Bung Pecas Ndahe

Juni 6, 2007 § 21 Komentar

Hari ini, 106 tahun yang lalu, seorang calon pemimpin besar lahir di Surabaya. Namanya Soekarno. Ia kemudian memang menjadi orang besar: proklamator dan Presiden Republik Indonesia pertama.

Siapa yang tak kenal?

Saya sengaja mencari Paklik Isnogud untuk mendengar dongengnya tentang Si Bung Besar itu. Paklik tentu menyimpan pengetahuan segudang, juga kenangan, tentang tokoh yang dikaguminya itu. Apa komentar Paklik ya?

Yang saya cari ternyata sedang berada di ruang kerjanya, menatap foto Soekarno dalam bingkai kaca. Sebuah potret besar hitam-putih. Aha, sebuah kebetulan. Paklik tentu sedang mengenang Si Bung itu.

“Sedang mengagumi Bung Karno ya, Paklik?”

“Eh, si Mas. Sampean bikin kaget saya saja. Monggo, Mas, monggo. Ada apa?”

Saya tersenyum. “Ya mau tanya tentang orang yang fotonya sedang sampean lihat itu, Paklik. Sekarang kan hari kelahirannya, ya?”

“Halah, sampean kok ya inget loh. Iya, Mas. Hari ini Bung Karno lahir, lebih dari seratus tahun yang lalu.”

“Sampean punya dongeng apa tentang Bung Karno, Paklik?”

Paklik Isnogud meletakkan foto itu, lalu duduk. Sebentar kemudian dia menyesap kopi hitamnya dan menyalakan tembakau lintingannya.

“Bung Karno ya, Mas. Ah, dia orang yang telah lama jadi suluh, untuk sebuah masa yang baru, yang mengasyikkan, yang bernama ‘kemerdekaan’,” kata Paklik memulai dongengnya.

“Bung Karno menulis dengan bagus, kelihatannya mendalam, dan berapi-api. Ia juga dikenal sebagai orator ulung. Pidatonya menggetarkan siapa pun yang mendengarkannya.

Bung Karno juga sebuah gelora. Ia cakap menghadirkan gagasan, tapi ia tak melahirkan rumus. Ia orang yang sarat dengan idea, tapi ia bukan tokoh yang meninggalkan program.

Sebuah gelora adalah sesuatu yang menggetarkan. Sebuah gelora juga sesuatu yang bisa memesonakan. Tapi, sebuah gelora juga merupakan sesuatu yang tak punya definisi yang persis. Ia bagaikan segugus nebula jauh di langit. Mungkin gugus itu sehimpun bintang yang bersinar. Mungkin ia hanya selapis kabut yang bercahaya.

Tak mengherankan bila setelah ia meninggal, kita masih menyaksikan beratus ribu orang yang tetap memandangnya ke atas, mengaguminya. Pada saat yang sama, kita juga tak tahu: apa gerangan sebenarnya ide politik, ide sosial, atau ide ekonomi yang telah ia tinggalkan dan tetap bisa jadi pegangan para pengagum itu.”

“Tapi, sampean juga tahu, Bung Karno bukan orang yang sempurna kan, Paklik?” saya menyela dongeng Paklik.

“Oh, tentu saja, Mas. Ada masanya ketika dia bahkan berseberangan dengan Hatta, orang yang tak pernah sudi dijadikan bayang-bayang Si Bung Besar itu.”

“Apa komentar Bung Karno tentang Bung Hatta, Paklik?”

“Hatta dan aku tak pernah berada dalam getaran-gelombang yang sama … Ah, susah orangnya. Perbedaan kami seperti siang dan malam … ” — Bung Karno dalam buku “Bung Karno Penjambung Lidah Rakjat” (1965).

“Waktu itu Bung Karno dan Bung Hatta tengah berpisah lagi. Yang satu berada di puncak kekuasaan — sebagai Pemimpin Besar Revolusi, juga Presiden Seumur Hidup.

Yang lain di luar. Bahkan risalahnya, Demokrasi Kita (sebuah kritik kepada demokrasi terpimpin), dilarang.

