Sabu-sabu Pecas Ndahe

November 21, 2007 § 42 Komentar

Lelaki muda itu datang dengan muka rusuh. Bajunya lecek, kumel, dan apak. Rambutnya acak-acakan tanda sudah sepekan tak dirapikan.

Dan, tiba-tiba dia mengajak saya ngobrol begitu saja.

“Saya lagi mumet nih, Ndoro?” begitu kalimat pembukanya.

“Mumet? Kenapa?” saya bertanya.

“Saya jatuh cinta. Perempuan itu cantik dan pintar.”

“Wah, bagus dong. Kenapa sampean jadi lecek begitu? Bukankah jatuh cinta itu menyegarkan?”

“Seharusnya begitu, Ndoro. Tapi, ini lain.”

“Lain piye?” « Read the rest of this entry »

Gelinjang Pecas Ndahe

November 15, 2007 § 52 Komentar

Pada suatu siang yang muram, di pintu masuk sebuah plasa. Di atas, mendung tebal menggantung. Sebentar lagi pasti hujan tumpah.

Saya melihat lelaki itu dengan keanggunan seorang Arjuna yang tengah berdiri di atas kereta sambil mengangkat gandewa, sesaat sebelum anak-anak panahnya melesat dan menerjang tubuh Bhisma hingga terjungkal di Padang Kurusetra.

Tubuh gagahnya dibalut kemeja kotak-kotak kecil warna hijau, senada dengan pantalon hijau tuanya. Parasnya bersih. Rambutnya yang ikal dipotong pendek.

Lelaki itu terlihat gelisah, berkali-kali melihat arloji di pergelangan tangan kiri. Sebentar kemudian pandangannya beralih ke pelataran depan plasa, memperhatikan setiap pengunjung yang datang.

Saya menduga lelaki itu tengah menunggu seseorang, mungkin temannya, istrinya, pacar, atau kekasih gelapnya. « Read the rest of this entry »

Kuakui Pecas Ndahe

November 9, 2007 § 27 Komentar

Benarkah perempuan itu makhluk yang enggan mengungkapkan rahasianya? Apakah perempuan memang cenderung tertutup soal seks? Mengapa para pria justru sebaliknya.

Pertanyaan itu muncul di benak saya setelah Daustralala mengabarkan situs Kuakui ini dan saya membuka satu demi satu halamannya.

Dan terus terang saya ngakak sesudahnya. Jumlah orang iseng ternyata memang makin banyak, selalu muncul yang lucu dan ngeselin seperti ini. Hahaha … « Read the rest of this entry »

Bola Pecas Ndahe

November 7, 2007 § 37 Komentar

Bukan maksud saya mau melecehkan perempuan, Ki Sanak. Tapi, saya cuma mau meneruskan obrolan dua penyiar iRadio, Poetri Soehendro dan M. Rafiq.

Menurut mereka, perempuan itu bisa diibaratkan olahraga/permainan bola. Maksudnya?

>> Perempuan berumur 20 tahunan itu seperti sepak bola. Bolanya satu, yang berebut 22 orang.

>> Perempuan usia 30-an seperti olahraga basket. Bola satu buat rebutan sepuluh orang.

>> Perempuan yang sudah 40-an tahun seperti pingpong. Yang main cuma dua orang, bolak-balik mukul satu bola yang sama.

>> Nah, kalau perempuan 50-an tahun itu katanya mirip olahraga golf. Mainnya sendirian. Kalau ketemu bola langsung dipukul jauh-jauh. Halah!

Apa benar begitu, Ki Sanak?

Menstruasi Pecas Ndahe

Oktober 5, 2007 § 33 Komentar

Jumat sore yang sibuk di kawasan Kebayoran, Jakarta Selatan. Jalanan “pamer ruli” alias padat merayap ruwet sekali. Seorang lelaki muda duduk gelisah di atas jok kulit empuk di dalam BMW 130i M Sport warna perak metalik.

Berkali-kali ia menengok arloji Audemars Piguet berban kulit hitam di tangannya. Matanya memelototi bajaj dan metromini yang knalpot rombengnya memuntahkan asap hitam pekat dan sedari tadi nyaris tak bergerak di depannya.

Mendadak ia merasa gerah. Sangat gerah. Peluh mulai membasahi jidat dan punggungnya. Juga dadanya yang berbulu. Heran, kenapa AC mobil tiba-tiba tak berdaya mengusir panas matahari sore yang menyengat begini? « Read the rest of this entry »

Where Am I?

You are currently browsing the Psikologia category at Ndoro Kakung.