Che Pecas Ndahe

April 25, 2007 § 15 Komentar

Gara-gara Paman menulis tentang palu-arit, saya jadi ingat posting Kang Mbilung tentang angkot berstiker Che.

Dan, saya tiba-tiba merasa harus bertanya pada Paklik Isnogud tentang tokoh kita yang satu ini: Ernesto “Che” Guevara. Soalnya, saya kadang terheran-heran. Che itu datang dari negeri yang jauh, tapi entah kenapa banyak anak muda di sini mengidolakannya.

Stiker dan kaos bergambar Che dijual di mana-mana. Saking terkenalnya sampai ada yang menyangka itu foto Che itu gambarnya pelawak Betawi Benyamin S di masa muda. Ada pula yang mengira itu gambar penyanyi reggae. Halah.

Begitulah Ki Sanak, karena penasaran saya pun mencari Paklik Isnogud untuk bertanya perihal Che. Yang saya cari tengah asyik membaca buku … Aha, sebuah kebetulan: Che Guevara, Motocycle Diaries.

Di meja depannya saya juga melihat dua buku lain: Che Guevara: A Revolutionary Life karya Jon Anderson dan Guerrilla Warfare: Che Guevara.

Edyan. Ini yang namanya connecting people.

Dengan wajah sumringah, saya langsung menodong Paklik bercerita tentang tokoh yang bukunya sedang dibaca itu.

“Ayo Paklik, sampean pasti bisa mendongeng tentang Che.”

“Hehehe … Sampean ini kok ya tahu saja kalau saya sedang membaca bukunya Che? Tapi, mau cerita apa, lah wong saya belum tamat je?”

“Apa sajalah, Paklik. Sing penting ndongeng.”

“Baik, Mas. Baik.”

Paklik meletakkan buku dan menarik kursi ke dekat saya.

“Ernesto itu anak sulung yang kemudian hilang, Mas,” Paklik Isnogud memulai ceritanya.

Saya mendengarkan dengan takzim di depannya.

“Ayahnya seorang arsitek yang lumayan kaya di Rosario, Argentina. Si sulung, yang menderita asma sejak kecil, pada mulanya bukanlah seorang pemberontak: ayah dan ibu itu sangat menyenangi kelima anak mereka.

Tapi, rupanya begitulah jadinya riwayat: nama Guevara kemudian dikenal bukan sebagai nama arsitek, atau ahli hukum, atau dokter. Guevara hanya jadi bagian dari Ernesto “Che” Guevara Ernesto bersekolah dokter.

Pendidikan kedokterannya memang kemudian memberinya kesempatan ikut dalam sebuah revolusi. Tapi pada awalnya memang ada sesuatu dalam diri pemuda tampan ini — sesuatu yang ingin selalu membuktikan, bahwa tubuh dan jiwanya tak keropos atau lembek dan manja.

Biar pun bengek, ia aktif main rugby. Ia membaca puisi Baudelaire, penyair besar terkutuk dari Prancis itu dan ia mengembara hampir ke seluruh negeri Amerika Latin.

Ia memasuki koloni penderita lepra dengan rakit di Sungai Amazon, ia bekerja sebagai supir truk atau tukang foto jalanan, ia pernah jadi pencuci piring dan pelatih football. Ia tahu kemiskinan dan ketidakadilan di Amerika Latin.

Dan suatu hari, ia bergabung dengan rombongan Fidel Castro, pemberontak Kuba. Pada 1956, Fidel bersama 80 orangnya mendarat dengan perahu motor “Granma” di pantai tenggara Kuba. Tujuan membebaskan negeri itu dari kuku Batista, seorang bekas sersan yang memerintah sebagai diktator dengan cara sedemikian korupnya sehingga kaum klas menengah pun ikut muak.

Namun, jangan disangka Fidel ketika itu sudah menunjukkan tanda-tanda harapan. Bahkan pendaratan pada 1956 itu boleh dibilang gagal anak buahnya tak cukup terlatih untuk menghadapi pasukan Batista dan sebagian besar mabuk laut.

Selama kurang-lebih tiga tahun pasukm pemberontak itu bergerilya. Mula-mula mereka tak cukup dianggap serius oleh siapa pun kecuali oleh diri mereka sendiri. Tapi kekalahan, kematian, penyakit, pengkhianatan, dan kelaparan (makanan mereka-antara lain: kucing-panggang) akhirnya pelan-pelan berhasil mereka kalahkan. Juga musuh.

Tanggal 1 Januari 1959 Batista lari dan Havana jatuh.

Dan Ernesto “Che” Guevara, orang Argentina yang mula-mula bertindak hanya sebagai dokter gerilyawan itu, muncul dari hutan sebagai tokoh yang lebih berat. Ia telah jadi ahli pendidikan gerilya, propagandisnya dan taktikusnya.

Ia juga salah satu komandan pasukan yang berani dan sukses dalam pertempuran. Dan lebih penting lagi, ia kini seorang yang yakin bahwa pengalaman kerasnya, dalam rimba dan perjuangan, merupakan proses untuk ‘lulus sebagai manusia’.

Itulah sebabnya, sekitar 6 tahun kemudian, setelah kaum revolusioner Kuba menang dan ia sendiri jadi direktur Bank Nasional, Che tiba-tiba menghilang. Ia pamit pada Castro bahwa ia akan menjalankan gerilya lagi — kali ini untuk melawan rezim militer di Bolivia.

Ia meninggalkan istri dan anak-anaknya. Ia juga menulis kepada orangtuanya menyatakan cinta dan ucapan selamat tinggal.

“Sekali lagi kurasakan di antara tumitku rusuk kuda Rosinante … “

Ia seakan-akan mengejek dirinya sendiri: petualang romantik bagaikan Don Kisot. Tapi, ia tahu di hutan ada kematian. Dan “anak yang hilang” itu memang pada akhirnya gugur di tangan pasukan Bolivia.

Ia berangkat dengan semangat, tapi ia kemudian tahu bahwa di negeri asing itu tak banyak yang datang membantu. Tidak para petani, tidak juga Partai Komunis.

“Tembak saja, jangan takut!” katanya ketika ia tertangkap dan luka dengan hanya diiringi 17 anak buah.

Musuhnya, sang jenderal Bolivia, kemudian mengatakan”

la salah memilih negeri, ia salah memilih kawan, ia salah memilih medan. Ia seorang pemberani, tapi Tuhan tidak bersamanya …

Ya, seandainya ia tetap memilih Kuba … ”

Paklik mengakhiri ceritanya yang mengesankan itu persis ketika jam berdentang dua belas kali, tanda pabrik istirahat. Kisah Che yang tragis itu tiba-tiba membuat saya jadi lapar.

“Ayo, kita makan, Paklik …”

§ 15 Responses to Che Pecas Ndahe

  • avatar masbens masbens berkata:

    ck..ck… ending yg tragis

  • avatar bram bram berkata:

    wah .. heroickh tenan ceritanya.

    saya tadinya juga nggak ngeh… siapa tuh Che.
    saya sering liat anak2 muda peke kaosnya, ato liat setiker Che di angkot.

    sepertinya sangat di idol banget…
    yang saya heran2 kenapa si che bisa begitu jadi idol banget di sini….. apa kita sudah kekurangan pahlawan…
    ada Pangeran Diponegoro…CUt Nya Dien….sapa lagi sih… he. he. nggak hapal…..

    Nuwun sewu apa mungkin anak2 muda kita mau pake kaos ato masang setiker P. Diponegoro..dll….

    Nggak gaul.. lah..
    Kurang keren kali ya…
    ato kurang heroik kisahnya… saya ngak ngerti…
    padahal pelajaran sejarah SMP/SMA nggak kurang banyak..

    lha kalo nekat pake kaos palu arit….
    biar dikira brani… beda…
    malah bisa mulus masuk BUI..

    Kalo bikin kaos dg gambar Burung Garuda Pancasila di depan….
    kira kira laku dijual nggak ya…

  • avatar yati yati berkata:

    jangan sampe tito baca soal Kucing Panggang….tar dia ngirim kartu pos ke Castro, hehehe…

    *ndoro…request kisah Tan Malaka ndoro… pliiiissss…! masa Che aja?

  • avatar iway iway berkata:

    heran juga kenapa dia milih bolivia yaa?? padahal lahir di argentina, sukses di kuba??
    ndoro kopinya dua! yang manis ya 😀

  • avatar Hedi Hedi berkata:

    Kalo kata arek Malang, Che itu kebacut 😛
    Wong wis enak², tuwuk pengalaman (gerilya), lha kok dilanjutno maneh. Betapa tinggi standarnya.

  • avatar antobilang antobilang berkata:

    kalo birokrat di negeri yang bernama Indonesia, kalo udah dapet posisi enak mana mau ikut2an gerilya…

  • avatar dendi dendi berkata:

    jadi inget gambaran jasadnya yang di awet kan itu ndoro..
    walaupun sudah tinggal jasad tapi terlihat benar kharismanya..