Ketika itu Bung Hatta memimpin Pendidikan Nasional Indonesia, PNI Baru. Di pihak lain Bung Karno memimpin Partindo. Kedua organisasi perjuangan kemerdekaan itu bersaing sengit — dan dalam menawarkan cara bergerak, keduanya sering terlibat dalam polemik.

Bung Hatta mengutamakan gerakan partai kader. Anggotanya harus terpilih dan terlatih dalam berpandangan serta berorganisasi.

Bung Karno sebaliknya berpendirian lain. Apa gunanya kader ini? Bukankah lebih baik kita mendatangi langsung rakyat jelata dan membakar hati mereka, seperti selama ini telah saya kerjakan?

Perdebatan itu tecermin juga dalam Memoir Bung Hatta, Mas.

Pada 1934, Bung Karno dibuang ke Flores. Bung Hatta dibuang ke Digul, lalu ke Banda Neira, dan akhirnya ke Sukabumi. Jepang kemudian mengalahkan Hindia-Belanda.

Untuk tujuannya sendiri, penjajah baru itu mengajak Soekarno-Hatta bekerja sama. Dalam usia 40-an tahun, kedua pemimpin ternyata dengan cepat menerima tawaran itu.”

“Kalau tak salah, Chairil Anwar pernah menuliskan sesuatu tentang Bung Karno ya, Paklik?”

“Betul, Mas. Pada 1948, Chairil Anwar menulis sebuah sajak untuk Si Bung Besar itu.

Ayo! Bung Karno kasi tangan mari kita bikin janji
Aku sudah cukup lama dengar bicaramu, dipanggang atas apimu
digarami oleh lautmu …

Di hari itu Republik masih balita, Mas. Pasukan-pasukan Belanda dikirim untuk merobohkannya. Perselisihan di kalangan kepemimpinan masih amat tajam. Beberapa dasawarsa orang berjuang, untuk punya negara dan bangsa sendiri — dan kini negara itu berdiri sudah, tapi guyah.

Bung Karno jadi semacam tiang di pusat kemah yang masih rapuh itu, dan hampir tiap orang memandangnya dengan harap-harap cemas. Bisakah dia, sebagai pemimpin, mengatasi krisis?

Ayo, bikin janji, seru Chairil Anwar. Sang penyair melihat sang pemimpin sebagai seorang orator, seorang yang bisa membangkitkan semangat — membikin banyak orang dipanggang atas api yang dikobarkannya dan digarami oleh laut yang digelombangkannya.”

“Masalahnya, bisakah ia juga bertindak dan tak cuma bicara, Paklik?”

“Eits, jangan salah, Mas. Bung Karno pernah berseru, Indonesia, carilah demokrasimu sendiri!

Sejak itu sejumlah orang Indonesia sibuk mencari demokrasi mereka sendiri. Sebenarnya tak jelas benar apa arti kata sendiri di sana. Tetapi, orang berbondong-bondong ke atas, ke bawah, ke samping, ke belakang, ke kolong rumah, ke bawah pohon, ke gudang, dan entah ke mana lagi untuk menemukan apa yang dianjurkan Bung Karno.

Apa yang didapat?

Sebuah kotak. Besarnya sama dengan komputer laptop. Isinya tak nampak dengan jelas dari luar. Hanya setiap orang yang membukanya, dan melongoknya, selalu berteriak: Wow! Wah!

Kemudian, setelah beberapa jam berlalu, orang itu akan berdiri dengan khidmat, dan dari mulutnya keluar sebuah maklumat: TELAH DIKETEMUKAN DEMOKRASI INDONESIA ASLI.

Kata orang, isi kotak itu sebenarnya sebuah benda pipih yang mirip cermin atau layar monitor. Isi kotak itu bukan demokrasi Indonesia sendiri, kata seseorang. Tapi dari sana orang setelah menatap lama-lama dapat mendapatkan sesuatu yang ia ingin peroleh.

Ajaib. Tapi demikianlah, pada 1958, Bung Karno menghadirkan sebuah demokrasi yang persegi bentuknya, dengan warna seperti batu rubi.

