ialah hidup di mana cinta ditertibkan dan benci dikoordinasikan.
Hidup, dalam bayangan itu, ibarat proses dan prosedur sebuah pabrik onderdil. Tak heran bila ada sebuah cerita, konon dari Jepang, tentang seorang yang tiba-tiba merasa ngeri. Ia tinggal di sebuah flat. Seperti galibnya, bentuk kamar dan ruangan lain dalam flat itu seragam.
Tapi, yang menyebabkan ia ngeri bukanlah cuma soal bentuk. Tiap pagi, pada pukul 6.30, ketika ia dibangunkan oleh dering jam di mejanya, ia juga mendengar semua penghuni flat dibangunkan oleh dering jam di meja mereka.
Ketika ia menyentor air di kakusnya, pada detik yang sama juga ia mendengar semua orang menyentor air di kakus mereka. Hal yang serupa terjadi ketika ia menutup pintu, turun tangga, berangkat ke kantor.
Tiba-tiba ia tak yakin lagi siapa sebenarnya dirinya: barangkali ia adalah orang lain, barangkali ia tetangganya.
Untunglah, dalam kenyataan, di dunia yang kita saksikan kini, potret semacam itu batal terjadi. Ribuan rekaman telah dibikin dan disebarkan untuk nyanyian Beyonce Knowles, tapi tak setiap orang — bahkan tak setiap remaja — menyukai Irreplaceable. Meski Boyence sekarang sedang di puncak Top 40 Singles di Amerika, toh masih ada yang suka Waljinah.
Ratusan ribu celana denim Levi’s diproduksi dan dipasarkan, tapi di jalan-jalan tetap kita saksikan ekspresi dan selera bhineka dalam berdandan.
Di bidang lain, dengan skala lain, ‘partikularisme’ seperti itu juga hadir. Misalnya dalam kekuasaan politik, ketika negeri demi negeri, bahkan wilayah demi wilayah, ternyata tak sepenuhnya dapat diatur meskipun oleh kekuatan besar.
Amerika Serikat gagal mengharuskan sekutu-sekutunya 100 persen mengikuti politik pertahanan nuklirnya. Uni Soviet tak berhasil menertibkan politik ekonomi ‘anak buah’-nya. Karena itulah penamaan ‘adikuasa’ bagi kedua negara itu tidak tepat. Mereka memang adidaya, mereka memang kuat; tapi kuasa?
Tapi tentu ada dalam dinamika kekuatan itu yang dengan sendirinya mendorong untuk membuat dirinya jadi model. Yang kuat, bagaimanapun juga, tentu punya kelebihan dan hal baik untuk dicontoh.
Agaknya memang ada kebutuhan sebuah masyarakat – terutama dalam proses industrialisasi dirinya untuk menciptakan pembakuan dan penyeragaman optimal. Efisiensi dan efektivitas menghendaki itu.
Soalnya kemudian tinggal sejauh mana kita bisa memilih, seraya menyadari ‘lain ladang lain belalang’. Sebuah cara penanaman padi yang tepat untuk Jawa Tengah belum tentu cocok untuk Sumatera Utara.
Penataran P-4, yang berhasil di banyak kalangan belum tentu baik untuk siswa sekolah menengah. Sebuah sistem hirarki, yang patut untuk kepengurusan Dharma Wanita, belum tentu tepat untuk organisasi istri para wartawan.”
Ah, gara-gara mengingat tuturan Paklik itu saya jadi lapar lagi sekarang. Sampean mau makan apa siang ini, Ki Sanak? Burger? Gudeg?
Adendum: tulisan ini saya persembahkan untuk Bulik Lita yang secara khusus menelepon saya tadi hanya untuk menanyakan, “Posting barunya mana, Pakde? Sehat-sehat saja, kan?” Terus terang saya jadi terharu …

lantas, rencana ndoro nraktir saya makan pizza dengan topping gudeg kapan realisasinya?
bakso malang je
arema tidak kemana – mana, ada di mana – mana.
pagi2 kok ngomong soal makanan. jadi laper. sarapan dulu yuuk, ndoro..
*nyengir*
Lha, jangan-jangan sakit, je…
Tau-tau kaya kemarenan, tiba-tiba kesamber motor lalu berurusan dengan pak pulisi :p
Di Kalimalang sini ya ada burger. Castle Burger. Guede, sampe harus mangap pol. Entah mulut saya yang kecil atau ukuran burgernya memang besar.