  • avatar dewi dewi berkata:

    mas hedi, mungkin itu yang namanya revolusioner sejati. terus mengadakan perubahan untuk sebuah kebaikan (mungkin untuk dia pembebasan bolivia atau kuba adalah sebuah kebaikan). dia terus menjadi muda sampai dia tiada. dan salut saya akan idealismenya. dia tidak akan terlena oleh yang namanya kesuksesan dan kekayangan atau harta yang bergelimangan. menjadi sadar itu memelahkan, bahkan tak jarang menuntut banyak pengorbanan..

    dan iyah ndoro, saya mungkin sedang merindukan tokoh pahlawan untuk negeri kita yang sedang krisis kepercayaan..

  • avatar marhapik marhapik berkata:

    ketinggalan jaman akuu

  • avatar hanny hanny berkata:

    mudah-mudahan mengidolakannya nggak cuma sebatas beli buku dan membaca-bacanya di kala senggang, atau memborong merchandise baik itu berupa pin, kaos, sampai poster. semoga bisa lebih dalam daripada itu 🙂

  • kok ora ono crito norton 350 pak lik..? rak kumplit njerit ki…

  • avatar dnial dnial berkata:

    Revolusi…
    Pemberani salah tempat?
    Memang idealisme bukan soal menang-kalah, tapi benar-salah

  • avatar pongky pongky berkata:

    meskipun che telah tiada, tetapi ia telah meninggalkan serbuk2 jejak pemberontak di jiwaku..
    memberontak imperialisme sampai kapanpun

  • avatar andreas andreas berkata:

    Buku Perang Tan Malaka dan Che Guevara

    Ketika memperingati sewindu hilangnya Tan Malaka pada 19 Februari 1957, Kepala Staf Angkatan Darat Mayor Jenderal Abdul Haris Nasution mengatakan pikiran Tan dalam Kongres Persatuan Perjuangan dan pada buku Gerpolek (Gerilya Politik Ekonomi) menyuburkan ide perang rakyat semesta. Perang rakyat semesta ini, menurut Nasution, sukses ketika rakyat melawan dua kali agresi Belanda. Terlepas dari pandangan politik, ia berkata, Tan harus dicatat sebagai tokoh ilmu militer Indonesia.
    (sumber Tempo)

    Dalam bentuk tanya jawab Tan Malaka di dalam bukunya Gerpolek menjelaskan itu secara gamblang. Menurut Malaka GERPOLEK adalah perpaduan (Persatuan) dari suku pertama dari tiga perkataan, ialah Gerilya, Politik, dan Ekonomi. Lebih lanjut dalam bentuk tanya jawab Malaka menjelaskan sbb :

    Apakah gunanya GERPOLEK?

    GERPOLEK adalah senjata seorang Sang Gerillya buat membela PROKLAMASI 17 Agustus dan melaksanakan Kemerdekaan 100 % yang sekarang sudah merosot ke bawah 10 % itu!

    Siapakah konon SANG GERILYA itu?

    SANG GERILYA, adalah seorang Putera/Puteri, seorang Pemuda/Pemudi, seorang Murba/Murbi Indonesia, yang taat-setia kepada PROKLAMASI dan KEMERDEKAAN 100 % dengan menghancurkan SIAPA SAJA yang memusuhi Proklamasi serta kemerdekaan 100 %.
    SANG GERILYA, tiadalah pula menghiraukan lamanya tempoh buat berjuang! Walaupun perjuangan akan membutuhkan seumur hidupnya, Sang Gerilya dengan tabah-berani, serta dengan tekad bergembira, melakukan kewajibannya. Yang dapat mengakhiri perjuangannya hanyalah tercapainya kemerdekaan 100 %.

    SANG GERILYA, tiadalah pula akan berkecil hati karena bersenjatakan sederhana menghadapi musuh bersenjatakan serba lengkap. Dengan mengemudikan TAKTIK GERILYA, Politik dan Ekonomi, tegasnya dengan mempergunakan GERPOLEK, maka SANG GERILYA merasa HIDUP BERBAHAGIA, bertempur-terus-menerus, dengan hati yang tak dapat dipatahkan oleh musim, musuh ataupun maut.

    Seperti Sang Anoman percaya, bahwa kodrat dan akalnya akan sanggup membinasakan Dasamuka, demikianlah pula SANG GERILYA percaya, bahwa GERPOLEK akan sanggup memperoleh kemenangan terakhir atas kapitalisme-imperialisme.

    ————-

    Selain berhubungan cukup erat dengan Panglima Sudirman pimpinan gerilyawan yang tangguh (bahkan Adam Malik menyebutnya Dwitunggal), sebenarnya Tan Malaka pernah terlibat langsung dalam medan perang gerilya menjelang kematiannya. Silahkan baca liputan Tempo Persinggahan Terakhir Lelaki dan bukunya serta Misteri Mayor Psikopat. Sehingga sebenarnya lengkaplah Tan Malaka yang berperang dengan kata, organisasi, juga ‘perang senjata’. Atau bisa dikatakan Gerpolek bukan hanya teori baginya, tetapi juga sebuah praktek perjuangan yang dilakukannya.

