Delusi Pecas Ndahe

November 21, 2007 § 32 Komentar

Someone has gone too far and crossed the line. Mungkin dia mengalami delusi, tak bisa membedakan batas antara dunia nyata dan kehidupan di ranah blog. Kenapa Ndoro diam aja?

Pertanyaan itu datang tiba-tiba, singgah di handphone saya dini hari tadi. Antara kaget dan bingung, di tengah jalanan yang lengang, saya tercenung lama memikirkan pertanyaan dari seorang pengirim yang memilih anonim itu. Dan, tanpa izinnya saya kembalikan pertanyaan ini ke sampean semua, Ki Sanak.

Bukan apa-apa, saya cuma mau mengajak sampean mengenali dunia yang makin lama makin absurd ini. Ranah blog. Wilayah di mana, “Messages came across dan sampean ndak bakal tahu secara persis apa yang sesungguhnya ditulis orang,” kata seorang teman yang lain.

Mungkin dia benar. Mungkin saja dia hiperbolik. Saya ndak tahu. Hanya memang saya juga merasa nge-blog rasanya makin rumit, kompleks, dan kadang masih sulit saya cerna pesan-pesan yang berseliweran di dalamnya.

Nilai-nilai lama dilanggar. Etika personal diinjak-injak. Keasyikan terbang entah ke mana.

Mungkin sekarang saatnya kita berhenti dan menengok telaga yang tenang. Waktunya becermin, melihat di balik bayang-bayang yang lindap. Mungkin kini waktunya kita merumuskan kembali apa yang mesti kita susun dalam sebuah kalimat.

“Sebab hidup,” kata Paklik, “bukan cuma kata-kata yang berisik. Diam, kekosongan, juga keheningan, adalah penduduk lain dari kehidupan. Tak bisakah kita sejenak memikirannya sebelum berlari kencang?”

Saya diam saja ketika waktu itu Paklik memberikan piwulang tentang hidup dan suara-suara yang berisik.

Dan, saya ingat Paklik ketika itu menyarankan agar saya belajar tentang hidup dari sungai.

“Seperti Sidharta, Mas,” kata Paklik.

“Sungai? Kenapa sungai, Paklik?”

“Karena sungai itu punya bermacam-macam suara, Mas. Sungai memiliki suara seorang raja, seorang pendekar perang, suara seekor kambing jantan, jerit kelelawar, suara wanita yang tengah orgasme dan pria yang mendesah. Dengarkan, maka sampean akan belajar dan kemudian tahu apa makna kebisuan.

Kadang-kadang kita perlu menjadi bisu. Bila sampean sudah mengenal kebisuan, sampean akan tahu bahwa pengetahuan dapat dikomunikasikan, tapi kebijaksanaan tidak. Kita dapat menemukannya, hidup dengannya, diperkuat olehnya, menciptakan keajaiban melaluinya, tapi kita tak dapat mengkomunikasikan dan mengajarkannya.”

Paklik mungkin berlebihan. Tapi, saya tahu bahwa memang banyak perselisihan terjadi dan kebohongan dipaparkan, lewat kata, kata, kata …

[Terima kasih untuk seorang perempuan yang semakin cantik without getting pregnant … di luar sana. Kamu pasti baca posting ini, kan?]

Iklan

§ 32 Responses to Delusi Pecas Ndahe

  • aphopis berkata:

    Selama tidak menyakiti makhluk apapun, nikmati saja hidup ini Ndoro…

  • kw berkata:

    ho ho ho pertamax kah?

  • kw berkata:

    yaaa telat, salahnya aku baca dulu siii…:)
    bagaimana kalau kita anggap semua postingan di blog itu fiksi semua ndoro?

  • pitik berkata:

    pesen terakhir kuwi ndoro…knopo ga meteng?

  • Sharon berkata:

    Wah, perasaan itu juga asaya rasakan ndoro. Tapi ya sudah. Makanay saya kadang susah percaya sama blog yang isinya serius-serius itu. Lah wong ga jelas apakah emang orangnya sekeren yang dia tulis atau cuma ketikan ngasalnya aja tuh?

