Sabu-sabu Pecas Ndahe

November 21, 2007 § 42 Komentar

Lelaki muda itu datang dengan muka rusuh. Bajunya lecek, kumel, dan apak. Rambutnya acak-acakan tanda sudah sepekan tak dirapikan.

Dan, tiba-tiba dia mengajak saya ngobrol begitu saja.

“Saya lagi mumet nih, Ndoro?” begitu kalimat pembukanya.

“Mumet? Kenapa?” saya bertanya.

“Saya jatuh cinta. Perempuan itu cantik dan pintar.”

“Wah, bagus dong. Kenapa sampean jadi lecek begitu? Bukankah jatuh cinta itu menyegarkan?”

“Seharusnya begitu, Ndoro. Tapi, ini lain.”

“Lain piye?”

“Soalnya perempuan itu cantik dan pintar … terlalu pintar.”

“Di mana salahnya?”

“Terlalu pintar itu salahnya.”

“Loh, pintar kok salah?”

“Soalnya saya kalah pintar je.”

“Lah ya ndak apa-apa kan? Emang haram hukumnya perempuan lebih pintar dari sampean?”

“Ya ndak haram, Ndoro. Tapi kan saya jadi malu.”

“Masih punya?”

“Diamput!”

Saya ngakak. Setelah meneguk minuman dinginnya, lelaki muda itu melanjutkan kegundahan hatinya.

“Kalau dipikir-pikir, mending saya nggak jadi PDKT aja ah, Ndoro … ”

“Loh jangan … jangan menyerah dong!” saya berusaha membesarkan hatinya.

“Soalnya saya nggak kuat menanggung perbedaan itu, Ndoro. Saya minder.”

“Sik … sik … sik … Sebetulnya gimana sih kepintaran perempuan itu?”

“Begini contohnya. Kalau kami ngobrol, dia itu selalu memakai bahasa Inggris terus. Kalau ngirim SMS ya begitu. Padahal kan saya bisanya cuma yes or no, Ndoro. Sementara saya bisanya bahasa Indonesia melulu. Lama-lama kan malu.”

“Kenapa harus malu? Sampean kan orang Indonesia, wajar dong kalau pakai bahasa Indonesia.”

“Ah, Ndoro ini … Nggak level dong … ”

“Lah itu pakai boso Enggres. Level itu … ”

“Oh iya … Hehehe …. ”

Anak muda itu nyengir. Tapi, saya mulai memahami kerisauannya.

“Menurut Ndoro, sebaiknya bagaimana dong?”

“Gini Mas … Sebetulnya sampean ndak usah minder dan malu. Berpikirlah lebih jernih dengan melihat persoalan dari sisi yang lain.”

“Maksud Ndoro?”

“Pernahkah sampean berpikir bahwa perempuan itu sebetulnya ndak pintar boso Enggres? Siapa yang tahu bahwa dia itu sebetulnya sedang praktek belajar boso Enggres dengan sampean agar semakin pinter?”

“Wah, saya nggak tahu, Ndoro. Saya nggak pernah mikir sampai ke situ.”

“Nah, itu dia sebabnya saya mengajak sampean berpikir dengan cara yang lain. Saya menganggap begitu karena sebetulnya obrolan sampean dan dia nyambung kan? Sampean tahu dia ngomong apa dan sebaliknya.”

“Ya iyalah, Ndoro.”

“Pernahkah sampean berpikir bahwa, jika perempuan itu bisa berbahasa Endonesah, lalu kenapa dia selalu memakai boso Enggres kalau bicara dengan sampean?”

“Nggak tahu, Ndoro. Emang kenapa?”

“Sebabnya itu tadi. Dia sudah biasa dan pintar boso Endonesah. Dan, karena itu, yang dia butuhkan hanyalah latihan mengasah kemampuan boso Enggres dengan sampean.

Karena sedang belajar, seperti halnya sampean juga sedang boso Endonesah, sampean ndak usah merasa minder, kalah pinter dari dia. Anggap saja sampean berdua ini seperti orang yang sedang belajar naik sepeda itu. Orang yang sedang belajar naik sepeda kan tiap hari ya berusaha naik sepeda, bukan narik becak.

Dengan menganggap bahwa perbedaan cara berkomunikasi itu sebagai salah satu cara belajar, sampean ndak perlu minder. Ndak perlu merasa bodo atau pekok. Orang belajar kan justru karena pengen pintar.

Tanamkan saja di kepala sampean bahwa kalian berdua sedang sedang belajar dua bahasa yang berbeda, bukan sedang saling unjuk kepintaran. Kalau ada yang salah, silakan saling mengingatkan. Begitu caranya orang belajar. Dengan demikian, karena merasa sedang belajar, sampean ndak perlu merasa malu. Orang yang sedang belajar naik sepeda kan juga ndak perlu malu kalau jatuh?”

“Halah. Cuma begitu doang?”

“Ya memang begitu saja. Ini namanya mengubah persepsi, Mas. Melihat sesuatu dari sudut pandang yang berbeda. Menemukan sisi yang lain. Karena, kata orang-orang arif bijaksana itu, every cloud has its silverlines.”

“Oh gitu ya? Wah, menarik ini Ndoro. Kata-kata sampean benar-benar membuka hati dan pikiran saya. Sebelumnya saya nggak pernah kepikiran soal ini.”

“Kata-kata memang bisa membuai, Mas. Kata-kata juga bisa bikin kita kliyeng-kliyeng dan ketagihan … seperti sabu-sabu itu.”

“Wow, jadi kita ndak perlu nyabu dong, kalau cuma mau kliyeng-kliyeng?”

“Memang … dengerin kata-kata saya saja, Mas.”

“Halah … nggaya. Mentang-mentang … ”

Saya ngakak. “Yo wes sana … sampean ndak mumet lagi kan? Sana kejar perempuan itu lagi. Go for her!”

“Wadoh, Ndoro nggaya lagi … pamer pakai bahasa Inggris … ”

Siang itu, saya bahagia karena bisa membuat seorang anak muda kembali bersemangat, menemukan kepercayaan diri lagi, hanya dengan kata-kata. Dengan ujaran. Bukan dengan narkoba, sabu-sabu, dan sebangsanya.

Ah, seandainya saja dulu Roy Marten sempat bertemu saya sebelum ke Surabaya, mungkin dia tak perlu masuk penjara.

Halah, ngimpiiiiiiiiiiiiiiii ……. Aku ki sopo sih?

Iklan

§ 42 Responses to Sabu-sabu Pecas Ndahe

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

What’s this?

You are currently reading Sabu-sabu Pecas Ndahe at Ndoro Kakung.

meta

%d blogger menyukai ini: