Cerpen Pecas Ndahe

Maret 5, 2007 § 24 Komentar

Utang yang belum dilunasi bisa bikin ganjalan di hati. Janji yang belum ditepati juga bisa bikin kesal hati. Untuk melunasi janji itulah saya hari-hari ini saya terpaksa semedi. Semedi?

Iya, saya pernah berjanji menulis satu cerita pendek untuk mengisi majalah dinding di pabrik seorang kawan. Dasarnya saya ndak punya waktu banyak, janji itu tertunda-tunda. Ada saja alasan untuk tak menepati utang itu, sampai akhirnya saya tak bisa mengelak lagi.

Celakanya, meski sudah semedi tujuh hari tujuh malam, poso mutih, ide dan gagasan itu tak kunjung datang. Entah sudah berapa banyak kertas kosong yang sudah saya buang ke keranjang sampah. Akhirnya saya cuma mondar-mandir di pabrik ndak keruan.

“Sampean lagi ngapain to, Mas? Kok kayaknya sibuk bener, wira-wiri, duduk, bangun lagi? Ada bisul di pantat,” tanya Paklik Isnogud yang kayaknya merasa terganggu.

“Ndak, Paklik. Ini lo, saya lagi bikin cerpen.”

“Cerpen? Walah, nggaya. Tumben sampean menulis cerpen. Buat siapa?”

“Pesenan teman. Tapi, dari kemarin kok ndak jadi-jadi. Mumet aku. Nah, kebetulan sekarang kita bertemu, saya mau minta pendapat sampean, Paklik. Mbok coba sampean baca dulu oret-oretannya, Tapi, ini belum jadi lo, Paklik.”

“Mana?”

Saya mengangsurkan oret-oretan saya di notes cap munyuk yang sudah lapuk itu. Paklik segera membacanya dengan serius. Matanya menari-nari di atas larik-larik tulisan tangan saya yang seperti tulisan dokter itu. Saya menunggu dengan harap-harap cemas.

Senin
Mata rembulan. Wangi Bvlgari. Lambaian tangan dan sederet angka di atas sobekan tisu.

Selasa
SMS. Email. Telepon singkat sepanjang siang dan malam hari. “Udah maem?” … Buzz and emoticons.

Rabu
Kinokuniya. Plaza EX. Starbucks. Dragonfly. Kerling berbinar. “See you tomorrow and sleep tight, dear.”

Kamis
Lantai 9, Apartemen Rasuna. Room service. Don’t disturb mode on.

Jumat
Ranjang yang lusuh. Blinking light … “Home calling.”

Sabtu
Incoming message: “I am leaving.”

Minggu
“Jangan lupa anak-anak dimandiin … ”

TAMAT

“Gimana, Paklik? Bagus ndak?”

Saya tak sabar menunggu reaksi dan komentar Paklik Isnogud.

“Sik … sik … sik … ini cerita tentang perselingkuhan ya, Mas?”

“Waaah … bukaaan … Bukan, Paklik! Salah. Sampean pasti sudah teracuni oleh kisah-kisah picisan seperti di TV itu ya, yang isinya kalau bukan soal perselingkuhan, anak-anak yang dilarang pacaran oleh orang tuanya, ya pasti soal ibu tiri itu, kan? Makanya, jangan kebanyakan nonton sinetron.

Paklik, ini bukan cerita tentang pasangan yang sedang berselingkuh. Sebaliknya, ini sebuah cerita tentang cinta yang teguh.”

“Cinta yang teguh? Maksudmu opo, Mas?”

“Nah, begini, Paklik. Saya ini mau menulis sesuatu. Yah, semacam cerita pendek begitulah. Ada seorang kawan yang menagih untuk dimuat di pabriknya dan sudah lama belum saya sanggupi. Tapi, terus terang saya ndak tahu dari mana mulainya dan apa temanya.

Kebetulan saya baru bertemu seorang kawan lama pada suatu senja di pinggir kota. Dia adik kelas saya dulu waktu sekolah di kampung. Karena sudah lama tak bertemu, kami bercerita ngalor-ngidul, termasuk tentang bagaimana kehidupan dan keluarganya sekarang.

Dia juga bercerita tentang istrinya yang cantik, baik, dan setia. Sayangnya, meskipun hampir sepuluh tahun menikah, mereka belum punya anak. Padahal kata dokter mereka berdua itu sehat-sehat saja. Secara medis, mereka sebetulnya bisa memperoleh keturunan. Entah kenapa buah hati yang mereka dambakan belum nongol juga. Mungkin belum dikasih Gusti Allah saja.

Teman saya itu juga memberi tahu bahwa dia mau berangkat ke luar negeri. Katanya disuruh kantornya sekolah di Swiss. Dibayari gitu, Paklik. Katanya sih, dia itu mau dapat promosi jabatan, tapi harus nambah ilmu dulu di luar negeri dua atau tiga tahun gitu.

Masalahnya … Nah, ini Paklik, istrinya ndak bisa ikut berangkat karena ibunya sudah tua dan sakit-sakitan. Mau ditinggal, kok rasanya ndak tega. Mau dititipin, siapa yang mau? Kebetulan, istrinya anak tunggal. Ndak ada saudara dekat. Ibu mertua teman saya itu selama ini memang ikut tinggal serumah bersama mereka.