Semuanya asli sini, kata seorang pejabat yang ada di antara orang ramai yang mau berapat akbar di Stadion Utama Senayan. Ia memang bertugas menjelaskan seluk-beluk benda itu. Pokoknya bukan bikinan Barat, deh, kata pejabat itu pula, matanya bersinar-sinar.

Benda berwarna rubi itu kemudian disebut demokrasi terpimpin. Dan sang pejabat pun menjelaskan, bahwa demokrasi terpimpin itu merupakan benar-benar demokrasi kita sendiri, karena tumbuh dari suasana Indonesia yang khas, yakni gotong royong dan kekeluargaan.

Bung Karno konon orang yang paling baik dalam membaca apa yang tertera di layar monitor di kotak itu, dan kata sahibul hikayat, di sana ia melihat gambaran masyarakat Indonesia: sebuah masyarakat yang tak mengenal konflik, atau perjuangan kelas, atau liberalisme dengan persaingan bebas.

Bung Karno melihat bahwa bangsa Indonesia itu satu keluarga besar. Orang agama, orang nasionalis, orang komunis, katanya, adalah alle leden van de familie, baik di meja kerja maupun di meja makan.

Tak semua orang sepaham. Ada seorang yang berbisik bahwa Bung Karno salah membaca benda mirip cermin di kotak ajaib itu. Yang ia lihat adalah dirinya sendiri. Sebab, bagaimana mungkin masyarakat Indonesia tak mengenal konflik?

Sejarah Indonesia jika layar monitor itu dibaca secara lain, kata orang yang tak setuju terhadap Bung Karno itu adalah sebuah sejarah yang penuh konflik. Majapahit berperang dengan Pajajaran, Sultan Iskandar Muda dari Aceh menggulung kekuasaan orang-orang kaya, Mataram menggebuk pusat-pusat kekuasaan yang lebih tua di pasisir. Belum lagi sejarah modern Indonesia: sejak sengketa di kalangan pergerakan nasional, sampai dengan Peristiwa Madiun dan PRRI-Permesta …

Lalu datang 1965, ketika konflik yang lebih keras dan meluas meletus, ketika banyak sekali dari para jenderal sampai dengan buruh tani orang Indonesia dibunuh oleh orang Indonesia lain.

Maka, hasil bacaan Bung Karno pun nampak kurang jitu, walaupun niatnya mulia. Dan gagallah sebuah sistem politik yang bertolak dari asumsi bahwa konflik adalah zat asing di antara kita. Lalu benda persegi berwarna rubi yang disebut demokrasi terpimpin itu pun disepak ke sudut.

Bung Karno! Kau dan aku satu zat satu urat, tulis Chairil. Di zatmu di zatku kapal-kapal kita berlayar. Di uratmu di uratku kapal-kapal kita bertolak berlabuh.

Begitulah Mas, dongeng saya tentang Bung Karno,” kata Paklik mengakhiri ceritanya.

Busyet deh, panjang bener, Paklik. Tapi, terima kasih untuk penjelasan sampean …

§ 21 Responses to Bung Pecas Ndahe

  • avatar Mbilung Mbilung berkata:

    paklik, kapan cerita soal bung harmoko?

  • avatar kw kw berkata:

    wah masih kurang ndoro. tak lengkap dongeng bung karno tanpa perempuan-perempuan pengagumnya yang berseliweran di sampingnya. 🙂

  • avatar mathematicse mathematicse berkata:

    “Busyet deh, panjang bener, Paklik. Tapi, terima kasih untuk penjelasan sampean …”

    Bener Ndroro, panjang ceritanya yah…

  • avatar Thole Zaki Thole Zaki berkata:

    Kok tumben Mbah Tulisanipun Mboten Cekak
    Tapi Dibalik Itu Semua Sebuah Esai Menarik
    Kapan Bung Bung Yang Lain Diceritakan

  • avatar dewi dewi berkata:

    di gudang rumah di kampung halaman saya, ndoro..terpampang foto gagah hitam putih bung karno, yang entah sengaja atau tidak, seperti terserak tersembunyi. saya pikir sih disengaja, meski tak pernah bapak saya yang mantan ABRI mengaku sengaja menyembunyikannya. yah, beliau adalah pengagum terlarang bung karno pada jamannya. tulisannya menggetarkan, ndoro..

