Omelet Pecas Ndahe

November 11, 2009 § 38 Komentar

Revolusi mungkin seperti omelet. Terbuat dari beberapa butir telor yang utuh, dipecahkan, lalu diaduk tak beraturan. Tambahkan tomat dan sedikit irisan daging. Goreng lalu digulung rapi.

Orang suka memesannya sebagai menu sarapan pagi. Dimakan sambil baca koran. Kelezatannya barangkali hanya bisa ditandingi oleh setangkup roti apit isi daging asap yang disantap ketika gerimis jatuh selepas fajar merekah.

Lantas kenapa kenangan tentang revolusi tak pernah bisa jadi nasi basi?

Seorang cerdik nan pandai pernah menulis. ” Karena revolusi mengandung banyak hal. Ada kebuasan yang dahsyat atas nama keadilan. Pengkhianatan yang menyakitkan atas nama kearifan. Darah dan doa, api dan cita-cita, kecutnya keringat dan frustrasi, teriak dan juga harapan terakhir. Segalanya dihimpun dan dipertaruhkan, segalanya dicurahkan dan diikhlaskan. Mungkin sebab itu revolusi adalah sesuatu yang mengandung antitesisnya sendiri.

“Revolusi adalah sesuatu yang melelahkan,” kata Jacques Sole, mahaguru sejarah dari Grenoble. « Read the rest of this entry »

Il Divo Pecas Ndahe

November 10, 2009 § 28 Komentar

Kepahlawanan itu ada di setiap sanubari
Cari dan temukan di sudut hatimu sendiri

And then a hero comes along
With the strength to carry on
And you cast your fears aside
And you know you can survive
So when you feel like hope is gone
Look inside you and be strong
And you’ll finally see the truth
That a hero lies in you ….

>> Selamat hari Selasa, Ki Sanak. Selamat memperingati Hari Pahlawan.

Nothing Wasted Pecas Ndahe

November 4, 2009 § 61 Komentar

Tahukah sampean, berapa banyak warga Jakarta membuang sampah setiap hari? Jakarta memproduksi sekitar 27 ribu meter kubik sampah per hari. Beratnya mencapai 600 ribu ton. Dalam dua hari, tumpukan sampah Jakarta setara dengan Candi Borobudur.

Ke manakah limbah itu dibuang? Di tempat pembuangan sampah, di sungai, di laut, di situ, di jalanan, di mana-mana. Sebagian lagi didaur-ulang. Ya, lebih 60 persen limbah memang dapat didaur-ulang. Dan 50 persen sampah bisa dijadikan kompos.

Daur ulang adalah salah satu aksi yang harus kita dukung dan jalankan terus menerus demi kehidupan yang lebih baik. Sebab daur ulang adalah cara yang sangat baik untuk menghemat energi dan sekaligus melestarikan lingkungan.

Saya menemukan beberapa fakta menarik mengenai daur ulang di situs Let’s Go Green Living:

  • Daur ulang 1 buah kaleng aluminium (biasanya untuk kemasan softdrink), bisa menghemat listrik yang dapat digunakan untuk menyalakan televisi selama 3 jam.
  • Daur ulang 1 buah botol kaca, bisa menghemat listrik yang dapat digunakan untuk menyalakan komputer selama 25 menit.
  • Daur ulang 1 buah botol plastik, bisa menghemat listrik yang dapat digunakan untuk menyalakan lampu 60 Watt selama 3 jam.
  • Mendaur ulang kertas dapat menghemat listrik sebesar 70% jika dibandingkan dengan memproduksinya dari bahan mentah. « Read the rest of this entry »

Cicak Pecas Ndahe

November 2, 2009 § 75 Komentar

Korupsi tak mati-mati. Kliping media massa membuktikan perang melawan korupsi berlangsung sejak dulu, dan belum usai hingga kini.

menudingINDONESIA, 1970.

Korupsi mulai ramai dibicarakan di media massa. Dalam sebuah pidatonya pada 16 Agustus 1970, Presiden Soeharto berkata, “Tidak perlu diragukan lagi. Saya memimpin langsung pemberantasan korupsi.”

Dua tahun sebelumnya (1968), Pemerintah membentuk Team Pemberantasan Korupsi. Kemudian awal 1970 didirikan pula Komisi IV di bawah Wilopo yang bertugas memberikan pertimbangan kepala pemerintah tentang pembasmian korupsi.

INDONESIA, 1973

Menteri Penertiban Pendayagunaan Aparatur Negara merangkap Wakil Ketua Bappenas, Dr J.B Sumarlin, mengadakan jumpa pers di Gedung Pola, Jakarta. Ia mengatakan, “Korupsi, kebocoran dan pemborosan selalu ada dalam sistim pemerintahan yang belum membaku (established).”

Belum seminggu setelah ucapan “Napoleon” dari Bappenas itu lenyap dari udara, datang tanggapan dari gedung Bina Managemen di Menteng Raya. Dalam percakapannya dengan wartawan, Direktur Lembaga Pendidikan & Pembinaan Managemen Dr A.M. Kadarman menyangsikan berhasilnya cara Sumarlin memberantas korupsi di Indonesia, “selama tidak ada aparat yang diberi wewenang menyelidiki, menindak dan menjatuhkan sanksi terhadap para koruptor”.

Seorang pejabat tinggi yang dekat dengan Menpan mengibaratkan bahwa “Sumarlin hanya akan menyentuh pinggir-pinggir borok korupsi.” « Read the rest of this entry »

Where Am I?

You are currently viewing the archives for November, 2009 at Ndoro Kakung.