Ngga begitu jauh dari situ, ada angkringan. He, ada angkring di Jakarta. Soalnya saya kira cuma di Solo. Tiap sore, gerobak dengan gorengan dan macem-macem penganan itu selalu rame disambangi pengendara motor. Gayeng banget kethoke hehehehe…
Selera memang tidak bisa didikte, walau ada sebagian orang yang tipenya gak bisa gak nyoba produk baru. Jadi, produk baru boleh rame. Tapi kalau sudah nyoba, ya sudah. Balik lagi ke kesukaan (lama) 🙂
jadi pengen makan steak. steak golf 😀
tapi seperti biasanya pakanan dan wedangan di bunderan HI adalah selalu kemproh dan kere.
penyeragaman. lambat laun system meang akan mengarah kesitu ndoro, dan kita, ndoro, saya dan orang2 laen, hanya merupakan bagian dari perputaran itu sendiri yang ga bisa mencegah adanya perubahan pada dunia yang mengglobal. tapi, bukan berarti selanjutnya kita akan kehilangan jati diri, toh kita masih bisa membentuk dunia2 kecil di dalamnya khan?
bener-bener jd pecas ndahe, teko burger iso dadi wacana politik….. kekeke ^:)^
hmm…aku juga salah satu penggemar blenger burger, di bintaro pas buka pertama kali yang ngantri sak taek ndayak!!!sekarangpun yen arep makan k situ mending malam…yen siangg seett dehh!!!
eh kang tapi ada juga lo yang lidahe gak iso makan makanan londo…contone bojoku dhewe..hihi tempe maniac!!!
Sudah sehat Ndoro… sudah boleh makan burger lagi..??? Katanya kemaren masih kolesterol…. tensi tinggi… sama asam urat…???
semakin kesini memang orang semakin minta dilayani secara personal, ibaratnya market itu makin lama makin niche. Contohnya kalau dulu cuma ada satu macam pasta gigi, sekarang ada pasta gigi untuk anak, pasta gigi untuk remaja, pasta gigi untuk gigi sensitif, pasti gigi dengan perlindungan 24 jam, dll. Kalau dulu cuma ada susu thok, sekarang ada susu penggemuk, susu untuk ibu hamil, susu untuk ibu menyusui, susu untuk lelaki supaya berotot, susu anti osteoporosis, dll.Jadi makin lama ya makin gak seragam ndoro…..
Itulah kesejatian makna pluralitas hidup….memang segala sesuatu dicirikan oleh keistimewaannya masing-masing tanpa saling merendahkan satu sama lain. Leres to nggih???
Ndoro sudah sehat? Saya dengat kemarin sempat mencret-mencret gara-gara posting sehari lima kali.
bahkan di tiap usaha menjadi sama, ada usaha untuk menjadi berbeda.
wah..weteng lagi mules ngene, ndoro, ra iso mangan opo2 aku *mrecing*
biar ndoro posting di blog, saya tetep masih sering baca koran 😀
**salam kenal ndoro**
aku tadi barusan makan chiliwurst, beli di main station, tak pikir2, ijih luwih enak tempe gembus goreng or balok… Jogja memang tiada duanya 🙂
Wahhh.. betul ndoro… kedai burger bertebaran.. tinggal kapan ya.. ndoro bersedia ngajak kita makan burger2 yg top markotop itu.. Mblenger Burger, ada lagi Klenger *mo nyamar2 jd mblenger*, Hot Shot Burger. *huhh TOP BGT deh*, Burger & Grill.. Burger King *kuno ya*.. Maauuuu…
Jadi, kapan ndoro??
sudah diwakili sama rara komenku hehehehehehe
ayo ndoro…nanti tak “payungi” kalo hujan huahahahahaha
berarti besok2 iso itu ndak laku ya?
Ketika Amrik gemar berusaha menyeragamkan kebijakan politik mereka ke negara lain, justru anak sekolah mereka diajarkan untuk tidak mengenakan seragam 😀
saya gudeg aja Ndoro!! Beliin ya? tapi gak pake ngobrol soal Jenas Levi’s, flat di jepang, burger mblenger, dan laen2…cuman mo makan thok!!
*dadi ngelih*
mmmm…..jujur aja sama diri sendiri….seleramu apa?
selera kho ngikut2 orang….:-)
saya suka burger.. gratis..