Optimisme Pecas Ndahe

Agustus 24, 2009 § 69 Komentar

Konon jika lebih banyak lagi orang baik di Kota Sodom dan Gomorah, azab tidak akan turun. Tapi lihatlah baik-baik. Setiap kali kita mengatakan bahwa kian bertambah jumlah pencuri di antara tetangga kita, setiap kali kita menambah jumlah itu dengan satu orang perampok di hati kita.

Kita memang mencuri dengar orang berbisik-bisik tentang garong dan maling, mafia dan bajingan — berjajar dari Barat sampai ke Timur. Tapi ingatkah Anda pada seseorang yang berjalan di pedalaman yang jauh, dan seorang anak hampir mati yang berbisik “terimakasih”?

Khotbah memang bicara tentang kebejatan akhlak — dan itu memang ada. Tapi adakah kita telah sepakat bahwa bangsa ini bangsa terkutuk? Acara diskusi kaum intelektuil memang kerap berbicara tentang kebobrokan dan korupsi — dan itu memang nyata. Tapi benarkah kita tidak punya apa pun untuk mengatasinya? « Read the rest of this entry »

Takdir Pecas Ndahe

Mei 23, 2008 § 35 Komentar

Apakah takdir itu sebenarnya? Siapa yang punya?

Ketika tendangan penalti John Terry melebar ke samping gawang Manchester United dan Chelsea gagal merebut piala juara Liga Champions, apakah itu yang disebut takdir?

Rumput lapangan Stadion Luzhiniki memang basah setelah diguyur hujan, tapi dari 14 eksekutor penalti, hanya Terry yang terpeleset. Apakah ini takdir?

Ronaldo memang berhasil menyundul bola masuk ke gawang Petr Cech, tapi mengapa ia juga gagal mengeksekusi penalti? Apakah ini juga takdir?

Saya ndak tahu. Begitu juga saya ndak mengerti siapa saja sebetulnya pemilik takdir.

Apakah ini juga takdir, ketika si Fulan, lulusan universitas negeri ternama dengan indeks prestasi 4, tapi belum juga mendapat pekerjaan setelah lulus dua tahun lalu. Apakah si Fulan tak bisa punya takdir? « Read the rest of this entry »

Rayuan Pecas Ndahe

April 28, 2008 § 34 Komentar

Kenali lawan bicara sampean sebelum menelepon, kecuali sampean memang ingin akan ngakak bersama di akhir pembicaraan. Begitulah pelajaran yang baru saja saya peroleh dari seorang Ibu.

Ibu itu tadi tiba-tiba menelepon ke nomor handphone pribadi sewaktu saya hendak istirahat makan siang. Tanpa sungkan-sungkan lagi dia langsung memperkenalkan diri dari PT Blablabla Kapital yang bergerak dalam jual-beli saham.

Dalam hati saya bertanya-tanya. Saham? Sejak kapan saya main saham? Dari mana ibu itu tahu nomor saya? Saya curiga ibu ini pasti cuma mau jualan.

Karena penasaran, saya biarkan saja dia mengeluarkan jurus-jurus pembukaannya. Saya ingin tahu sampai di mana ilmunya.

“Bapak sudah pernah mendengar tentang saham, Indeks Han Sheng, Dow Jones, Wall Street, Nasdaq, Pak?” begitu ibu itu membuka percakapan.

“Indeks? Saham? Han Sheng? Wah, belum tuh. Itu apa ya? Han Sheng itu menteri apa ya?” saya balik bertanya. « Read the rest of this entry »

3D Pecas Ndahe

April 14, 2008 § 69 Komentar

Para blogger mengeluh tak bisa membuka blognya yang indekos di Blogspot dan Multiply. Saya cuma bisa ikut prihatin. Tapi, jangan khawatir. Hidup jalan terus.

Kalau blog sampean diblokade, ya tinggal pindah saja. Ada banyak beberapa blog hosting di dalam negeri yang bebas blokade. Salah satunya Dagdigdug. Halah. Promosiiiiii … hihihi … « Read the rest of this entry »

Current Pecas Ndahe

Desember 22, 2007 § 18 Komentar

Seseorang bertanya, ke mana perginya current issue dari sini? Lah ini, Mas!

Ini? Iya! « Read the rest of this entry »

Sabu-sabu Pecas Ndahe

November 21, 2007 § 42 Komentar

Lelaki muda itu datang dengan muka rusuh. Bajunya lecek, kumel, dan apak. Rambutnya acak-acakan tanda sudah sepekan tak dirapikan.

Dan, tiba-tiba dia mengajak saya ngobrol begitu saja.

“Saya lagi mumet nih, Ndoro?” begitu kalimat pembukanya.

“Mumet? Kenapa?” saya bertanya.

“Saya jatuh cinta. Perempuan itu cantik dan pintar.”

“Wah, bagus dong. Kenapa sampean jadi lecek begitu? Bukankah jatuh cinta itu menyegarkan?”

“Seharusnya begitu, Ndoro. Tapi, ini lain.”

“Lain piye?” « Read the rest of this entry »

Gelinjang Pecas Ndahe

November 15, 2007 § 52 Komentar

Pada suatu siang yang muram, di pintu masuk sebuah plasa. Di atas, mendung tebal menggantung. Sebentar lagi pasti hujan tumpah.

Saya melihat lelaki itu dengan keanggunan seorang Arjuna yang tengah berdiri di atas kereta sambil mengangkat gandewa, sesaat sebelum anak-anak panahnya melesat dan menerjang tubuh Bhisma hingga terjungkal di Padang Kurusetra.

Tubuh gagahnya dibalut kemeja kotak-kotak kecil warna hijau, senada dengan pantalon hijau tuanya. Parasnya bersih. Rambutnya yang ikal dipotong pendek.

Lelaki itu terlihat gelisah, berkali-kali melihat arloji di pergelangan tangan kiri. Sebentar kemudian pandangannya beralih ke pelataran depan plasa, memperhatikan setiap pengunjung yang datang.

Saya menduga lelaki itu tengah menunggu seseorang, mungkin temannya, istrinya, pacar, atau kekasih gelapnya. « Read the rest of this entry »

Where Am I?

You are currently browsing the Psikologia category at Ndoro Kakung.