Lunch Pecas Ndahe

Maret 11, 2014 § 25 Komentar

Makan siang bersamamu tak pernah sama, Kei. Kemarin kita di Cangkir, mengigit-gigit daging kambing lembut itu seraya melihat hujan yang jatuh berderai-derai membasahi kawasan Panglima Polim.

hot-tea

Minggu lalu kita di Warung Made karena kamu ingin mencoba nasi ayam betutunya yang bisa menari di lidah. Sebelumnya lagi kamu mengajakku ke Black House.

Entah untuk yang keberapa kalinya siang ini kamu merajuk ingin melewatkan jemu di tempat kita pertama bertemu dulu. “Aku lagi pengen yang anget, mas,” begitu alasanmu. Mendung memang menggantung di atas Jakarta. « Read the rest of this entry »

Iklan

Revolusi Pecas Ndahe

November 30, 2011 § 192 Komentar

Seorang perempuan. Sebuah tas Hermes di tangan. Sore itu aku menemuinya di sebuah kafe kecil di jantung Jakarta. Hujan turun berderai-derai di luar. Jalanan macet. Seperti biasa.

Duduk di depanku dengan takzim, ia memamerkan senyumnya yang ringkas. Parasnya lesi. Aku maklum. Dia hidup dari satu tekanan ke tekanan lain. Dari sebuah kekuasaan ke kekuasaan berikutnya. Ia terhimpit.

Seperti biasa, sore itu ada dua cangkir kopi di atas meja. Satu kopi tubruk untukku. Satu cappucino kesukaannya.

Dua cangkir kopi. Dua manusia. Bumi dan langit. Tiba-tiba aku merasa yang namanya iba itu bisa datang dari mana saja. Ia kerap muncul begitu saja tanpa sebab yang jelas. Paling tidak demikian yang kurasakan sore itu.

Ia bahkan bisa datang dari secangkir kopi. Seorang teman. Dan beberapa butir air mata yang bergulir perlahan di pipi.

“Maaf, kadang aku masih cengeng, Mas,” katanya perlahan. “Kamu nggak usah ketawa.”

Mukaku datar. Pura-pura tak mendengar. « Read the rest of this entry »

Ubud Pecas Ndahe

November 21, 2011 § 104 Komentar

“Kenyataan bahwa aku sudah pergi jangan sampai membuatmu terlempar dalam pusaran hidup yang paradoksal. Karena aku pernah benar-benar punya harapan bakal hidup selamanya di sampingmu. Harapan itu masih tersimpan sangat rapi di sudut hatiku. Sekian.”

Pesan itu tiba-tiba menyelinap ke dalam BlackBerryku. Dari siapa lagi kalau bukan dia. Perempuan yang pelukan hangatnya mampu melumerkan seluruh salju di kutub utara.

Aku kaget. Tak kusangka mendapat kiriman mendadak dan mengagetkan seperti ini.

Aku segera membalasnya. Tanpa pikir panjang.

“Pernah? Apakah sekarang sudah padam?” Send!

Incoming message: “Harapan itu masih tersimpan sangat rapi di sudut hatiku.”

“Aku khawatir baranya makin lama makin kecil, dan akhirnya padam.” Send!

Incoming messange: “Ingat rumah di Ubud yang pernah aku ceritakan kepadamu? Dengan ayunan di taman depan? Dan kamu bilang dengan entengnya, ‘Tanya saja harganya berapa, nanti buat rumah kita di masa tua?'”

“Iya aku ingat. Sudah kau beli?” Send!

Incoming message: “Belum dong, memangnya kita sudah tua?”

“Tapi aku makin menua.” Send!

Incoming message: “Sudah siap hidup bersamaku?”

“Sudah siap beli rumah itu?” Send!

Kamu tertawa. Aku ngakak. Kita terbahak-bahak. Berdua. « Read the rest of this entry »

Coelho Pecas Ndahe

November 8, 2011 § 122 Komentar

Dari sungai konon kita bisa mendengarkan suara-suara. Lenguhan sapi, kokok ayam jantan, teriakan pedagang sate, klakson kendaraan, juga keriangan dan kepedihan. Dari sungai pula, seorang perempuan merasa yakin hidupnya akan baik-baik saja seandainya ia punya teman.

Saya mengetahuinya malam itu saat Jakarta disiram gerimis setengah hati dan sebuah surat elektronik masuk ke kotak surat. Saya terpana. Pengirimnya seorang sahabat yang sudah lama tak bersua.

Apakah gerangan yang membuatnya meluangkan waktu mengingat saya dengan menulis surat pada dinihari? Adakah yang genting?

Pertanyaan itu bukan datang dari ruang hampa. Berbelas purnama tinggal di episentrum kekuasaan membuat dia berada dalam ruang dan waktu yang begitu jauh dari jangkauan saya.

Selama ini kami hanya sesekali bersua di beberapa tikungan kesempatan. Itu pun cuma sebentar. Selebihnya kami hidup di jalan masing-masing. Yang sunyi … « Read the rest of this entry »

28 Hari Pecas Ndahe

Februari 25, 2010 § 83 Komentar

Awalnya adalah percakapan via Yahoo! Messenger pada sebuah siang. Antara @ndorokakung dan @beradadisini. Dan setelah beberapa menit berlalu, diselingi jeda akibat kesibukan pekerjaan masing-masing, obrolan yang melantur ke mana-mana itu tiba-tiba berbelok tajam seperti elang di angkasa menyambar tikus di selokan.

“Bagaimana kalau kita duet bikin cerita bersambung?” dia bertanya.

“Siapa takut?” saya balik bertanya. « Read the rest of this entry »

SMS Pecas Ndahe

Desember 9, 2009 § 67 Komentar

Jakarta, pada sebuah pagi yang mendung. Langit kelabu. Jalanan seperti pasar. Kendaraan merayap seperti bekicot. Klakson memekik nyaring.

Seorang pengemudi sedan sport perak metalik memainkan telepon genggamnya. Jari-jarinya lincah memencet tombol-tombol. Dikirimkannya sebuah pesan pendek ke satu nomor.

I miss you
Sent to +62856916XXXXX

Balasan masuk beberapa detik kemudian. Pengemudi itu membacanya cepat.

Kok sama ya?
Sent to +62838936XXXXX

Mungkin karena kita memakai hape sama, Nokia, connecting people.
Sent to +62856916XXXXX

Wah, Anda salah. Aku pemakai Sony-Ericsson.
Sent to +62838936XXXXX

Pengemudi itu tersenyum. Wajahnya bersinar-sinar. Di jalan, kendaraan nyaris parkir, tak bergerak di simpang yang selalu padat setiap pagi itu. Jari-jarinya kembali bergerak lincah. « Read the rest of this entry »

Ranum Pecas Ndahe

Oktober 8, 2009 § 84 Komentar

:: untuk para alay di wetiga

hatiDi ujung malam yang basah, perempuan ranum memasuki kedai yang berlimpah asap rokok. Suasana sedang riuh-riuhnya. Pengunjung tenggelam dalam gelak dan tawa. Makanan dan minuman mengalir sederas sungai-sungai di musim hujan.

Perempuan ranum menebar senyum ke tengah pengunjung yang langsung menenggelamkan dirinya dalam obrolan hangat.

Kehadirannya bagaikan satu bintang di langit kelam. Menyedot perhatian para tamu. Perempuan ranum terlihat begitu menikmati setiap sapa. Parasnya berpendar-pendar terang bak kunang-kunang. Matanya menyala-nyala. Menari mengikuti gendang.

Tapi hanya sekejap. Perempuan ranum langsung berubah bagaikan burung onta dikejar musuh di tengah padang pasir begitu telepon genggamnya menyalak kencang. Mulutnya ditutupi tangan kirinya saat menjawab panggilan. Dia berbisik, seolah tak ingin orang lain mendengar perkataannya. « Read the rest of this entry »

Where Am I?

You are currently browsing the Sketsa category at Ndoro Kakung.