  • nananias berkata:

    lho ndoro dewe wingi sing ngomong kata adalah senjata, eh itu ndoro atau comandante marcos yes?

  • andrias ekoyuono berkata:

    Dunia blog makin lama makin rumit seperti dunia nyata, dan kitapun makin lama harus makin dewasa dan bijaksana di tengah kerumitan ini
    *halah*

  • memangmunyuk berkata:

    aH…Ndoro kadang – kadang kayak PAULO COELHO…..

  • Titis Sinatriya berkata:

    Diam adalah emas atau diam dalam arti tertindas, ndoro …

  • Titis Sinatriya berkata:

    Thinx: “Diam adalah emas atau diam dalam arti tertindas, ndoro …”.

  • Bening berkata:

    “Paklik Isnogud, terimalah aku menjadi muridmu…”

  • arya berkata:

    OOT:
    cantik tanpa getting pregnant?
    ndoro dah gak sanggup? *ngabuuur*

  • MaNongAn berkata:

    Nilai² & Etika lama kie opo’ae Ndoro? *garuk²*
    kalo blom faham trus ngertine wes nyabrang garis njhur piye? *garuk² lagi*
    .::he509x™::.

  • dewi berkata:

    emang di ranah blog itu bukan kehidupan nyata yah ndoro? kata2 hanya kosong tanpa makna sahaja?

  • mei berkata:

    dan seorang blogger(saya menyebut diri blogger karena saya punya blog toh)seperti saya ini kadang juga bingung mbaca carut marut banyak hal dalam dunia per-blog-an. tapi seperti pernah teman bilang sama saya..nikmati, kalau suka ya baca kalau nggak ya lewatkan. dan itu tak jalani tenan kang..hehe

    crossed the line???semoga bukan saya(sapa elu..haha)

  • daustralala berkata:

    aahhh…tidak penting blog!

    cuicuitt…

  • Andri Setiawan berkata:

    ketika manusia telah menolak berbicara moral, karena semua pun baik yang berceramah maupun diceramahi sama-sama tidak punya moral …

  • ngaku blogger berkata:

    kata adalah kekuatan….dan diam itu tak enak… itu kata Yoyok dulu di blognya :p

    enak dibaca dan perlu…itu tempo

    enak dibacem…itu tempe :d

    garing…itu saya :p

  • Yeni Setiawan berkata:

    Dunia nyata vs blogosphere?
    Bagi saya, siapa yang membedakan dunia nyata dengan ranah blog, adalah orang yang ngeblog dalam kepalsuan.

    Imajinasi manusia-pun adalah suatu kenyataan, lalu kenapa dunia blog harus dibedakan dari dunia nyata? Bukankah kita emang ngeblog dalam suatu kenyataan?

  • hanny berkata:

    pada akhirnya… pilihan kita jualah yang menentukan. mau baca atau enggak. mau berkunjung atau enggak. mau percaya atau enggak… begitu kira-kira 🙂 kapan ke SARAS lagi?

  • gatotburisrowo berkata:

    Kang, saya punya pikiran gini: korupsi itu sudah jadi budaya di sini. punishment-nya secara kultural pula. Dalam pikiran saya, para koruptor itu diumumkan di media, , juga istrinya, anak-anaknya, saudara kandung, ipar, ponakan, pokoknya keluarga besarnya. Bikin malu mereka semua. Bilang mereka gerombolan pencoleng uang rakyat. Hancurkan harga dirinya. Rusak reputasinya.

    Biar jera mereka dan jadi pelajaran buat yang lain. Bukankan uang hasil korupsi dinikmati berjamaah, biar adil yang dihukum ya berjamaah.

    Kalau sekarang ini, koruptor ketawa-ketiwi mondok di LP. Selepas itu bebas dan menikmati uang haramnya dengan keluarganya. Masyarakat juga segera melupakannya.

