Doa Pecas Ndahe
Maret 10, 2007 § 22 Komentar
Seseorang telah menulis sebuah kumpulan, “Doa Sederhana bagi Dunia Yang Ruwet.”
Barangkali memang itulah yang kita perlukan saat ini: ketika hujan menjelma banjir, sungai menjadi bandang, angin menjadi badai, dan kendaraan menjadi peti mati penumpangnya.
Karena kita sering kali menjadi bengong, lalu bertanya-tanya, siapakah kita yang guncang oleh keruwetan kehidupan dan pikiran ini? Raga atau sukma?
Dalam sebuah dunia yang kadang penuh persahabatan, kadang penuh kekerasan, Joseph Conrad, menulis tentang seorang manusia, bernama Kurtz, di hutan Kongo, yang mati sambil berbisik (mungkin tentang dirinya sendiri), “The horror … the horror … ”
Kita melihat titisan novel Heart of Darkness itu dalam film Appocalypse Now!, tapi bukan itu yang penting. Yang penting ialah bahwa tiba-tiba kita bergidik, mendengar fanatisme yang sanggup membunuh. Sukma yang rusak itu lebih menyedihkan dari badan yang ditembak.
“Alam pikiran manusia,” kata Conrad, “mampu untuk apa saja sebab segala sesuatu ada di dalamnya, semesta masa lalu dan juga semesta masa depan.”
Semesta yang tak terduga. Horor, kadang mirip heroisme. Semu.
“Tuhan, di pintu-Mu aku mengetuk … “

Betul ndoro, makin sulit membedakan yang benar dan salah. Mudah-mudahan Tuhan masih memberi rasa untuk membedakan.
Kadang kita mudah menvonis mereka yang melakukan sesuatu yang menurut kita ‘salah’…
sudah ‘benar’-kah kita…??
ndoro, ko=is dan is=ko.. amitaba..
gak mudheng… soale saiki aku durung mangan je..
ra’ nduwe duwit..
doaku untuk Indonesia
lagi tobat ndoro?
Duh gusti, paringono ndorokakung tempat yang terbaik di sisi-Mu. disitu, di pojok surga dekat rel kereta api dibawah jembatan juga boleh. yang penting ada embel-embel surganya.
kasihan dia gusti… 😀
the paradox of a human 😉
waktunya jadi manusia, pengen jadi dewa. dimintain tanggung jawab atas keinginannya jadi dewa, (balik lagi) ngaku2 manusia.
ikut berdoa, ndoro. moga2 cepet sembuh semua yang sedang dilanda musibah ini. 😦
ndoro, sombong tenan. dari dulu aku memang disitu. kok pindahan? nggak pindah-pindah je ndor. cuma ganti leyot. 😀
doakan saya kuat, ndoro 😦
Tuhan telah Mati,
Tuhan tidak andil
Tuhan dah lupa dengan bumi
karean teryata bumi adalaha bagian terkecil ciptaan tuhan yang isinya manusia ingkar semua
Tuhan sedang menanti kita, ambil tiket antrian untuk kembali
Manusia tidak akan pernah diberi cobaan diluar batas kemampuannya…..
ayo ndonga…
doa mohon kutukan
(emha ainun nadjib)
“Tuhan, di pintu-Mu aku mengetuk … “
mengutip kata I gedhe prama: “kamu mengetuk dari dalam”
kadang qt ga nyadar kapan, dimana dan mengapa qt mengetuk pintu-NYA
Ya, doa, memberi kita waktu untuk berdialog dengan diri sendiri dan mengetuk pintu-Nya untuk berharap..
wah..pas banget ini ndoro, aku baru baca ttg “Got ist tot” nya Friedrich Nietzsche tapi ra mudeng blass…mohon pencerahan nya ya ndoro.
*eh..nyambung gak sih komen gw ? ah EGP, heheehe*
ora et labora
takut ndoro…
“Pecas ndahe” ngurus dunia yang semakin jumawa. “Pecas ndahe” opo obat-e? obatnya ya doa, trus yang mendengar isi doa-doa tersebut ya nulung. Jangan cuma mendukung dalam doa.
CLOSING COMMENT [sementara]: posting doa ini dimaksudkan sekadar pengingat agar kita selalu eling lan waspodo. tak kurang dan tak lebih. terima kasih untuk sampean semua yang sudah berkomentar.
lihat di blog saya dong doro itu saya dapat dari teman 🙂
Ndoro yang berdoa, saya yang meng-amin-kan …