Teman saya itu jadi pusing. Mau berangkat, kok cuma sendiri. Mau ngajak istri, kok ndak bisa ninggal ibu mertuanya yang sepuh dan sakit-sakitan itu. Siapa pula nanti yang akan merawat tiga dalmatian kecil yang sudah mereka anggap anak sendiri itu? Apa ya dijual atau dititipkan saja?”

“Sik, Mas. Dalmatian itu opo sih? Kok pakai dititipkan segala?”

“Asyu, Paklik. Kirik yang badannya totol-totol item itu. Keluarga teman saya itu sengaja memelihara tiga anak anjing. Katanya sebagai pengganti anak yang tak kunjung datang. Makanya, kirik-kirik itu sudah dianggap seperti anak sendiri. Mereka juga memanggilnya ‘anak-anak’.”

“Oh … kirik. Saya kira makanan je. Terusannya bagaimana?”

“Nah, setelah mereka berdiskusi panjang, akhirnya diputuskan teman saya tetap berangkat ke Swiss dan istrinya ditinggal. Mereka pakai nangis-nangis segala sebelum mengambil keputusan itu.”

“Lah kok cerita sampean nyebut-nyebut soal apartemen dan ranjang, Mas? Apa hubungane?”

“Oh, itu ada ceritanya sendiri. Istri teman saya itu katanya rela ditinggal pergi suaminya. Tapi, ada syaratnya. Sebelum sang suami berangkat, mereka berdua harus meluangkan waktu khusus berdua untuk mengulang masa-masa pacaran dulu, minimal sepekan saja.

Sang istri ingin mengenang zaman mereka masih romantis-romantisnya. Zaman ketika teman saya baru kenal istrinya, lalu mengejar-ngejar, dan akhirnya berhasil mendapatkan dia.

Istrinya juga ingin mereka jalan-jalan berdua saja mengenang masa lalu, mampir di toko buku, nonton di bioskop, nongkrong di kedai kopi, dan menghabiskan malam di lantai dansa sampai dini hari.

Sang istri bahkan ingin mengulang malam pertamanya di sebuah apartemen — lengkap dengan sentuhan, erangan, dan rintihan yang sama seperti dulu. Ia ingin menghabiskan waktu seharian cuma berdua di dalam kamar. Pokoknya dia ingin suaminya memberikan perhatian penuh buat dirinya. Ndak perlu mikirin ibu dan kirik-kirik itu.

Begitulah. Untuk menyenangkan hati istrinya, teman saya itu mau menuruti permintaan yang dirasaknya unik itu. Mereka berdua akhirnya benar-benar melakukan perjalanan nostalgia itu, lengkap dengan rekonstruksi pertemuan pertama mereka di sebuah acara. Perkenalan singkat yang diakhiri saling tukar nomor telepon, aksi-aksi pendekatan lewat SMS, email, dan chatting, janji makan malam, dan akhirnya bercinta di apartemen yang khusus disewa seharian. Pokoke komplet pol.

Setelah sepekan yang menyenangkan, dan melelahkan itu, mereka toh akhirnya kembali ke dunia nyata. Pembantu di rumah menelepon, mengabarkan sang ibu mertua jatuh di kamar mandi. Mereka harus segera pulang.

Besoknya, teman itu juga harus naik pesawat meninggalkan sang istri tercinta dalam kekosongan yang panjang …

Setelah mendengar cerita itu, saya dapat ide. Saya mau membuat tulisan berdasarkan cerita mereka berdua itu. Saya ingin menulis tentang cinta mereka berdua yang begitu teguh. Tentang cinta yang kadang-kadang harus dirawat seperti kita membesarkan tanaman dengan hal-hal kecil dan sepele tapi bermakna, seperti jalan-jalan bergandengan tangan berdua, bisik-bisik di toko buku, elusan kaki di bawah meja kedai kopi dan sebagainya, Paklik.”

“Ealah … Begitu toh ceritanya. Saya kira sampean mau cerita tentang pasangan yang selingkuh tapi harus menerima kenyataan berpisah di ujung pekan. Berarti saya salah paham ya, Mas? Tapi, kenapa ada lagunya David Foster segala? Apa cocok itu dengan cerita sampean?”

“Ah, namanya juga cerpen, Paklik. Boleh kan imajinatif sedikit. Jangan kayak cerita sinetron itu dong. Paklik sih, nontonnya sinetron mulu … ”

“Halah, lambemu, Mas … ”

Saya ngakak.

Ki Sanak, hari ini saya mau mengucapkan terima kasih untuk kesabaran Anda menanti lanjutan posting saya tempo hari. Mohon maaf untuk rasa penasaran, juga untuk SMS dan pertanyaan sampean semua. Percayalah, saya masih seperti yang dulu kok … hihihi ….

Sekarang gantian saya bertanya, bagaimana sampean merawat cinta kepada pasangan sampean masing-masing?

§ 24 Responses to Cerpen Pecas Ndahe

Tinggalkan Balasan ke balak6 Batalkan balasan

What’s this?

You are currently reading Cerpen Pecas Ndahe at Ndoro Kakung.

meta