    Dalam konteks ini saya setuju dengan ketika Harry Poeze mempersandingkan Tan Malaka dan Che Guevara. Walau saya agak terganggu ketika Poeze mengatakan Tan Malaka adalah Che Guevara Asia. Bagi saya Tan Malaka adalah Tan Malaka, Che Guevara adalah Che Guevara.

    Sekedar memperbandingkan buku perang Gerpolek dan Esensi Perang Gerilya yang dituliskan oleh Che Guevara, saya kutipkan bagian tulisan Che Guevara tersebut

    “Perang Gerilya, sebagai inti perjuangan pembebasan rakyat, mempunyai bermacam-macam karakteristik, segi yang berbeda-beda, meskipun hakekatnya adalah masalah pembebasan. Sudah menjadi kelaziman–dan berbagai penulis tentang hal ini menyatkannya berulang-ulang—bahwa perang memiliki hukum ilmiah soal tahap-tahapnya yang pasti; siapapun yang menafikannya akan mengalami kekalahan. Perang gerilya sebagai sebuah fase dari perang tunduk dibawah hukum-hukum ini; tapi disamping itu, karena aspek khususnya, sudah menjadi hukum yang tak hukum yang tak terbantahkan dan harus diakui kalau mau mnedorongnya lebih maju. Meskipun kondisi sosial dan geografis masing-masing daerah (country) menentukan corak atau bentuk-bentuk khusus suatu perang gerilya, tapi ada hukum umum yang harus dipatuhi jenis tersebut.

    Tugas kita kali ini adalah menggali dasar-dasar perjuangan dari jenis (corak) ini, aturan-aturan yang harus di ikuti oleh rakyat yang berupaya membebaskan diri, mengembangkan teori atas dasar fakta-fakta, menggeneralisasikan dan memberikan struktur atas pengalaman tersebut agar bermanfaat bagi rakyat lainya.

    Pertama kali adalah menetapkan : siapakah pejuang dalam perang gerilya ? Disatu sisi ada kelompok penindas dan agen-agennya, tentara profesional (yang terlatih dan berdisiplin baik), yang dalam beberapa kasus dapat diperhitungkan atas dukungan luas dari kelompok-kelompok kecil dari birokrat, para abdi kelompok penindas tersebut. Disisi lain ada populasi bangsa atau kawasan yang terlibat. Adalah penting menekankan merupakan sebuah perjuangan massa, perjuangan rakyat. Gerilya, sebagai sebuah nukleus bersenjata, merupakan pelopor perjuangan rakyat, dan kekuatan terbesar mereka berakar dalam massa rakyat. Gerilya hendaknya tidak dipandang sebagai inferior secara jumlah dibanding tentara yang ia perangi, meskipun kekuatan persenjataannya mungkin inferior. Itulah sebabnya mengapa perang gerilya mulai bekerja ketika kau memiliki dukungan mayoritas, sekalipun memiliki sejumlah kecil persenjataan yang dengan itu kau mempertahankan diri melawan penindas.

    Oleh karena itu pejuang gerilya mendasarkan diri sepenuhnya pada dukungan rakyat di suatu area. Ini mutlak sangat diperlukan. Dan di sini dapat dilihat secara jelas dengan mengambil contoh kelompok-kelompok bandit yang bekerja di suatu daerah. Mereka memiliki semua karakteristik dari sebuah tentara gerilya : Homogenitas, patuh pada pemimpin, pemberani, pengetahuan tentang lapangan dan seringkali bahkan memiliki pemahaman lengkap tentang taktik yang harus digunakan. Satu-satunya kekurangan mereka adalah tidak adanya dukungan dari rakyat, dan tidak terhindari lagi kelompok-kelompok bandit itu ditangkap atau dihancurkan oleh kekuatan pemerintah.”

    ———
    Akhir kata silahkan membaca lebih jauh Gerpolek, Massa Aksi dan buku-buku Tan Malaka lainnya untuk mengerti lebih jauh perkakas perjuangan rakyat yang digagas dan dipraktekannya, juga silah tengok lebih lanjut buku-buku Che Guevara yang sudah cukup banyak beredar di pasaran atau silah kunjung tulisan Che Guevara Online

    Salam Pembebasan

    Andreas Iswinarto

    untuk link tentang tan malaka dan che Guevara silah akses Buku Perang Tan Malaka dan Che.

    http://lenteradiatasbukit.blogspot.com/2008/09/buku-perang-tan-malaka-dan-che-guevara.html

Tinggalkan Balasan ke antobilang Batalkan balasan

What’s this?

You are currently reading Che Pecas Ndahe at Ndoro Kakung.

meta