Otak Pecas Ndahe

Maret 27, 2007 § 19 Komentar

Jika bocah-bocah lelaki dan perempuan tumbuh di sebuah tempat terpencil, tanpa masyarakat yang mengatur atau orangtua yang memimpin mereka, apakah gadis-gadis akan tetap membuat lingkaran teman dan bermain boneka, sedangkan para jejaka akan tetap bersaing satu sama lainnya, berkelahi, dan membentuk kelompok dengan kepemimpinan yang jelas?

Paklik Isnogud mengajukan pertanyaan yang memusingkan itu setelah Minggu kemarin dia bercerita tentang gedebog pisang yang membuat saya ngakak.

Dan, seperti biasa, tanpa menunggu jawaban saya, Paklik berbicara sendiri, menjawab pertanyaan itu.

“Anak perempuan tetap akan menjalin hubungan dan bermain dengan bonekanya. Anak laki-laki tetap akan berlomba, melawan laki-laki lain, memperebutkan kursi pimpinan dalam kelompoknya. Sampean tahu sebabnya, Mas?”

Saya menggeleng.

“Bukan lingkungan, bukan politikus atau pemerintah, bukan orangtua, yang membuat pria dan wanita berbeda. Sesungguhnya otaklah yang membuat semuanya berbeda.”

Aktivitas otak di dalam rahim dan pengaruh hormon akan menentukan cara setiap individu berpikir dan bersikap.

“Tunggu, Paklik,” saya mencoba menyanggah pendapatnya. “Saya pernah membaca, entah di buku apa. Katanya, perbedaan itu sekadar konspirasi para pria. Pemerintah, agama, dan sistem pendidikan, telah bersatu hanya untuk menekan wanita. Mereka bersekongkol menghalangi wanita-wanita pandai agar tak menonjol. Membuat wanita sibuk hamil, katanya, adalah salah satu cara mengendalikan gerak, dan kelebihan, wanita. Bagaimana sampean bisa menyatakan bahwa otaklah yang bertanggung jawab atas perbedaan?”

“Mas, jika pria dan wanita itu identik, seperti yang dikira orang selama ini, bagaimana pria mendominasi dunia seperti sekarang?

Penelitian tentang cara kerja otak telah memberikan banyak jawaban bagi kita; bahwa kita tidak identik.

Namun, pria dan wanita memang harus setara. Maksudnya, mereka harus mendapatkan kesempatan yang sama untuk mengembangkan potensi mereka sepenuhnya. Kenapa? Karena mereka memang betul-betul tidak identik dalam kemampuan wawasan mereka.

Kesetaraan pria dan wanita adalah isu politik atau moral; sedangkan apakah ada perbedaan mendasar di antara keduanya adalah pertanyaan ilmiah.

Begitu, Mas.”

“Lalu bagaimana pendapat sampean tentang isu jender? Apa ini juga sekadar wacana politik atau bukan, Paklik?”

“Mereka yang menolak gagasan bahwa secara biologis pria dan wanita berbeda, dan perbedaan itu berpengaruh pada kebiasaan, memang sering menyangkal dengan keras dan mereka pun menentang jenderisme.

Tapi, biasanya mereka akan kebingungan membedakan antara kesetaraan [equal] dan kesamaan [identical] yang sebenarnya merupakan sesuatu yang sama sekali berbeda, Mas.”

“Saya juga bingung tuh, Paklik.”

“Lain kali deh, saya akan bercerita lagi soal otak dan perannya dalam membedakan pria dan wanita. Sekarang saya mau jalan-jalan dulu, ya.”

Halah, nggaya. Ya sudah sana, saya mau nanya teman-teman saja. Bagaimana Ki Sanak, adakah di antara sampean yang bisa membantu saya mencerahkan pikiran yang bingung ini?

§ 19 Responses to Otak Pecas Ndahe

  • avatar balak6 balak6 berkata:

    konon..WANITA diciptakan dengan 9 nafsu dan satu akal, sedang PRIA sebaliknya….sembilan akal dan 1 nafsu.
    bener ga’ seh…???

  • avatar andrias ekoyuono andrias ekoyuono berkata:

    Tapi, biasanya mereka akan kebingungan membedakan antara kesetaraan [equal] dan kesamaan [identical] yang sebenarnya merupakan sesuatu yang sama sekali berbeda

    Ini setuju ndoro ! Kesempatan yang sama harus diberikan karena setiap orang berhak mendapat kesetaraan, namun bagaimanapun kita tidak dapat mengingkari fitrah bahwa pria dan wanita itu tidak identik, jadi toilet pria dan perempuan tetep harus dipisah 🙂

  • avatar mbakDos mbakDos berkata:

    kesetaraan gender, emansipasi wanita, atau apapun namanya, kalok buat saya (yang wanita tulen pastinya!), bukan berarti bisa dipake buat melupakan asalnya bahwa wanita dan pria memang dibikin beda.