  • anton berkata:

    kata foucoult diam itu salah satu cara berkomunikasi, ndoro.

    di tengah dunia yg makin absurd iki koyoe sih pancen paling enak bali wae ning ndeso. urip tenang. ados ning kali. ga usah ngenet. ga usah ngeblog.

    tp opo tego kare penggemare ndoro kakung sekalian?

  • hoek berkata:

    “Mungkin dia benar. Mungkin saja dia hiperbolik. Saya ndak tahu. Hanya memang saya juga merasa nge-blog rasanya makin rumit, kompleks, dan kadang masih sulit saya cerna pesan-pesan yang berseliweran di dalamnya.”
    hmmm…sama seferti afa yang saia khawatirkan ndoro, bahwa memang blogosphere itu complicated sangadh, dan itu tertuang difostingan saia yang kmaren…*fromosi*

  • venus berkata:

    weeeeeehhh….ada yang hamil? eh gak hamil dhing ya :p

  • herru berkata:

    tulisanmu harimaumu Ndoro… seperti yang di tipi tipi ituh

  • upikabu berkata:

    ya ya ndoro aku baca postingannya kok..halah kok geer temen yo hahahaha

  • Biho berkata:

    Ya, di dunia nyata nyakitin orang pake lidah.
    di ranah Blog nyakitin orang pake kata-kata yang diketik menjadi kalimat 😀

    ***Kabuurrrrrrrr***

  • kalengkrupuk berkata:

    …berpikir dalam-dalam sebelum berlari kencang… wah, the calm before the storm nih…

    btw, nDoro, bukankah kebohongan itu memang harus disampaikan dengan kata-kata? Bisakah kita bohong dengan perbuatan?

  • dilusi? berkata:

    ehm.. rada OOT.. dilusi atau delusi ya? 😀

    delusi. thanks bu. suatu kehormatan dikunjungi seseorang dari jauh 🙂

  • mariskova berkata:

    Jadi, kehidupan di ranah blog tidak nyata, Ndoro?

  • blogidator berkata:

    Soal kebisuan yang disampaikan oleh pakliknya nDoro, mungkin beliau tampak berlebihan bila salah ditangkap maksudnya seperti yang diduga nDoro. Sepemahaman saya selama sepeminuman teh ini, bila benar maksudnya seperti Sidharta, Sidharta mengajarkan untuk benar-benar belajar membisu an sich! Jangan pula mendengar macam-macam suara, apalagi sampai mau mendengar suara orgasme. Hanya saja paklik lebih memakai tehnik letting go, membiarkan semua muncul dan terdengar tapi tidak membuat kita terikat dengannya, tehnik yang lebih alamiah dan sabar dibanding concentration. Dalam pemahaman Budhis maupun Islam, seluruh realitas yang kita pahami termasuk kata-kata atau bayangan batin yang berseliweran di otak, apalagi yang di sungai, adalah fenomena. Dan fenomena itu bersifat temporer. Untuk meraih kesejatian atau kebijaksanaan dimana kebijakan pecas ndahehehe bersinggasana, dalam sufisme mungkin ruh yang sejati, apapun yang bersifat temporer harus dicuekin.

    Jadi banyaknya perselisihan yang terjadi dan kebohongan yang dipaparkan, lewat kata, kata, kata…, termasuk kata-kata yang sedang sampeyan baca ini, itu semua hanya fenomena, dan seperti fenomena alam manapun, semuanya akan berlalu, fana. Hanya saja kapan pula bisa dicuekin? nDoro di mana saya bisa ketemu pakliknya? Dari ceritanya terdengar beliau orangnya sudah sangat sabar dan cuek beybeh. Apakah ada nomer hp atau rumahnya?

  • Bhayu MH berkata:

    Salam kenal Ndoro, jujur saya ndak ngerti soal apa yang sampeyan bicarakan itu. Takut ndas saya pecah karena mumet. Hehehe. Salam kenal deh, monggo berkunjung ke http://www.lifeschool.wordpress.com. Sugeng 🙂

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

What’s this?

You are currently reading Delusi Pecas Ndahe at Ndoro Kakung.

meta

%d blogger menyukai ini: