Bumi Pecas Ndahe

April 22, 2007 § 13 Komentar

A: “Kok gambar buminya bulat, Mas?”

B: “Lah memang bulat seperti bola je.”

A: “Dari mana sampean tahu bumi berbentuk seperti bola? Ngarang ya?”

B: “Ndak juga. Kalau sampean mau tahu bumi itu bulat, gampang itu. Coba sampean berdiri di tepi pantai. Kalau kebetulan langit cerah, di kaki langit akan dapat sampean bakal melihat tiang atau cerobong kapal — sementara kapalnya sendiri ndak nampak.”

A: “Apa artinya itu?”

B: “Itu artinya permukaan bumi tidak rata seperti meja, tapi melengkung cembung. Seperti permukaan bola. Mosok begitu saja ndak tahu?”

A: “Ya tahu. Tapi itu kan belum membuktikan bahwa bumi berbentuk bundar seperti bola. Mungkin saja bentuknya lonjong, seperti telur ayam.”

B: “Telur ayam, ndasmu! Coba saja lihat bulan dan matahari. Kan tidak seperti telur ayam?”

A: “Memang tidak. Tapi dari mana sampean tahu mereka berbentuk seperti bola? Jika dilihat sehari-hari, bisa saja mereka berbentuk seperti piring, kan?”

B: “Wah, ketinggalan zaman!”

A: “Lagi pula, kalau pun bulan dan matahari berbentuk bola, apa bumi juga harus seperti itu?”

B: “Ah, situ kok maunya debat kusir terus. Situ pernah lihat gerhana bulan ndak? Nah, bayangan yang menutupi bulan itu adalah bayangan bumi. Dan bentuknya bulat. Kalau tidak, bulan itu ya ndak akan tertutup, dan gerhana tak akan terjadi … ”

A: “Lho, dari mana sampean tahu bahwa gerhana bulan terjadi gara-gara bayangan bumi?”

B: “Memangnya sampean ndak pernah belajar di sekolah ya? Kan soal ini sudah banyak dibicarakan para ahli astronomi?”

A: “Justru itulah soalnya. Sampean cuma mengamini para ahli astronomi. Sampean cuma menelan kata-kata guru ilmu falak. Sampean kan ndak pernah membuktikan sendiri — bahkan ingin membuktikan sendiri pun ndak pernah.”

B: “Halah. Sampean kok ndak percaya sih? Yo weslah terserah sampean. Tapi, apa salahnya sih, menyetujui pendapat para ahli astronomi? Mereka kan sudah menyelidiki, menghitung, memperdebatkan. Mereka juga sudah membuktikan keahlian mereka, misalnya dengan tepat meramal saat gerhana. Itu artinya pendapat mereka tentang tata surya bisa diandalkan. Jadi kalau mereka bilang bumi bulat seperti bola, pasti mereka tidak main-main.”

A: “Wah, nesu!”

B: @#$#Q%$%Q …

[Diadaptasikan dari sebuah esai kecil George Orwell pada akhir 1946]

§ 13 Responses to Bumi Pecas Ndahe

Tinggalkan Balasan ke aktual Batalkan balasan

What’s this?

You are currently reading Bumi Pecas Ndahe at Ndoro Kakung.

meta