CGI Pecas Ndahe
Januari 30, 2007 § 12 Komentar
Jakarta membubarkan CGI, klab para pemberi utang itu. Lalu ada sebagian orang yang dengan bangga menepuk dada dan berteriak lantang: go to hell with your aids.
Para patriot bangsa yang tertipu?
Saya tak tahu. Jangan salah. Membubarkan CGI tak serta merta berarti kita lepas dari jeratan utang. CGI boleh bubar, utang dan bunganya jalan terus. Kita harus tetap membayar, sampai bokek. Beginilah nasib kita sebagai bangsa paria. Halah. « Read the rest of this entry »
Revolusi Pecas Ndahe
Januari 29, 2007 § 13 Komentar
Sebagian orang menganggap revolusi itu sesuatu yang seksi. Revolusi, katanya, bisa membuat segala hal berubah dalam semalam. Karena itu, banyak orang bercita-cita membikin revolusi. Tapi, kawan saya Mas Bli Pedande justru merasa ngeri setiap kali mendengar kata “revolusi.”
“Sampai saat ini, saya selalu tersentak jika melihat orang berdarah, dan jika menemukan kata ‘revolusi,” tulis Mas Bli Pedande dalam e-mailnya.
Ada apakah gerangan sampai Mas Bli Pedande mengirimkan surat elektronik seperti itu? Saya terpaksa membaca-baca kembali semua koran yang tak sempat saya baca selama lebih dari sepekan. Menyisir berita demi berita. Aha! Saya menemukan jawabannya. « Read the rest of this entry »
Salsa Pecas Ndahe
Januari 24, 2007 § 23 Komentar
Life is so easy with salsa.
Rita, perempuan Puerto Rico yang besar di New York itu, mengatakannya dengan ringan.
Dan, begitu sebuah lagu berirama salsa terdengar dari pengeras suara, ia pun mengajak Miguel suaminya berdansa. Begitu spontan.
Tapi, bukan hanya salsa. Secangkir kopi di Bongos Cuban Cafe yang aroma dan rasanya begitu dahsyat juga bisa membuat hidup saya jauh lebih ringan dan mudah di jantung Orlando.
Terima kasih untuk Keluarga Desindra yang telah mengajak saya melewatkan malam yang menyenangkan itu.
Life is so easy with salsa.
Imigrasi Pecas Ndahe
Januari 23, 2007 § 22 Komentar
Masuk negara yang mengidap paranoid akut memang susah. Dikit-dikit petugas imigrasinya nanya, sampean dari mana? Mau apa ke sini? Pernah ke sini sebelumnya? Bawa duit berapa? Eh, nama sampean kok cuma satu kata? Apa sampean ndak punya nama keluarga?
Halah. Repot bener yack? Mungkinkah karena tampang saya terlalu ndesit? Tak punya nama keluarga seperti umumnya orang Jawa? Atau karena mereka memang menyimpan prasangka pada orang luar? Ah, prasangka … Betapa absurd kata itu buat saya.
Meski absurd, saya mengalaminya juga. Absurditas dimulai di bandara Soekarno-Hatta ketika saya antre di meja imigrasi. Begitu menyerahkan paspor saya dan mas petugas itu memasukkannya di database, eng … ing … eng … muncul data dan foto saya di layar komputer. « Read the rest of this entry »