  • avatar andrias ekoyuono andrias ekoyuono berkata:

    ndoro, saya request cerita tentang bung Hatta dong, saya kok melihat beliau punya pandangan yang “mendahului” masanya

  • avatar kenny kenny berkata:

    lho kog gak ada cerita perempuan2 dibelakang Bung Karno, ada sambungane?

  • avatar evi evi berkata:

    panjang banget ndoro……

  • avatar mbahatemo mbahatemo berkata:

    kalo mas bung itu orator huebat trus paklik sampeyan itu apa, mas? 🙂

  • avatar dewi dewi berkata:

    garagara postingan ini saya jadi terinspirasi untuk posting ndoro.. makasih yah .

  • avatar mei mei berkata:

    nice posting=)

  • avatar dewi dewi berkata:

    eh, anak lelaki tercinta itu bukan hanya sama sama ada dewi-nya, tapi ada kartika-nya juga. namanya dewi kartika ndoro, mirip yah ama kartika dewi soekarno?

  • avatar RS RS berkata:

    ndoro, pencerahan tentang pemimpin bangsa besar seperti bung Karno memang perlu dikedepankan, namun sejauh ini, bangsa ini sering terlena oleh kisah yang ‘terlalu’ nyaman, bukankah beliau tidak senyaman keliatanya ,ndoro? nah, kisah seperti itu bisa jadi obor yang membakar jiwa kita utk lebih maju ndoro…

  • avatar yati yati berkata:

    demokrasi itu…boleh berbeda pendapat tapi keputusannya tetep yang dimaui sama bos? hehehe
    doooh….mas mbilung pengen dongeng Bung Harmoko, mentang2 ultahnya sama :p

  • avatar dendi dendi berkata:

    makasih ndoro, atas ceritanya..

  • avatar Aris Aris berkata:

    Mertua saya pernah bilang bahwa di Indonesia cuma ada dua bung yaitu bung Karno dan bung Pardi (yach nama mertua saya itu hehehe). Dia bilang begitu mungkin karena ingin disamakan dengan kehebatan bung Karno. Padahal kalau gak dapat anaknya saya saja gak kenal nama bung Pardi. Btw, tks ndoro untuk pencerahannya. salam untuk paklik isnogud. mintakan juga untuk cerita mengenai bung-bung yang lain, ya termasuk mertua saya itu …

  • avatar Brahmasta Brahmasta berkata:

    Panjang, tapi menarik. Kita tidak punya lagi ya pemimpin seperti beliau, yang bisa membakar semangat bangsa ini.

  • avatar bee bee berkata:

    Bung Karno dan Bung Hatta memang memiliki tindakan dan pandangan yg melampaui masa mereka. Bagi rakyat Indonesia kala itu, mereka berdua tampak bagai titisan dewa tanpa cela. Hampir semua gagasan mereka tampak “wah” bagi org Indonesia kebanyakan. Mereka jadi besar bukan semata krn mereka cerdas, tapi juga krn rakyat Indonesia waktu itu masih bodoh. Coba ada org seperti mereka hidup di jaman skrg (saya percaya pasti ada, bahkan mungkin banyak) maka rakyat Indonesia akan menganggap org seperti mereka biasa aja, krn rakyat Indonesia skrg telah jauh lebih pintar drpd waktu jaman Bung Karno. Sekarang justru terbalik, semakin banyak aja org2 bodoh yg entah kenapa bisa jadi pemimpin di tengah2 masyarakat yg cerdas. Mungkin kiamat sudah dekat? 😉

  • avatar pinkina pinkina berkata:

    biyuhhhhhhhhh…………..duowooooooo

  • avatar Mis Kin Mis Kin berkata:

    MANA DADAMU INI DADAKU
    GO TO HELL YOUR AID, AMERICA

  • avatar Arie Susanto Arie Susanto berkata:

    Ah, Ndoro juga kagum tuh melihat postingannya segini panjang. Saya kagum juga, tapi kenapa ya kok lebih kagum Sudirman.

Tinggalkan komentar

What’s this?

You are currently reading Bung Pecas Ndahe at Ndoro Kakung.

meta