Buruh Pecas Ndahe
Mei 1, 2007 § 11 Komentar
Tentang buruh, kita tahu betapa lemah kedudukannya dalam sebuah kehidupan sosial-ekonomi yang berkelebihan tenaga kerja seperti Indonesia sekarang.
Tentang perempuan, kita tahu betapa senantiasa genting posisinya dalam sebuah lingkungan budaya yang semakin memuja ”Ramboisme” seperti sekarang.
Karena itu, berbicara tentang perempuan yang bekerja sebagai buruh [atau buruh yang perempuan] sama saja dengan berbicara tentang posisi lemah yang sangat genting.
Karena itu, marilah kita mengingat para perempuan di Hari Buruh.

Jadi inget Marsinah..
kabeh kabeh make “hari”, apa ndak penuh kalendernya ndoro?
definisi buruh apa yah ndoro?
bukankah direktur disebuah perusahaan adalah “buruh” dari komisaris?
memakai istilah buruh kepada petugas pajak dan manager kepada calon mertua
apa bedanya buruh ama karyawan Ndoro ?
masih buruh kalo masih nongkrongin PC,….
di hari buruh, ndoro mikirin perempuan. untung bukan perempuan lain. 😀
mikir buruh wae wis sak gaweyan, opomaneh tambah buruh perempuan… weleh…weleh…weleh… semoga di masa depan ada peningkatan kesadaran dari pengguna buruh untuk lebih perhatian… tidak asal eksploitasi.. habis manis sepah dibuwang…. piye jal ki???
Bener Ndoro, nasib kula tidak sebagus Mas Buruh Sukarnoputro itu, lha pripun?
mari memanusiakan manusia,i love you mom
Kita dengan mudah bisa protes “kenapa sih buruh kerjanya demo mulu”, tapi nyatanya kehidupan mereka memang sulit, apalagi dengan harga kebutuhan seperti rumah yang semakin mahal. Sekarang hampir tidak ada perumahan yang jual rumah dibawah 200 juta, tapi hampir. Ada satu namanya citra maja raya, mereka jual rumah murah di banten dengan harga yang di kisaran 100-200 juta. Ini pun naiknya sangat cepat jadi kalau mau beli harus skrg2