Surga Pecas Ndahe

Oktober 21, 2015 § 49 Komentar

Seorang kawan mengirimkan tulisan ini ke grup WA yang saya ikuti. Sebuah tulisan yang menyentuh menurut saya. Dan membuat saya merenung dalam-dalam.

ibu, anak, mother

Foto ilustrasi dari Pixabay.com

Saya kira tulisan ini juga telah beredar dari satu grup ke grup lain. Saya minta maaf jika di antara sampeyan semua, ada yang sudah pernah membacanya. Saya bagikan lagi di sini karena saya ingin agar sampeyan yang belum pernah membacanya bisa beroleh manfaat. « Read the rest of this entry »

Tubuh Pecas Ndahe

Januari 6, 2015 § 38 Komentar

Ini cerita tentang perempuan dan kerinduan padanya. Ini perihal sosok yang tak pernah habis ditulis dalam bentuk prosa, sajak, puisi, syair, fotografi, dan sebagainya.

Cerita I:

Your soul
is beautifully
written.

I’ve plagiarized
you
in every poem.

« Read the rest of this entry »

Pertanyaan Pecas Ndahe

September 23, 2014 § 73 Komentar

Aku suka pertanyaan. Terutama pertanyaan yang datang dari mulutmu yang tak henti merenyeh. Kamu sering menanyakan hal-hal yang tampaknya tak penting dan aneh, tapi selalu mengusik hatiku.

Suatu kali, misalnya, kamu pernah bertanya, “Berapa liter air mata yang tumpah di Jakarta setiap hari?”

Pasti sulit sekali untuk mengukur berapa liter air mata yang tumpah di kota ini. Karena kita tahu ada orang-orang yang hanya menangis dalam hati sambil memandangi keluar jendela kantornya. Jendela apartemennya. Jendela rumahnya. Jendela bus Transjakarta. Atau jendela taksi.

Tapi begitulah caramu bertanya. Sesuatu yang aku sukai sejak dulu. Sampai sekarang. « Read the rest of this entry »

Perlip Pecas Ndahe

September 22, 2014 § 36 Komentar

Your words and my thoughts are heavy clouds over my head, but I know the sun is somewhere hidden behind. I want to rest for a moment now to gather my pieces. I want to take time to sort out the gem from the junk. I want things to flow again and I know only one thing to do: to be silent again, for just a moment….

Begitulah bait terakhir yang kuterima malam itu darimu. Selanjutnya hening.

Dan aku teringat pada kutipan yang masyhur itu, “Women use silence to express pain.”

Aku tak tahu kebenaran pernyataan itu. Sebab, tentang perempuan, ada sejuta tebakan sekaligus sejuta kemungkinan untuk salah.

Seseorang pernah mengatakan, “Bahkan 1001 malam pun tak cukup buat mendefinisikan perempuan.”

Ia mungkin hiperbolis … atau barangkali justru tahu diri. Perempuan memang susah ditebak. Meski para pria sering sok tahu, sesungguhnya mereka sangat kerap tertipu. « Read the rest of this entry »

Lovers Pecas Ndahe

September 12, 2014 § 51 Komentar

Antara Jakarta – Los Angeles. Betapa jauh jarak membentang. Tapi teknologi meringkusnya sedemikian dekat. Aku baru menyadarinya ketika larik-larik teks singkat mendadak nongol di depanku sore ini; mengusik konsentrasiku.

Seseorang dari masa lalu mendadak terlempar di depanku, dalam wujud teks yang berpendar di layar komputerku. Berikutnya adalah sebuah obrolan — sesuatu yang entah sekian tahun silam berhenti.

Teks-teks obrolan mengalir kencang, bersicepat dengan kegugupan. Dari sapaan ringan yang kasual sampai kenangan yang tak pernah hilang…sampai akhirnya … « Read the rest of this entry »

Jomblo Pecas Ndahe

Juni 5, 2014 § 72 Komentar

Apa enaknya hidup melajang? Apa pula susahnya?

Dua pertanyaan itu menari-nari di kepala setelah tadi malam saya bertemu dua sahabat baik, Ainun dan Motulz di sebuah kedai jus buah di Jakarta Selatan. Pertemuan itu sangat kasual. Maksudnya tanpa direncanakan sebelumnya dan tak punya agenda serius tertentu.

Kami hanya ingin bertemu dan ngobrol. Itu saja. Bukankah kadang kita memang hanya perlu bertemu, berhadap-hadapan, dan saling menatap mata untuk meneguhkan tali silaturahmi?

Maka obrolan pun bisa ke mana-mana. Kami memulai dengan bertanya kabar masing-masing. Sesekali kami bertukar gosip. Kali lain kami pun membahas situasi kekinian, termasuk tentu saja ihwal politik.

Politik? « Read the rest of this entry »

Gelisah Pecas Ndahe

Maret 12, 2014 § 70 Komentar

Hujan selalu membuat kita gelisah, Kei. Setiap kali hujan jatuh, kamu pasti buru-buru meneleponku, menanyakan, “Kamu bawa payung? Jas hujan? Mau dijemput nggak, Mas?”

hujan, rain, payung, pasangan

Padahal dari apartemenku aku tinggal lari ke depan untuk sampai ke halte bus Transjakarta yang akan membawaku ke kantor. Aku tak perlu payung atau jas hujan. Biarlah basah sedikit tak mengapa. « Read the rest of this entry »

Where Am I?

You are currently browsing the Sketsa category at Ndoro Kakung.