  • avatar mei mei berkata:

    se7 ma mbakDos, wanita memang sejajar dengan pria..hanya memang wanita juga gakboleh lupa akan kodratnya, untuk apa ia ada di muka bumi ini…

  • avatar galih galih berkata:

    bingung mbah… paklik isnogud kalo ngomong selalu berat…

  • avatar kikie kikie berkata:

    menanggapi jawaban balak … bagaimana dengan ukuran masing2 akal & nafsu yang katanya jumlahnya beda antara laki-laki dan perempuan itu? ada kemungkinan kan, meskipun laki-laki cuma punya satu nafsu, tapi yang satu itu bisa mengalahkan yang sembilan lainnya. apalagi kalau melihat beberapa kawan laki-laki saya yang kok kesannya sex-minded banget GTL. juga mengenai 1 akal vs 9 nafsu pada perempuan..

    tapi aku ga nolak kenyataan kalau secara biologis, perempuan dan laki-laki memang beda. jelas! hormon reproduksinya aja beda, padahal hormon itu berpengaruh banget.

    perempuan jangan lupa kodrat, DAN laki-laki juga jangan lupa peranan perempuan dalam hidupnya ^_^

  • avatar kaipang kulon kaipang kulon berkata:

    Contoh ideal sudah ada kok repot-repot berdebat soal jender.

  • avatar didi didi berkata:

    setuju sama kaipang. mendingan pelajari contoh yang ada. dari pada sibuk bikin konsep dan definisi baru.

  • avatar Epat Epat berkata:

    Kesalahan terbesar kedua Tuhan adalah menciptakan wanita, kesalahan-Nya terbesar pertama adalah…..manusia! hahahaha…

  • avatar venus venus berkata:

    saya setuju satu hal. konspirasi kaum laki-laki yang bikin perempuan seakan-akan warga kelas dua (taun depan kelas tiga, kalo udah kenaikan kelas, hehehe…)

  • avatar Panji Panji berkata:

    Isu itu memang sudah lama jadi perdebatan: apakah identitas gender dibentuk oleh lingkungan atau bawaan dari lahir. Para “pembela” gender menyatakan bahwa identitas gender diciptakan lingkungan. Jadi, seorang anak laki-laki, jika sejak kecil diberi mainan boneka maka setelah besar juga cenderung memiliki identitas perempuan.
    Kalau menurut saya sih tidak. Buktinya: anak saya perempuan usia dua tahun, cenderung memilih mainan “perempuan” seperti boneka atau peralatan masak dari plastik.
    Ketika dibelikan mobil-mobilan, motor-motoran, dia tidak suka.
    Jadi, kelihatannya benar kata Pak Lik Isnogud.

  • avatar dik dik berkata:

    epat, biso kualat kon.

  • avatar kebo kebo berkata:

    paklik isnogud botak pasti kepalanya hehehehehe

  • avatar singgih singgih berkata:

    Lha saya pas kecil dulu, selalu dipake-in baju wedok sama simbok saya (le ra nduwe liyane, lungsurane mbakku, ben ada salin, saking kerenya), trus dolannya sama cewek-cewek terus, pasaran, main karet, dlsb. Lha sekarang tetep maskulin aja tuh, nggak ada naluri kewedokan babar blas. Nek kodrate lanang yo tetep lanang. sing kewedok-wedokan ki paling le wedi dadi lanang dengan segala konsekuensinya, jare. Penyimpangan dimulai dari kepenginan diri. ya’e

  • avatar mbah atemo mbah atemo berkata:

    mas ndoro, barangkali itu sebentuk kebetulan kerana dilahirkan sebagai ‘laki-laki’ atopun ‘perempuan’.. soal yg lain itu negoisasi.
    halah, mbuh ah..

  • avatar -tikabanget- -tikabanget- berkata:

    saya setuju.
    perbedaan wanita dan pria adalah pada hal ilmiah.
    tapi pola pikir dan istiadat yang dilakukan wanita dan pria (dan akhirnya malah dijadikan batas antara normalnya wanita pada umumnya, dan normalnya pria pada umumnya), sama sekali gak ada pengaruh dari gender-genderan..

  • avatar jeng_nink jeng_nink berkata:

    setuju kaliyan jenk kikie
    Biarpun laki2 punya 9 akal dan 1 nafsu,,tapi yang sembilan itu juarraang dipake jadi yaa yang satu (nafsu) itu ajah yang dikedepankan 🙂
    Tull Ndak???

  • avatar rommy rommy berkata:

    karena satu nafsu saja sudah memberikan impuls yang luar biasa hwekekeke..walaupun akan segera hilang dengan sendirinya..

  • avatar Anton Anton berkata:

    memang benar, wanita dan pria emg beda. Dan hal ini bisa jadi perihal yg menjengkelkan klo kita ndak bijak2 menyikapi 🙂
    Perbedaan mendasar di antara wanita dan pria adalah pertanyaan ilmiah. Tapi repotnya, perbedaan ini cukup susah utk disikapi scr ilmiah. Banyak luputnya :mrgreen:

Tinggalkan komentar

What’s this?

You are currently reading Otak Pecas Ndahe at Ndoro Kakung.

meta