Sebenarnya kita butuh berapa banyak platform sosial, sih?

Juli 7, 2023 § 4 Komentar

Meta kemarin meluncurkan Threads, platform percakapan mirip Twitter. Dalam tempo 4 jam pertama, 5 juta orang menjadi penggunanya dan dalam 24 jam naik jadi 30 juta. Rekor yang fantastis.

Sebuah akun Twitter menggambarkan, dengan jenaka, fenomena FOMO dan bagaimana perilaku manusia masa kini di era digital.

“Saya berusaha mengikuti Twitter, Instagram, Threads, Facebook, Snapchat, TikTok, YouTube, sambil menonton KDrama, menjaga kehidupan sosial, dan mengelola 17 kepribadian yang berbeda.”

Bayangkan, betapa sibuknya manusia. Segenap perhatiannya terdistraksi oleh kebutuhan untuk tetap eksis di berbagai platform.

Di Threads, pesohor Pevita Pearce mengilustrasikannya dengan kalimat, “The modern day dilemma : Instagram feed/stories/reels- tiktok – youtube – so many social media platforms, so little time đź’€ a never ending buffet.”

Berapa jam dalam sehari kita menghabiskan waktu di dunia digital? Sebenarnya kita, tiap orang, membutuhkan berapa banyak platform sosial?

Survei menunjukkan rata-rata orang Indonesia mencurahkan perhatian di internet selama 8,5 jam per hari. Apa yang orang lakukan di sana?

Apa saja risiko yang dihadapi orang-orang yang sepertiga harinya habis untuk berselancar di internet dengan ponselnya?

Ada beberapa risiko yang dihadapi seseorang yang harus menjaga kehidupan sosialnya di banyak platform. Beberapa risiko tersebut antara lain:

Ketergantungan digital: Menghabiskan terlalu banyak waktu di berbagai platform sosial media dapat mengarah pada ketergantungan digital. Seseorang dapat kehilangan keseimbangan dalam kehidupan nyata dan menjadi terlalu terpaku pada dunia maya.

Gangguan konsentrasi: Memperhatikan banyak platform sosial media sekaligus dapat mengganggu konsentrasi seseorang. Perubahan yang konstan antara berbagai platform dapat membuat sulit untuk fokus pada satu hal dengan baik.

Rasa takut ketinggalan: Dalam upaya untuk tetap mengikuti berbagai platform, seseorang dapat mengalami rasa takut ketinggalan informasi atau berita terbaru atau fear of missing out (FOMO).

FOMO dapat menyebabkan stres dan kegelisahan jika seseorang merasa tidak dapat mengikuti semua hal yang terjadi di media sosial.

Privasi dan keamanan: Menggunakan banyak platform sosial media juga meningkatkan risiko privasi dan keamanan. Informasi pribadi yang diposting atau dibagikan di berbagai platform dapat terpapar atau disalahgunakan oleh pihak yang tidak bertanggung jawab.

Perbandingan sosial: Melihat kehidupan orang lain di berbagai platform dapat memicu perasaan tidak memadai atau rendah diri. Seseorang mungkin merasa tertekan untuk terus-menerus membandingkan diri mereka dengan orang lain, terutama melihat kesuksesan atau kehidupan yang tampak sempurna dari orang lain di media sosial.

Pengaruh negatif: Beberapa platform sosial media dapat terkena dampak negatif seperti cyberbullying atau konten yang tidak sehat. Menghabiskan waktu yang banyak di platform tersebut dapat meningkatkan risiko terpapar pengaruh negatif dan memengaruhi kesejahteraan mental seseorang.

Mencuri waktu: Upaya menjaga kehidupan sosial di banyak platform dapat menghabiskan waktu yang berharga. Seseorang dapat kehilangan waktu untuk melakukan hal-hal lain yang penting seperti produktivitas, waktu bersama keluarga, atau istirahat yang cukup.

Jadi, setiap orang wajib memiliki kesadaran dan keseimbangan dalam menggunakan platform sosial media agar dapat mengelola risiko ini dengan baik dan menjaga kesejahteraan mental dan emosional.

Ironisnya, setiap kali ada platform baru, berbondong-bondong pulalah orang segera menggunakannya.

Kita butuh berapa banyak platform lagi, Kisanak?

Tagged: , ,

§ 4 Responses to Sebenarnya kita butuh berapa banyak platform sosial, sih?

Tinggalkan Balasan ke gudanglakban77 Batalkan balasan

What’s this?

You are currently reading Sebenarnya kita butuh berapa banyak platform sosial, sih? at Ndoro Kakung.

meta