Gramedia Pecas Ndahe
Juni 6, 2007 § 11 Komentar
Lama-lama mirip film sequel … atau cerita sinetron?
1. Gramedia Majalah — Ketika kepala keluarga tak mau mendegar karena menulikan diri maka jangan salahkan jika anak mengadu ke tetangga, membocorkan borok dan aib semata karena masih cinta sama keluarganya…
2. Inside Kompas — Kompas yang humanis.
Ah, mumet aku … pecas ndahe, Ki Sanak!
Bung Pecas Ndahe
Juni 6, 2007 § 21 Komentar
Hari ini, 106 tahun yang lalu, seorang calon pemimpin besar lahir di Surabaya. Namanya Soekarno. Ia kemudian memang menjadi orang besar: proklamator dan Presiden Republik Indonesia pertama.
Siapa yang tak kenal?
Saya sengaja mencari Paklik Isnogud untuk mendengar dongengnya tentang Si Bung Besar itu. Paklik tentu menyimpan pengetahuan segudang, juga kenangan, tentang tokoh yang dikaguminya itu. Apa komentar Paklik ya?
Yang saya cari ternyata sedang berada di ruang kerjanya, menatap foto Soekarno dalam bingkai kaca. Sebuah potret besar hitam-putih. Aha, sebuah kebetulan. Paklik tentu sedang mengenang Si Bung itu. « Read the rest of this entry »
Boys Pecas Ndahe
Juni 5, 2007 § 27 Komentar
Boys are getting harder to make. Halah. Tenane?
Leh sampean ndak percoyo, silakan saja kunjungi dan baca berita di situs Washington Post, persisnya di rubrik sains, edisi kemarin. Atau klik tautan yang sudah saya sediakan di sini.
Para ahli statistik, seperti dikutip Washington Post, mengatakan:
From 1970 to 2001, they found, the number of boys born for every 100 girls dropped steadily from 105.5 to 104.6. Male births among U.S. whites dropped even more steeply, from 105.9 per 100 girls to 104.7 … The researchers found similar declines in Japan, another industrialized country with excellent birth records.
Lalu ada teori yang mengira-ira mengapa bocah lanang kian jarang dan sebagainya, namun penyebabnya tetap saja merupakan misteri. « Read the rest of this entry »
Demokrasi Pecas Ndahe
Juni 5, 2007 § 7 Komentar
Demokrasi memberikan hak kepada tiap orang untuk bicara dan berbuat sekehendak hatinya. Orang bebas menampik untuk diperintah atau memerintah, kata Socrates.
Segala aturan terbalik: si bapak bertingkah seakan-akan dia si anak, si guru takut murid, dan si murid tak mengacuhkan si guru. Bahkan keledai dan kuda pun tak mau minggir bila ketemu manusia.
Lalu konflik-konflik pun mengeras, dan perang, dan perpecahan mulai terdengar berletupan.
Kebebasan memang ada dalam demokrasi. Tapi apa arti kebebasan tanpa kearifan dan kebajikan? « Read the rest of this entry »
Tiananmen Pecas Ndahe
Juni 4, 2007 § 9 Komentar
Hari ini, 18 tahun yang lalu. Sebuah tragedi berdarah tertoreh di lapangan Tiananmen, Beijing, Cina. Pasukan Negeri Tirai Bambu menyiramkan peluru ke arah para mahasiswa yang tengah unjuk rasa. Dan, dunia pun tersentak.
Hari ini, kabarnya, tak ada peringatan atau upacara apa pun untuk mengenang tragedi itu di Cina. Saya ndak tahu apa alasannya. Sampean tahu?
Padahal saya masih ingat foto yang menggetarkan itu: Seorang anak muda, sendirian, tanpa granat di tangan, berdiri mencoba menyetop puluhan tank yang mau menghajar para mahasiswa yang berdemonstrasi di Tiananmen.
Memang, kemudian kita tak dengar lagi apa nasib si pemuda yang kurus dan sendirian itu. Yang kita dengar suara bedil. Tentara Pembebasan Rakyat menembak, dan ratusan anak muda gugur dan Tiananmen sepi kembali. Si lemah berani, tapi tak berhasil.
Saya baca tulisan itu di catatan harian Paklik Isnogud bertanggal 11 Juni 1989, sepekan setelah insiden. Adakah Paklik hari ini masih mengenang Tiananmen?





